Ringkasan Khutbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
24 Juli 2015 di Baitul Futuh, London, UK.
أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.
بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)
Khutbah Jumat pada hari ini adalah beberapa riwayat yang disampaikan oleh Hadhrat Muslih Mau’ud ra berkenaan dengan Hadhrat Masih Mau’ud as dan para sahabat beliau as.
Hadhrat Masih Mau’ud as menerima sebuah wahyu berbahasa Arab yang tertulis dalam Tadhkirah tanggal 9 Februari 1908. Terjemahan dari wahyu tersebut adalah ‘Jangan bunuh Zainab’ [Tadhkirah, hal 995]
Hadhrat Muslih Mau’ud ra menulis bahwa pada awal tahun 1908, Hafiz Ahmad Sahib mengusulkan pernikahan bagi 2 putrinya Zainab dan Kalsoom. Datang dua lamaran untuk Zainab. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as tidak menyukai lamaran dari Misri Sahib. Akan tetapi seperti biasa, beliau as tidak juga terlalu menekankan hal tersebut. Pada saat-saat itulah beliau as menerima wahyu: ‘Jangan bunuh Zainab’. Hafiz Sahib memahami wahyu tersebut bahwa hendaknya ia menikahkan putrinya dengan Misri Sahib dengan anggapan bahwa wahyu tersebut telah mengesampingkan nasehat dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Kemudian ia pun menikahkan putrinya dengan Misri Sahib. Wahyu tersebut tertanggal 9 Februari sedangkan pernikahan tersebut terjadi pada tanggal 19 Februari. Tanggal pernikahan tersebut tercatat dalam sejarah karena berlangsung bersamaan dengan beberapa pernikahan lainnya termasuk pernikahan Hadhrat Nawab Mubaraka Begum Sahiba. Allah Ta’ala secara jelas telah memberi peringatan sebelumnya berkenaan dengan pernikahan Zainab supaya tidak timbul kehancuran di kemudian hari. Namun sang ayah malah mengambil kesimpulan sebaliknya.
Terbukti bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan nasehat kepada Hafiz Sahib, orang tua Zainab tersebut. Dan memang benar Misri Sahib di kemudian hari memisahkan diri dari Jemaat. Seorang sahabat berkata bahwa sungguh di hadapannya, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menasehati Hafiz Sahib agar tidak menikahkan putrinya dengan orang tersebut. Seorang sahabat tersebut tidak suka melihat pernikahan tersebut tetap dilangsungkan. Kemudian sahabat tersebut mendatangi Hadhrat Masih Mau’ud as dan berkata, “Hudhur diutus oleh Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala memerintahkan agar orang-orang mendengar perkataan Hudhur. Namun Hafiz Sahib tidak berbuat demikian.” Hadhrat Masih Mau’ud as membenarkannya akan tetapi beliau menambahkan bahwa beliau tidak mencampuri urusan tersebut.
Ketika riwayat ini sampai kepada Hadhrat Muslih Mau’d ra, beliau ra sedikit pun tidak meragukannya. Namun karena riwayat itu hanya satu saja sehingga beliau ra merasa khawatir. Memang seharusnya ada saksi dalam hal ini yang dapat menjelaskan latar belakang keluarnya Misri Sahib dari Jemaat dan sebagainya. Oleh sebab itu beliau ra befikiruntuk mencari bukti yang kongkrit. Keesokan harinya, beliau ra menerima surat dimana seseorang telah menulis bahwa ketika ia berada di Qadian, ia mempelajari Al-Quran dari Hafiz Ahmad. Orang tersebut pernah menceritakan padanya bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memintanya untuk menikahkan putrinya dengan seseorang akan tetapi ia mengingkarinya. Karena terdapat wahyu “Jangan bunuh Zainab”, maka ia pun mengambil kesimpulan bahwa nasehat beliau as sebelumnya adalah tidak benar. Ia pun kemudian menikahkan putrinya dengan Misri Sahib.
Ia berkata bahwa Misri Sahib sangat keras terhadap putrinya dan ia rasa bahwa hal itu merupakan akibat dari tidak mengindahkan apa yang telah Hadhrat Masih Mau’ud as katakan. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menulis bahwa beliau pun ingat bahwa pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih I ra, Misri Sahib pernah memukul ayah mertuanya di tengah kota. Hadhrat Khalifatul Masih I ra merasa sangat tidak senang dengan Misri Sahib dan Hadhrat Muslih Mau’ud ra telah meminta beliau ra untuk memaafkan Misri Sahib.
Sheikh Abdul Rahman Misri Sahib merupakan bagian dari sejarah Jemaat. Ia merupakan seorang terpelajar yang berbaiat pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as dan Hadhrat Zafrullah Khan Sahib membiayainya untuk pergi ke mesir. Karena perjalanannya ke Mesir itulah maka ia diberi gelar ‘Misri’. Tiba saatnya ketika ia sangat menentang Hadhrat Muslih Mau’ud ra dan melontarkan perkataan yang sangat menentang beliau ra serta berupaya untuk menciptakan perselisihan di dalam Jemaat. Allah Ta’ala senantiasa melindungi Jemaat ini dari rencananya dan beberapa orang diperlihatkan mimpi tentang rencananya tersebut. Dahulunya, Ia begitu dihargai dan dihormati di dalam Jemaat sehingga ketika ia keluar dari Jemaat, seseorang dari Afrika menulis kepada Hadhrat Muslih Mau’ud ra bahwa keluarnya Misri Sahib dari Jemaat sungguh sangat mengkhawatirkan karena jika seseorang yang begitu penting dan berarti seperti ini kehilangan keimanan mereka, lalu bagaimana dengan keimanan orang-orang biasa seperti penulis surat ini. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menjawab surat tersebut seraya berkata bahwa adalah Allah Ta’ala lah yang memutuskan siapa yang penting dan berarti bagi Jemaat dan bukan si penulis surat. Kemudian beliau ra menambahkan bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan Misri Sahib kehilangan arah dan hal tersebut membuktikan bahwa yang penting dan yang berarti bagi Jemaat adalah si penulis surat ini, bukan Misri Sahib. Setelah mengadakan penentangan dan kemudian meninggalkan Jemaat, Misri Sahib mencoba untuk menunjukan betapa pentingnya dirinya dengan menguhubung-hubungkan dirinya dengan wahyu tersebut. Namun setelah Hadhrat Muslih Mau’ud ra menjelaskan kenyataan dibalik semua itu, ia mengeluh kenapa istrinya diseret ke dalam ini semua.
Hadhrat Muslih Mau’ud ra mengatakan bahwa pada nubuatan ‘Jangan bunuh Zainab’ tersebut, Misri Sahib sendiri menekankan hal tersebut pada tahapan selanjutnya. Beliau ra bersabda bahwa peristiwa ini adalah seperti kisah yang diceritakan oleh orang-orang Arab tentang seorang pria yang mengambil sebilah pisau hendak menyemblih seekor kambing namun kemudian menyimpan pisau tersebut dan ia pun lupa. Lalu ada seorang anak yang menyembunyikan pisau tersebut di tanah. Ketika orang tersebut mencari pisau yang hilang tersebut, kambing itu menyeret-nyeret kakinya di tanah. Akibatnya, terkikislah tanah tersebut dan pisau yang disembunyikan tadi pun ditemukan. Dengan demikian, orang tersebut dapat menyemblih kambing tersebut. Jadi ketika seseorang menyebabkan kehancurannya sendiri, orang-orang Arab berkata bahwa ia sendiri telah menemukan pisau tersebut seperti kambing dalam kisah itu. Jika ia telah melaksanakan apa yang Hadhrat Masih Mau’ud as nasehatkan, keimanannya tidak akan menjadi sia-sia. Orang-orang mukmin hendaknya mendengarkan perkataan mereka yang diutus oleh Allah Ta’ala.
Maulwi Muhammad Ahsan Sahib memiliki sifat tergesa-gesa. Suatu kali ketika pergi berjalan keluar dengan Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau salah mendengar perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as ketika beliau as berkata ada perbedaan antara firman tuhan dengan perkataan hamba-Nya. Kemudian beliau as menyampaikan sebuah wahyu dari Allah Ta’ala dan membandingkannya dengan perkataan Hariri (seorang penulis syair). Karena tergesa-gesa, Ahsan Sahib tidak mendengarkan bagian akhir dari perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as dan kemudian berkata bahwa itu merupakan kalam Hariri. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as segera menjelaskan bahwa ini bukanlah kalam Hariri melainkan Wahyu Allah Ta’ala. Segera setelah menyadari kesalahannya, ia langsung berkata betapa indahnya perkataan tersebut.
Hadhrat Muslih Mau’ud ra menceritakan bahwa seorang Sikh datang mengunjungi beliau ra dan berbicara tentang para leluhur beliau ra. Ia berkata bahwa ayahnya telah bertanya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Murtada Sahib, “Saya dengar Tuan memiliki anak selain Mirza Ghulam Qadir. Dimana anak itu?” Hadhrat Mirza Ghulam Murtada Sahib menjawab, “Ia telah menghabiskan hari-hari di dalam mesjid untuk membaca Al-Quran. Saya merasa khawatir darimana ia dapat memperoleh mata pencaharian. Katakanlah kepadanya, agar ia mau bekerja. Saya ingin ia bekerja. Ketika saya telah mengatur segala sesuatunya agar ia dapat bekerja, namun ia selalu menolaknya.”
Ketika orang Sikh tersebut berbicara kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau as menjawab bahwa ayah tidak perlu khawatir. Beliau meminta orang Sikh tersebut untuk menyampaikan kepada ayah beliau bahwa beliau telah bekerja kepada Wujud Yang beliau inginkan dan ia tidak tertarik untuk bekerja kepada manusia. Hal ini sangat memberikan kesan orang Sikh tersebut sehingga ia membuncah setiap kali ia menceritakannya. Suatu kali ia menangis getir karena ia telah pergi ke kuburan Hadhrat Masih Mau’ud as dan ingin bersujud di hadapannya karena kecintaan terhadap beliau as. Namun para ahmadi menghentikannya dan hal tersebut membuatnya tersinggung. Ia berkata bahwa bersujud di kuburan bukanlah sesuatu yang dilarang dalam agamanya.
Maulwi Muhammad Hussain Batalwi dahulu merupakan teman Hadhrat Masih Mau’ud as. Setelah pendakwaan beliau as, ia berkata bahwa adalah ia-lah yang telah membawa Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi terkemuka namun sekarang ia akan membuat beliau as jatuh. Namun demikian, Allah Ta’ala menghapuskan namanya dan sebaliknya menyebarkan nama Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Muslih Mau’ud ra mengatakan bahwa seorang anak Maulwi Muhammad Hussain Batalwi telah menganut agama Hindu. Hadhrat Muslih Mau’ud telah menghubunginya dan memintanya untuk kembali kepada Islam. Maulwi Muhammad Hussain menulis surat yang berisi ucapan terima kasih kepada Hadhrat Muslih Mau’ud ra.
Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa penentangan terhadap Jemaat telah terjadi sejak zaman Hadhrat Masih Mau’ud as namun Jemaat tetap saja mengalami kemajuan. Jemaat telah melewati jalan penuh duri untuk mencapai kesuksesan dan hal ini mengatakan kepada kita bahwa karunia Allah Ta’ala telah menyertainya. Agar karunia ini bertahan lama, Jemaat hendaknya senantiasa sibuk dalam berdoa.
Allah Ta’ala memberkati Hadhrat Maulana Nuruddin, Khalifatul Masih I ra dengan pekerjaan yang sangat mulia. Kemudian, beliau telah sukses menjalankan praktek di kota kelahirannya dimana banyak orang yang mencintainya. Suatu kali, beliau datang ke Qadian untuk mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as dan ketika hendak pulang, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tuan telah melihat dunia dan sekarang tinggallah di Qadian.” Beliau mengamalkannya dan kemudian tidak jadi pulang. Beliau meminta agar barang-barangnya dikirimkan dari kampungnya. Beliau tidak mungkin mengadakan praktek di Qadian namun beliau tidak peduli akan hal itu.
Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as lainnya adalah Maulwi Abdul Karim Sahib. Beliau memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang hanya bisa dinilai oleh orang-orang yang ada di sekitarnya pada saat itu. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda, “Maulwi Sahib meninggal dunia ketika saya sedang berumur 16 atau 17 tahun namun saya mengenal besarnya kecintaan beliau Hadhrat Masih Mau’ud as sejak saya masih kecil berumur 12 tahun. Namun demikian, kecintaannya tersebut memberikan kesan di dalam hati saya.” Ada 2 aspek kepribadiannya yang tidak terlupakan; cara beliau minum seraya bersyukur pada Allah Ta’ala dan kecintaannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Pada saat itu, air sumur mesjid Aqsa sangat terkenal dan beliau akan berkata kepada orang-orang untuk mengambilkannya air. Ketika ia berada di antara para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, terlihat seolah-olah mata beliau sedang memakan fisik Hadhrat Masih Mau’ud as. Seluruh wujud Maulwi Sahib akan menjadi gambaran kegembiraan yang tidak terhingga karena melihat wujud Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau sangat bergairah terhadap segala sesuatu yang beliau as katakan. Adalah kebiasaan Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa beliau mengadakan pertemuan setelah shalat Maghrib. Beliau menghentikan rutinitas ini setelah kewafatan Maulwi Sahib. Ketika seseorang menanyakan hal ini, beliau as menjelaskan bahwa hal tersebut membuat beliau sakit karena kehilangan Maulwi Sahib.
Suatu kali di Qadian, ada seseorang yang melontarkan kata-kata kasar berkenaan dengan Maulwi Abdul Karim Sahib dan orang-orang pun mulai memukulinya. Namun demikian, ia tetap keras kepada dan terus mengulangi kata-kata kasarnya. Pertengkaran pun terjadi. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau masih kecil pada saat itu dan bagi anak-anak dan tentu hal ini menjadi tontonan. Seorang pegulat non-ahmadi biasa mendatangi Hadhrat Khalifatul Masih I ra untuk mendapatkan pengobatan. Ketika mendengar tersebut, ia berfikir untuk ikut ambil bagian dalam keributan tersebut dan kemudian memukuli orang tersebut. Akan tetapi, tetap saja orang tersebut mengatakan apa yang ia ingin katakan. Hadhrat Masih Mau’ud as sangat tidak senang ketika beliau mengetahui kejadian tersebut dan bersabda bahwa ini bertentangan dengan ajaran kita. Beliau bersabda bahwa orang-orang mencaci maki kita namun hal tersebut tidaklah merugikan kita sedikitpun, lalu apa masalahnya jika ada seseorang yang berbuat demikian