Ahmadiyya Priangan Timur

.

Monday, 20 July 2015

Khutbah Jumat: Mutiara Hikmah Hadhrat Khalifatul Masih II ra

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
tanggal 01 Mei 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.
بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

khutbah-jumat-khalifatul-masih-v
Ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra menyebutkan peristiwa-peristiwa dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau ra melakukannya dengan maksud menarik kesimpulan-kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut yang terlihat hanya oleh mata orang yang memandangnya dengan sangat baik secara rinci dan memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman ke arah jalan yang benar, menjadikan mereka arif haqiqi (orang yang berpemahaman sejati) tentang agama Allah dan mengerti hakekatnya.

Pada suatu waktu beliau ra memberikan komentar (tafsir) pada Ayatul Kursi [Surah Al-Baqarah; 2 : ayat 256 dari Al-Qur'an] dan beliau as menjelaskan bagian dari ayat yang Allah telah firmankan, لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ "Kepunyaan Dialah segala apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?"

Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengatakan, “Allah berfirman, ‘Katakan padaku sekarang bukankah Tuhan kalian itu Pemilik semua yang ada di langit dan di bumi maka bagaimana kalian dapat menjadikan yang lain menggantikan-Nya sebagai tuhan kalian?’ Orang-orang mengatakan, ‘Kita tidak menyembah siapapun selain Allah dan tidak berdoa kepada selain-Nya.’ Namun mereka berkorban (bersedekah) atas nama-nama selain Allah dan meminta mereka untuk memenuhi keinginan hati mereka karena menyangka mereka adalah orang-orang yang dikasihi Allah dan sehingga mereka akan dapat membuat syafaat (memberikan permohonan kepada Allah berisi usulan atau rekomendasi agar seseorang lain diberi kemudahan dan sebagainya) di hadirat Allah untuk kita.”

Beliau ra mengatakan, “Di ayat ini Allah berfirman, ‘Tidak ada yang dapat memberi syafaat tanpa izin dari Kami.’ Siapakah orang yang lebih agung dari Hadhrat Masih Mau’ud as di masa ini? Suatu ketika, saat beliau as berdoa untuk Abdur Rahim Khan, putra Nawab Muhammad Ali Khan Sahib, yang sedang sakit, beliau as menerima wahyu bahwa Abdur Rahim Khan ditakdirkan meninggal. Hadhrat Masih Mau’ud as berpikir Nawab Sahib telah meninggalkan semuanya untuk datang ke Qadian dan jika anaknya meninggal, ia mungkin jatuh ke dalam percobaan. Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ‘Ya Allah! Saya memohon, memberi syafaat atas nama anak ini.’ Setelah itu, wahyu datang, "من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه." ‘Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?’ Perhatikanlah! Hadhrat Masih Mau’ud as adalah manusia agung dan luhur yang derajatnya sedemikian rupa sehingga dunia menunggu kedatangannya selama tiga belas abad, tetapi bahkan ketika beliau berdoa memohon kepada Allah untuk memberi syafaat, dijawab oleh-Nya, "من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه." ‘Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?’

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, ‘Ketika wahyu ini datang ke saya, saya terjatuh dan tubuh saya gemetar seolah-olah hidup saya akan berakhir ... tapi ketika kondisi ini meliputi saya, Allah Ta'ala, berfirman, ‘Baiklah, Kami memberikan izin untuk doa syafaat. Berdoalah.’ Dengan demikian, Hadhrat Masih Mau’ud as memohon syafaat untuk anak itu dan Abdur Rahim Khan (nama anak itu) diselamatkan dan kembali sehat.”

Ini adalah karunia Allah Yang Maha Esa bahwa Dia menerima doa beliau as dan izin diberikan pada beliau as untuk memberi doa syafaat. Tapi, ketika Allah Ta'ala berfirman kepada orang seperti Hadhrat Masih Mau’ud as, “Siapakah engkau sehingga engkau memberi syafaat di hadapan-Ku?”, maka apa yang dapat dikatakan tentang orang-orang lain yang menganggap diri mereka itu besar dan suci sehingga mereka merasa dapat memberi syafaat atas nama siapa saja?

Hal ini terbukti dari hadis-hadits bahwa Nabi saw  hanya akan memberi syafaat ketika beliau diberi izin oleh Allah Ta’ala. Jadi betapa bodohnya orang yang mengatakan bahwa seseorang akan mampu menjadi pemberi syafaat atas namanya sendiri. Gagasan salah ini telah menyebabkan banyak kebiasaan buruk di masyarakat kita seperti menyembah kuburan, dan menyekutukan sesuatu dengan Tuhan sebab orang-orang tersebut mulai menyembah para pemuka agama mereka.

Setiap Ahmadi harus ingat ini dengan baik bahwa Allah Ta'ala, mengatakan kepada Baginda Nabi Muhammad saw  juga, “Engkau akan dapat memberi syafaat untuk seseorang hanya jika izin diberikan oleh-Ku.” 

Kemudian, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memberikan contoh bagaimana Allah Ta'ala, memperlihatkan kuasa-Nya yang ajaib dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Suatu kali Hudhur as terganggu oleh batuk yang terus-menerus. Penyebabnya, beliau tetap terjaga sepanjang malam untuk perawatan dan pengobatan anak bungsu beliau, Mubarak Ahmad. Pada hari-hari itu saya tidur di sekitar tengah malam dan akan bangun pagi-pagi sekali, tapi tiap kali saya pergi tidur saya mendapati Hadhrat Masih Mau’ud as terjaga dan sama akan terjadi ketika saya bangun beliau as pun dalam kondisi terjaga. Karena semua usaha ini beliau mulai menderita batuk dan sakit-sakitan.” 

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Saya diberi tugas memberikan Hadhrat Masih Mau’ud as obat untuk diminum dan lain sebagainya. Adalah wajar bahwa ketika seseorang diberikan beberapa tugas dia mulai menganggapnya sebagai haknya untuk mencampuri hal-hal yang terkait hal tersebut. Jadi, dengan bertugas memberikan obat-obatan saya pikir itu adalah hak saya untuk membuat saran dalam hal makanan dan minuman Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan demikian, saya juga akan memberitahukan sesuatu dengan gaya memberi saran supaya makan yang ini, tidak makan yang itu dan lain-lain. Obat-obatan resep Hadhrat Khalifatul Masih I ra yang beliau ra kirim pun disiapkan dan dibuat bersama dengan obat-obatan model Inggris (Barat) tapi batuk beliau as itu semakin buruk dan lebih buruk. 

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1907. Di waktu yang sama, Abdul Hakeem, seorang yang murtad itu, menulis, ‘Setelah mempelajari batuk Tn. Mirza, ia akan mati setelah menderita TBC.’ Hal demikian membuat kami juga khawatir bahwa ia seharusnya tidak, bahkan salah, diberi kesempatan untuk bersukacita [dengan kewafatan Hudhur as sesuai prediksinya]. Tapi, Hadhrat Masih Mau’ud as sangat menderita batuk dan kadang-kadang serangan akan berlangsung begitu lama sehingga kami pikir napasnya akan berhenti. Pada kesempatan seperti itu, seorang teman datang dari luar Qadian dan membawa hadiah beberapa buah-buahan.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Saya menghidangkan hadiah-hadiah itu untuk Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau memandangi buah-buahan itu dan bersabda, ‘Sampaikanlah Jazakallah ahsanal jaza kepada teman yang mengirimkan buah-buahan ini’, dan kemudian beliau memilih, apa yang saya duga adalah pisang dari antara buah-buahan. Kemudian, entah karena saya biasa memberikan obat-obatan atau karena untuk mengajari saya sebuah pelajaran, Hadhrat Masih Mau’ud as bertanya, ‘Apakah buah ini dianggap baik atau buruk untuk dimakan oleh seseorang yang menderita batuk?’ Saya menjawab, ‘Itu tidak dianggap baik.’ Tapi Hadhrat Masih Mau’ud as tersenyum dan mulai mengupas dan memakannya. Saya menyampaikan lagi bahwa batuk beliau sangat parah dan hal ini tidak baik untuk dimakan ketika menderita batuk. Hadhrat Masih Mau’ud as tersenyum lagi dan terus makan. 

Dalam kebodohan saya, saya bersikeras lagi bahwa itu tidak boleh dimakan dan setelah ini Hadhrat Masih Mau’ud as tersenyum lagi dan bersabda, ‘Saya baru saja menerima wahyu bahwa batuk saya telah sembuh.’ Kemudian batuk tersebut pun mulai hilang saat itu juga, sungguh pun faktanya bahwa pada saat itu tidak ada obat yang digunakan dan juga tidak ada tindakan pencegahan yang dilakukan – memang benar tindakan pencegahan telah diabaikan, namun ternyata batuk tersebut lenyap ….meskipun sebelumnya selama sebulan penuh berbagai pengobatan telah dicoba namun batuk tersebut tidak juga sembuh. Singkat kata, ini adalah tindakan Ilahi. Namun demikian, kita tahu bahwa penyakit bertambah akibat kurangnya tindakan pencegahan dan banyak yang disembuhkan melalui pengobatan tetapi ketika Allah Ta'ala menghendaki, Dia mengintervensi (campur tangan) juga dalam hal ini, dan senjata doa telah Dia ajarkan kepada manusia untuk tujuan ini sehingga manusia dapat memohon kehadirat Allah SWT dan mengucapkan, ‘Hamba tidak menginginkan kebebasan, hamba telah benar-benar begitu frustasi dengan kondisi dan keadaan hamba, Ya Allah, curahkanlah karunia Engkau kepada hamba dan bantulah dalam urusan hamba.’ Dan Allah Ta'ala, juga mengamati bahwa orang ini telah menjadi bergantung sepenuhnya pada-Nya dan Dia menghendaki, ‘Aku harus campur tangan dalam urusan-urusannya’, - sehingga Dia campur tangan dan memanifestasikan Kuasa-Nya.”

Setelah menyebutkan ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memberikan contoh lain yang membangkitkan iman, sebuah peristiwa yang berhubungan dengan Lekh Ram (seorang Pandit Hindu) dan yang dapat disampaikan untuk menunjukkan bahwa ketika Tuhan menghendaki, meskipun meskipun segala sesuatunya ada dalam keadaan sehat walafiyat namun penyakit akan muncul juga…,.Sehubungan dengan Lekh Ram, Allah Ta’ala telah mewahyukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa dia akan mati pada hari kedua Ied dan dalam jangka waktu enam tahun. Kini setiap tahun dalam enam tahun tersebut, bukanlah hal yang besar atau sulit baginya untuk mempersiapkan dirinya secara khusus guna menjamin keselamatan dan keamanannya. Dan itu adalah cara dan tindakan yang baik yang dilakukannya sehingga ia dapat mengatur dan mempersiapkan secara khusus keselamatan dan keamanan dirinya, namun sungguhpun semua itu dilakukan, Allah Ta’ala tetap menggenapi nubuatan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as —walaupun keadaannya nampak bertentangan dengan hal tersebut. Kematian Pandit Lekh Ram telah ditakdirkan terjadi pada tanggal 6 Maret.

Pada awal Maret Lekh Rham diarahkan oleh organisasi mereka untuk pergi ke Multan, tempat ia menyampaikan empat kuliah umum hingga tanggal 4 maret. Kemudian ia diperintahkan untuk pergi ke Sukhar namun orang-orang dari organisasi Arya Samaj Multan menghentikannya pergi ke tempat tersebut karena ternyata wabah sedang merajalela di sana. Pandit Lekh Ram kemudian bersiap untuk pergi ke Muzaffargarh, namun tidak tahu mengapa kemudian ia kembali ke Lahore pada tanggal 6 Maret. Jika ia tidak kembali hari itu, nubuatan ini tidak akan terpenuhi, meski faktanya ada kesempatan baginya untuk tetap tinggal jauh namun nyatanya ia malah tiba di Lahore dan tewas pada waktu yang sudah ditentukan. Contoh ini disampaikan guna membangun fakta bahwa kendatipun semua persiapan yang diperlukan untuk kesehatan, keselamatan dan keamanan sudah dilakukan, namun seseorang tetap mengalami kematian. Jadi jelas bahwa Allah Ta’ala ikut campur tangan atas segala upaya seseorang dan Dia yang menampilkan kekuasaan-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki.

Sahibzada Mirza Mubarak Ahmad Sahib ---yang telah disebutkan sebelumnya dan juga yang mendapatkan perawatan khusus selama sakit oleh Hadhrat Masih Mau’ud as hingga berdampak negatif pada kesehatan beliau as--- Hadhrat Masih Mau’ud amat sangat menyayangi beliau. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan kisah kecintaan tersebut dalam peristiwa sebagai berikut. Beliau ra bertutur, “Kami mempunyai adik yang paling kecil bernama Mubarak Ahmad. Makamnya terletak di sebelah timur makam Hadhrat Masih Mau’ud di Bahishti Maqbara. Beliau sangat disayang Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika kami masih kecil, kami memiliki kegiatan yaitu memelihara ayam.”---[peristiwa tersebut beliau ceritakan untuk menunjukan betapa besar Hadhrat Masih Mau’ud menyayangi Sahibzada Mirza Mubarak Ahmad dan bagaimana beliau as merawat Mian Mubarak]---Beliau ra melanjutkan “Kami sangat suka sekali memelihara ayam. Dan saya memiliki beberapa ayam begitu juga Mir Muhammad Ishaq Sahib demikian pula beberapa ayam yang dipelihara Mian Bashir Ahmad Sahib. Dan sesuai dengan semangat anak-anak setiap pagi kami pergi dan melihat berapa jumlah telur masing-masing dari ayam kami yang bertelur dan saling membanggakan satu sama lain terhadap telur yang dihasilkan… Mubarak Ahmad pun bergabung dalam kegiatan kami tersebut.”

“Suatu hari ia (Mubarak Ahmad) terserang sakit, secara kebetulan berita ini sampai kepada Hadhrat Masih Mau’ud dan wanita yang merawatnya mengatakan bahwa hal tersebut mungkin karena Mian Mubarak sering mengunjungi ayam dan menghabiskan banyak waktu dekat dengan ayam-ayam itu yang kondisi lingkungannya tidak bersih, Hadhrat Masih Mau’ud as menghitung semua ayam-ayam kami tersebut dan membayarkannya kepada kami kemudian ayam-ayam tersebut disuruh agar dimasak. 

Mubarak Ahmad jelas sangat disayangi Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika beliau jatuh sakit Hadhrat Masih Mau’ud amat risau dan menghabiskan begitu banyak waktu hingga orang-orang berpikir bahwa jika beliau wafat Hadhrat Masih Mau’ud as akan sangat menderita serta akan sangat terpukul dan sedih akan hal itu. Namun pada hari Mia Mubarak wafat, Hadhrat Masih Mau’ud terlihat amat menerima keputusan Tuhan seraya berkata, ‘Ini adalah kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita dan kini Dia telah mengambil kembali apa yang merupakan hak-Nya lalu mengapa kita merasa keberatan.’ 

Dengan demikian, sikap dan perbuatan orang-orang beriman adalah untuk mengkhidmati sesama manusia sebanyak yang ia bisa dan menganggap bahwa ini adalah cara untuk meraih pahala dari Allah, namun ketika di sisi lain kehendak dan keputusan Allah Ta’ala mulai bekerja, ia sama sekali tidak mengekspresikan ketidaksabaran dari ketidakpuasan tersebut. Namun mereka yang biasa mengeluh akan mendapatkan dua kerugian, di sini (di dunia) dan di akhirat nanti.”

Kemudian di lain tempat Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan kembali hal tersebut yang diarahkan langsung kepada orang-orang yang tinggal di Qadian. Beliau ra bersabda, “Orang-orang yang hidup di sini telah melihat begitu besarnya perhatian Hadhrat Masih Mau’ud terhadap pengobatan dan perawatan Hadhrat Maulana Abdul Karim dan Sahibzada Mirza Mubarak Ahmad. Orang-orang yang mengamati hal ini mengira Hadhrat Masih Mau’ud as mungkin menganggap kemajuan Jemaat bergantung pada kedua orang ini. Pada masa-masa tersebut tidak ada topik yang lain selain bagaimana cara mengobati mereka berdua. Namun apa yang terjadi ketika mereka wafat? Sesuatu yang sama persis bahwa setelah kewafatan mereka keadaan Hadhrat Masih Mau’ud as segera berubah dan hal ini meninggalkan rasa takjub yang luar biasa bagi setiap orang. Di satu sisi beliau begitu intens memberikan perawatan dan pengobatan kepada mereka setiap harinya dari pagi hingga malam, namun di sisi lain saat kewafatan mereka, Hadhrat Masih Mau’ud as terlihat sangat tegar dan kuat saat menghadapi orang-orang dan mengatakan kepada mereka bahwa Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada beliau tentang kewafatan mereka berdua.”

Pada tempat yang lain Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menguraikan peristiwa yang terjadi segera sesudah kewafatan Mubarak Ahmad, “Setelah meninggalkan rumah, beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as) berbicara dengan orang banyak bahwa ini merupakan ujian dari Allah Ta’ala, dan anggota Jemaat tidak boleh bersedih atas cobaan tersebut. Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Mengenai Mubarak Ahmad saya telah diberikan wahyu sebelumnya bahwa ia akan diambil dari kami pada usia muda, sehingga hal ini sebenarnya membawa kegembiraan sebab tanda Allah Ta’ala telah terpenuhi.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud as bersabda, ‘Dengan demikian, jika saudara kita atau orang-orang yang dekat serta kerabat yang kita sayangi wafat dan ada nubuatan tentangnya dari Allah Ta’ala, maka bersama dengan kesedihan ada juga kebahagiaan dalam kewafatannya. Kebahagiaan tersebut bukan berarti kita menganggap mereka tidak lagi berhubungan dengan kita, bukan sama sekali, kita menganggap mereka ada di tengah-tengah kita, namun kita menganggap Allah Ta’ala lebih dekat dengan kita bahkan lebih daripada orang-orang yang sudah meninggal --- dan tidak mungkin kita menyembunyikan tanda-tanda Allah Ta’ala. Oleh karena itu, ini adalah tugas kita sepenuhnya untuk mewujudkan kepada dunia dua keindahan tersebut: Pada satu sisi kita harus menyebarkan tanda keagungan Tuhan Yang Esa dan membuat dunia mengetahui bahwa ini diwujudkan sebagai jalan untuk menegakkan kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as, dan di sisi lain menjadi sarana pertolongan dan bantuan terhadap mereka yang mengalami dampak dari peristiwa menyedihkan tersebut.

Mereka yang meninggal karena peristiwa tragis, mereka adalah bagian dari kita juga, dan mereka mungkin saja meninggal karena penggenapan beberapa peristiwa yang menakjubkan yang telah dinubuatkan Hadhrat Masih Mau’ud as. Jadi ini merupakan tugas kita untuk membantu semua orang yang menderita. Inilah mengapa Jemaat Ahmadiyah pun membantu orang-orang yang dalam kesusahan. Jika kita menampilkan kedua hal tersebut, yaitu keindahan-keindahan kita, maka kedua kekuatan Allah Ta’ala akan terwujud dalam kebaikan kita juga. Yaitu Kekuatan yang turun dari langit dan juga yang terwujud dari bumi.

Singkat kata, peristiwa-peristiwa dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as ini menjelaskan kepada kita berbagai aspek dan tanggung jawab, yaitu layanilah keperluan anak, penuhilan kebutuhan-kebutuhannya, perhatikanlah kesehatan dan pengobatannya, perhatikanlah teman-teman terdekatnya, pedulilah terhadap perawatan dan kesejahteraannya, ungkapkanlah rasa kegembiraan atas terpenuhinya tanda-tanda Allah Ta’ala, dan ketika Keputusan Allah terwujud maka perlihatkanlah seakan semua itu tidak pernah terjadi sama sekali, arahkanlah perhatian anggota Jemaat kepada Allah, nasehatilah mereka secara paksa agar berjuang sekuat tenaga untuk meraih tujuan yang mulia, tunjukkan bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk memenangkan ridha Allah Ta’ala, dan ketika kita melihat pemenuhan janji Allah maka di satu sisi kita benar-benar senang bahagia, namun di sisi lain saat kita melihat penderitaan manusia dan memerlukan pengkhidmatan di sana, kita harus mengkhidmatinya dengan penuh semangat dan penuh perhatian.

Berbicara tentang ketajaman kecerdasan Sahibzada Mubarak Ahmad, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bertutur, “Ada beberapa alasan mengapa Hadhrat Masih Mau’ud as begitu menyayangi Mubarak Ahmad. Pertama, beliau (Sahibzada Mubarak Ahmad) amat lemah dan sering sakit-sakitan. Maka dari itu, beliau menjadi pusat perhatian dan hal yang wajar ketika seseorang menjadi pusat perhatian orang lain, maka ia akan disayangi oleh orang itu. Kedua, meskipun beliau paling muda dari antara kami (putra-putra Masih Mau’ud) dan hanya berusia beberapa tahun lamanya, namun beliau begitu pintar dan cerdas. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan beliau begitu disayangi oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau (Sahibzada Mubarak Ahmad) baru berusia tujuh tahun namun pada usia itu beliau dapat menyusun syair dengan irama lagu yang tepat. Contoh kecerdasan daya ingat beliau yang kuat yaitu ketika beliau diminta menemukan berbagai ritme (irama) dari syair Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah dituliskan, beliau datang dengan beberapa ritme (irama) dan diantaranya ada beberapa ritme yang bagus sekali.”

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud as menyebutkan sebuah peristiwa yang memberitahukan kepada kita bahwa manusia juga perlu dikhidmati baik secara fisik maupun materi, supaya kita dapat menyatakan sifat Allah Ta’ala yang berkaitan dengan Dia sebagai Rabb kita ---yang memelihara dan mengembangkan kita setahap demi setahap dan membawa kepada kesempurnaan secara bertahap. Beliau ra menuturkan, “Saya tidak akan pernah bisa lupa kejadian tersebut. Pada waktu itu saya masih sangat muda, mungkin berumur enam belas atau tujuh belas tahun saat salah satu saudara perempuan kami wafat yang usianya baru beberapa bulan dan ia dibawa untuk dimakamkan di pemakaman. Setelah shalat jenazah Hadhrat Masih Mau’ud as mengangkat tubuhnya dengan tangan beliau sendiri dan ketika Tuan Mirza Ismail Baig meminta kepada beliau untuk membopong tubuh putri beliau as dan membawa ke kuburan, Hadhrat Masih Mau’ud as menoleh dan berkata, ‘Ini adalah putri saya, dan sebagai putri saya, pengkhidmatan terakhir yang bisa saya berikan kepadanya adalah saya sendiri yang harus membawanya ke kuburan.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menarik kesimpulan dari kejadian tersebut, “Jika kalian berhasrat untuk menjadi perwujudan dari sifat Allah "رب العالمين" ‘Rabbul Aalamiin’, maka penting bagi kalian juga untuk mengkhidmati ciptaan Tuhan dengan materi (secara fisik, jasmaniah). Jika kalian memberikan seluruh kekayaan kalian untuk mengkhidmati agama, dan menghabiskan semua pendapatan kalian guna menyebarkan ajaran Islam, kalian menjadi orang-orang yang telah menerapkan dan mewujudkan ke dalam diri mereka sifat"المالك"  ‘Malik’ (Raja), namun kalian belum menjadi orang-orang yang menerapkan dan mewujudkan ke dalam diri mereka sifat 'Rabbul Aalamiin’. Karena untuk dapat melakukan hal tersebut harus melakukannya dengan tangan kalian sendiri dan senantiasa mengabdikan diri untuk mengkhidmati orang miskin dengan penuh perhatian.” Inilah uraian yang indah yang Hadhrat Mushlih Mau’ud berikan bahwa berusahalah dengan tangan kalian sendiri untuk berkhidmat bukan hanya kepada orang-orang yang memiliki hubungan dengan kalian, namun juga kepada orang-orang yang tidak memiliki hubungan.

Apabila kita merenungkannya, kita akan melihat bahwa hal tersebut menghasilkan sesuatu yang sangat luas yang dapat mendekatkan seluruh bangsa atau manusia—mereka bisa menjadi begitu dekat satu dengan lainnya karena hasil dari perbuatan mereka yang mengkhidmati satu sama lain, dan jika setiap bagian masyarakat melakukannya, maka hal tersebut dapat menghasilkan sebuah masyarakat yang elok.

Selanjutnya Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan kasus Masjid di Kapurtala yang menjadi tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan menunjukan betapa besarnya sikap tawakkal, pengabulan doa beliau as dan keyakinan beliau as yang sempurna kepada Allah. Terjadi sengketa kepemilikan masjid antara para Ahmadi dan non Ahmadi. Kasus ini dibawa ke pengadilan dan para anggota Jemaat menjadi prihatin atas sikap hakim yang menangani kasus tersebut, karena ia menunjukkan penentangannya terhadap Jemaat sejak awal, sehingga mereka menulis doa kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau merespon mereka dengan bersabda, “Jika saya memang benar, kalian akan diberikan masjid.” Sementara itu di tempat yang terpisah sang Hakim terus menerus gigih dengan perlawanannya dan menuliskan surat keputusan yang menentang Ahmadiyah. Esok harinya saat diberikannya keputusan tersebut, sang hakim yang sedang bersiap-siap hendak pergi ke pengadilan seketika terkena serangan jantung dan mati. Hakim yang mengambil alih kasus tersebut kemudian memberikan keputusan yang menguntungkan Jemaat. Hal ini ternyata menjadi sumber besar meningkatnya keimanan para anggota Jemaat. 

Suatu hal yang merupakan Sunnah (kebiasaan) Allah Ta’ala bahwa Dia memberikan kabar-kabar gaib kepada para Rasul-Nya, dan ketika wahyu tersebut terbukti kebenarannya, hal ini menyebabkan keimanan orang-orang yang beriman meningkat. Inilah kabar gaib yang membuat hati orang-orang yang beriman kepada Rasululah saw begitu sangat yakin, meskipun orang-orang lain mulai menangis saat melihat kematian yang menunggu mereka, akan tetapi para sahabat Rasulullah saw saat salah satu dari mereka diberikan kesempatan untuk menyerahkan nyawa mereka di jalan Allah, ia akan melompat kegirangan seraya berkata, فزتُ ورب الكعبة Fuztu wa Rabbil Ka’bah “Aku bersumpah dengan nama Tuhannya Ka’ba bahwa aku telah meraih kesuksesan!” 

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyebutkan kasyaf (pemandangan rohaniah) Hadhrat Masih Mau’ud as yang terpenuhi dalam hitungan menit. Beliau ra berkata mengenai hal tersebut bahwa kadang sebuah kasyaf diperlihatkan dalam keadaan terjaga penuh yang tidak perlu ada penafsiran di dalamnya, bahkan terwujudkan dengan cara yang sama persis seperti yang terlihat dalam mimpi. Maka dari itu kita menemukan contohnya dalam peristiwa kehidupan Hadhat Masih Mau’ud as dan kasyaf yang beliau saksikan. Satu kali Hadhrat Masih Mau’ud as melihat dalam kasyaf bahwa Mubarak Ahmad tergeletak di samping tikar dan mengalami luka parah. Tidak lebih dari tiga menit berlalu dari kasyaf tersebut, nampak bahwa Mubarak Ahmad yang berdiri di samping tikar tergelincir dan terjatuh dan mengalami luka parah, akibatnya pakiannya seluruhnya berlumuran darah.

Selanjutnya berbicara mengenai masa-masa awal Qadian serta berbicara tentang perkembangan Qadian dan Jemaat, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa pernah ada masanya saat tidak ada seorang pun yang bersama Hadhrat Masih Mau’ud as dan datang masa ketika terdapat ribuan orang bersama beliau as dan kini jumlahnya bertambah hingga ratusan ribu orang.

Kemudian, ada saatnya ketika tidak ada satu orang pun yang memercayai beliau di Punjab; akan tetapi kini, pengikut beliau tersebar bukan hanya di India, namun di seluruh benua di dunia. Jika memang benar dunia tidak memercayai beliau, lalu dari manakah semua orang-orang ini datang? Dan kini kalian lihat orang-orang berbondong-bondong di banyak negeri di seluruh dunia menjadi Ahmadi atau Ahmadiyah tersebar di negara-negara tersebut. 

Beliau ra selanjutnya bersabda, “Lihatlah pemandangan ini. Dari antara orang-orang yang duduk di depan saya sekarang, berapakah jumlah dari antara mereka yang beriman di masa-masa awal Hadhrat Masih Mau’ud as? Saya kira ada sedikit sekali orang-orang yang ada dalam pertemuan ini yang melihat wajah Hadhrat Masih Mau’ud as secara pribadi. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang hanya melihat foto beliau. Lalu ada beberapa yang melihat wajah beliau namun tidak diberikan kesempatan untuk duduk sebagai sahabat beliau. Dan ada sedikit sekali --tidak lebih dari beberapa belas orang--- yang mendengar sabda beliau as dan dikaruniai kesempatan untuk menjadi sahabat beliau. Jadi pertanyaan pada akhirnya adalah dari manakah semua orang-orang tersebut datang?”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata, “Kelahiran saya (1886) dan awal bai’at (1889) adalah dua peristiwa yang mulai dari waktu yang hampir bersamaan dan berturut-turut satu demi satu. Dan ketika saya menyadari lingkungan dan keberadaan saya, saya sudah tumbuh dewasa. Beberapa tahun telah berlalu setelah pemberitaan di kalangan orang-orang. Saya ingat saat itu bahwa ketika Hadhrat Masih Mau’ud as pergi keluar untuk jalan-jalan hanya Tuan Hafiz Hamid Ali yang bersama beliau. Satu kali Hadhrat Masih Mau’ud as pergi jalan-jalan ke satu daerah tertentu, dan karena saat itu saya masih kanak-kanak saya bersikeras ikut bersama beliau... dan pada waktu itu hanya ada semak belukar di sini dan di seluruh area yang kini berdiri Talimul Islam High School, Asrama, Masjid dan lain sebagainya... ada hutan di sana yang dahulunya tidak ditumbuhi apa-apa kecuali semak belukar... Hadhrat Masih Mau’ud datang ke tempat tersebut untuk berjalan-jalan dan setelah saya ngotot akhirnya saya diajak bersama beliau... namun beberapa saat kemudian saya mengatakan bahwa saya lelah, sehingga kadang Hadhrat Masih Mau’ud as dan terkadang Hafiz Hamid Ali yang menggendong saya, dan saya ingat kejadian tersebut hingga hari ini. Itulah saat ketika Hadhrat Masih Mau’ud as telah mendakwakan dirinya, namun mereka yang menerima pendakwaan beliau hanya beberapa gelintir jumlahnya. Dan langka sekali pada waktu itu orang-orang datang ke Qadian.

Namun hari ini--[tahun 1937 saat Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan kisah ini]—inilah waktu yang kita miliki untuk mengumumkan berulang-ulang kali bahwa sebelum orang-orang pindah ke Qadian mereka harus mendapatkan izin, namun jika seseorang yang pindah ke Qadian tanpa izin wajib baginya untuk pulang kembali.”

Sesungguhnya semua peristiwa tersebut adalah penyebab untuk meningkatkan keimanan dan keyakinan kita. Semoga Allah terus menerus meningkatkan keimanan dan keyakinan kita semua. Dan semoga kita semua menjadi orang yang bermanfaat bagi Jemaat ini. Amin!

Setelah Shalat saya akan memimpin shalat jenazah gaib yang diperuntukan bagi Nyonya Naseem Mahmood, istri dari Tuan Syed Mahmood Ahmad dari Karachi yangwafat tanggal 27 April 2015 pada usia 58 in Karachi, Pakistan karena kanker. إنا لله وإنا إليه راجعون inna lillahi wa inna ilaihi raji’oon.

Penerjemah: Yusuf Awwab & Dildaar Ahmad

Sunday, 19 July 2015

Khutbah Jumat: Aspek Moralitas, Spiritual dan Materi

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
tanggal 24 April 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Sebuah pertanyaan yang semakin meningkat timbul hari-hari ini khususnya di dalam benak kaum muda-mudi, mereka yang belum memiliki bimbingan yang tepat dan orang-orang yang tidak mengikuti agama adalah bahwa karena pendidikan duniawi menyebabkan tumbuhnya moral yang baik lalu apa gunanya mengikuti sesuatu agama? Dikatakan, moral dapat ditanamkan tanpa pendidikan agama apapun, sebenarnya mereka itu menyatakan orang-orang yang tidak mengikuti agama memiliki moral lebih baik daripada orang-orang religius (yang mengikuti agama). Secara khusus tuduhan ini ditujukan pada penganut Islam. Para penganut agama lain telah menjauhkan diri (menjaga jarak) dari kepercayaan mereka, tetapi, bahkan Muslim yang tidak mengamalkan ajarannya mengaitkan diri dengan iman (agama) asal mereka sejak lahir, karena itu pada kenyataannya tuduhan ini ditujukan untuk umat Islam.

Berbagai upaya dilakukan untuk mempengaruhi generasi muda kita agar menentang terhadap agama. Aspek baik dari pendidikan Barat adalah bahwa ia menekankan penelitian dan eksplorasi tapi ini perlu dilakukan secara metodis. Orang tua tidak mampu menjawab para remaja ketika mereka bertanya tentang isu-isu tersebut, baik karena kurangnya waktu karena tekanan sosial atau ekonomi atau karena mereka tidak memiliki pengetahuan. Bukannya meluangkan banyak waktu menjawab pertanyaan para remaja itu, para orang tua malah menekan mereka [para muda-mudi yang bertanya seperti itu]. Hal ini menyebabkan para remaja beranggapan bahwa meskipun Islam menyatakan diri sebagai agama yang benar dengan semua resolusi (pemecahan) berbagai masalah, namun tidak memiliki jawaban dalam hal praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Para remaja mengambil semua pendapat ini secara diam-diam, tetapi mereka memiliki kebebasan untuk melakukannya, yaitu menjauhkan diri dari agama. Sebagai hasilnya, kendatipun Islam itu adalah agama yang hidup, namun kita menemukan terdapat orang-orang di kalangan umat Islam yang menolak agama dan menolak keberadaan Tuhan. Dalam hal yang terang ini kita semua harus bercermin bagaimana kita harus mengamalkan agama kita dan juga menginspirasi (mendorong) anak-anak kita untuk mempraktekkannya juga.

Suatu hal yang pasti bahwa Islam adalah agama yang sempurna, Al Qur'an adalah kitab yang lengkap dan teladan penuh berkat Nabi (damai dan berkah Allah padanya), yang merupakan perwujudan dari Al-Qur'an, ada di depan kita. Al-Qur'an itu yang menghasilkan perubahan revolusioner dalam diri para sahabat (ridha Allah semoga menyertai mereka), mereka mengerti apa itu iman, mereka mengerti moralitas dan mereka juga berkembang dalam segi materi (jasmaniah). Mereka terus menjaga ketiga aspek ini dalam konteks mereka.

Anak-anak muda harus berusaha, sebenarnya faktanya orang-orang dewasa pun juga demikian, untuk memahami akhlak (moral) yang benar, kesuksesan materi dan spiritualitas dan kemudian menempatkan mereka semua dalam praktek. Ketika anak-anak memahami titik pandangan ini, hal tersebut akan membuka jalan kesuksesan bagi mereka dan mereka akan menyadari betapa indah ajaran Islam dan mereka akan mengakui kebohongan pencela Islam. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul saat ini bukanlah sesuatu yang baru; ini telah terjadi di masa lalu karena orang tidak berusaha memahami agama dalam bentuknya yang benar. Mereka yang disebut ulama, menyajikan hal-hal fiktif (dibuat-buat, khayali), memberikan solusi yang salah kepada orang-orang dan membuat orang-orang berpendidikan menjadi terjebak masuk dalam kebingungan lebih lanjut tentang agama. Pada saat yang sama, masyarakat sendiri membuat kesimpulan yang salah tentang agama.

Allah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as (Imam Mahdi) untuk mengatasi masalah ini dan beliau menyampaikan wawasan (pengertian mendalam) kepada kita. Hadhrat Mushlih Mau’ud (semoga Allah meridhai beliau) menyampaikan khotbah Jumat perihal korelasi (kaitan, hubungan) antara moralitas (akhlak), keuntungan materi (capaian duniawi) dan agama serta sudut pandang Islam tentang masalah ini dan bagaimana Baginda Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam (damai dan berkah Allah pada beliau) menjelaskan hakikat hal ini melalui keteladanan dan perbuatannya.

Kita berkata kepada dunia bahwa Islam adalah sebuah agama yang dikirim Allah Ta’ala sesuai dengan fitrah (sifat dasar dan suci) kemanusiaan sepenuhnya. Hadhrat Mushlih Mau’ud menguraikan bahwa Islam adalah agama fitrah. Agama, akhlak dan kebutuhan manusia – yang terkait dengan jasmaninya – saling mempengaruhi, saling menyerap dan merasuk satu dengan yang lain sehingga sulit untuk memisahkan itu semua. Seseorang yang beragama tidak bisa memisahkan moralitas dari agama dan ia juga tidak bisa meninggalkan pemikiran untuk memiliki kebutuhan materi (jasmaniah). Hal demikian karena menghentikan pemikiran untuk memerlukan kebutuhan duniawi akan menghentikan siklus kemajuan materi. Oleh karena itulah, semua hal tersebut, yaitu agama, akhlak dan kemajuan materi itu saling berhubungan. Namun, meskipun berkorelasi juga ada perbedaan. Di satupihak, orang-orang yang tidak mengikuti agama tetap dalam pendapat bahwa manusia membutuhkan moral yang baik dan kesuksesan materi. Namun, seorang Muslim sejati akan mempertahankan pendapat bahwa disamping itu semua, manusia juga membutuhkan agama karena itu mengantarkan manusia kepada Tuhan.

Islam sajalah yang membuat korelasi antara spiritualitas, moralitas dan kesuksesan materi. Namun, sebagian besar umat Islam tidak memahami realitas (kebenaran) agama. Dan, mereka menghubungkan moralitas dan keuntungan materi dengan agama secara agak berlebihan sedemikian rupa sehingga mereka mendorong orang-orang menjauh dari agama. Selain hal yang esensial (pokok mendasar) dalam Islam seperti shalat dan puasa, beberapa ulama bersikeras berpendapat bahwa hal seperti konvensi dan rapat umum (unjuk rasa) dan sebagainya juga merupakan bagian dari Islam dan mereka yang tidak berpartisipasi di dalamnya adalah orang-orang kafir atau murtad. 

Bahkan, sikap ini bertambah terus dan setiap sekte mengeluarkan fatwa menentang fatwa sekte (golongan Muslim) yang lain dan konflik pun berlanjut. Semua ini mengarah pada kelompok-kelompok ekstremis merumuskan sesuatu yang mereka namai hukum agama dan membawa pembunuhan dan penganiayaan satu sama lain. Situasi di Suriah, Irak, Afghanistan dan Pakistan muncul akitab lahirnya hukum-hukum fiktif yang dibuat atas nama agama! 

Seorang wartawan Prancis (Didier Francois) yang dibebaskan dari penahanan ISIL melihat berbagai praktek perbuatan mereka yang bertentangan dengan pengetahuan tentang Islam yang dimilikinya. Setelah ia bertanya kepada beberapa individu dari ISIL, mereka mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa yang Qur'an dan Hadis katakan, apa yang mereka diikuti adalah hukum mereka sendiri. 

Situasi saat ini di Yaman juga merupakan penampakan dari pelaksanaan fatwa populer dalam kedok agama untuk membunuh orang yang tidak bersalah melalui serangan udara. Ini benar bahwa dalam kedua belah pihak terdapat kesalahan tetapi ini tidak berarti seseorang dapat atau boleh membunuh yang lainnya! Jika kita renungkan bahasan ini lebih lanjut, niscaya akan kita temukan bahwa – sebagaimana terekam dalam sejarah Islam dan praktek ini berlangsung hingga sekarang - Setiap ulama membangun madzhab khusus buat mereka sendiri. Dengan demikian, hakikat kebenaran Islam tidak kedalam Islam yang mereka klaim telah mereka amalkan itu. Akibatnya, sebagian besar orang Islam telah menjauh dari Islam yang sebenarnya dikarenakan sikap taqlid (mengikuti begitu saja) mereka terhadap para ulama dan pemberi fatwa. Tidak diketahui apa yang terjadi dengan hal-hal yang atas nama rohaniah dan apa yang atas nama Islam.

Bertentangan dengan itu, dunia Barat yang maju berkembang tetapi non-agamis mencoba untuk membuat moralitas dan spiritualitas sebagai bagian dari dunia secara jasmaniah. Jika mereka memandang fenomena wahyu, mereka katakan itu adalah unsur dinamis manusia [bagian dari perbuatan manusia]. Jika mereka memandang moralitas (akhlak), mereka memandangnya sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi mereka secara duniawi. Jika mereka merenungkan soal agama, mereka mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti agama adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, tidak berperadaban atau berperadaban rendah, dan itu gunanya dalam batas tertentu dengan mengatasnamakan agama agak menyelamatkan mereka dari melakukan kejahatan-kejahatan. Dan mereka mengatakan bahwa orang-orang yang sudah bermoral tidak perlu (tidak membutuhkan) agama.

Dengan merenungkan moralitas (akhlak), spiritualitas (rohaniah) dan kesuksesan materi (capaian duniawi), hal itu memberitahu kita bahwa itu semua begitu terjalin sehingga tidak semua orang menyadari di mana dan bagaimana mereka berhubungan. Kita melihat kehidupan penuh berkat Baginda Nabi saw (damai dan berkah Allah atas beliau) untuk memahami korelasi tersebut. Beliau pembaharu dunia untuk aspek spiritual, moral dan material. Kehidupan beliau nan penuh berkat adalah gabungan dari itu semua. Beliau saw mengatakan tanpa doa (shalat dan ibadah lainnya), iman manusia tidak dapat disempurnakan. Artinya, sementara di satu segi ibadah Allah itu penting, beliau saw juga menekankan pada pengembangan spiritual. 

Hubungan antara doa (doa) dan manusia adalah seperti hubungan antara ibu dan anak. Kata bahasa Arab, ‘Dua’ berarti memanggil seseorang dan satu-satunya panggilan ketika salah satu yakin bahwa bantuan akan datang. Tiga elemen (unsur) yang diperlukan untuk memanggil. Pertama, seseorang harus yakin bahwa permohonannya akan didengar, kedua, seseorang harus memiliki jaminan bahwa siapa yang kita sebut dalam panggilan itu memiliki kekuatan untuk membantu dan ketiga, seseorang harus memiliki cinta yang melekat dan pengabdian kepada siapa yang ia panggil dan mau tak mau untuk berpaling hanya ke orang itu dan tidak kepada yang lain.

Dua yang pertama adalah elemen yang berkaitan dengan pikiran. Jika salah satu tidak yakin bahwa panggilannya akan didengar dan jika seseorang tidak memiliki jaminan bahwa orang yang disebut-sebutnya dalam panggilan itu datang dengan memiliki kekuatan untuk membantu maka itu adalah hal yang sia-sia untuk memanggil orang itu! Unsur ketiga, bagaimanapun, adalah keinginan alami, kecintaan fitri, melekat pada sifat dasar manusiawi. Unsur ketiga ini adalah kasih yang melekat dan pengabdian yang membuat orang mengabaikan orang lain, dan membuatnya hanya berpaling ke obyek yang ia cintai. Seperti cinta yang melekat antara ibu dan anak. Bahkan, jika seorang anak yang tengah tenggelam mengetahui ibunya itu tidak bisa berenang, jika dia ada di sekitar itu, maka sang anak akan memanggilnya untuk bantuan dan tidak orang lain.

Ikatan ini ini lahir dari hubungan emosional. Tentang hal ini, Baginda Nabi saw (damai dan berkah dari Allah atas beliau) mengatakan, «الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ» ‘ad-du’aa-u mukhul ibaadah’  - “Doa adalah sumsum ibadah.”  Itu artinya, iman seseorang tidak dapat menjadi sempurna tanpa doa. Pendeknya, beliau saw mengumpamakan hubungan antara Allah dan manusia sebagai hubungan antara ibu dan anak, hal mana seorang anak berjalan ke arah ibunya dalam semua keadaan dan mengabaikan yang lainnya.

Elemen kedua adalah moral. Kita melihat aspek indah ini dalam kehidupan penuh berkat Baginda Nabi saw (damai dan berkah Allah atas beliau). Kita melihat kelakuan baik dan ekspresi cinta beliau saw atas istri-istri beliau, sesuatu yang penting agar memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia. Cinta dan kepedulian beliau bagi istri-istrinya adalah sampai-sampai jika seorang istri beliau minum air dari suatu perkakas untuk minum, ketika beliau saw ingin minum, beliau menempatkan mulutnya di tempat istrinya telah menempatkan mulutnya untuk minum.  

Dalam corak itu, ini adalah sesuatu yang nampaknya kecil tapi itu merupakan suatu pokok pandangan yang sangat halus lagi mendalam. Hal ini menandakan bahwa cinta tidak hanya diungkapkan dengan sikap-sikap dan perkara-perkara yang besar tetapi benar-benar terlihat dari gerakan-gerakan kecil! Tidak cukup hanya itu. Kehidupan penuh berkat Baginda Nabi (damai dan berkah Allah atas beliau) penuh dengan peristiwa-peristiwa menakjubkan yang berkaitan dengan akhlak sedemikian banyak sehingga tampaknya semua hidup beliau hanya untuk mengajarkan akhlak kepada orang-orang. Beliau adalah teladan dan tiada taranya dalam setiap hal, seperti misalnya hubungan dengan umat manusia dan antar kerabat serta menghindari kepalsuan, pengkhianatan, prasangka buruk dan ketidakpercayaan.

Unsur ketiga yang beliau saw ajarkan ialah memandu dalam aspek materi (jasmaniah). Misalnya, menjaga jalan-jalan yang jelas dan terbuka untuk kehidupan warga, pasokan air, kebersihan jalan, saran petunjuk beliau agar membuat rumah yang lapang sehingga udara dapat masuk kedalamnya.  Beliau saw mengarahkan perhatian pada semua hal-hal materi dan duniawi, baik itu pemerintahan, budaya, kemasyarakatan, perdagangan atau industri. 

Namun, bertentangan dengan orang-orang yang disebut ulama (pemimpin agama) hari ini, Nabi (damai dan berkah Allah atas beliau) tidak menganggap semuanya itu sebagai bagian dari agama. Misalnya, suatu kali Baginda Nabi saw (damai dan berkah Allah atas beliau) melihat beberapa petani melakukan penyerbukan pohon kurma dengan membawa bagian benih jantan dari pohon ke dalam kontak dengan bagian benih betina dari pohon tersebut. Beliau saw bersabda, ”لَعَلَّكُمْ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ خَيْرًا"‏ “Aku menduga, andai kalian tidak melakukannnya, mungkin lebih baik”, dan membiarkan penyerbukan terjadi secara alami melalui angin. Para petani meninggalkan praktek itu tetapi pada musim panen tahun berikutnya itu mereka tidak memperoleh panen yang baik. 

Ketika Nabi saw diberitahu penyebab hasil panenan yang lebih rendah, beliau saw mengatakan bahwa beliau saw tidak memerintahkan mereka untuk meninggalkan praktek tersebut, beliau saw bersabda, "‏ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ ‏"‏ ‘Antum a’lamu biamri dunyakum’ – “Kalian lebih mempunyai pengetahuan tentang hal-hal duniawi kalian.”  

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Jadi, jelas dalam hal ini, bahwa beliau saw telah memisahkan  aspek materi dari masalah agama. Itu jugalah sabda beliau saw, ”لَعَلَّكُمْ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ خَيْرًا"‏ ‘Aku menduga, andai kalian tidak melakukannya, mungkin lebih baik’. Sabda beliau saw sendiri diucapkan sesuai dengan perintah-perintah Allah.” Sementara ini adalah sebuah sabda dari lisan seorang Rasul dari Allah Ta’ala yang menganggap hal-hal materi sebagai materi dan berkata kepada manusia bahwa mereka lebih tahu dari beliau perihal tersebut, namun, kita saat ini mendapati para Maulwi (Ulama) yang selalu siap untuk menyatakan orang-orang sebagai kafir dan murtad hanya karena bertentangan pendapat dengan mereka!

Dan kemudian di sisi lain, kita melihat bangsa-bangsa Barat –atau mereka yang menamakan diri bangsa-bangsa maju berperadaban- tidak menganggap penting beriman kepada agama, tidak menghormati ajaran agama dan juga akhlak, tetapi mereka hanya menekankan segala hal yang bersifat materi (jasmaniah).

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Para filsuf (ahli filsafat) mereka (bangsa Barat) mengatakan, ‘Persoalannya bukanlah bagaimana Tuhan menciptakan manusia, melainkan bagaimana manusia (na’udzu biLlaah) telah menciptakan Tuhan.’ Mereka menganggap pertanyaan mengenai Tuhan adalah akibat kemajuan manusia, dan jika memang Tuhan itu Ada maka itu hanyalah lingkaran akhir kemajuan akal manusia. Mereka beranggapan manusia mencari model (rancangan, contoh, teladan) yang sangat baik dan ketika model ini tidak ditemukan di antara umat manusia, pikiran melampaui alam kemanusiaan dan secara bertahap sesuatu yang sempurna dibayangkan dan ini mereka anggap sebagai konsep Tuhan.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa demikianlah bagaimana orang-orang itu telah membuat konsep Tuhan sebagai aspek material. Secara bertahap mereka berpaling dari agama dan para filsuf zaman ini cenderung untuk menganut ateisme. Sebagian besar orang di Barat tidak percaya adanya Tuhan dan mereka menganggap moralitas dan kesuksesan materi sebagai segalanya. Sementara itu, para Maulwi zaman ini mendukung pandangan-pandangan para Ateis tersebut dengan membuat segala pemikiran mereka (para ulama itu) sebagai bagian dari agama sebagai akibatnya mereka tengah menyebarlaskan kejahilan (kebodohan). Bila kita memandang bahasan ini dari segi ini, kita dapati para ulama zaman sekarang juga salah, salah juga orang-orang yang menganggap agama sebagai hal-hal materi dan yang menolaknya.

Kita beruntung dan berbahagia sebagai Muslim Ahmadiyah karena Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as dan menyelamatkan kita dari masalah ini serta menuntun kita untuk mengikuti teladan penuh berkat Baginda Nabi saw (damai dan berkah Allah atas beliau) karena kebenaran ada pada beliau saw. Beliau saw mengajarkan I’tidaal (moderasi, keseimbangan) dalam segala hal dan menunaikan haq-haq (tanggungjawab) kita dan inilah agama yang benar. 

Beliau saw mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah adalah penting, bahkan teramat penting, itu adalah tujuan penciptaan kita sebagai manusia; namun, bersamaan dengan hal itu, setiap diri sendiri juga memiliki hak atas dirinya seperti halnya istri dan tetangga memiliki hak atasnya. Dalam rangka memenuhi hak-hak ini kita harus menggunakan tiga macam sumber atau sarana. Pertama, doa dan ibadah kepada Allah; kedua, mengendalikan emosi dan merenungkan ilmu psikologi (kejiwaan) manusia, ketiga berpegang teguh pada kejujuran dalam pekerjaan atau profesi dan mencari dan menuntut ilmu-ilmu keduniaan.

Jika kita merenungkan kita akan menyadari bahwa demi memenuhi hak (menunaikan kewajiban) bagi diri kita sendiri, doa dan hubungan dengan Tuhan itu berfaedah seperti halnya mengendalikan emosi dan hawa nafsu. Hal demikian karena, perasaan emosional sering membuat kita menghilangkan hak-hak kejiwaan kita sendiri, jika ia keluar tanpa pertimbangan, atau keluarnya emosi tanpa kendali juga mengakibatkan ketidakadilan dan kezaliman (sikap aniaya). Maka, penambahan ilmu dan berpegang teguh pada kejujuran dalam pekerjaan dapat membimbing kita menuju peningkatan kehidupan moral, spiritual dan juga materi kita. 

Demikian pula, dalam rangka memenuhi hak-hak keluarga kita, kita berdoa, mengendalikan emosi kita dan memenuhi kebutuhan materi mereka. Hak tetangga atau masyarakat akan terpenuhi dengan doa-doa, menunaikan kewajiban-kewajiban (memenuhi hak-hak) terhadap mereka dan berusaha memahami pola pikir mereka sehingga pesan Islam dapat mereka terima secara tepat. Dengan bekerja keras di tempat kerja kita menjadi anggota masyarakat yang berguna dan ketika semua orang melakukan hal ini masyarakat menjadi teladan dalam hal moralitas, spiritualitas dan kesuksesan materi.

Kesukaran mengerikan dari dunia Muslim saat ini ialah tersimpannya fakta atau kenyataan bahwa mereka telah melalaikan semua ini dan memberikan nama pada hasrat-hasrat keakuan mereka sebagai agama. Sebagai hasilnya, bukannya memuji kualitas Islam kepada orang lain, mereka malah mengikuti keyakinan fiktif (yang dibuat-buat) dan membunuh satu sama lain. Mereka telah kehilangan baik dari segi duniawi dan dalam hal-hal ukhrawi (spiritual) dan terhina dengan mengemis kepada pihak lain (non Islam) dalam setiap masalah.

Dunia Barat memberi prioritas (pengutamaan) pada hal-hal duniawi melebihi keimanan (agama), tapi setidaknya mereka berhasil mencapai tujuan duniawi mereka bahkan kendatipun itu melalui cara-cara yang salah. Hadhrat Masih Mau’ud as diutus untuk reformasi (perbaikan) kedua segi ekstrem tersebut [berlebihan dalam hal duniawi dan berlebihan dalam hal agamawi, atas nama agama]. Pada saat-saat seperti itulah Allah mengirimkan orang-orang pilihan-Nya kepada dunia yang menjaga hal-hal dalam suatu perspektif, menggerakkan iman (agama) dalam konteks (sudut bahasan) iman/agama, moralitas (akhlak) dalam konteksnya dan hal-hal duniawi dibahas dalam konteks duniawi tersebut. Dalam bentuk corak itu, orang-orang pilihan Allah membawa pesan spiritual tetapi tiga aspek tersebut tetap berkorelasi (berkaitan, yaitu akhlak, rohaniah dan jasmaniah). 

Keunggulan dalam spiritualitas pasti mengarah ke reformasi moral, dan moral yang baik pasti menyebabkan kondisi materi yang lebih baik. Namun, seseorang yang perkara-perkara duniawinya baik maka tidak perlu mengartikannya bahwa ia mendapatkan segalanya, dan tidaklah menjamin keharusan bahwa orang yang maju dalam hal dunia itu menjadi benar dalam akhlaknya, juga tidak harus benar mengatakan bahwa siapa yang akhlak (moralnya) baik maka agamanya juga pasti benar. Hal demikian karena Allah ingin membawa manusia lebih dekat kepada-Nya. Untuk ini, Dia telah membuat reformasi moral dan kesuksesan materi bersyarat pada spiritualitas atau religiusitas. Allah menyatakan seorang mukmin sejati diberikan segala macam kesuksesan (jasmani, akhlak, rohaniah).

Ada berbagai cara yang berbeda untuk mencapai keberhasilan dalam hal moral, spiritual dan material tetapi ada juga cara bersama dan itu adalah menjalin hubungan yang sempurna dengan Allah. Moralitas dicapai dengan mengusahakannya dan kesuksesan materi diperoleh dengan mengusahakannya tapi hasil dari kedua upaya ini terbatas dalam lingkup mereka sendiri. Namun, mereka yang berupaya mencapai spiritualitas diberikan segalanya. Para sahabat Nabi tidak mengambil bai'at-nya karena mereka ingin membuat jalan lebar atau ingin memiliki kebersihan di sekitar lingkungannya. Sebaliknya, mereka dibacakan dan membaca 'Tidak ada yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya' dan hal ini mereformasi moral mereka dan juga hal-hal duniawi mereka.

Di zaman Hadhrat Khalifah Umar ra, umat Muslim harus meninggalkan Suriah karena besarnya jumlah tentara Romawi yang hendak menyerang mereka. Kaum Kristen Suriah menangis ketika umat Islam berangkat pergi meninggalkan mereka. Warga Kristen tersebut menghentikan pasukan Muslim seraya mengatakan, “Kami akan membantu kalian jika tetap tinggal di sini.” Mereka adalah orang Kristen seperti halnya orang-orang Romawi juga [yang sebelumnya memerintah mereka], tetapi ikatan mereka dengan umat Islam itu karena moral yang tinggi dan tata kelola pemerintahan yang sangat baik dari kaum Muslim. Meskipun pemerintahan adalah pencapaian duniawi, umat Muslim waktu itu dianugerahi hal ini berdasarkan keistimewaan keadaan iman mereka.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menceritakan kisah tentang seorang pedagang yang akan berangkat pergi pada sebuah perjalanan dan meninggalkan sejumlah besar uang yang dititipkannya kepada seorang Qadi (hakim) kota itu. Setelah kembali, ia meminta sang Qadi untuk mengembalikan tas uangnya tapi Qadi hanya menyangkal pernah diberi uang sebagai kepercayaan/titipan. Pedagang sangat gelisah dan memberi Qadi dengan banyak petunjuk dan informasi untuk mengingatkannya perihal tas uangnya, tapi kadi mengatakan bahwa ia tidak pernah menyimpang barang kepunyaan orang lain seperti kepercayaan.

Mereka diperintah oleh seorang raja yang sangat mudah didekati. Pedagang pergi menemuinya dan menjelaskan ceritanya. Raja memintanya beberapa bukti bahwa ia telah meninggalkan uangnya. Pedagang mengatakan dia tidak mempunyai bukti. Raja memikirkan rencana dan meminta pedagang untuk berdiri di samping Qadi pada hari prosesi penghadapan raja. Pedagang setuju dan mengikuti rencana pada hari prosesi. Raja berkata, “Saya akan berbicara dengan Anda dengan cara tak resmi seperti dengan kawan dekat dan ramah. Anda harus menanggapinya dalam keramahan yang sama.”

Pada hari prosesi, raja dan pedagang keduanya secara terbuka mengobrol dengan ramah dan pedagang menceritakan perihal tas uangnya yang tertinggal pada seseorang sebagai kepercayaan dan ia menderita kesulitan dalam mengambilnya kembali. Raja berkata, “Kalau Anda menyampaikan hal ini sebelumnya tentu saya akan menyelesaikan masalah anda sehingga tas uang Anda dapat kembali. Jika Anda terus mengalami kesulitan dalam mendapatkan kembali uang Anda, saya harus datang dan menemui Anda.” Qadi melihat semuanya.

Ketika prosesi berlalu Qadi berkata kepada si pedagang, “Ingatan saya tidak sangat baik dan saya mungkin sudah lupa tentang tas uang. Coba Anda sampaikan beberapa petunjuk dan ciri-ciri barang Anda.” Ketika sang pedagang memberinya petunjuk, Qadi berkata, “Kenapa kau tidak memberitahu saya tanda-tandanya sebelumnya? Barang titipan Anda tersimpan pada saya. Saya akan pergi dan mendapatkan tas Anda lalu akan saya serahkan pada Anda!"

Sekarang, jika persahabatan dengan sumber kekuasaan duniawi yang terbatas kekuatannya dapat memberikan begitu banyak keuntungan kepada seseorang, maka bagaimana persahabatan dengan Allah? Bagaimana dunia tidak akan takluk pada manusia yang demikian, yang bersahabat dengan Allah. Dengan mengikuti agama yang benar secara benar memungkinkan seseorang untuk menang atas dunia seluruhnya. Para sahabat Nabi saw memperoleh itu semua berupa keduniaan melalui Nabi saw bukan dengan cara mengikuti sarana-sarana materi, melainkan dengan mengikuti agama. Tapi keyakinan (iman) sempurna diperlukan untuk ini, keyakinan yang menarik ridha (kesenangan) Allah. Jika seseorang telah mempunyai keyakinan sempurna, ia tidak akan pernah bisa meninggalkan moral yang tinggi (akhlak fadhilah).

Jika dia menerapkan semua aspek moral dan mempraktekkan semuanya, maka dia akan meraih kejujuran, kebenaran, kepercayaan, kesalehan dan kesucian. Dan ini tentu akan membuat dirinya memperoleh pengetahuan, keterampilan, kesadaran, kemampuan dan ketekunan, dan ia akan mencapai kesuksesan duniawi juga. Seorang mukmin sejati harus lebih fokus pada hubungan spiritual. Manusia tidak akan mendapat anugerah hingga dia mencapai puncak (unggul) dan kesempurnaan pada sesuatu hal yang ia kerjakan, dan kesempurnaan dan keunggulan juga bermanfaat dalam hal agama, dan seseorang harus berusaha untuk itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa bersabda bahwa orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari beliau hanyalah mereka yang memiliki asosiasi (ikatan) yang kuat dan erat dengan beliau; baik mereka yang sangat menentang, seperti Maulawi Sana Ullah Sahib dan mereka yang menjadi terkenal terutama karena menentang beliau atau mereka yang benar-benar tulus mengikuti dan menaati beliau. Asosiasi lemah (hubungan yang lemah dengan beliau as) tidak menguntungkan sama sekali.

Jika seseorang berpaling kepada Allah ia akan diperlakukan sebagaimana orang lain diperlakukan pada jaman dulu. Jika seseorang benar-benar mencoba untuk ini ia akan mencapainya. Apa yang dibutuhkan adalah bersujud kepada Allah dengan ketulusan yang sempurna dan ini membawa kesuksesan. Kita harus melakukan upaya untuk mencapai Tuhan, berusaha dan memahami agama yang dikirim oleh Tuhan dan membuat karunia-Nya menjadi bagian terdalam dari diri kita. Hal ini akan menyebabkan moral yang tinggi dan kita juga akan menerima kesuksesan materi. Jika kita mencoba dan mengambil bagian dari cahaya Ilahi, kita akan benar-benar menerima kebaikan Tuhan. Jika kita mencoba dan mengambil bagian dari cahaya Ilahi dengan kesungguhan, itu akan menghilangkan kegelapan kepalsuan, kemalasan, penipuan dan penyakit lain, dan moral yang tinggi akan ditanamkan dalam diri kita.

Jika kita ingin menyelamatkan generasi keturunan berikutnya dari efek buruk materialisme di sini kita harus menjelaskan kepada mereka korelasi antara agama dan moralitas. Jika kita ingin membuat kesuksesan materi tergantung pada spiritualitas (agama) dan menghubungkan kesuksesan materi tersebut ke agama, kita juga harus berusaha dan menjalin hubungan yang benar dengan Tuhan untuk diri kita sendiri.

Penerjemah: Dildaar Ahmad

Khutbah Jumat: MUTIARA HIKMAH Mu’jizat dan Tanda-Tanda Kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
tanggal 17 April 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ‘anhu pernah menjelaskan perihal pentingnya doa dalam kaitannya dengan bagaimana terjadinya pencapaian besar diraih dengan berdoa.

Dalam hubungannya dengan hal itu, Hudhur ra membicarakan perihal mesmerisme (hipnotisme) dengan bersabda, “Orang-orang yang yang ahli dalam menghipnotis pun bisa membawa perubahan pada orang lain melalui ilmu dan ketrampilan mereka, namun perubahan tersebut bersifat sementara dan perorangan serta tidak membawa manfaat yang revolusioner. Akan tetapi, ketika doa dilakukan dengan semua persyaratan yang sesuai dan dengan penuh adab, itu bisa merubah nasib bangsa dan memperbaiki mereka.”

Berkaitan dengan hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan sebuah kisah dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai Tuan Sufi Ahmad Jan. Tuan Sufi menghabiskan waktunya bertahun-tahun mengkhidmati seorang Pir dan melakukan upaya dan latihan spiritual. Kemudian, ia mengabdikan dirinya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as yang dikenalnya sebelum pendakwaan beliau sebagai al-Masih.

Sebelum mendakwakan diri sebagai al-Masih, Hadhat Masih Mau’ud as telah menulis buku “Barahin Ahmadiyah” yang meraih popularitas besar dikalangan orang saleh dan ulama Islam. Ketika itu Tuan Sufi, salah satu dari orang-orang suci yang begitu takut kepada Tuhan di masa itu, melihat poster Hadhrat Masih Mau’ud as dan mulai melakukan surat-menyurat dengan beliau. Tuan Sufi adalah seorang mukhlis yang juga memperoleh keahlian dalam menghipnotis. Ia meminta Hadhrat Masih Mau’ud as mengabarinya jika nanti berkunjung ke Ludhiana supaya mereka dapat bertemu. 

Ia mengundang makan Hadhrat Masih Mau’ud as di kediamannya dan saat mereka berjalan pulang setelah makan, Tuan Sufi berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ia sudah begitu lama mengkhidmati seorang Pir yang telah memberikannya begitu banyak kekuatan dalam berkonsentrasi, sehingga apabila ia fokus dan berkonsentrasi orang yang berjalan di belakang mereka bisa jatuh. Mendengar itu, Hadhrat Masih Mau’ud as berhenti dan perlahan mencungkil tanah dengan ujung tongkatnya. Beliau mencungkil tanah dengan ujung tongkatnya bila mana beliau merasakan gairat akan sesuatu hal. Beliau bertanya, “Tuan Sufi jika orang itu jatuh apa untungnya bagi anda atau dia?”
Tuan Sufi memiliki pandangan jauh ke depan. Ia merenungkan ucapan tersebut secara mendalam dan berkata bahwa ia menyesal dan akan meninggalkan praktek seperti itu. Ia mengatakan bahwa kini ia menyadari jika hal tersebut merupakan perbuatan duniawi dan tidak ada hubungannya dengan kerohanian. Ia telah mengumumkan bahwa tidak boleh seorangpun dari pengikutnya menganggap praktek tersebut sebagai bagian dari keyakinan dalam Islam melainkan menganggapnya praktek duniawi.

Pandangan jauh Tn Sufi terbukti dari fakta bahwa ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menulis ‘Barahin Ahmadiyah’ Tn Sufi menyadari bahwa beliau as akan menjadi al-Masih yang dijanjikan kendati Tuhan masih belum mewahyukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as supaya membuat sebuah pendakwaan. Tuan Sufi menulis bait syair Urdu kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dalam sebuah surat: ‘Kami, yang sedang sakit ini hanya melihat anda semata, Karena Tuhan, Anda adalah al-Masih!’ Tuhan telah mengabarkannya mengenai Hadhrat Masih Mau’ud as oleh karena itu sebelum wafatnya Tn Sufi menasehatkan kepada anak-anaknya untuk  segera menerima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad begitu beliau as membuat suatu pendakwaan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa tekad dan konsentrasi seorang penghipnotis tidak seberapa dibandingkan dengan tekad dan konsentrasi dari keimanan dan itupun tidak bisa bertahan lama. Tekad dan konsentrasi yang diberikan Tuhan kepada setiap individu itu berbeda. Satu kali Hadhrat Masih Mau’ud as sedang duduk di Masjid Mubarak berbicara dalam sebuah pertemuan dan saat itu juga seorang akuntan Hindu yang datang dari Lahore datang kepada beliau as. Akuntan Hindu itu adalah seorang ahli hipnotis yang datang dengan niat menghipnotis Hadhrat Masih Mau’ud as, dalam pertemuan tersebut ia ingin, naudzubillah, membuat beliau as berjoget.

Orang Hindu itu sendiri yang menceritakan kisah ini kepada seorang Ahmadi. Kejadiannya seperti ini bahwa saat itu Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan salah satu buku beliau kepada seorang Ahmadi dari Lahore dengan pesan agar memberikan buku itu kepada seorang Hindu tertentu. Ketika sang Ahmadi telah memberikannya, ia bertanya kepada orang Hindu itu, “Mengapa Hadhrat Tn. Mirza mengirimkan buku ini kepada Anda. Apa hubungan antara Anda dengan beliau?” Orang Hindu itu mengatakan, “Saya terkenal sebagai seorang ahli Hipnotis. Jika mau, saya dapat menghipnotis orang asing yang tidak saling mengenal dengan saya yang sedang berjalan menjadi orang yang berlari di belakang kereta kuda yang sedang saya tumpangi.” 

Ia (orang Hindu ahli hipnotis itu) mengatakan bahwa ia mendengar banyak hal tentang Hadhrat Masih Mau’ud as dari buku-buku beliau yang menentang ajaran Hindu sehingga ia memutuskan untuk mempermalukan beliau di depan para pengikut beliau. Dengan niatan itu ia pergi ke Qadian dan duduk di depan pintu Masjid tempat Hadhrat Masih Mau’ud as mengadakan pertemuan. Ia berupaya keras berkonsentrasi (memusatkan perhatian dan pikiran) untuk menghipnotis beliau as namun nampak tidak ada pengaruhnya terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, dan ia berpikir ia harus memiliki kesungguhan tekad yang luar biasa, maka ia pun memutuskan lebih berkonsentrasi menghipnotis beliau as. Tetap, tidak terjadi apa-apa. 

Dengan pantang menyerah, ia mencoba mengerahkan segala kemampuannya untuk menghipnotis Hadhrat Masih Mau’ud as. Saat itulah ia melihat seekor singa siap menerkam dirinya. Dengan ketakutan, ia mengambil sepatunya dan lari. Hadhrat Masih Mau’ud as mengirim seseorang untuk menyusulnya. Orang itu mengejar dan menangkapnya. Si Hindu itu berkata, “Mohon lepaskan saya! Saya dalam keadaan tidak sadar, nanti saya akan menulis surat ke Tn. Mirza menceritakan semua yang terjadi.” Ia pun dilepaskan oleh salah seorang murid Hadhrat Masih Mau’ud as yang menangkapnya. Memang setelah itu ia menulis surat menceritakan semuanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan diantaranya menuliskan, “Saya telah berani berbuat kurang ajar kepada Anda dikarenakan ketidaktahuan saya atas kedudukan tinggi dan agung Anda. Mohon, maafkanlah saya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa Miyan Abdul ‘Aziz Mughal, penduduk Lahore (keturunan beliau sekarang banyak tinggal di Inggris) meriwayatkan kepada kami, “Saya bertanya kepadanya (orang Hindu ahli hipnotis itu), ‘Mengapa Anda tidak beranggapan bahwa Tn. Mirza itu ahli seni hipnotis, tetapi Anda beranggapan beliau lebih ahli dan kemampuannya melebihi Anda sehingga mampu menangkal hipnotis Anda?’ Orang Hindu itu menjawab, ‘Hipnotis itu memerlukan konsentrasi sempurna, ketenangan sempurna dan keheningan sempurna bagi seseorang yang akan menghipnotis, sementara Tn. Mirza sedang berbicara dalam pertemuan saat saya mencoba untuk menghipnotisnya, jadi قوته الإرادية ‘Quwwat al-Iradiyah’ (kekuatan tekad) beliau itu berasal dari Langit.’”

Kekuatan tekad yang dipelajari seseorang ibarat mainan anak-anak bila dibandingkan dengan kekuatan tekad anugerah Tuhan sebagaimana yang dibuktikan dalam kisah Hadhrat Musa as dengan tukang sihir dan ularnya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa dalam rangka kemajuan sebuah komunitas (umat, bangsa, Jemaat) adalah teramat penting untuk menyerap semua kebenaran baik terkait masalah apa saja maupun akidah (kepercayaan). Sebagai contoh, tidak hanya sekedar telah menerima keyakinan bahwa Yesus as (Nabi Isa) sudah wafat, dan itu sudah merasa cukup. Melainkan, kita pun harus merefleksikan kewafatan Yesus tersebut dan berusaha memahami mengapa keyakinan telah wafatnya Nabi Isa as itu penting untuk diterima! 

Bagi kita, keyakinan Yesus yang hidup, merupakan indikasi (isyarat tanda) dari keunggulan Yesus atas Rasulullah saw meskipun tidak ada nabi Allah yang memiliki kemuliaan daripada Rasulullah saw. Jadi, pemikiran tersebut bertentangan dengan kepercayaan Islam dan sebuah pemikiran yang tidak bisa menghibur kita barang sejenak pun. Menerima keyakinan bahwa Rasulullah saw dikuburkan di bumi sedangkan Yesus as bersemayam di langit keempat adalah pelanggaran (serangan) besar bagi Islam.

Selain itu, ide tentang Yesus hidup di atas langit merupakan serangan pencederaan atas wahdaniyyat (Keesaan) Allah, Yang Tunggal. Seandainya dua poin tersebut tidak ada, kita tidak akan perduli apakah Yesus as itu ada di langit atau di bumi. Namun bagaimana mungkin kita bisa menerima kekurangajaran terhadap Rasulullah saw dan sesuatu yang bertentangan dengan Keesaan Tuhan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa pada umumnya para Ahmadi nampak tidak merasa bergairah ketika berdiskusi tentang kematian Yesus as. Beliau ra mengatakan bahwa beliau menyaksikan sendiri betapa besarnya gairat semangat yang dirasakan Hadhrat Masih Mau’ud as tatkala berdiskusi mengenai kewafatan Yesus. Beliau as akan bergetar dengan kekuatan emosi yang dirasakannya dan suara beliau begitu agung sewaktu mengatakan bahwa beliau akan menghapus rintangan besar di jalan yang menuju kepada kemajuan dunia. Dunia ada dalam kegelapan dan beliau membawanya kepada cahaya. Melihat gairat Hadhrat Masih Mau’ud as seperti itu terasa bahwa beliau sedang mengambil kembali takhta Rasulullah saw dari Yesus as.

Demikianlah gairah semangat beliau as atas Baginda Nabi Muhammad saw. Namun, sangat mengherankan bahwa para ulama penentang zaman sekarang menuduh beliau as mengunggulkan diri beliau sendiri diatas Nabi saw atau mengistimewakan Ahmadiyah diatas Islam. والعياذ بالله Wal ‘iyadz biLlaah.

Saat Tuhan menganugerahkan derajat kerohanian yang tinggi pada seseorang, Dia sendiri yang akan menuntun mereka dan membukakan rahasia-rahasia umat manusia. Mereka menerima bimbingan petunjuk tersembunyi yang tidak dapat kita sebut itu wahyu namun juga kita tidak dapat pula menyebutnya bagian yang terpisah dari wahyu. Kita tidak dapat menamainya wahyu karena bimbingan tersebut bukan berbentu kalimat ucapan. Begitu pula tidak dapat kita menyebutnya bukan wahyu karena diterima dalam bentuk wahyu secara perbuatan. Tatkala Allah menurunkan nur-Nya kepada qalbu orang tersebut dan mengungkapkan kebenaran berbagai perkara kepada mereka sementara itu tidak terdapat padanya tanda wahyu secara kalimat.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra melanjutkan bahwa seringkali Allah memberitahukan dengan jelas sebuah perkara yang ini dinamai kasyaf. Hadhrat Masih Mau’ud as pernah berkata bahwa ketika banyak orang menjumpai beliau, beliau nampak melihat cahaya nur yang seakan keluar dari mereka yang membuatnya sadar akan kebaikan dan kelemahan yang tersembunyi dari orang-orang tersebut. Namun beliau tidak diijinkan untuk mengungkapkan hal tersebut (kelemahan mereka) kepada orang-orang itu. Ini adalah sunnah (cara kebiasaan) Tuhan, kecuali jika orang itu sendiri yang menyebabkan kelemahannya terungkap dengan amal perbuatannya ia tidak dianggap termasuk orang-orang berdosa. Selaras dengan sunnah Ilahiyah tersebut, merupakan sunnah para Nabi Allah bahwa mereka tidak mengungkapkan kepada manusia perihal keadaan batiniah seseorang yang berupa kelemahan ruhani hingga orang itu sendiri yang menyebabkan kelemahannya tersebut terungkap dengan perbuatannya sendiri.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis perihal sebuah peristiwa yang menjelaskan kepada kita bagaimana Allah Ta’ala memperlihatkan tanda-tanda kepada orang selain kita juga sebagai pendukung atas kebenaran orang yang dikasihi-Nya. Peristiwa ini disaksikan oleh orang non Ahmadi. Hadhrat Masih Mau’ud as pergi berkunjung ke Lahore pada tahun 1904. Beliau berbicara pada sebuah konvensi (pertemuan) saat kunjungan tersebut. Ada beberapa tamu non-Ahmadi yang hadir di konvensi itu mengatakan bahwa saat Hadhrat Masih Mau’ud as berbicara, ia melihat gumpalan cahaya yang besar seakan muncul dari kepala Hadhrat Masih Mau’ud as dan menuju ke angkasa. Ia menyebutkan hal itu kepada orang yang duduk di sebelahnya yang juga melihat gumpalan cahaya tersebut. Pengalaman tersebut meninggalkan pengaruh yang besar kepada mereka dan mereka menerima Ahmadiyah pada hari itu juga.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis bahwa beliau ingat satu kali seseorang menulis kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang isinya bahwa saudara perempuannya kerasukan Jin dan Jin tersebut mengatakan agar mereka segera menerima Hahdrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as membalas tulisan tersebut dan berkata sampaikan kepada Jin tersebut mengapa mereka mengganggu seorang wanita yang malang dan miskin. Jika mereka hendak mengusik seseorang, datanglah kepada Maulwi Muhammad Hussain Batalwi atau Maulawi Tsana Ullah!!! (Penentang Jemaat)

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis, “Jin dalam jenis yang umumnya diyakini manusia itu tidak maujud (tidak ada, konsep tentang jin oleh umumnya manusia itu salah). Tentunya orang-orang yang berpendidikan dalam kebudayaan dan pendidikan English (Inggris) meyakini tidak ada itu Jin. Sebaliknya, orang yang beriman tidak menerima perkara tersebut hanya melalui daya nalarnya saja tapi melihat kebenarannya dari al-Quran. Jika al-Quran mengatakan perihal adanya Jin dalam jenis yang dipercayai oleh umumnya manusia, maka kita katakan: ‘Kita percaya dan bersaksi atas kebenaran tersebut! Akan tetapi, jika telah terbukti dari al-Quran tidak ada itu Jin seperti yang diceritakan itu, selain manusia, maka yang hal ini harus diterima!’

Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala terkadang menggunakan orang-orang yang sakit jiwa guna meneguhkan kebenaran orang-orang yang dikasihi-Nya. Hadhrat Masih Mau’ud as pernah menceritakan sebuah kejadian bahwa satu kali dalam kunjungannya ke Lahore beberapa sahabat bersikeras untuk mengunjungi seorang majzub (petapa yang sakit jiwa) yang tinggal di Syahdara, sebuah kota di luar Lahore. Sahabat yang lain tidak tertarik dengan ide tersebut karena sang majzub mengucapkan kata-kata kotor. Akan tetapi, mereka yang mendukungnya bersikeras bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as merupakan penerima wahyu Ilahi, menarik sekali untuk melihat apa yang akan diucapkan sang majzub tentang beliau. 

Hadhrat Masih Mau’ud as menolak untuk pergi namun para sahabat entah bagaimana membawa beliau bertemu orang tersebut. Saat mereka bertemu, sang Majzub sedang mengucapkan kata-kata kotor namun segera berhenti. Lalu menawarkan buah melon kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka yang mudah terpengaruh dengan hal-hal lahiriah akan yakin sekali tentang majzub tersebut meski Hadhrat Masih Mau’ud as berkata bahwa ia sakit jiwa. Terkadang orang yang sakit jiwa dapat melihat sesuatu yang orang normal tidak bisa; karena mereka terpisah dari dunia ini, mereka dapat menguraikan perkara-perkara yang tidak terlihat.

Dan sekarang ini, saya (Hudhur V atba) hendak menyajikan beberapa hal yang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah riwayatkan perihal tanda-tanda dan mu’jizat-mu’jizat Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau ra bersabda, “Semua kisah dan peristiwa pada zaman Rasulullah saw tidak tercatat sehingga hal itu membuat kita tidak dapat menemukannya sekarang ini contoh-contoh yang banyak dalam macam dan jenis ini, akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa ada sejumlah ratusan bahkan ribuan contoh seperti ini dalam kehidupan beliau saw. Namun, pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as ada kebutuhan mendesak untuk menghancurkan dan membasmi Ilhaad (Ateisme, paham tak ber-Tuhan)  sehingga terkait hal itu terdapat kebutuhan paling tinggi berupa tanda-tanda Samawi. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala memperlihatkan melalui perantaraan beliau as tanda-tanda yang sangat banyak yang memungkinkan kita dapat menaksir (mengukur) tanda-tanda yang nampak melalui perantaraan Rasulullah saw.

Saya sajikan salah satu tanda tersebut adalah bahwa seorang pelajar bernama Abdul Karim yang telah melakukan serangkaian perjalanan dari Hyderabad Dekkan (India Selatan-Tengah) untuk menerima pelajaran agama di Qadian (Punjab, India Utara). Ia digigit oleh anjing gila dan dikirim ke suatu tempat untuk pengobatan. Awalnya ia merasa lebih baik tapi kemudian merasakan sakit lagi dan akhirnya dokter mengatakan, ‘Nothing can be done for Abdul Karim.’ – ‘Tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk Abdul Karim.’ 

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as diberitahu hal tersebut, beliau merasa sedih bahwa anak muda yang menempuh perjalanan jauh untuk datang belajar agama telah jatuh sakit. Beliau as berdoa dengan penuh keharuan untuk Abdul Karim. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Ibunya dengan penuh kecintaan dan begitu banyak harapan telah mengirimnya hanya untuk belajar agama. Inilah juga yang membuat terbit di dalam hatiku kepedihan dan gejolak semangat berkobar untuk mendoakannya.’ Sebagai hasil dari doa Hadhrat Masih Mau’ud as itu, Allah Ta’ala memberikan kesembuhan bagi Abdul Karim meskipun dari penyakit yang seperti itu, orang sakit dengan penyakit yang seperti itu tidak pernah ada yang dapat sembuh sejak manusia diciptakan.” (Inilah yang dikatakan dalam Sejarah Pengobatan)

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan mengenai seorang sahabat beliau yang dokter bercerita kepada beliau bahwa ketika di masa kuliahnya di fakultas kedokteran ia mendiskusikan tentang keberadaan Tuhan dengan sesama mahasiswa saat menceritakan peristiwa sembuhnya Abdul Karim sebagai bukti Tuhan mengabulkan doa. 

Teman mahasiswanya yang tidak percaya adanya Tuhan menanggapi, “Hal itu bukanlah sesuatu yang besar; orang-orang yang digigit anjing gila dapat diselamatkan.” Kebetulan hari itu rabies merupakan topik kuliah di perguruan tinggi tersebut. Profesor mereka menekankan pada pengobatan yang tepat dengan segera dan cepat setelah digigit anjing gila dan mengatakan bahwa jika pengobatan tepat dan cepat tidak diberikan dan pasien mulai menderita kejang-kejang akibatnya akan fatal. Mahasiswa Ahmadi tersebut mencoba meminta kejelasan pendapat kepada profesor bahwa beberapa orang mengatakan rabies bisa disembuhkan setelah terserang penyakit itu. Sang profesor menjawab dengan tegas, “Tidak ada dan tidak mungkin. Siapa yang mengatakan hal itu berarti dia sangat bodoh.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Pengobatan yang efektif dan tepat tidak ada hingga waktu itu dan contoh terjadinya kesembuhan dari penyakit itu sebelumnya pun belum ada, akan tetapi Allah Ta’ala menyembuhkan Abdul Karim dengan perantaraan doa Hadhrat Masih Mau’ud as dan ia masih hidup setelah kesembuhan itu dengan karunia Allah. Jelaslah dari itu bahwa diatas hukum alam, Ada Sang Maha Bijaksana Yang Maha Kuasa dalam menyembuhkan.”

Satu kali dua orang pria dan seorang wanita dari Amerika Serikat mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as. Salah seorang pria dari mereka mempertanyakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as perihal pendakwaan beliau. selama percakapan tersebut dibahas pula perihal Yesus as. Orang itu berkata, “Yesus adalah tuhan.” Hadhrat Masih Mau’ud as menanyakan, “Apakah dalil (bukti dan argumentasi) atas ketuhanannya?” Orang tersebut menjawab, “Yesus telah memperlihatkan mukjizat-mukjizat.” Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Saya pun memperlihatkan mukjizat-mukjizat.”

Orang itu meminta Hadhrat Masih Mau’ud as menunjukan mukjizatnya. Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan kepadanya, “Keberadaan Anda adalah salah satu mukjizat saya!” Orang itu berkata, “Bagaimana bisa demikian?” Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab, “Qadian adalah desa kecil yang tidak dikenal, bahkan bahan makanan biasa pun tidak tersedia, orang-orang bahkan tidak bisa menemukan tepung seharga satu rupee di sini. Jika seseorang membutuhkannya, ia terpaksa harus membuatnya sendiri, ia menggilingnya sendiri dengan tangannya.

Pada saat itulah Tuhan mengabarkan kepadaku bahwa Dia akan meninggikan dan menyebarluaskan namaku. Dia akan memahsyurkanku hingga ke sudut-sudut dunia. Dia berfirman, ‘Orang-orang dari tempat yang jauh dari berbagai penjuru akan mengunjungimu. Dan akan tersedia sarana-sarana kenyamanan dan peristirahatan bagi mereka di sini.’ 

Dia berfirman kepadaku, يأتون من كل فجّ عميق، يأتيك من كل فجّ عميق ‘Begitu banyak orang-orang akan datang kepadamu dari dan melalui jalan yang jauh, sukar dan berat sehingga membuat jalan-jalan mendalam. Dan pertolongan akan datang kepadamu dari tempat yang jauh, serta jalan tersebut akan penuh dengan perjalanan dari orang-orang yang berjalan diatasnya.’”1 (Perhatikanlah! Betapa pada hari ini banyak jalan-jalan yang mendalam dan mengeras dikarenakan banyaknya orang yang melewatinya, dikarenakan kedatangan orang-orang. Ambil contoh jalan dari Batala ke Qadian! Tahun lalu pemerintah telah menghabiskan sejumlah dana ribuan Rupees untuk mengaspalnya [memperkerasnya].)

Hadhrat Masih Mau’ud as berkata kepada orang tersebut, “Perhatikanlah, Anda mengunjungi saya dari Amerika Serikat! Apakah ada ikatan antara saya dan Anda sebelumnya? Tak satu pun orang mengenal saya sebelum pendakwaan saya ini? Ada pun hari ini, Anda telah datang setelah menempuh perjalanan nan jauh. Ini adalah tanda kebenaran saya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Saya masih ingat dengan baik saat orang Amerika itu menyebut-nyebut dalam percakapan itu agar ada penampakan tanda kebenaran dan mu’jizat beliau as orang-orang menjadi berteka-teki (bertanya-tanya) dan dalam hati mereka berkata, ‘Apa kiranya jawaban yang diberikan Hadhrat Masih Mau’ud as kepada orang Amerika itu?’ Mereka mengira mungkin beliau akan menyampaikan ceramah yang di dalamnya dijelaskan kepadanya perihal pokok-pokok dan cara penampakan mu’jizat. Namun, ternyata Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan jawaban yang berbeda! Segera setelah orang itu menyelesaikan perkataannya dalam percakapan itu, lalu kalimatnya diterjemahkan kedalam bahasa Urdu [dari bahasa Inggris] dan disampaikan [oleh penerjemah] kepada Hadhrat Masih Mau’ud as segera saja beliau as menjawab dengan jawaban yang telah disebutkan tadi. 

Bagi sementara kalangan hadirin, hal ini adalah perkara kecil padahal sebenarnya mereka tidak berusaha mencerna dengan akal mereka [perihal penting dan agungnya perkara ini]. Orang yang tidak menggunakan akalnya akan berkata, ‘Mu’jizat apa ini?’ Akan tetapi, mereka yang mata hatinya terbuka dan mempergunakan akalnya dan pemahamannya mengetahui bahwa itu adalah mu’jizat agung dan itu sudah cukup buat siapa saja yang hendak menerima kebenaran. 

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menulis bahwa telah muncul puluhan ribu tanda untuk membenarkan beliau. Sementara saya berkata bahwa telah muncul tanda-tanda kebenaran beliau yang tidak terhitung banyaknya. Sebagian orang yang jahil (tuna ilmu) berkata, ‘Ilham-ilham Tn. Mirza tidak mencapai jumlah itu bagaimana mungkin tanda-tanda kebenarannya dapat mencapai jumlah itu (tak terhitung)?’ Namun demikian, orang-orang yang berakal mengetahui bahwa ratusan ribu tanda dapat lahir hanya dari satu wahyu yang diterima Hadhrat Masih Mau’ud as saja.” 

Ada sebuah kisah yang terkenal perihal pembuatan ‘Laddu’ (manisan atau permen berbentuk bola kecil khas India).2 Seorang paman berkata kepada para keponakannya, “Besok permen ‘Laddu’ akan saya berikan kepada kalian. Pembuatan permen ini mengikutsertakan ribuan bahkan puluhan ribu orang.” Ketika mereka duduk-duduk pada keesokan harinya untuk makan - apa yang mereka harapkan ialah akan makan permen itu – mereka meminta paman mereka datang membawa ‘Laddu’ itu. Sang paman mengeluarkan sebutir manisan berukuran normal (biasa) dari manisan ‘Laddu’ dan meletakkannya di depan mereka, sembari mengatakan, “Ini ‘Laddu’ yang paman janjikan.”

Mereka menderita kebingungan yang sangat setelah melihat itu [baru tahu ‘Laddu’ dan ukurannya], mereka pun bertanya, “Bagaimana mungkin puluhan ribu orang telah ikut serta dalam pembuatan manisan ini?” Sang paman berkata kepada mereka, “Paman akan menjelaskan kepada kalian sekarang. Ambillah pena dan kertas! Catatlah bagaimana puluhan ribu orang telah berpartisipasi dalam pembuatan ‘Laddu’. 

[Sang paman menguraikan satu per satu bahan-bahan pembuatan ‘Laddu’ seperti tepung, gula pasir, susu dan sebagainya. Sang paman lalu menjelaskan perihal bagaimana tiap-tiap bahan itu menjadi ada dan siap pakai. Contohnya gula. Ada proses dari persiapan lahan siap tanam, proses penanaman tebu, pekerja yang menanamnya, membajaknya, alat untuk membajak, besi yang disiapkan untuk dibuat pembajak dan seterusnya. Atau kayu-kayu yang dipakai dalam penggilingan. Proses penebangan pohon untuk kayu dan seterusnya hingga dibikin alat pembuatan dan seterusnya. Memakan tenaga, waktu dan jumlah orang yang banyak]

Para keponakan yang masih anak-anak itu takkan paham perkara mendalam ini hingga paman mereka yang bijaksana menguraikan kepada mereka bagaimana satu butir ‘Laddu’ berasal dari usaha manusia berjumlah ribuan.

Sang paman itu telah menggemakan kepada mereka sebuah nasihat duniawi, tetapi para ilmuwan rohaniah dan orang-orang saleh juga melakukan seperti yang hendak disebutkan. Berikut adalah peristiwa yang diriwayatkan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra perihal Mirza Mazhar Jan Janan yang memberikan dua butir ‘Laddu’ kepada seseorang dari Batala. [Orang itu sangat cepat menghabiskan dua butir ‘Laddu’. Di sisi lain, Mirza Mazhar Jan Janan ketika memakan satu ‘Laddu’ saja merenung sangat lama perihal proses pembuatan ‘Laddu’, orang-orang yang terlibat dalam pembuatan itu, karunia-karunia Allah ta’ala dan seterusnya, sehingga dari waktu Zhuhur sampai waktu Ashar, beliau hanya menghabiskan sebagian kecil saja dari satu butir ‘Laddu’ itu.]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Mengapa beliau melakukan hal ini wahai orang yang melihat? Karena beliau melihat ribuan ayat-ayat (tanda-tanda) Allah dalam sebutir ‘Laddu’. Orang-orang begitu super cepat setiap kali makan 4 atau 5 atau 10 atau 20 butir ‘Laddu’, tetapi bagi Mirza Mazhar Jan Janan memakan salah satunya saja terasa begitu berat sehingga seperti mematahkan punggungnya.3 Melalui mengingat karunia-karunia Ilahi, orang bijak dapat melihat tanda-tanda yang besar dari sesuatu hal yang kecil, tapi orang yang bodoh tidak melihat apa-apa bahkan dalam hal-hal besar raksasa. Orang bijak melihat tanda-tanda agung dari Tuhan bahkan dengan hal-hal yang kecil, sementara orang bodoh tidak melihat apapun bahkan dengan sesuatu yang skalanya besar.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah biasa mengatakan bahwa telah muncul puluhan ribu tanda untuk membenarkan beliau. Hal ini benar adanya. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa telah muncul tanda-tanda kebenaran beliau yang tidak terhitung banyaknya. Kepada siapa tanda-tanda Ilahi ini Dia perlihatkan? Ialah kepada orang-orang yang mau berpikir dan merenungkan. Bangunan depan masjid Aqsha di Qadian, setiap bangunan-bangunan di arah utara Qadian, tiap bangunan bahkan tiap partikel dari bahan bangunan adalah menjadi tanda kebenaran beliau. Seluruh orang yang kalian lihat berjalan di Qadian, baik Ahmadi maupun bukan Ahmadi adalah sebagai tanda kebenaran beliau. ... Orang-orang datang untuk menemui Hadhrat Masih Mau’ud as setelah beliau membuat pendakwaan dan mereka mendapatkan faedah dari pergaulan dengan beliau.

Sesungguhnya, kemajuan Qadian, seluruh wilayah Qadian dan semua yang ada di dalamnya merupakan tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as, Mengestimasikan jumlah tanda-tanda beliau sangatlah sederhana. Tanda-tanda beliau begitu banyak sehingga tanda-tanda tersebut di luar kemampuan manusia dan hanya Tuhan yang mampu mengukurnya.

Hahdrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Tak perlu berpikir jauh-jauh, tapi lihat masjid ini (tempat beliau berkhotbah), konstruksi, kayu serta semua pilarnya adalah termasuk ayat-ayat (tanda-tanda kebenaran), karena itu semua tidak ada sebelum pendakwaan Hudhur as, tapi semuanya didirikan setelah itu. Ada puluhan ribu ayat yang dapat Anda dapati di sini. Selain itu, banyaknya orang yang hadir pada kesempatan pertemuan tahunan (Jalsah Salanah), dan masing-masing dari mereka adalah sebagai tanda yang Allah perlihatkan setiap tahun, dan akan Dia perlihatkan hingga apa-apa yang Dia kehendaki.

Maka dari itu, perkiraan jumlah tanda-tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa itu jumlahnya puluhan ribu adalah perkiraan mudahnya saja. Tidak demikian, melainkan, jumlah banyaknya hingga mencapai tingkat tidak dapat dihitung jumlahnya oleh kemampuan manusia. Tidak dapat menghitungnya kecuali Allah saja yang bisa. Tanda-tanda ini menjadi sarana penyebab penguat iman kita. Demikian pula, tanda-tanda itu menuntun kita sesuai dengan ayat yang telah saya (Hudhur II ra) sebutkan tadi 4 kearah pembukaan mata tiap orang yang datang kemari agar dapat melihat seberapa banyak jumlah tanda-tanda ini dan ia juga dapat melihat bahwa dirinya sendiri itu termasuk sebuah tanda juga.”
Sesungguhnya, para Ahmadi yang tersebarluas hari ini di seluruh dunia, masjid-masjid Jemaat Muslim Ahmadiyah, Markas-Markas mereka, Jamiah-Jamiah mereka, sekolah-sekolah mereka, rumah sakit-rumah sakit mereka, penghargaan dan penghormatan warga dan lingkungan di sekitar para pemukim Ahmadi terhadap para Ahmadi yang tinggal di kawasan mereka yang jumlahnya jutaan di seluruh dunia juga termasuk bagian dari tanda-tanda itu, maka, bagi siapa yang mempunyai mata rohaniah dapat menyaksikannya.  

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Saya masih ingat betul bahwa suatu kali seorang Maulwi mendatangi Hadhrat Masih Mau’ud as dan berkata, ‘Saya datang untuk melihat tanda kebenaran dari Anda.’ Hadhrat Masih Mau’ud as tersenyum dan bersabda, ‘Bacalah buku saya ‘Haqiqatul Wahyi’ dan anda akan menyadari betapa banyak tanda-tanda yang Tuhan perlihatkan untuk mendukung saya. Apa manfaat yang telah anda peroleh dari tanda-tanda yang ada di buku ‘Haqiqatul Wahyi’ sehingga kini anda datang untuk melihat lebih banyak lagi tanda-tanda tersebut?’”

Perhatikan bahwa  ‘Haqiqatul Wahyi’ juga mengandung tanda-tanda yang muncul dalam hitungan beberapa menit, maka jika muncul di tangan seseorang satu ayat dalam beberapa menit, maka tak diragukan lagi kita harus membenarkannya dalam nubuat-nubuat yang akan terjadi setelah dua tahun atau dua abad, hal demikian karena kita telah melihat beberapa nubuatannya telah sempurna (terjadi) dalam beberapa menit, kita harus mengatakan bahwa nubuatan jangka panjangnya juga pasti terwujud. Tetapi dengan menunjuk nubuatan jangka panjang tanpa melihat tanda-tanda jangka pendek maka kita katakan bahwa apa yang dikatakannya adalah bertentangan dengan akal pikiran.

Telah sempurna nubuatan-nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud as di masa hidup beliau, dan terus-menerus sempurna selanjutnya, kemajuan Jemaat di hari-hari ini adalah dalil yang baik atas hal itu. Semoga Allah memberikan bashirah (penglihatan dan pengetahuan yang mendalam) kepada mereka yang belum melihat sempurnanya tanda-tanda Hadhrat Masih Mau’ud as dan mutu penyempurnaannya sehingga mereka dapat menyaksikannya; semoga Dia juga menguatkan keimanan kita di setiap saat dan tempat. آمين.

Penerjemah: Yusuf Awwab & Dildaar Ahmad

Khutbah Jumat: HAKIKAT DARI BERIBADAH KEPADA ALLAH

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
tanggal 10 April 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)
 ‘Sesungguhnya, telah berhasil orang-orang yang beriman, 
orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.’ (Al Mu’minun 23: 2-3)
 
Mula-mula ayat tersebut memberikan khabar gembira mengenai keberhasilan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, morang-orang yang beriman jenis apa yang dimaksud? Ayat berikutnya memberikan banyak persyaratan dan ketentuan bagi orang yang beriman. Pertama, persyaratan atau kualitas yang harus dimiliki orang mukmin adalah bahwa mereka harus khusyu dalam Shalatnya. Khusyu dalam konteks ini umumnya mengandung arti menangis saat shalat, namun, ternyata ada banyak makna dan pengertian lainnya dan jika semua itu tidak terpenuhi, maka kondisi sejati sebagai orang yang beriman tidak akan tercapai. Khusyu artinya menunjukkan dengan penuh kerendahan hati, merendahkan diri dengan sebenar-benarnya, menafikan (melenyapkan) diri sendiri, bersimpuh, berusaha membuat diri sendiri hina, menundukan pandangan dan berbicara dengan lemah lembut. Dengan demikian satu kata mencakup sebuah kerangka yang amat luas yang diperuntukan bagi orang beriman. Seseorang yang kembali kepada Tuhan dengan kekhusyuan (kerendahan hati) yang tinggi serta menerapkan kualitas yang lainnya, maka dijanjikan akan memperoleh qurub ilahi (kedekatan dengan Tuhan). Hal ini pada gilirannya akan menarik perhatiannya bahwa selain memenuhi hak-hak Tuhan, ia juga harus memenuhi hak-hak ciptaan Tuhan. Hal ini akan membimbingnya untuk berusaha menjadi perwujudan dari apa yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) ungkapkan dalam bait syair Urdu beliau ini:

“Bayangkanlah dirimu lebih rendah daripada orang lain”
“Bisa jadi itu akan mengantarkanmu ke kediaman Tuhan yang Esa”

Disamping khusyu dalam Shalat, orang tersebut pun harus berusaha mengamalkan kekhusyuan (kerendahan hati) tersebut dalam kehidupannya sehari-hari serta berusaha menghindarkan diri dari semua keburukan sosial. Serta Ia harus berusaha bertutur kata lembut dan menghindar dari segala bentuk konfrontasi dan argumentasi (perdebatan). Tentunya banyak sekali penyakit yang menghalangi orang beriman jauh dari jalan yang benar. Hanya orang-orang yang memelihara dan menjunjung tinggi hal tersebutlah yang akan meraih kesuksesan. Kata bahasa Arab “فلاح” yang digunakan pada ayat diatas memiliki konotasi yang sangat luas. Kata itu berarti situasi yang tentram, kemakmuran, kesejahteraan, terkabulnya segala keinginan, keamanan, ketentraman, kebahagiaan serta karunia hidup yang terus menerus. Ini adalah faedah yang beraneka ragam yang dinikmati oleh mereka yang berbuat baik yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Langkah pertama dan penting untuk meraih karunia tersebut adalah khusyu-lah dalam Shalat. Tentu saja orang-orang dunia pun khusyu dalam shalatnya, namun tidak hanya sekedar menangis. Orang-orang duniawi akan menangis dan merendahkan diri mereka ketika hal itu mereka anggap layak untuk dikerjakan. Mereka melakukannya karena mereka memiliki kepentingan pribadi atau mereka melakukan hal tersebut sekedar untuk berpura-pura atau karena emosi sesaat saja. Akan tetapi Orang-orang yang khusyu untuk mencari ridho Tuhan sangat jauh dari hal-hal semacam itu.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai orang-orang semacam itu: ‘Saya secara pribadi melihat banyak sekali pertapa dan orang-orang lainnya yang seperti itu yang langsung mencucurkan air mata dengan derasnya saat mendengarkan syair yang menyayat hati, atau melihat sebuah pemandangan yang menyakitkan atau mendengarkan kisah-kisah yang memilukan, seperti halnya saat hujan deras mulai turun di malam hari, tidak mungkin seseorang yang sedang merapihkan tempat tidurnya dan membawanya ke dalam ruangan tidak akan basah kuyup terguyur hujan. [Hal ini merujuk kepada orang-orang yang berada di sub-benua yang biasa tidur diluar selama bulan-bulan yang ada di musim panas] Namun saya bersaksi atas ucapan saya ini bahwa kebanyakan orang-orang yang seperti itu lebih licik dan jahat daripada orang-orang dunia. Saya menemukan beberapa dari mereka berwatak jahat, tidak jujur dan tak bermoral dalam segala aspeknya. Melihat mereka menangis dan menunjukan kerendahan hati membuat saya jijik untuk menangis ataupun terharu dalam setiap pertemuan.’

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) menceritakan bahwa Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) pernah menyampakan sebuah kisah tentang seseorang yang sudah tua. Orang tua tersebut melaksanakan Shalat di masjid selama bertahun-tahun lamanya dengan pikiran bahwa orang-orang akan memujinya. Namun karena beberapa amalan baiknya di masa lalu, Tuhan menyusupkan ke dalam hati setiap orang supaya mereka menyebutnya orang munafik. Suatu hari ia sadar bahwa ia telah menghabiskan masa hidupnya dengan beribadah di Masjid namun tidak pernah ada seorang pun yang memanggilnya orang saleh, ia pun berpikir jika shalatnya itu dikerjakan semata-mata demi untuk Tuhan, Tuhan pasti akan ridho dengannya. Pikiran tersebut menusuknya begitu kuat sehingga ia pergi ke hutan belantara dan mengerjakan Shalat dengan begitu khusyu dan menyayat hati, serta memohon bahwa kini ia shalat semata-mata hanya untuk Tuhan. Setelah itu Tuhan menyusupkan ke dalam hati orang-orang bahwa orang tua ini adalah orang saleh yang terhina dan tersia-sia. Orang tua tersebut amat bersyukur kepada Tuhan. Shalat yang dikerjakannya dengan ketulusan demi untuk Tuhan semata telah mengubah hati orang-orang itu dan mereka mulai memuliakannya. Kisah ini pun menunjukan bahwa dengan nilai dari beberapa kebaikan yang mungkin dilakukan seseorang pada masa lampau, Tuhan akan dapat mempermudah dalam mereformasi dirinya. Oleh karena itu orang tua tersebut termasuk diantara orang-orang yang memperoleh “فلاح” (keberhasilan). Amal baik seseorang di masa lampau meski dikemudian hari melakukan dosa dapat menyelamatkannya dari akhir yang buruk dan menjadikannya dari antara orang-orang yang dianugerahi “فلاح”. Hal tersebut tergantung sifat Rahmaniyat Ilahiah. Namun, sebenarnya “فلاح” diberikan kepada mereka yang berusaha meraih kebaikan dari sifar Rahimiyat Ilahi dan inilah syarat pertama dari hal tersebut yaitu melaksanakan shalat dengan penuh kerendahan hati.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menulis: Tahap awal dari kondisi keruhanian orang yang beriman ialah kerendahan hati, meratap (mencucurkan air mata) dan kelemah lembutan (melas diri) dimana orang beriman tersebut alami saat Shalat dan berzikir kepada Allah. Artinya bahwa hal tersebut untuk menghasilkan di dalam dirinya gairat berdoa, kepedihan, kerendahan hati, kekhusyuan yang tinggi, kesabaran, dan hasrat yang membara. Juga untuk menarik perasaan takut saat kembali kepada Tuhan sebagaimana yang ayat ini nyatakan: ‘Sesungguhnya, telah berhasil orang-orang yang beriman, orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.’ (Al Mu’minun 23: 2-3). yaitu bahwa, keberhasilan disini adalah keberhasilan bagi orang-orang beriman yang khusyu dalam shalat mereka dan berzikir kepada Allah serta yang sibuk mengingat Tuhan mereka dengan kepedian, kelemah lembutan, hasrat dan gairat yang tulus.’ 

Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menulis: ‘Orang-orang yang merenungkan al-Quran akan memahami bahwa keadaan khusyu dalam Shalat seperti cairan nutfah bagi keadaan ruhani kita. Dan sama seperti cairan nutfah, namun dalam arti keruhanian, ia menyembunyikan segala kekuatan, kualitas dan kemampuan untuk membentuk manusia yang sempurna. Seperti cairan nutfah yang berada dalam keadaan berbahaya hingga ia mencapai rahim, begitupun keadaan ruhani yang belum sempurna ini, dengan kata lain bahwa kerendahan hati (khusyu), tidak berada dalam bahaya selama ia berhubungan dengan Tuhan yang Maha Rahim. Haruslah diingat bahwa ketika karunia Allah Ta’ala dianugerahkan tanpa ada usaha sama sekali, hal itu didasarkan atas sifat Rahmaniyat Ilahi. Misalnya, Tuhan menciptakan langit dan bumi bagi manusia atau DIa menciptakan manusia, semua ini terwujud atas dasar karuna dari sifat Rahmaniyat-Nya. Namun, ketika sebuah karunia dianugerahkan karena beberapa amalan, ibadah, dan usaha keras dalam melatih kerohanian, itu adalah karunia dari sifat Rahimiyat-Nya. Inilah cara yang senantiasa dilakukan Allah bagi manusia. Sepanjang manusia menerapkan keadaan rendah hati (khusyu) dalam shalat serta saat berzikir kepada Allah, maka ia telah mempersiapkan dirinya untuk karunia Rahimiyat Allah Ta’la. Perbedaan antara cairan nutfah dan tahap awal kondisi kerohanian adalah bahwa jika cairan nutfah tergantung pada tarikan rahim (kandungan), maka kondisi kerohanian tergantung pada tarikan Rahimiyat Tuhan. Sama seperti itu mungkin bagi cairan nutfah akan terbuang sebelum ditarik ke rahim (kandungan), begitu juga mungkin bagi tahap awal keadaan rohani orang beriman, yaitu kerendahan hati, akan musnah sebelum terhubung kepada Rahimiyat Tuhan.

Banyak orang-orang yang mencucurkan air mata dan menangis dalam shalat saat mereka berada dalam tahap awal kerohaniaan. Mereka memperlihatkan perangai dan gairat yang luar biasa dalam kecintaan mereka kepada Tuhan, tapi karena mereka tidak menempa sebuah hubungan dengan Dia, pemilik Sumber Karunia, yaitu Rahimiyat Tuhan, dan mereka tidak ditarik kearah-Nya disebabkan perwujudan-Nya yang special, maka segala kepedihan dan kondisi kekhusyuaannya tidak berdasar (beralasan) dan kadang mereka begitu banyak tergelincir dan tersandung sehingga mereka mundur melewati tahap awal kerohanian mereka. Ini adalah sebuah hal yang menakjubkan, ada kesamaan yang menarik bahwa seperti halnya cairan nutfah yang merupakan tahap awal bagi terbentuknya kondisi fisik, jika tidak ditarik ke rahim maka ia tidak ada artinya sama sekali, demikian pula kerendahan hati (khusyu) yang merupakan tahap awal dari kondisi kerohanian jika tidak dibantu Rahimiyat Tuhan serta ditarik kearah-Nya, kerendahan hati tidak akan ada artinya sama sekali.

Inilah sebabnya mengapa kalian akan mendapati ribuan orang yang setelah memperoleh kenikmatan di separuh kehidupan mereka saat berzikir dan shalat, mereka mengalami keadaan seperti tak sadarkan diri dan menangis, namun kemudian beberapa keburukan berhasil menguasainya sehingga setelah mereka ditarik kepada hal-hal yang mementingkan diri sendiri mereka kehilangan semua kerohaniannya disebabkan nafsu mereka terhadap hasrat-hasrat duniawi. Inilah penyebab dari keprihatinan yang besar bahwa kondisi kerendahan hati (khusyu) sering hilang sebelum terhubung dengan Rahimiyat dan musnah sebelum daya tarik Rahimiyat Tuhan dapat bekerja atasnya.’ (Baraheen e Ahmadiyya, Part V. pp. 188 – 190)

Dengan demikian, tidak seorang pun dapat menegaskan bahwa ibadah mereka kepada Tuhan telah mencapai sebuah tahapan kerendahan hati (kekhusyuan) yang tinggi. Kerendahan hati meliputi semua elemen sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Sebenarnya, kita perlu membuat upaya secara dawam untuk menarik karunia Rahimiyat Allah Ta’ala. Sama seperti seseorang yang tidak tahu kapan pembuahan akan terjadi dan janin akan terbentuk serta kapan saatnya keguguran itu terjadi, begitu juga sekali pun upaya seseorang berbuah kekhusyuan (kerendahan hati), kadang ia menjadi takabur. Seperti orang-orang yang pertama kali menerima Nabi Allah dan kemudian berpaling; Mereka terhubung dengan Tuhan sepanjang bersentuhan dengan seseorang yang ditugaskan oleh-Nya. Jika tidak, mereka akan jatuh dan hilang kedalam lubang kehinaan. Kita harus terus menerus berusaha demi karunia Rahimiyat Allah Ta’ala. Amat sedikit upaya yang dilakukan dalam hal ini, pengabulan doa yang menakjubkan atau beberapa mimpi yang benar tidak harus membuat kita merasa bangga. Meskipun telah mencapai qurub ilahi dan meraih ‘فلاح’ (keberhasilan), walaupun telah menjadi begitu khusyu, sungguhpun telah menjauhkan segala hal yang sia-sia, kendatipun telah berkorban di jalan Allah, meskipun telah menjaga kesucian (Farji) mereka, sekalipun telah memenuhi perjanjian mereka, sungguhpun telah memenuhi kewajiban Shalat dan ibadah lainnya kepada Tuhan, orang-orang yang meraih ‘فلاح’ (keberhasilan) memohon kepada Tuhan agar membungkus mereka dengan selimut rahmat dan karunia-Nya, karena mereka tahu bahwa tanpanya mereka tidak ada artinya. Karena karunia Tuhan sematalah, maka segala upaya yang terus menerus kita lakukan guna menarik karunia Rahimiyat Allah Ta’ala diterima dan dikabulkan.

Seorang mukmin sejati harus senantiasa berpandangan bahwa tidak diragukan lagi Tuhan telah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman telah meraih ‘فلاح’ (keberhasilan), akan tetapi untuk membuat ‘فلاح’ (keberhasilan) ini bagian dari kehidupan kita yang terus berkelanjutan, kita tidak boleh mengaitkan setiap pencapaian yang diraih merupakan upaya kita sendiri. Karena setiap pencapaian yang diraih harus dianggap bahwa hal itu bukan kita yang melakukannya, namun terjadi dengan karunia Tuhan. Jika tidak, mungkin saja amalan baik kita akan terbuang seperti cairan nutfah yang berakhir dengan keguguran. Kita perlu fokus pada akhir kita sehingga karunia Rahimiyat Allah Ta’ala dapat menerima upaya kita dan proses tersebut melahirkan sebuah wujud yang lengkap segala-galanya. Dan kita mungkin termasuk diantara orang-orang yang meningkat dalam kerendahan hati (khusyu) saat cairan nutfah tersebut berkembang secara kerohanian.

Sesungguhnya, Rasulullah (saw) yang standar dan level ibadah kepada Tuhannya berada diluar jangkauan kita bahkan mengatakan jika beliau nanti dianugerahi surga, itu semata-mata karena karunia Tuhan. Bagaimana bisa amalan orang-orang yang lainnya kemudian mengantarkan mereka ke surga! Kendati sudah diberikan jaminan oleh Tuhan, Rasulullah (saw) yang datang untuk mereformasi seluruh Dunia, begitu meningkat kekhusyuan dan ketaatan beliau saat shalat di malam hari dimana beliau berdiri dalam jangka waktu yang lama sehingga kaki beliau bengkak-bengkak. Hal ini penting bagi setiap orang mukmin bahwa keadaan qalbu sebelum dan sesudah melaksanakan Shalat harus nampak berbeda. Apabila ada tanda-tanda keegoisan atau yang seperti itu sebelum Shalat, maka setelah selesai Shalat qalbu harus bersih dari perasaan yang negatif. Di setiap akhir ibadah kita kepada Tuhan, kita harus menaklukan kearogansian (kesombongan) apapun dan menerapan kerendahan hati (kekhusyuan). Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sopan kepada setiap orang, kita harus menerapkan kerendahan hati demi mencari ridho Tuhan serta harus beribadah kepada Tuhan secara dawam demi memalingkan kita kepada Tuhan sehingga kita bisa menjadi penerima berkat yang lezat dari karunia Rahimiyat-Nya. Setiap hari kita harus mengidentifikasi kelemahan kita dan meningkatkan Rahmat Tuhan kepada kita. Semoga Allah Ta’ala selalu menjadikan kita orang-orang yang senantiasa beristigfar dan semoga setiap amal baik kita, apabila itu baik dalam pandangan Tuhan, menjadi sumber meraih keridhoan-Nya. Semoga kita semua termasuk dari antara orang-orang yang memperoleh ‘فلاح’ di mata Tuhan!