Ahmadiyya Priangan Timur

.

Saturday 2 January 2016

Cara Warga Ahmadiyah Tasikmalaya Rayakan Tahun Baru

Perayaan pergantian tahun baru selama ini identik dengan pesta kembang api dan tiupan terompet penuh kebisingan di tengah malam, di negeri barat pesta ini identik dengan minum minuman memabukan. Pergantian tahun baru identik dengan pesta perayaan penuh kegembiraan.

clean the city MKAI Ahmadiyah Tasikmalaya
Peserta Clean The City Tasikmalaya di Tugu Adipura
Di sudut tengah kota Tasikmalaya tepat di Jalan Nagarawangi di sebuah Masjid Ahmadiyah warga Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya menyambut tahun baru dengan cara yang berbeda, disaat warga lain baru merebahkan diri di tempat tidur setelah merayakan malam pergantian tahun baru, 131 warga Jemaat Ahmadiyah yang berasal dari daerah Tasikmalaya dan Ciamis khusyu mendirikan shalat Tahajud bersama di sepertiga akhir malam. Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda dan anak-anak Sekolah Dasar. Sejak sore hari sebelumnya para pemuda Ahmadiyah yang berasal dari Desa Tenjowaringin, Singaparna, Kawalu, Tasikmalaya dan Ciamis berkumpul menyelenggarakan acara Malam Khuddam Wilayah sedangkan anak-anak laki-laki yang berusia Athfal terpisah di lantai II mengadakan pekan Athfal yang diisi dengan hapalan Doa dan Tadarus Al Quran.

Malam Khuddam Wilayah di akhir tahun 2015 ini lebih istimewa karena dihadiri pula oleh Lakpesdam NU Kota Tasikmalaya yang tengah mensosialisasikan Program Peduli Masyarakat Inklusif. Mubaligh Wilayah Mln. Syaeful Uyun menjadi pemateri utama dalam acara tersebut beliau menyampaikan pesan agar tahun baru yang disambut dengan program kebersihan menjadi awal bagi para Pemuda Ahmadiyah untuk bertekad tidak hanya membersihkan lingkungan sekitar namun juga membersihkan diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dalam pesannya juga Mln. Syaeful Uyun mengingatkan agar para pemuda Ahmadiyah khususnya tidak melupakan sejarah Islam dan bagaimana untuk menjaga sejarah Islam Hazrat Khalifatul Masih II Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad ra menggagas kalender Islam yang didasarkan dengan perhitungan Matahari dimana nama ke-12 bulannya didasarkan pada suatu peristiwa penting dalam sejarah Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam, kalender ini diberi nama Kalender Hijrah Syamsi.

Kajian ruhani di malam menjelang pergantian tahun serta ibadah malam shalat tahajud di tengah malam merupakan gambaran periode daur masa bagaimana para generasi muda Ahmadiyah yang merupakan generasi yang tengah dalam masa tempaan menyikapi masa-masa yang mereka hadapi, tidak hanya sampai disitu saat fajar menyingsing selepas Shalat subuh para pemuda ini beserta Kaum Bapak dan kaum ibu yang turut bergabung turun ke jalan untuk mebersihakan segala kotoran yang berserakan di jalan-jalan sisa perayaan pergantian tahun.

Syaeful Uyun Clean The City Ahmadiyah Tasikmalaya
Mln. Syaeful Uyun sedang menyapu sampah depan Masjid Agung Tasikmalaya
Rute jalan Nagarawangi menuju Jl. H.Z. Mustofa dari Tugu Asmaul Husna yang malam sebelumnya baru diresmikan menjadi sasaran rombongan yang menyemut saat pagi menjelang, jalur H.Z. Mustofa yang merupakan pusat perbelanjaan Kota Tasikmalaya sepanjang kurang lebih 3 km hingga Tugu Adipura depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya menjadi area bebas sampah oleh kegiatan ini, kemudian alun-alun Kota Tasikmalaya menjadi tujuan akhir rombongan yang mana kegiatan ini mengusung tema Clean The City.

Sebagai catatan gerakan Clean The City ini digagas oleh Khuddamul Ahmadiyah Indonesia dan diselenggarakan di kota-kota besar Indonesia, sesuai sabda Rasulullah bahwa kebersihan sebagian dari Iman warga Jemaat Ahmadiyah wilayah Tasikmalaya menyambut tahun baru dengan melakukan kebersihan kota yang dicintainya sebagai pula perwujudan cinta tanah air.

Kabid Kebersihan Dinas Cipta Karya Kota Tasikmalaya yang turut hadir dalam kegiatan menyampaikan terima kasih atas inisiatif warga Jemaat Ahmadiyah yang turut membantu program pemerintah dalam menjaga kebersihan beliau saat di wawancarai menyambut semua komponen masyarakat untuk bekerja sama dalam kegiatan kebersihan di Kota Tasikmalaya, koordinasi dan komunikasi haruslah diperhatikan bagi kegiatan ini dan ia menghimbau warga masyarakat turut berperan aktif dalam menjaga kebersihan minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan di lingkungan sekitarnya.
Clean The City Ahmadiyah Tasikmalaya
Berpose di Alun-alun Kota Tasikmalaya

Doni Sutriana Tasikmalaya.

Monday 21 December 2015

Keindahan Terlahir Dari Perbedaan

Oleh: Annisa Dewi ( LI Kersamaju )

Kita sudah sering mendengar apa yang dikatakan orang dan itu benar adanya, bahwa kita harus bersedia hidup berdampingan dengan rukun damai, dan saling menghormati keyakinan satu sama lain. Itulah konsep untuk menciptakan lingkungan aman, tentram dan nyaman. Seandainya kita tidak mau begitu buat bumi sendiri saja mungkin lebih baik ! tapi apa mungkin bisa hidup tanpa orang lain?


Bhineka tunggal ika “berbeda beda tapi satu jua” itulah indonesia mempunyai begitu banyak tradisi, kepercayaan, bahasa, agama, persepsi bahkan keputusan-keputusan yang berbeda. Kita sebagai bangsa indonesia dan sebagai manusia yang beradab harus mampu menerima perbedaan, sebab manusia itu harus hidup dengan manusia yang lain dengan kepribadian dan perbedaan masing-masing.
Manusia itu tidak mungkin bisa hidup hanya dengan perbedaannya saja karena kalau tidak ada perbedaan tidak akan ada keindahan, contohnya saja bunga dikatakan indah karena beragam baik warna atau jenisnya. Taman laut dikatakan indah karena ikannya yang berwarna warni, satwanya yang berbeda terumbu karang yang unik-unik. Jadi sudah jelas keindahan itu terlahir dari keberagaman yang berbeda beda. Tapi mengapa masih banyak manusia yang tidak mau menerima perbedaan itu?contohnya dalam menerima keyakinan orang-orang ahmadi. Mereka menentang keras ajaran-ajaran ahmadi padahal masalah keyakinan adalah masalah hati yang tidak mungkin untuk dipaksakan. 

Seandainya saya mempunyai kekuasaan, tidak akan dan tidak mungkin pula memaksa orang lain untuk berkeyakinan seperti saya. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diketahui bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan keyakinannya itu, seseorang mempunyai hak untuk lebih mengembangkan keyakinan itu tapi dengan tekad tidak untuk menghancurkan dan mengalahkan orang lain. 

Jadi tidak ada salahnya jika keyakinan kami sebagai ahmadi kami pertahankan dengan sekuat mungkin walau harus beribadah  dan melaksanakan kegiatan didalam tenda, itu tak menjadi halangan bagi kami. Justru dengan adanya kejadian seperti ini memberikan pelajaran yang luar biasa, memberi semangat yang menggebu-gebu untuk berjuang lebih semangat. 

Walau dengan kejadian ini juga membuat orang-orang disekitar menjauh, semakin memperolok-olok bahkan sepertinya kami (orang ahmadi) dimata mereka itu ibarat barang najis yang menjijikan yang harus dimusnahkan. Setiap ada kesempatan mereka menjadikan ahmadi sebagai sasaran obrolan mereka, tak jarang mereka membicarakan, menghina kami di depan kami sendiri, tetapi jika mereka sadari sesungguhnya yang mereka hina dan olok-olok adalah diri mereka sendiri.
Mereka katakan kami ini orang yang tidak tahu malu, masa shalat di tempat yang begitu, padahal yang harus malu bukan kami tapi mereka. Bagi kami shalat di atas tanahpun tak masalah asalkan bersih. Kami yang membangun, kami yang berkeluh kesah tapi mereka yang gigih merampas, menyegel  bahkan mau menghancurkan masjid tersebut. Apa mereka tidak punya malu pada Allah? apa mereka tidak takut dengan azab dari Allah? apa yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai, begitupun dengan kejahatan yang mereka perbuat, maka tunggulah balasannya !!!
Kalau mereka tahu, dibalik penyegelan yang mereka lakukan itu ada sesuatu yang bisa kami rasakan baik itu rasa marah, jengkel, haru, bahagia, tapi pokoknya ada sesuatu yang bisa kami rasakan tapi susah diungkapkan yang pasti mungkin perasaan itu terlahir dari satu perjuangan yang belum berakhir bahkan mungkin ini adalah awal perjuangan untuk kemenangan ahmadi kersamaju.

Langkahku tertahan......seakan tak mampu berjalan
Lidahku kelu kaku..........seoalah tak mampu bicara

Hatiku menangis........saat ku melihatmu
Tubuhku lemah gemetar tak berdaya

Pikirku melayang......
Dadaku berkecamuk penuh kemarahan
Ingin rasanya aku berontak

Melihat semua ini........
Tuhan.......
Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Mu

Doaku disetiap waktu hanyalah pada  Mu
Untuk jemaatku nan indah ini

Ingin rasanya kaki ini melangkah....
Tangan ini bergerak menggapaimu....

Saatku melihat rumah Mu berdiri tanpa kebebasan
Berdiri kokoh tanpa keindahan.....

Tuhan......
Semoga doa,ketabahan,kesabaran jemaat Mu
Bisa meluluhkan hati yang penuh kebencian
Memberikan sinar terang dihati kegelapan.....

Membeerikan kesejukan dihati yang kering gersang
Tanpa keimanan
Membebaskan belenggu akan rumah Mu......Tuhan

Friday 30 October 2015

MENGOBARKAN KEMBALI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA

Oleh : M. Syaeful Uyun

Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia. Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia. Kami Putera dan Puteri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Sabtu-Ahad, 27-28 Oktober 1928. Pemuda dari berbagai elemen organisasi kepemudaan, mengukir sejarah. Mereka menyelenggarakan perhelatan akbar bernama Kongres Pemuda, yang melahirkan embrio (janin) Bangsa Indonesia.  Kongres Pemuda diprakarsai Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia. Elemen-elemen pemuda yang hadir, al: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan beberapa pemuda Tionghoa sebagai pengamat.

 Kongres berlangsung di tiga gedung berbeda. Sidang pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, berlangsung di gedung Katholieke Jongenlingen   Bond (KJB), Waterlooplein, Batavia (Jakarta-Lapangan Banteng sekarang). Sidang kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, berlangsung di Gedung Oost-Java Bioscoop. Dan, sidang ketiga (penutupan), masih di 28 Oktober 1928, berlangsung di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106. 

Pada sidang pertama, Sugondo Djojopuspito,  Ketua PPPI dan selaku Ketua Panitia Kongres, dalam sambutannya berharap, kongres dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Sementara Moehammad Yamin memaparkan tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurut Moehammad Yamin, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.  

Pada sidang kedua, tampil dua pembicara: Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, membahas masalah pendidikan. Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro memaparkan, anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. 

Pada sesi penutupan tampil dua pembicara: Mr. Sunario dan Ramelan. Mr. Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.  

Saat Mr. Sunario (sebagai utusan kepanduan) berpidato, Moehammad Yamin menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo Djojopuspito berisi rumusan Kongres Sumpah Pemuda, sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini). Soegondo kemudian membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut. Kertas berisi rumusan Sumpah Pemuda tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga.  

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda yang ditulis Moehammad Yamin yang kemudian menjadi putusan Kongres Pemuda berisi, sbb: 
  • Pertama, Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia. 
  • Kedua, Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia. 
  • Ketiga, Kami Putera dan Puteri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia. 

Di akhir sidang rumusan tersebut dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Moehammad Yamin. Rumusan Moehamad Yamin kemudian disepakati sebagai putusan Kongres dan secara bersama-sama diikrarkan sebagai Sumpah Setia. Ikrar Sumpah Setia bersama diakhir Kongres Pemuda 28 Oktober 1928: Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia. Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia.  Kami Putera dan Puteri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia, itulah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Pada sesi penutupan juga diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo Djojopuspito kepada W.R. Supratman. Teks lagu Indonesia Raya:

Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku hiduplah negriku bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya merdeka merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres dan semakin membangkitkan semangat nasionalisme. 

Diikrarkannya “Sumpah Pemuda” dan dinyanyikannya lagu “Indonesia Raya”, menandakan, 28 Oktober 1928, embrio (janin) Bangsa Indonesia lahir.

“Sumpah Pemuda” dan lagu “Indonesia Raya”, yang diikrarkan dan dinyanyikan pada 28 Oktober 1928, sangat heroik dan menumbuhkan semangat nasionalisme, semangat kebangsaan, semangat persatuan dan semangat perjuangan, pada jiwa para pemuda Indonesia untuk membebaskan dirinya dari penjajahan kolonial dan untuk merebut kemerdekaan. “Sumpah Pemuda” dan lagu “Indonesia Raya” menjadi darah segar, menjadi semacam ruh, menjadi jiwa, menjadi sepirit, dikalangan pemuda aktivis dan pejuang kemerdekaan. Ide, gagasan, dan upaya-upaya untuk mencapai kemerdekaan pun dilakukan para pemuda Bangsa Indonesia. Tidak sedikit para pemuda aktivis yang ditangkap, dipenjara, di internir (dibuang), dan bahkan dilenyapkan oleh kolonial belanda. Ir. Soekarno, Presiden pertama RI, termasuk seorang yang dalam upayanya memerdekakan Bangsa Indonesia berulang-ulang keluar masuk penjara dan pembuangan-pembuangan.

Perjuangan para pemuda untuk memperoleh kemerdekaan tidak sia-sia. Perjuangan para pemuda mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Teks proklamasi:

Proklamasi
Kami Bangsa Indonesia
Dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain 
akan diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang 
sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama Bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta

Proklamasi 17 Agustustus 1945, menandakan, Bangsa Indonesia yang lahir 28 Oktober 1928, merdeka.  Bangsa Indonesia lepas dari cengkraman kolonialisme Belanda. Bangsa Indonesia lepas dari penjajahan.

Bangsa Indonesia yang diproklamirkan merdeka Soekarno-Hatta ialah Bangsa Indonesia yang berketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia yang berkesatuan. Bangsa Indonesia yang berkemanusiaan yang adil dan beradab. Bangsa Indonesia yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Bangsa Indonesia yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

70 tahun telah berlalu sejak Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Namun, selama masa 70 tahun ini, Bangsa Indonesia tampaknya belum mencapai cita-cita kemerdekaannya. Sosial-politik-ekonomi, masih dikuasai dikendalikan neo-kolonialisme. Kekayaan alam Indonesia masih banyak dikuasai dikeruk bangsa-bangsa asing. Nasionalisme mengalami erosi. Kepentingan bangsa dan rakyat dikesampingkan, kepentingan asing diutamakan. Korupsi yang menyengsarakan rakyat telah menjadi budaya dan virus yang sulit diberantas. Pendidikan hanya bagi mereka yang beruang. Kesehatan diluar jangkauan. Hukum hanya berlaku bagi rakyat jelata tidak bagi penguasa dan mereka yang beruang. Kesenjangan kaya miskin makin menganga. Intoleransi dan radikalisasi merajelela. Istilah mayoritas minoritas mengemuka. Padahal Indonesia didirikan oleh semua dan untuk semua. Indonesia adalah rumah bersama yang yang aman bagi semua. Tidak mengherankan jika dalam usia 70 tahun Bangsa Indonesia merdeka, masih ada daerah yang ingin memisahkan diri meminta cerai dari NKRI, seperti RMS di Maluku dan OPM di Papua.

Saatnya pemuda Indonesia mengobarkan kembali semangat-ruh-jiwa “Sumpah Pemuda” dan lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”. Saatnya pemuda Bangsa Indonesia menghayati dan menjiwai Sumpah Pemuda. Peringatan hari Sumpah Pemuda tidak sebatas ceremoni, tetapi dijiwai, dihayati, dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata berbangsa dan bernegara, sehingga heroik Sumpah Pemuda dan Indonesia Raya, nasionalisme Sumpah Pemuda dan Indonesia Raya, semangat kebangsaan, semangat persatuan dan semangat perjuangan Sumpah Pemuda, hidup kembali dalam jiwa para pemuda Bangsa Indonesia. Jika, diperlukan, pemuda Bangsa Indonesia, mengikrarakan kembali Sumpah Pemuda.

Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda.[]

Tasikmalaya, 27 Oktober 2015 

Monday 26 October 2015

Kepala Desa Cipakat: Apresiasi Ahmadiyah Singaparna Atas Bank Darah

Kepala Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Ade Gani, memuji komunitas Jemaat Ahmadiyah yang ada diwilayahnya sebagai kelompok yang selalu siap sedia saat warganya membutuhkan transfusi darah.

desa cipakat jemaat ahmadiyah singaparna

Berbicara dalam sambutan acara syukuran Masjid Baitur Rahim dikampung Babakan Sindang, Minggu (25/10). Ade Gani menyampaikan rasa terima-kasihnya kepada anggota Jemaat Ahmadiyah Singaparna yang senantiasa aktif menyukseskan kegiatan baik sosial mapun kegiatan lainnya di wilayah yang dipimpinnya.

"Terima kasih kepada anggota Jemaat Ahmadiyah yang telah melaksanakan hak dan kewajibannya dalam menjaga keamanan dan ketertiban melalui Pos Ronda yang rutin kami adakan" ucapnya membuka sambutan.

"Persuakan masjid 29 Juli 2005 bukan hanya dirasakan anggota ahmadi namun oleh saya sendiri dan warga sekitar turut merasakan dampaknya" sambungnya.

Menyinggung masalah kegiatan sosial kemanusiaan Ade Gani memuji organisasi Jemaat Ahmadiyah yang begitu tertib dalam administrasinya.

"Ketika warga ada yang kesulitan karena melahirkan atau kecelakaan dan memerlukan darah warga ahmadi selalu mudah dihubungi dan diambil darahnya" Jelas Ade Gani

"Bank Darah ada di Ahmadiyah' imbuhnya.

Pria yang masih memiliki ikatan keluarga dengan tokoh Jemaat Ahmadiyah Singaprana, H. Ii Argadiraksa, memaparkan bahwa pertalian darah membuat jalin tali silaturahmi antara warga ahmadi dan warga lainnya disekitarnya dapat terjalin untuk hidup bertoleransi dan tenggang rasa.

Menutup sambutannya Ade Gani menyampaikan tentang pentingnya adanya seorang pemimpin oleh karena itu ia mengajak kepada warga ahmadi untuk menyukseskan Pilkada Referndum yang akan diadakan di Kabupaten Tasikmalaya pada tanggal 9 Desember 2015.

Baca Juga:
Amir Jemaat Ahmadiyah Menyeru Memakmurkan Masjid | Tasyakur Masjid Baitur Rahim Singaparna

H. Ii Argadiraksa: Ujian Semakin Menggairahkannya Membangun Masjid | Baitur Rahim Singaparna

Doni Sutriana (Tasikmalaya)

Sunday 25 October 2015

H. Ii Argadiraksa: Ujian Semakin Menggairahkannya Membangun Masjid | Baitur Rahim Singaparna

“Keyakinan kami masjid ini masjid Allah bukan masjid saya. Kalau dirusak Dia yang akan membangunnya kembali." ~ H. Ii Argadiraksa pada Masjid Baitur Rahim Singaparna

H. Ii Argadiraksa tokoh jemaat Ahmadiyah Singaparna
H. Ii Argadiraksa, tokoh Jemaat Ahmadiyah Singaparna
Dimasa senja usianya yang telah berkepala tujuh H. Ii Argadiraksa tokoh Jemaat Ahmadiyah Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat ini selalu terpancar kegembiraan dan gairat untuk mengkhidmati JemaatNya.

Beliau merupakan tokoh sentral dalam renovasi Masjid Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna sehingga kini masjid selain lebih luas juga memiliki beberapa fasilitas khusus sebagai pusat kegiatan organisasi Jemaat Ahmadiyah Singaparna.

Masjid Baitur Rahim yang terletak di kampung Babakan Sindang Desa Cipakat Kecamatan Singaparna yang berada tidak jauh dari komplek Pondok Pesantren Cipasung adalah masjid yang awal mulanya dibangun pada tahun 1925 oleh orang tua H. Ii Argadiraksa sebagai masjid milik keluarga Argadiraksa. Dalam perjalanannya masjid diserahkan kepada Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1930-an setelah seluruh jamaah baiat menerima kebenaran Jemaat Ahmadiyah.

Pasca penekanan dan penutupan paksa Masjid Mahmud yang terletak di Kampung Badak Paeh pada tahun 2005, pusat kegiatan Jemaat Ahmadiyah dipindahkan ke Masjid Baitur Rahim yang semula merupakan masjid kelompok bagi anggota Jemaaat Ahmadiyah yang berada di kampung Babakan Sindang. 

H. Ii Argadiraksa yang telah pensiun dari pekerjaannya bercita-cita untuk memperluas dan melengkapi fasilitas masjid Baitur Rahim, keterikatannya akan sejarah masjid Baitur Rahim yang dihibahkan oleh keluarga Argadiraksa membuat H. Ii Argadiraksa semakin bergairat untuk mewujudkan cita-citanya merenovasi masjid Baiturrahim.

Kendala utama adalah belum adanya biaya untuk menjalankan proses pembangunan, aset tanah yang dimilikinya di daerah Depok yang bernilai Rp 1 Milyar belum laku ada yang membeli, H. Ii berjanji bahwa bila asetnya tersebut laku terjual semua uang hasil penjualannya akan digunakan untuk pembangunan masjid.

Atas nasihat Hj. Uun Syarifatunnisa Makih (Sadr LI Indonesia periode sebelumnya), H. Ii menulis surat kepada Hazrat Khalifah melalui bantuan Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia, tidak lama setelah itu atas karunia Allah asetnya tejual dengan segala kemudahan dalam proses jual belinya. (Baca juga: Amir Jemaat Ahmadiyah Menyeru Memakmurkan Masjid | Tasyakur Masjid Baitur Rahim Singaparna )

Beliaupun mendapat surat balasan dari Hazrat Khalifah yang salah satu nasihatnya agar dalam pembangunan masjid tidak di monopoli oleh seseorang harus dibangun bersama-sama anggota Jemaat lainya agar tidak memunculkan sifat riya. 

Atas nasihat Huzoor tersebut H. Ii Argadiraksa mengikutsertakan anggota jemaat lainnya yang turut ikut menyumbangkan hartanya dalam pembangunan masjid Baiturrahim, H. Ii Argadiraksa yang adalah seorang arsitek turun langsung dalam pengawasan selama 4 tahun pembangunan perluasan masjid Baitur Rahim.

Jemaat Ahmadiyah Singaparna memberi amanah khusus kepada H. Ii Argadiraksa untuk menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Baiturrahim, 4 tahun masa pembangunan dari tahun 2011 sampai 2015 dilaksanakan dalam 2 tahap pembangunan.

Tahap pertama Pembangunan dilakukan dari tahun 2011-2014 dengan mendirikan dan merenovasi rumah misi menjadi Gedung kaum ibu (Gedung serbaguna) yang tediri dari 3 lantai seluas 400 m2 dan dapat menampung 250 orang jamaah. Untuk tahap pertama pembangunan ini total menghabiskan biaya sebesar Rp 490 juta yang berasal dari sumbangan pribadi Rp 180 juta, sumbangan dari anggota Jemaat Ahmadiyah asal Singaparna yang berada diluar kota sebesar Rp 225 juta serta bantuan dari PB Jemaat Ahmadiyah sebesar Rp 80 juta.

Tahap kedua dimulai pada Agustus 2014 sampai Oktober 2015 dengan memperluas gedung utama masjid hingga dapat menampung 600 orang jamaah, bangunan seluas 500 m2 terdiri dari 1 lantai diperluas dengan penambahan beberapa ruangan khusus untuk kamar tamu, kantor, ruang rapat, Tabligh Center, Klinik Homeopathy, ruang bayar candah dan tempat air wudhu dan toilet. Total biaya yang dihabiskan sebesar Rp 1,3 Milyar. Dana berasal dari sumbangan pribadi Rp 1,25 Milyar dan sumbangan anggota Jemaat Ahmadiyah Singaparna Rp 50 juta. 

Total 2 tahap pembangunan menghabiskan biaya Rp 1,79 Milyar selama empat tahun proses pembangunan. Total 11 fasilitas baru dibangun selama proses pembangunan terdiri dari Kantor Pengurus, Ruang Rapat, Perpustakaan/Tabligh Center, Rumah Tamu, Ruang Khusus Ibu & anak, Tempat Wudhu kaum bapak, Tempat wudhu kaum ibu, Dapur Umum, Klinik Homeopathy dan Ruang Bayar Candah.

Selain itu juga kompleks pemakaman musi/musiah yang terletak bersebelahan dengan Masjid Baitur Rahim dipercantik selama proses renovasi Masjid.

Tidak sedikit ujian yang harus dihadapi oleh H. Ii Argadiraksa selama 4 tahun proses pembangunan dari ujian terkecil berupa penekanan dari pihak-pihak tertentu yang tidak senang dengan perluasan pembangunan masjid Baitur Rahim sampai ujian terberat berupa 4 kali perusakan oleh kelompok intoleran dan usaha penyegelan masjid. 

Namun semua itu dihadapi H. Ii Argadiraksa beserta seluruh anggota Jemaat Ahmadiyah Singaparna dengan penuh kesabaran dan ketawakalan, bahkan bagi H. Ii Argadiraksa ujian berat yang ia hadapi tidak sedikitpun membuatnya ciut malah semakin membuatnya bergairah untuk sesegera mungkin menyelesaikan pembangunan Masjid Baitur Rahim yang jauh lebih megah.

Masjdi Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna
Masjid Baitur Rahim, Jemaat Ahmadiyah Singaparna
Renovasi yang dilakukan hanya merubah bangunan utama sementara gapura yang terletak didepan masjid tidak mengalami perubahan dan menjadi ornamen ciri khusus dari Masjid Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna, bangunan gapura tersebut telah masuk cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah sebagai bangunan asli yang telah ada sejak tahun 1925 saat awal mula masjid dibangun.

Anggota Jemaat Ahmadiyah sendiri tidak hanya memberi pengorbanan berupa nominal uang, beberapa diantara mereka turut menyumbangkan berupa kelengkapan fasilitas kantor, perpustakaan/Tabligh Cener serta Sound Sistem Masjid.

Saat Tasyakur pembangunan Masjid Baitur Rahim pada tanggal 25 Oktober 2015, di Masjid tersebut H. Ii Argadiraksa menyampaikan masih banyak keperluan masjid untuk menyempurnakan segala sesuatunya dan itu adalah tugas dari seluruh anggota Jemaat Ahmadiyah selanjutnya untuk melakukan pengorbanan harta di jalan Allah SWT.

Doni Sutriana (Tasikmalaya) 





Amir Jemaat Ahmadiyah Menyeru Memakmurkan Masjid | Tasyakur Masjid Baitur Rahim Singaparna

Syukuran sekaligus sebagai peresmian Masjid Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna pasca renovasi telah dilaksanakan minggu (25/10) Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mln. H. Abdul Basith Sahid, memimpin doa bersama dan memberikan sambutannya dalam acara tersebut.

Haji Abdul Basith Amir Jemaat Ahmadiya Indonesia
H. Abdul Basith Sahid, Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia
Acara syukuran tersebut dihadiri tidak kurang oleh 300 anggota dari aanggota Jemaat Ahmadiyah Singaparna serta anggota dari cabang-cabang di wilayah Priangan Timur ditambah tamu undangan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia berserta Para mubalighin markazi dan mubalighin yang bertugas di wilayah Priangan Timur.

Dalam sambutannya sebelum doa bersama Amir Jemaat Ahmadiyah menyampaikan bahwa kita harus senantiasa bersyukur atas segala karunia Allah SWT, beliau menyitir ayat suci Al Quran:

... la-in syakartum aziidannakum wala-in kafartum inna 'adzaabii lasyadiidun (Ibrahim :8)
'
"...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." – (QS.14:8)

Beliau menasehati agar anggota Jemaat Ahmadiyah harus senantiasa bersyukur agar Allah menambahkan nikmatNya, jika tidak maka azabNya sangatlah pedih.

Selain itu juga Amir Jemaat Ahmadiyah menyampaikan bagaimana Hazrat Khalifatul Masih V Mirza Masroor Ahmad (aba) dalam pesan saat peresmian pembangunan masjid senantiasa menekankan anggota Jemaat Ahmadiyah agar menunaikan hak dan kewajibannya yaitu dalam hal memakmurkan masjid sebagai hamba Allah yang bertaqwa hakiki.

"Keindahan sebuah masjid bukan karena kemegahan dan keindahan bentuk bangunannya namun karena diisi oleh orang yang bertaqwa" ungkapnya.

Menyangkut nama masjid 'Baitur Rahim' H. Abdul Basith berharap masjid yang dikelola oleh Jemaat Ahmadiya Singaparna ini akan menjadi tempat menyebarkan kasih sayang.

"Sesuai namanya saya berharap masjid ini menjadi tempat sumber ketentraman, kesejahteraan, pengikat tali persaudaraan dan sumber kasih sayang"

Dalam 4 tahun masa renovasi masjid Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna telah melalui ujian yang berat yaitu mengalami penutupan paksa serta perusakan oleh kaum intoleran sebanyak empat kali, Amir Jemaat Ahmadiyah memuji keteguhan dan kekompakan Jemaat Ahmadiyah Singaparna yang menghadapi setiap ujian dengan penuh kesabaran dan ketawakalan.

"Jemaat Ahmadiyah Singaparna sangat solid, anggota bisa menahan diri tidak emosi segala sesuatunya diserahkan kepada Allah SWT" tutur H. Abdul Basith.

Amir Jemaat Ahmadiyah juga memberi apresiasi khusus kepada salah seorang tokoh Jemaat Ahmadiyah Singaparna, H. Ii Argadiraksa, yang menjadi ketua pembangunan Masjid Baitur Rahim. Beliau memuji akan keteguhan H. Ii Argadiraksa dalam masa pembangunan tidak merasa gentar dalam menghadapi segala ujian hingga bisa menyelasaikan perluasan pembangunan masjid.

"Ada hal menarik dari beliau (H. Ii Argadiraksa) prinsip beliau tugas kita adalah membangun masjid yang adalah rumah kepunyaan Allah, sementara urusan mereka yang merusak masjid itu urusan mereka" paparnya.

Amir Jemaat Ahmadiyah melanjutakan nasihat bagi anggota jemaat Ahmadiyah yang hadir pada acara tersebut.

"Kita harus ingat apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW bahwa masjid sebagai tempat orang untuk beribadah juga sebagai sumber rahmat kasih sayang" jelasnya.

H. Abdul Basith sebagai Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengingatkan anggota jemaat dengan sebuah kisah dalam sejarah kehidupan Rasulullah dimana beliau mempersilahkan masjidnya digunakan beribadah oleh orang nasrani yang sedang bertamu dari kisah tersebut Amir Jemaat Ahmadiyah menegaskan:

"Sejatinya Islam dapat memberikan kedamaian bagi siapa saja, disayangkan sekelompok orang disuatu tempat tidak mengamalkan teladan Rasulullah SAW" tegasnya.

H. Abdul Basith Amir Ahmadiyah di Masjid Baiturrahim Singaparna
Foto bersama Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia usai syukuran Masjid Baitur Rahim Singaparna
Di akhir sambutannya Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia menghaturkan terima kasih kepada semua anggota Jemaat yang telah turut serta dalam perluasan pembangunan Masjid Baitur Rahim serta mengajak anggota agar memakmurkan masjid tersebut.

"Atas nama Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia saya ucapkan Jazakumullah serta bersyukur atas karuniaNya. Menjadi tugas kita bagaimana agar masjid ini terus menjadi sempit (diisi oleh anggota Jemaat)" pungkasnya.

Beliau menambahkan dalam kunjungan ke cabang-cabang Jemaat Ahmadiyah di seluruh Indonesia beliau selalu menemukan ada pembangunan masjid oleh Jemaat Ahmadiyah dan di akhir sambutannya beliau menghaturkan terima kasih kepada pemerintahan setempat dalam hal ini Kepala Desa Cipakat Singaparna yang turut hadir saat itu.

Doni Sutriana (Tasikmalaya)

Sunday 13 September 2015

Ahmadiyah Tasikmalaya Sport Day: Dari Tukang Becak Sampai Aparat Negara

Jemaat Ahmadiyah Cabang Tasikmalaya mengadakan Hari Berolahraga pada hari minggu 13 September 2015 dengan kegiatan sepeda santai bagi anggota Ansharullah dan khuddam serta jalan santai bagi anggota Lajnah Imiaillah.

sepeda-santai-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya

Rute sekitar 8 kilometer mengelilingi wilayah sekitar kota Tasikmalaya kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB pagi hari dengan garis start didepan Masjid Mubarak, jalan Nagarawangi  Kota Tasikmalaya. 

13 Anggota Ansharullah ditambah 3 anggota khuddam turut menjadi peserta dalam kegiatan ini, berbagai macam sepeda digunakan oleh para peserta, dari sepeda balap, sepeda ontel, sepeda gunung sampai sepeda torpedo berkonvoi menyusuri kota Tasikmalaya melalui jalur perumahan yang banyak terdapat di kota Tasikmalaya.

Sementara itu para anggota Lajnah Imaillah telah lebih dulu berangkat jalan santai dengan tujuan akhir berkumpul bersama di sebuah rumah makan khas Tasikmalaya, 13 anggota Lajnah Imaillah turut dalam kegiatan ini.

Rumah makan khas Tasikmalaya menjadi titik pertemuan antara seluruh anggota badan yang turut dalam kegiatan 'Hari Berolahraga'. Mubaligh Wilayah Priangan Timur Mln. H. Syaeful Uyun yang hendak menuju Kota Ciamis untuk menghadiri kegiatan Dai Ilallah menyempatkan diri dulu untuk menghadiri makan bersama seluruh anggota yang turut hadir dalam kegiatan Hari Berolahraga.

sepeda-santai-ahmadiyah-tasik

Kebersamaan dalam keragaman tampak begitu terasa hangat dalam silaturahmi antara anggota Jemaat, terutama pada anggota Ansharullah yang berasal dari berbagai latar belakang profesi dari mulai PNS, Wiraswastawan, Dokter, buruh, hingga tukang becak.

Atang Ahmadi yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang becak pada Hari Berolahraga menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan dengan meminjam sepeda dari anaknya. Sebagai seorang pekerja  yang setiap hari mengayuh becak tidak tampak kelelahan dari wajah Pak Atang.

"Saya sengaja tidak narik becak hari ini karena Jemaat ada sepeda santai, saya bela-belain meminjam sepeda dari anak saya" Kata Atang Ahmadi setelah menyantap hidangan di rumah makan khas Tasikmalaya.

"Derah ini mah tempat bermain saya zaman dahulu" sambung tukang becak yang biasa mangkal di Pasar Induk Cikurubuk Tasikmalaya ini.

Sementara itu salah seorang anggota Ansharullah, Sulaeman Jamjuri, yang bekerja sebagai PNS menuturkan rasa kakunya mengayuh sepeda karena setiap hari terbiasa menggunakan Sepeda motor saat bekerja di salah satu instansi pemerintahan di Tasikmalaya.

"Agak kagok, pegang stang sepeda tadi saya puter-puter mirip pegang stang motor saat mau tancap gas" Ujar bapak yang biasa dipanggil Pak Eman ini.

sepeda-santai-ahmadiyah-tasikmalaya

Kegiatan Hari Olahraga dengan melibatkan seluruh anggota badan dalam Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya ini merupakan kegiatan yang pertama dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan ini selain menyehatkan juga mempererat tali silaturahmi antara anggota Jemaat Ahmadiyah.

Doni Sutriana - Tasikmalaya