Ahmadiyya Priangan Timur

.
Showing posts with label Local News. Show all posts
Showing posts with label Local News. Show all posts

Tuesday, 25 August 2015

Jemaat Ahmadiyah & Warga Saling Mengalahkan di Cigunung Tasikmalaya

Ade Almahdi (Kawalu)
Tasikmalaya - Memperingati hari kemerdekaan RI ke-70 Jemaat Ahmadiyah Wilayah Tasikmalaya adakan pertandingan olahraga persahabatan dengan warga masyarakat non ahmadi.


Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan RI ke-70, rombongan Ansharullah Jemaat Ahmadiyah Wilayah Tasikmalaya yang terdiri dari Mubaligh Wilayah Jabar 7-8, Mubaligh Pembina cabang Cigunung, Amirda Jabar 7-8, 11 orang Anshar, 4 orang Khudam, 1 orang simpatisan dari Wanasigra & 2 orang LI mengunjungi masyarakat Desa Cigunung Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya dimana Jemaat lokal Cigunung berada. 

Kunjungan ini dimaksudkan untuk bersilaturahmi & rabtah dengan tokoh serta masyarakat Desa Cigunung. 

Diawali dengan pertandingan persahabatan Bola Voli antara tim Karang taruna desa Cigunung "IPPS" (Ikatan Pemuda Pemudi Sindangrasa) melawan tim Ansharullah Jemaat Ahmadiyah Wilayah Tasikmalaya yang diwakili oleh Anshar-Khudam Tenjowaringin. Pertandingan ini dimenangkan oleh tim karang taruna dengan skor 4-1. Dilanjutkan dengan pertandingan badminton sebanyak 5 partai gamda, yang dimenangkan oleh tim Ansharullah Jemaat Ahmadiyah dengan skor 4-1. 

Di akhir acara Ansharullah Wilayah Tasikmalaya menyerahkan hadiah kenang-kenangan untuk Karang Taruna desa Cigunung berupa sebuah net bola voli & Bola Voli. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Mubaligh Wilayah Jabar 7-8. 

Ketua Karang Taruna berterimakasih atas kunjungan ini & bisa menjadi sarana untuk memperat tali Silaturahmi diantara anggota masyarakat Cigunung dengan Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya.

Dadi Supriadi mewakili penguruh Ansharullah Wilayah Tasikmalaya mengatakan bahwa melalui kegiatan sehat jasmani dapat menjadi sarana silaturahmi antar anggota Jemaat Ahmadiyah dengan masyarakat sekitarnya. Ansharullah Wilayah memprogramkan kegiatan serupa di Jemaat lainnya melalui Ansharullah cabang.

Kegiatan olahraga & permainan dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI di desa Cigunung merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat disana. Ipa Mustopa sebagai ketua Jemaat Ahmadiyah Lokal Cigunung menjabat pula sebagai ketua pemuda desa Cigunung. Setiap peringatan hari Kemerdekaan RI, beliau selalu menjadi ketua panitianya. 

Hubungan sosial Jemaat Ahmadiyah di desa Cigunung dengan masyarakat sekitar sudah demikian erat. Beliau mengharapkan toleransi yang ditunjukan oleh masyarakat di Cigunung dapat diikuti oleh Desa-desa lainnya di Kabupaten Tasikmalaya juga kota-kota lainnya di Indonesia, sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang harmonis. 


Beliau juga mengajak para anggota Ansharullah Jemaat Ahmadiyah di cabang lain untuk memperat hubungan dengan masyarakat sekitarnya.


Kemerdekaan Bersama Lajnah Imaillah Garut

Kemerdekaan dapat di artikan di saat suatu negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya, di saat seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi. 


Dan sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 bangsa kita sudah tidak terkena atau lepas dari tuntutan penjajah negara lain. 

Dalam memperingati hari kemerdekaan bangsa Indonesia, Lajnah se-daerah Garut mengadakan kegiatan perlombaan yang dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2015 di lapang Ngamplang-Garut. 


Acara ini di hadiri oleh Li 107 orang, Nasirat 42 orang, Banat 7 orang, Mubaligh 3 orang, Anshor 8 orang, Khudam 10 orang, Athfal 36 orang, dan Simpatisan 3 orang. Total yang hadir keseluruhan mencakup 224 orang. Acara ini dibuka oleh Ketua Daerah Li Garut Ny. Euis D. Jubaedah dan di mulai dengan do’a oleh Mln. Yoesnepil.

Adapun perlombaan yang dilaksanakan yaitu Bakiak Cross, Balap Karung, Balap Kerupuk, Karet Berantai, Duel Balon. 

Perlombaan berjalan dengan tertib dan sangat ramai, walaupun terdapat beberapa rintangan yang dirasakan oleh para peserta saat melaksanakan lomba baik yang Tua maupun Muda, namun tidak memecahkan semangat mereka untuk senantiasa berpartisipasi memeriahkan acara Kemerdekaan ini. 

Setelah acara perlombaan selesai dipenghujung acara ini yaitu saatnya pembagian hadiah untuk para pahlawan perlombaan dan di tutup dengan do’a oleh Mln. Tatep Wahyu.

Amatul Hafiz 



Thursday, 20 August 2015

Peringatan HUT RI ke-70 Athfal & Nashirat Ahmadiyah Tasikmalaya

Oleh: Nusrat Amatul Majid
Minggu 16 Agustus 2015, Nasirat dan Athfal Tasikmalaya telah mengadakan peringatan Hari Ulang Tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-70. Kegiatan dilakukan di Balai Pertemuan Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya, jalan Nagarawangi kota Tasikmalaya yang diikuti athfal, nashirat, dan LI.

athfal-nashirat-ahmadiyah-tasikmalaya

Pukul 08.30 WIB, kegiatan di buka oleh Wakil Ketua LI Tasikmalaya, Ibu Iis Ibnu. Tak lupa sambutan diberikan oleh Bapak Mubaligh Wilayah Jabar 7, Mln. Hj. Syaiful Uyun.

“Kemerdekaan adalah anugerah dan juga nikmat dari Ilahi. Bangsa Indonesia harus mensyukuri nikmat kemerdekaan, dengan cara mengisi kemerdekaan dengan mewujudkan masyarakat yang adil makmur dan berkeadaban sesuai dengan cita-cita kemerdekaan”, ucap Bapak Syaiful Uyun. “Kita, Ahmadiyah mempunyai tanggung-jawab moral merawat keutuhan NKRI dan merawat kebhinekaan bangsa Indonesia”, lanjut beliau. Doa pembuka yang menjadi akhir dari acara pembuka dipimpin oleh Bapak Mubaligh Wilayah.

Acara dilanjut dengan perlombaan kemerdekaan. Perlombaaan makan kerupuk, kelereng, dan memasukan benang ke dalam jarum menjadi lomba pembuka yang diikuti nashirat dan athfal. Selain itu lomba pecah balon dan memasukan bola ke dalam keranjang diikuti oleh Ibu-ibu Lajnah. Antusias terpancar dari raut wajah para peserta. Perlombaan berlangsung hingga pukul 11.30 WIB, dengan galah menjadi lomba terakhir.
anak-anak-ahmadiyah-tasrikmalaya-hut-ri

Kegiatan kembali dilanjutkan setelah shalat dhuhur. Makan siang bersama, kemudian pembagian hadiah kejuaraan. Pembacaan kejuaraan dibacakan oleh Ibu Iis Ibnu. Satu persatu sang juara dipanggil untuk mendapatkan hadiah. Selain kejuaraan perlombaan kemerdekaan, terdapat pula kejuaraan hasil karya ilmiah yang diikuti adek-adek nashirat dan athfal.

Selesai dengan pembagian hadiah kejuaraan. Acara diakhiri dengan doa penutup oleh Bapak Mubaligh Wilayah. Sebelum doa, beliau menyampaikan sekilas kisah mengenai W.R Supratman sang pencipta lagu “Indonesia Raya” yang dahulu beliau pernah sempat aktif dalam kegiatan Jemaat Ahmadiyah. Kegiatan seperti ini sangat diperlukan. Disamping untuk hiburan juga dapat menumbuhkan rasa cinta kebangsaan kepada generasi muda Indonesia.




Thursday, 2 July 2015

Kelas Tarbiyat 2015 : 3 Wilayah 2 Lokasi 1 Semangat

Dilaporkan oleh : Syihab Ahmad


Citeguh - Di bulan ramadhan 1436 H ini Jemaat Ahmadiyah gabungan tiga wilayah besar di Jawas Barat mengadakan kegiatan pesantren ramadhan atau yang lebih dikenal dengan nama Kelas Tarbiyat bagi anak-anak usia Sekolah Dasar kelas 4 hingga mahasiswa. Acara ini diadakan selama seminggu penuh di dua lokasi yang berdekatan yaitu Jemaat Wanasigra dan Jemaat Nagrak yang sama-sama berada di Desa Tenjowaringin.

Kelas Tarbiyat yang dimulai pada hari Senin, 22 Juni 2015 ini diikuti oleh 716 peserta dari wilayah Jabar 5 (Priangan Barat), Jabar 6 (Garut), dan Jabar 7 (Priangan Timur). Selama satu minggu penuh para peserta dibimbing serta diberikan tarbiyat secara khusus. Peserta dibagi ke dalam 4 tingkatan kelas. Karena cukup banyak peserta masing-masing tingkatan dibagi lagi dalam beberapa ruangan. Peserta putra dibagi ke dalam 11 ruangan di Jemaat Wanasigra dan peserta putri 13 ruangan di Jemaat Nagrak.


Setiap harinya para peserta memasuki kelas untuk menerima pelajaran mulai pukul 8 pagi. Pelajaran yang diterima oleh mereka diantaranya yaitu Akhlak Fadhilah, Fiqh, Aqidah, Ilmu Kalam, serta Tarikh Islam dan Ahmadiyah. Kelas Ta’lim ini dilaksanakan hingga pukul 12 siang yang bertepatan dengan waktu Sholat Zuhur.  Watu ba’da Zuhur hingga menjelang magrib diisi dengan berbagai aktivitas seperti perlombaan-perlombaan rohani, games, serta evaluasi yang dilaksanakan oleh para mentor. Malam hari tidak ada kegiatan khusus karena para peserta harus mengikuti sholat tarawih berjama’ah. Kegiatan lain yang rutin dilaksanakan pada kesempatan ini adalah tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan per hizeb setiap selesai melaksanakan Sholat Subuh.
 
Di sela-sela kegiatan kelas tarbiyat ini pun sempat dilaksanakan seminar Rishta Nata yang mengikut sertakan para peserta Khuddam dan Lajnah. Kegiatan yang dibimbing oleh para Muballighin ini menekankan kepada para anggota Khuddam dan Lajnah akan pentingnya pernikahan sesama muslim Ahmadi. Pertemuan ini meningkatkan antusias para peserta karena topik yang diangkat sangat erat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
 
Akhirnya pada hari Minggu, 28 Juni 2015 “kemah rohani” para pemuda Ahmadiyah ini ditutup dengan tanya jawab berhadiah yang dipandu oleh para panitia, muballighin, dan pengajar serta pembagian hadiah bagi para juara kelas dan pemenang perlombaan-perlombaan selama Kelas Tarbiyat ini berlangsung. Diharapkan setelah kelas tarbiyat ini timbul kecintaan yang lebih mendalam pada generasi penerus Jemaat Ahmadiyah khususnya di tiga wilayah di Jawa Barat ini.

Thursday, 18 June 2015

Jalsah Salanah Wilayah Garut : Meningkatkan Kecintaan Kepada Allah


Dilaporkan oleh : Syihab Ahmad

Garut - Jum’at terakhir sebelum memasuki bulan ramadhan (12/6) wilayah Garut membuka Jalsah Salanah untuk 12 jemaat lokal di wilayah Garut. Kegiatan rutin tahunan Jemaat Ahmadiyah ini dilaksanakan selama 3 hari. Hadir sebanyak 615 orang peserta selama berjalanya acara yang mengambi tema “Meningkatkan Kecintaan Kepada Allah Ta’ala Dengan Mengikuti Suri Teladan Rasulullah SAW.”

Kegiatan ini dipimpin oleh Mln. Ahmad Hidayatullah yang hadir sebagai perwakilan dari Amir Nasional yang berhalangan hadir. Beliau memberikan ceramah mengenai bagaimana hubungan kita dengan Khilafat. Selain beliau para pembicara lain yang terdiri dari para Muballighin, Amir Daerah, serta tokoh-tokoh Jemaat di Wilayah Garut ini pun menyampaikan ceramah-ceramah yang sangat menarik yang memang sangat khas disampaikan pada saat Jalsah Salanah seperti Nizam Al-Wasiat, Da’i Ilallah, Sholat Berjamaah serta makna daripada Jalsah Salanah yang menjadi air rohani bagi para peserta yang hadir pada kesempatan itu.

Selain ceramah-ceramah kegiatan Jalsah Salanah ini juga diisi dengan menyaksikan Khutbah dari Hadhrat Khalifah Waqt secara live via MTA. Khutbah diterjemahkan dengan bantuan kemajuan teknologi dan media sosial seperti adanya live twit yang mempermudah proses penterjemahan Khutbah ini. 

Drs. Pitoyo M.Ikom
Di malam terakhir Jalsah juga diputar sebuah video dokumenter yang menceritakan perjalanan Jemaat Ahmadiyah sejak 1889 hingga sekarang. Melihat perkembangan Jemaat ini dengan karunia Allah membuat semangat kecintaan kepada Jemaat ini pun semakin bertambah. Selain itu sebuah video footage mengenai Bai’at yang diambil dari mtaonline pun membuat para peserta sangat antusias dan betah melihat penjelasan yang diberikan secara virtual ini.

Akhirnya di penghujung acara tahunan ini seorang undangan khusus memberikan kesan mengenai Jalsah ini. Beliau adalah Drs. Pitoyo M.Ikom Kepala Redaksi Harian Tribun Jabar. Beliau baru saja mendapatkan gelar doktoral setelah mengadakan penelitian terhadap Jemaat Ahmadiyah. Untuk keperluan penelitian ini beliau sampai mengunjungi Qadian dan Kashmir untuk melihat tempat bersejarah Jemaat Ahmadiyah dan makam Nabi Isa as. di Srinagar, Kashmir. Beliau melihat banyak contoh-contoh yang bisa didapatkan dari Jalsah ini. Diantaranya adalah Sholat Tahajud bersama yang menjadi ciri khas dalam setiap pelaksanaan Jalsah.


Thursday, 28 May 2015

Liburan Rohani Lajnah dan Nashirat Kota Intan


Dilaporkan oleh : Adinda Firdhausya Z

Garut - Hari Libur Nasional, 14 Mei 2015 dimanfaatkan oleh Lajnah dan Nashirat di Kota yang berjuluk Kota Intan ini untuk mengadakan Ijtima Daerah. Sebanyak 10 Cabang yang ada di Kota Garut dapat melaksanakan Ijtima Lajnah dan Nashirat dengan lancar dan sukses.

Dihadiri oleh tamu dari PPLI yaitu, Ibu Nisa Ma’ala & Ibu Wati, acara ini dimulai pada pukul 09.00 wib. Perwakilan PPLI menyampaikan beberapa amanat Sadr LI dan beberapa oleh-oleh dari tamu utusan pusat, Mia Abdus Shamad, diantaranya; memperhatikan tarbiyat untuk anak-anak kecil yaitu utamanya Shalat Berjama’ah, Shalat Jumat juga harus ditingkatkan, Menggalakan program Al-Wasiyat, terutama pelajar dan mahasiswa. Membiasakan menonton MTA, terutama Khutbah Jumat Live, Selalu menjalin hubungan baik dengan Allah Ta’ala dan manusia, Mengkhidmati orang miskin dan membiasakan anak-anak menulis surat kepada Huzur.

Tema yang diusung kali ini adalah, “Tarbiyat Keluarga Sarana Membentuk Insan Bertaqwa.” Materi yang disampaikan pun meliputi pendidikan anak dalam keluarga, pendidikan terhadap orangtua beserta beberapa resume khutbah Huzur mengenai introspeksi diri. Acara dibagi menjadi dua bagian, acara evaluasi laporan dan lomba-lomba.Untuk ibu-ibu pengurus, disediakan sesi evaluasi laporan per bidang yang dipandu oleh utusan-utusan PPLI.

Beberapa lomba yang menghiasi Ijtima Daerah menambah ramainya suasana acara ini. Untuk Lajnah disediakan lomba Pidato dan lomba MTQ. Adapula perlombaan Pidato, MTQ & lomba membaca syair untuk anak-anak Nashirat. Sedangkan untuk peserta Athfal, Banath dan Abna panitia menyuguhkan lomba mewarnai.

Acara yang berakhir dengan pembagian hadiah ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ibu Nisa Ma’ala kurang lebih pada pukul 03.00 wib.
Sesuai dengan data yang ada, yaitu; 254 orang LI, 83 orang NAI, 53 orang Banath, 54 orang Athfal & Abna,2 orang tamu PPLI, 19 orang kaum Bapak (termasuk Muballigh 3 orang) yang semuanya berjumlah 458 orang telah berpartisipasi dalam Pengkhidmatan ini.

Harapan dan doa kami, semoga acara Ijda kali ini yang menitik-beratkan kepada Tarbiyat Keluarga, dapat menjadikan Ibu dan calon-calon ibu yang hadir dapat membentuk insan-insan yang bermanfaat dalam perkembangan Jemaat yang kita cintai ini. Aamiin



Tuesday, 12 May 2015

Ahmadiyah Wilayah Garut Memperindah Kota Intan Di Hari Jadi Jawa Barat

Dilaporkan oleh : Syihab Ahmad


Garut - Menyambut Hari Jadi Provinsi Jawa Barat yang ke 70, Jemaat Ahmadiyah sewilayah Garut mengerahkan anggotanya untuk turun ke jalan mengecat trotoar dan pot tanaman di sepanjang jalan Ahmad Yani yang menjadi daerah pantau dalam penilaian untuk penghargaan Adipura yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Kerja bakti ini dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2015.

Sebanyak 40 orang hadir mulai pukul 07.00 WIB di hari pertama wikari amal yang bertepatan dengan hari minggu dimana jalan ini juga dijadikan area Car Free Day. Dimana orang-orang berlalu-lalang dengan ramainya, sekelompok pria dan wanita, tua dan muda turut serta memperindah Kota Garut yang merupakan salah satu daerah tujuan wisata utama di Provinsi Jawa Barat ini. 

Trotoar di jalan sepanjang 500 meter berhasil di touch up dari pagi hingga siang hari yang cukup cerah. Beberapa fasilitas umum yang kotor karena dicoret-coret oleh pihak yang tidak bertanggung jawab serta penuh dengan tempelan kertas pun ikut dibersihkan. Pemandangan jalan di depan alun-alun dan masjid agung Kabupaten Garut ini pun terlihat lebih indah dari sebelumnya. 

Dikarenakan pekerjaan yang dilakukan pada hari minggu ini belum memenuhi target yang direncanakan, pada hari kedua kerja bakti ini pun dilanjutkan dengan dibantu oleh Banser NU Kabupaten Garut. Sekitar 20 orang pemuda Banser bahu membahu menyelesaikan pekerjaan yang pada hari sebelumnya belum selesai dikerjakan. Trotoar di depan SMPN 1 Garut hingga jalan di depan Markas Kodim Kabupaten Garut pun disulap menjadi lebih bagus dari sebelumnya. Kang Yudi, Komandan Banser Kabupaten Garut bertutur “Kami berharap seluruh elemen Garut dapat bergabung untuk mewujudkan Garut yang nyaman, indah dan tetap menjadi tujuan wisata di Provinsi Jawa Barat”


Kegiatan seperti ini pertama kali dilaksanakan di wilayah Garut semenjak terbentuk menjadi wilayah tersendiri. Kegiatan ini pun mendapatkan respon yang cukup baik dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Garut, Aji Sumardji yang datang langsung memantau kegiatan ini. “Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang sudah membantu kami dan memberikan motivasi kepada kami untuk mewujudkan Garut yang indah.” Kata beliau pada kesempatan itu.

Memang untuk mewujudkan kota dimana kita berada indah dan nyaman untuk ditempati bukan hanya tugas satu pihak saja. Seluruh masyarakat harus memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan, kerapihan, keindahan daerah tempat tinggal mereka dimana pun mereka berada. Kerja Bakti yang dilaksanakan ini pun jika nantinya tidak dijaga dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab maka keindahan ini pun tidak akan berlangsung lama. Cita-cita masyarakat Garut agar daerahnya mendapatkan Adipura pun tidak akan terwujud. (SA)

Foto-foto lainnya :
Lokasi depan alun-alun setelah dibersihkan

Pasukan yang turun di hari pertama

Bersama Banser NU di hari kedua




Friday, 10 April 2015

IFI, UPI, dan Al-Wahid : Bahasa Perancis Di Penjuru Tasikmalaya


Dilaporkan oleh : Raissa Nurul Siddiqa

 Wanasigra - Di Kamis pagi yang cerah, hari ke 9 di bulan April. Siswa Al-Wahid khususnya  jurusan sosial, serta para guru, menyambut kedatangan tamu yang berasal dari IFI(Institut Français Indonesia) dan dosen pendidikan bahasa Perancis, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Barisan para siswa yang tersenyum hangat dan sapaan “halo” dengan bahasa Perancis mengantarkan Monsieur Louis, Madame Marie,  Ibu Iim, dan Ibu Ratri ke ruangan dimana acara itu akan berlangsung.

Setelah semua memasuki ruang multimedia, Teguh dan Resa yang sama-sama berasal dari kelas XI IPS membacakan susunan acara menggunakan bahasa Perancis. Acara pertama yaitu menyanyikan lagu Indonesia Raya, semua orang yang berada dalam ruangan berdiri dengan tegap dan khidmat saat menyanyikannya lalu dilanjut dengan Mars Al-Wahid yang hanya dinyanyikan oleh paduan suara, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang diartikan ke dalam bahasa Perancis oleh siswa kelas XII IPS. Setelah itu, Fauziah Halimah dengan gugup berbicara beberapa hal tentang Al-Wahid yang walaupun gugup, Fauziah tidak lupa untuk melukiskan senyumnya yang manis. Setelah Fauziah, penampilan kelas XI Putri ini diteruskan dengan pembacaan puisi yang dibawa oleh Rina Susana dan Isma Amatul Haviz. Setelah penampilan dari siswa-siswi Al-Wahid, Kepala Sekolah yang sekaligus guru bahasa Perancis, Bapak Cecep Ahmad Santosa menyampaikan sambutannya menggunakan bahasa Perancis yang  fasih. 

Setelah pembukaan dari pihak Al-Wahid, barulah Monsieur Louis Presset yang datang ke Al-Wahid bukan tanpa sebab tapi untuk mempromosikan IFI sebagai lembaga yang dapat memfasilitasi para siswa yang punya keinginan untuk dapat berbahasa Perancis atau ingin melanjutkan studi ke negeri menara Eiffel itu dan memotivasi murid Al-Wahid untuk belajar bahasa asing ini berbicara di hadapan murid Al-Wahid. Dengan bantuan Ibu Iim sebagai penterjemah, Monsieur Louis memperkenalkan diri. Monsieur Louis ini adalah direktur IFI yang berada di Bandung dan seorang Konsulat Negara Perancis. Beliau merasa tersanjung dan senang berkunjung ke Al-Wahid ini, “Tidak disangka, sekolah yang letaknya lumayan jauh ini para siswanya mempelajari bahasa Perancis”  begitu katanya. Beliau juga mengatakan bahwa sekolah Al-Wahid ini seperti surga mengingat lokasinya yang berada di daerah persawahan nan hijau. Ibu Dr.Iim yang merupakan Kepala Studi Pendidikan Bahasa Perancis di UPI ini menambahkan, “SMA Al-Wahid ini adalah satu-satunya sekolah yang berada di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya yang mengajarkan bahasa Perancis”. Sebuah nilai plus yang juga menjadi kebanggaan SMA Plus Al-Wahid. Di SMA Al-Wahid sendiri pelajaran bahasa Perancis sudah ada sejak tahun 2003 ketika Bapak Cecep mulai mengajar disana.

Usai Monsieur Louis menjelaskan beberapa hal tentang IFI, kini giliran Madame Marie dan Ibu Ratri yang mana pengajar di IFI juga, menjelaskan tentang pendidikan di Perancis. sebelumnya siswa-siswi Al-Wahid diperlihatkan sebuah video animasi yang menjelaskan tentang apa saja yang ada di Perancis. Ibu Ratri menjelaskan bagaimana caranya agar bisa bersekolah di Perancis dengan gratis dengan mendapatkan beasiswa. Madame Marie pun dengan antusias menjelaskan apa saja yang harus dipersiapkan jika para siswa ingin melanjutkan studinya di Negara tempat kelahiran Napoleon Bonaparte ini. Jika ingin melanjutkan studi di Perancis tidak harus mengambil jurusan Bahasa Perancis tetapi bias dalam jurusan apa saja karena Perancis sendiri memilki beberapa Universitas terbaik di dunia yang memiliki banyak sekali jurusan. 
Monsieur Louis, Dr. Iim dan Bapak Cecep
Asik membicarakan tentang sekolah di Perancis, tak terasa jarum di jam sudah menunjukkan pukul 11. Ibu  Iim mengatakan bahwa ini sudah waktunya untuk berpamitan. Beliau mengatakan akan ada kerja sama yang dijalin antara IFI, UPI, dan Al-Wahid. Langkah awal adalah akan ada kunjungan dari para mahasiswa UPI jurusan Bahasa Perancis ke SMA  Al-Wahid dalam waktu dekat. Beliau juga memotivasi murid Al-Wahid untuk terus mempelajari bahasa Perancis. Sebelum kepulangannya, mereka memberi murid alwahid kenang-kenangan berupa notebook dan stiker. Motivasi itu akan tertanam di dalam diri para Alwahidians untuk bersekolah di Perancis suatu hari nanti. Semua yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin jika kita berusaha. Merci beaucoup, monsieur! 

Monday, 6 April 2015

Mesjid Sukasari Menjadi Simbol Pemersatu Umat

Dilaporkan oleh : Syihab Ahmad

Tenjowaringin - Sekitar seribu orang bergantian gotong-royong dalam proses pengecoran lantai dua Mesjid Al-Falah Sukasari, Desa Tenjowaringin Kecamatan Salawu Tasikmalaya. Tua, muda, laki-laki dan perempuan tumpah ruah dalam wikari amal bagian pertama yang dilakukan pada hari yang cerah tersebut.
 
Kegiatan wikari amal ini berlangsung pada hari Minggu, 5 Maret 2015. Masyarakat dari kampung-kampung sekitar Sukasari berdatangan sesuai dengan jadwal yang telah diberikan masing-masing. Tidak hanya anggota Jemaat Ahmadiyah saja yang terjun dalam pengecoran mesjid ini, beberapa orang masyarakat yang bukan anggota Jemaat Ahmadiyah juga ikut serta dalam pembangunan salah satu mesjid terbesar di Desa Tenjowaringin ini.
 
Masyarakat di desa Tenjowaringin memang sudah biasa saling membantu satu sama lain. Perbedaan keyakinan tidak membuat warga terpecah-belah. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa kali pembangunan mesjid. Baik itu mesjid milik Jemaat Ahmadiyah ataupun sebaliknya.
 
Ahmad Fatahuddin, DKM Mesjid Nurussalam Desa Sukamurni yang ikut membantu dalam wikari amal ini mengatakan bahwa dirinya dengan senang hati membantu. “Saya tidak diminta untuk datang kesini. Ini hanya keinginan saya membantu pembangunan mesjid yang juga termasuk amal jariah.” Kata beliau. “Sewaktu pembangunan mesjid Nurussalam pun anggota Jemaat Ahmadiyah membantu kami baik dari segi tenaga maupun materi.”
 
Bapak Ade Suryana, Ketua RT setempat pun mengatakan bahwa selama ini masyarakat cukup harmonis. Perbedaan ideologi tidak menjadi masalah yang berarti bagi masyarakat untuk saling membantu satu sama lain”

Pembangunan mesjid yang diperkirakan akan menghabiskan biaya 400 juta rupiah ini telah berlangsung sejak tanggal 20 Februari 2015. Diharapkan mesjid ini nantinya dapat menampung seluruh anggota di Jemaat Sukasari yang diperkirakan berjumlah tidak kurang dari 500 orang.
 
Semoga mesjid ini menjadi tanda perdamaian yang selalu terjalin di desa Tenjowaringin ini serta menjadi simbol sejati Islam yang dari awal diturunkan kepada Rasulullah saw. adalah untuk mengajarkan perdamaian kepada seluruh umat manusia.

Menjadi Percaya Diri Melalui Kelas Murabbi

Dilaporkan oleh : Adinda Firdhausya

Garut - Dalam rangka menggali potensi guna menetaskan bibit-bibit Murabbi di Wilayah Jabar 6, Pengurus Wilayah Garut mengadakan kelas Murabbi yang diadakan di Aula Mesjid Nasir, Garut. Kelas Murabbi ini diikuti oleh 10 Jemaat lokal, dengan rata-rata peserta yang hadir sebanyak 40 orang setiap pertemuan.

Pelatihan yang dilakukan sekali dalam seminggu dan dimulai ba’da Dzhuhur ini di pandu oleh Bapak Mansoor Ali sekaligus koordinator acara. Yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini yaitu Mln. Ridwan Ahmad, Mln. Tatep Wahyu, Mln. Syihab Ahmad, serta Bapak Bubun Sadkar. Sebelum acara Kelas Murabbi dimulai, para peserta disuguhi pelajaran Ta’limul Qur’an yang disuguhkan oleh Mln. Ridwan Ahmad yang berlangsung kurang-lebih selama satu jam.

Pada jam berikutnya tiba saatnya peserta mendengarkan beberapa teori menjadi murabbi dan khatib yang baik dari para narasumber. Mln. Syihab Ahmad menjelaskan bagaimana menjadi Khatib pada saat Khutbah Jum’at yang baik, kemudian Bapak Bubun Sadkar bagaimana menyampaikan pidato atau ceramah dengan gaya yang santai dan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.  Bapak Mansoor Ali pun memberikan materi mengenai tips dan trik menjadi Pembicara yang enak didengarkan dan tidak berbelit-belit serta bagaimana cara menghilangkan gugup di atas mimbar. Beberapa slide dan video pun disampaikan untuk menunjang pembelajaran ini.
 
Dengan metode belajar yang disampaikan oleh mentor, terlihat meskipun baru 4 kali pertemuan, beberapa bapak dan ibu sudah berani menyampaikan resume Khutbah Jum’at (Khalifatul Masih V atba) dengan gayanya masing-masing. Beberapa mentor termasuk Mln. Ridwan Ahmad, Mln. Syihab Ahmad & Mln. Tatep Wahyu Rahimullah, Bapak Bubun Sadkar, Bapak Cecep Ahmad Santosa juga memberikan motivasi dan penilaian yang mampu membangkitkan minat dan kepercayaan diri peset agar menjadi Murabbi yang baik dan benar.
 
Semoga dengan adanya Kelas Murabbi di wilayah Garut (Jabar 6) ini dapat memberikan ilmu penyegaran yang membasuh bibit-bibit Murabbi sehingga siapa saja dapat menyampaikan mengenai Ajaran Islam dan Ahmadiyah yang sesungguhnya, tentu saja berdasarkan Ilmu dan fakta yang kita pelajari ini.

Wednesday, 1 April 2015

Pengobatan Homoeopathy di Desa Sukasono Bersama Mahasiswa UNIGA

dilaporkan oleh : Syihab Ahmad

Garut - Di akhir minggu pada bulan Maret ini Tim Homoeopathy Wilayah Priangan Timur bekerja sama dengan para mahasiswa Kuliah Nyata Mandiri UNIGA (Universitas Garut) mengadakan pengobatan gratis di Desa Sukasono Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut. Pengobatan ini bertempat di SDN III Sukasono.

Menggunakan 3 buah mobil tim homoeopathy yang dimotori oleh Kurnia Wardi berangkat dari Mesjid Nasir pukul 09.00 WIB dengan membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan pada saat pengobatan nanti. Dengan cuaca yang cukup bagus dan jalan yang terbilang masih cukup terawat rombongan yang terdiri dari 15 orang ini tiba di lokasi pada pukul 09.45.
Setibanya di lokasi tim homoepathy yang sudah beberapa kali mengadakan pengobatan gratis ini pun langsung bersiap-siap dan pada pukul 10.00 pengobatan pun resmi dimulai. Awalnya terlihat masih sedikit yang hadir di lokasi pengobatan. Masih bisa dihitung dengan jari. Panitia pun terlihat agak cemas kalau-kalau warga tidak memenuhi ekspektasi mereka. Tetapi kecemasan menjadi sirna ketika memasuki tengah hari. Terlihat masyarakat berbondong-bondong menuju ke lokasi pengobatan silih bergantian untuk mendapatkan kesempatan yang cukup langka ini. Bahkan beberapa orang memilih pulang dulu ke rumahnya karena melihat daftar antrian yang cukup panjang.
Menurut Riki - Koordinator panitia penyelenggara – hadir sekitar 300 orang pada kesempatan kali ini. Masyarakat terlihat sangat antusias untuk mendapatkan pengobatan secara gratis. Kegiatan ini pun harus berlangsung hingga pukul 17.00 karena pasien yang terus berdatangan. “Baru ada mahasiswa yang praktek disini kemudian mengadaka pengobatan secara gratis”, papar salah seorang masyarakat yang hari itu datang berobat.
Kegiatan ini dalam rangka bagian dari praktek kerja nyata para mahasiswa di desa tersebut. Pengabdian kepada masyarakat seperti ini pun diakui oleh Riki baru pertama kali diadakan dan tidak disangka respon dari masyarakat ternyata sangat bagus. Ahmad Syarifuddin, Kepala Desa Sukasono pun mengucapkan rasa terima kasihnya karena pengobatan ini sangat membantu masyarakat apalagi masyarakat yang tidak mampu. Tercatat 542 orang kepala keluarga berada di bawah garis kesejahteraan di desa ini.
Menurut Oman Rohman salah satu Homoeopath yang bertugas penyakit yang cukup banyak ditemukan pada pasien yaitu gatal-gatal dan rematik. Ada sekitar lima orang yang juga langsung mendapatkan treatment khusus oleh pak Oman sehingga tangan yang tadinya susah digerakkan menjadi lebih ringan dengan perawatan khusus ini.
Ada sebuah cerita yang cukup lucu pada saat pengobatan ini. Seorang kakek yang pendengarannya kurang bagus dan salah mendengar instruksi dari Homoeopath. Beliau memasukkan globul bersamaan dengan tutup botol homoeopathynya. Hal ini kontan membuat petugas cukup panik khawatir tutup botol tertelan atau lebih parah tersangkut di tenggorokan kakek tersebut. Alhamdulillah setelah bagian tengkuknya dipukul sedikit oleh petugas tutup botol tersebut dapat dikeluarkan kembali.
Pukul 17.00 WIB akhirnya pengobatan dapat selesai dilaksanakan dengan lancar. “Kita mengharapkan ada follow-up dari masyarakat dan panitia mengenai perkembangan penyakit dari pasien yang berobat.” Kata Kurnia kepada para mahasiswa yang bertugas disana. Akhirnya rangkaian kerja sama itu ditutup dengan makan malam bersama yang ternyata sudah disiapkan oleh para mahasiswa. Sebuah penutup yang manis pada kegiatan sosial yang cukup menguras tenaga ini.



Tuesday, 31 March 2015

Character Building Camp SMA Plus Al-Wahid

dilaporkan oleh : Tahirah Sulh Amatunnaim

Wanasigra - Kemah karakter, itulah nama yang di berikan oleh Wakasek Humas SMA Plus Al-Wahid, Bapak Dodi Kurniawan untuk kegiatan yang di selenggarakan pada tanggal 26-27 Maret 2015 di SMA Plus Al-Wahid. Kemah karakter yang bertemakan Pendidikan Karakter Sesuai Dengan Ajaran Islam ini, merupakan salah satu program kerja OSIS SMA Plus Al-Wahid masa bakti 2014/2015. Kegiatan yang menginduk pada seksi kerohanian OSIS SMA Plus Al-Wahid ini, dimulai pada hari Kamis, 26 Maret 2015 pada pukul 13.00 WIB. Walaupun saat itu hujan mengguyur kampung Wanasigra dengan derasnya, tetapi tidak mengurangi rasa antusias para siswa/i SMA Plus Al-Wahid untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh tim murattal kelas X putra, dilanjutkan dengan pembacaan syair oleh tim syair kelas XI putri, kemudian sambutan dari Kepala Sekolah SMA Plus Al-Wahid, Bapak Cecep Ahmad Sentosa yang merasa senang dengan diselenggarakannya kegiatan ini dan bangga karena kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan dan dipersiapkan oleh para siswa sendiri. Tak lupa juga, sambutan dari Ketua OSIS, Afdal Hidayat yang berasal dari Papua kemudian laporan dari Ketua Pelakasana. Acara pun dibuka dengan doa pembuka yang di pimpin oleh Mubaligh Pembina SMA Plus Al-Wahid, Mln. Nur Ahmad Firmansyah.
 
Setelah dibuka maka acara pun masuk kepada intinya. Untuk pemateri sesi pertama yaitu Bapak H. Muhammad Raffi, beliau merupakan narasumber yang berasal dari Cimahi, Bandung. Seorang motivator profesional. Dalam kesempatan ini, beliau memberi arahan kepada seluruh peserta tentang penting nya memiliki tujuan hidup dan pentingnya karakter mulia bagi generasi Ahmadi. Anak-anak Ahmadi harus memiliki target dalam hidup mereka dan inilah nanti yang membentuk karakter mereka. Kalau karakter positif yang menempel maka hasil yang diperoleh pun akan positif.  Dengan gayanya yang santai dalam memberikan materi membuat seluruh peserta menjadi lebih bersemangat, selalu saja ada gelak tawa di tengah pemberian materi tersebut. Pukul 17.00 WIB, seluruh peserta beristirahat, untuk makan sore dan persiapan Shalat Magrib.
 
Materi sesi 2, dimulai pukul 19.00 WIB, dengan Bapak Udi Marsono sebagai pematerinya. Pada sesi ini, seluruh peserta di ajak untuk merelaksasi saraf-saraf mereka. Seluruh peserta diminta untuk terlentang dan menutup kedua matanya, dengan keadaan lampu yang dipadamkan. Di tengah kegelapan, alunan syair pun diperdengarkan, dan dengan diiringi wejangan dari beliau, tentang betapa penting nya  berkhidmat kepada kedua orang tua. Hampir seluruh siswi menitikan air matanya karena ingat kepada kedua orang tua mereka. Apalagi bagi siswi yang jauh dengan kedua orang tuanya.
 
Setelah selesai melakukan relaksasi, untuk mengembalikan keceriaan peserta, Bapak Muhammad Raffi mengajak seluruh peserta untuk menyanyikan Mars SMA Plus Al-Wahid, rasanya begitu khidmat sekali ketika menyanyikan mars bersama. Sebelum peserta di persilahkan untuk istirahat malam, diadakan acara perpisahan dengan kedua pemateri yang telah bersedia hadir di acara tersebut. Tak lupa, pemberian cinderamata diberikan oleh Kepala Sekolah SMA Plus Al-Wahid. Kemudian setelah itu, seluruh peserta dipersilahkan untuk istirahat malam.
 
Pukul 03.30 wib, sang mentari masih bersembunyi, udara dingin rasanya begitu menelusup ke dalam tubuh, ditengah indah nya sepertiga malam, seluruh peserta melaksanakan tahajud bersama. Rasanya udara yang begitu dingin, kalah dengan hangatnya kebersamaan dan rasa khusyu saat Tahajud berjamaah. Setelah Sholat Subuh Daaniyal siswa kelas XII memberikan daras Subuh dengan tema kesederhaan Rasulullah saw. yang harus dicontoh oleh seluruh generasi muda Islam. Rasa kantuk di pagi hari sirna ketika panitia memberikan bubur kacang hijau yang masih hangat kepada seluruh peserta. Pukul 06.00 WIB seluruh peserta telah siap untuk mengikuti senam pagi yang dipimpin oleh Sultan Mubarak Ahmad dan Asep Hermawan, dengan gaya mereka yang khas dalam menjadi inspektur senam. Suasana yang santai membuat seluruh peserta lebih ceria lagi. Fisik sehat, hati pun senang. Setelah sejenak menggerakkan badan para peserta pun diajak berjalan santai ke tempat yang tidak terlalu jauh dari sekolah.
 
Pukul 8.30 setelah sarapan maka menginjak acara terakhir pada kegiatan ini yaitu penutupan. Pada kesempatan ini disampaikan kesan pesan dari perwakilan peserta, "Acara ini sangat mengesankan. Pengajian OSIS kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Mubarak untuk seluruh pengurus OSIS, sebagai panita pelaksana kegiatan ini" ucap salah satu perwakilan peserta. Dan yang terakhir, doa penutup yang dipimpin oleh mubaligh pembina SMA Plus Al-Wahid untuk mengambil berkah dari kegiatan ini. Dan tak lupa, untuk tetap menjaga silaturahim antar peserta dilakukan mushafahah sebelum akhirnya seluruh peserta pulang kembali ke rumahnya masing-masing.
 
Walaupun, kurang dari 24 jam saja, waktu yang mereka habiskan bersama. Namun rasanya itu bisa menambah rasa kebersamaan dan hangatnya rasa kekeluargaan di sekolah, apalagi untuk siswa kelas XII yang akan meninggalkan SMA Plus Al-Wahid dalam waktu dekat. Tak ada yang lebih indah dan hangat daripada kebersamaan.

Wednesday, 4 March 2015

Pelajari Ahmadiyah Pemuda Singapura Live-in di Wanasigra

Wanasigra - Sabtu, 24 januari 2015 menjadi hari yang bersejarah bagi Razi Uddin, Khuddam asal Singapura yang selalu setia memakai kaca matanya itu, untuk pertama kalinya menapakkan kaki di Kp. Wanasigra, Tenjowaringin-Salawu, Kab. Tasikmalaya. Khuddam yang akrab di panggil Razi ini akan menjalani live-in selama satu bulan di Kp. Wanasigra dan ikut belajar di SMA Plus Al-Wahid. Bapak Mubarik Ahmad, pamannya yang berasal dari Indonesia yang merekomendasikan agar Razi tinggal dan belajar di Wanasigra, khususnya di SMA Plus Al-Wahid.

Tujuan pemuda berperawakan tinggi ini untuk mempelajari ilmu Al-Qur’an, Bahasa Arab, dan tentunya mempelajari ke-Ahmadiyahan. Selama satu bulan, pria yang lahir pada tanggal 17 oktober 1997 ini, tinggal di rumah Bapak Dodi Kurniawan, salah satu guru SMA Plus Al-Wahid yang rumahnya pun tak jauh dari tempat beliau mengajar. Bapak Dodi, juga adalah guru yang membantu Razi untuk belajar Bahasa Arab. Selain Pak Dodi, ada beberapa guru yang juga membantu, seperti Muballigh Pembina SMA Plus Al-Wahid, Mln. Nur Ahmad Firmansyah, yang mengajarkan tentang ke-Ahmadiyah-an. Penggemar sepakbola ini mengatakan ilmu yang ia dapatkan sangat banyak. Ia menjadi lebih memahami soal Ahmadiyah yang ternyata cukup besar di Indonesia.

Putra ke-3 dari 5 bersaudara ini, memberikan kesan pertamanya saat tiba di Kp. Wanasigra, ia bilang bahwa disini udaranya dingin, suasana alamnya masih alami, berbeda dengan di negeri singa yang udaranya panas. Walaupun sempat sakit tetapi ia akhirnya dapat beradaptasi dengan cuaca disana. Selain itu, Razi pun berkisah bahwa pada awalnya ia merasa takut, jikalau siswa/siswi SMA Plus-Alwahid tidak mau berteman dengannya, tidak mau bergaul dengannya, karena perbedaan budaya, dan tentunya karena mereka dari negara yang berbeda pula. Namun, setelah menjalani live-in selama kurang lebih empat minggu, ternyata justru kebalikan dari apa yang ia pikirkan sebelum nya. Selama disana, ia pun belajar bahasa sunda dari orang-orang di sekitarya. Tamu istimewa ini pun mengaku menyukai Siomay, juga merasa aneh dengan rasa Tempe karena tidak pernah ia makan selama di Singapura.



Di SMA Plus Al-wahid, Razi mempunyai banyak teman. Kebanyakan temannya adalah yang berasal dari Asta (Asrama Tahir Ahmad). Setiap hari ia habiskan bersama teman-teman barunyya. Mereka Tahajud, Shalat berjamaah, mengaji, belajar menghafal Al-Qur’an bersama-sama. Berbagai macam kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya ia rasakan seperti ngaliwet, ia ikut bersama-sama siswa Al-Wahid lainnya makan bersama di atas daun pisang.

Banyak kenangan yang indah namun ujung pertemuan pun tiba. Apadaya, putra dari Tuan Kamaruddin ini memang harus kembali ke tanah airnya untuk melanjutkan pedidikan. Pada bulan desember tahun lalu (2014) Razi telah menyelesaikan pendidikannya di Yio Chu Kang Secondary School, dan pada bulan April mendatang Razi melanjutkan pendidikan nya di Polytechnic National Singapore.
ahmadiyya-singapore

Razi meninggalkan Wanasigra pada tanggal 19 februari 2015. Di jam-jam terakhir kepulangannya, ia masih sempat mengikuti kegiatan pekan Nasirat dan Athfal di cabang Wanasigra sekaligus memperingati Hari Muslih Mau’ud ra.

Tentu banyak hal yang tak akan ia lupakan dengan mudahnya, "Saya pikir saya tidak akan pernah melupakan ketika saya tinggal di Wanasigra, terutama teman-teman saya, guru-guru yang sudah membimbing saya, serta orang-orang yang ada di sekitar saya.” Itu yang ia sampaikan ketika ditanya bagaimana perasaannya ketika hendak meninggalkan tempat yang memberikan kenangan selama satu bulan ini.

Pemuda dari negeri jiran ini juga menyampaikan pesan nya untuk teman-temannya di SMA plus Al-Wahid, "Pesan saya untuk teman-teman di SMA Plus Al-wahid, apapun yang terjadi, apapun yang sedang kalian pelajari sekarang, jangan mengeluh, segala sesuatu mempunyai proses, setiap apapun yang kalian lakukan mempunyai konsekuensi, jangan menyerah, tetap kejar impian kalian untuk menuju kesuksesan. Oke?”

Begitulah, setiap pertemuan, ada perpisahan. Setiap ada yang pergi, pasti akan ada yang datang. Semoga perpisahan ini menjadi awal dari pertemuan yang selanjutnya. Kejarlah mimpi-mimpi besar kalian, hingga pada satu titik, ketika Allah mengizinkan, Allah akan mempertemukan kalian lagi. (Tahirah)
ahmadiyya-singapore