Ahmadiyya Priangan Timur

.

Thursday, 5 June 2014

JEMAAT DAN MUSLIM SEJATI

”Sekarang, lihatlah keadaan dunia. Nabi Karim kita saw. telah membuktikan melalui amal perbuatan beliau, bahwa hidup dan mati beliau seluruhnya adalah untuk Allah Ta’ala. Sekarang di dunia banyak terdapat orang-orang Islam. Tanyakanlah kepada seseorang, “Apakah engkau Muslim?” Maka dia menjawab, “Alhamdulillaah.” 
 
Orang yang membaca Kalimah [Syahadat] prinsip-prinspnya adalah untuk Allah, namun orang ini hidup untuk dunia dan mati untuk dunia. Sampai datang sakaratul maut hanya dunialah yang mereka tuju, yang mereka cintai, dan yang mereka mintakan, maka bagaimana mungkin [orang seperti itu] dapat mengatakan bahwa, “Aku mengikuti Rasulullah saw.”?

Ini adalah suatu hat yang sangat perlu diperhatikan. Jangan anggap enteng hal ini. Menjadi Muslim tidaklah mudah, jangan kalian puas selama di dalam diri kalian belum terbentuk ketaatan terhadap Rasulullah saw. dan belum terbentuk suri teladan Islam.” (Malfuzat, jld. II, hlm. 187).

PERGAULAN BURUK

”Di antara hal-hal yang membinasakan manusia, salah satunya adalah pergaulan buruk. Lihat Abu Jahal, dia sendiri telah binasa, namun dia pun turut membawa serta banyak sekali orang lain dalam kematian, yaitu orang-orang yang biasa duduk bergaul bersamanya. Di dalam pergaulan dan lingkungannya tidak ada hal lain kecuali perolok-olokkan dan ejekan. Inilah yang mereka katakana, “Inna haadzaa la-syai-un- yuraad (sesungguhnya ini adalah suatu yang dikehetidaki – Shaad, 7), yakni, “Ini adalah penipuan yang mengada-ada." (Malfuzat, jld. II, hlm. 185).

TUJUAN PENGUTUSAN RASULULLAH SAW

”Maksud dan tujuan kedatangan Rasulullah saw. ke dunia ini adalah supaya beliau menzahirkan kepada dunia keperkasaan Tuhan yang telah terselubung dari penglihatan-penglihatan dan kalbu manusia. Berhala-berhala dan batu-batu tak berguna telah menggantikan tempat keperkasaan Ilahi itu. Dan tujuan itu baru mungkin terlaksana apabila Allah Ta’ala menampakkan Wujud-Nya dalam kehidupan jamaali (kelembutan) dan kehidupan jalaali (keperkasaan) Rasulullah saw. serta memperlihatkan kehebatan Tangan Qudrat-Nya (Kekuasaan-Nya).

Jadi, Rasulullah saw. merupakan satu contoh sempurna sebagai manusia yang meraih keridhaan Allah Ta’ala dan yang menjadi kekasih Ilahi. Oleh karena itu dengan kata-kata yang jelas Allah Taala telah berfirman:

(Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu." – Ali ‘Imran, 32). Yakni, "Katakan kepada mereka, `Jika kalian ingin menjadi kekasih Ilahi dan dosa-dosa kalian diampuni, maka hanya ada satu jalannya, yaitu taatlah kepadaku (Muhammad)." Artinya, mengikuti Rasulullah saw. adalah sesuatu yang membuat manusia tidak putus asa terhadap rahmat Ilahi, dan yang mengakibatkan terjadinya pengampunan terhadap dosa-dosa serta menjadikan manusia sebagai orang yang dicintai Allah Ta’ala. Dan pendakwaan kalian – bahwa kalian mencintai Allah Ta’ala – baru akan terbukti benar apabila kalian mengikuti Rasulullah saw..

Dari ayat ini diketahui dengan jelas bahwa manusia tidak bisa menjadi orang yang dicintai Allah Ta’ala dan tidak berhak atas qurub (kedekatan) Ilahi hanya melalui upaya-upaya dan cara-cara yang ia temukan sendiri. Dan nur-nur serta berkat-berkat Ilahi tidak akan turun kepada siapa siapa pun selama ia belum mabuk (asyik) dalam ketaatan terhadap Rasulullah saw…

Seseorang yang mabuk (asyik) dalam kecintaan terhadap Rasulullah saw. serta yang memberlakukan segala macam maut (kematian) atas jiwanya dalam mentaati dan mengikuti beliau saw., maka kepada orang itu akan diberikan nur (cahaya) iman, kecintaan dan kasih, yang membuatnya terlepas dari wujud-wujud selain Allah, dan hal itu membuatnya terhindar dari dosa-dosa serta membawakan najat (keselamatan) baginya.

Di dunia ini juga orang itu memperoleh suatu kehidupan suci, dan orang itu dikeluarkan dari dalam kuburan-kuburan gelap serta sempit dorongan-dorongan nafsu. Ke arah ini jugalah hadits ini memberikan isyarah, yakni: "Anal haasyirul ladzii yahsyarun-naasa 'alaa qadami," Yakni, "Aku akan membangkitkan orang-orang mati di atas telapak kakiku."

Ringkasnya, ilmu-ilmu yang merupakan landasan najaat (keselamatan) ini secara pasti tidak dapat diraih kecuali melalui kehidupan yang diperoleh manusia dengan perantaraan Ruhulqudus. Ayat Quran Syarif ini dengan jelas dan dengan nyaring meneriakkan bahwa kehidupan ruhani hanya dapat diraih melalui ketaatan terhadap Rasulullah saw..

Segenap orang kikir dan – yang karena kedengkian (permusuhan) menolak untuk mengikuti Nabi Karim saw.. – mereka berada di bawah bayangan setan. Di dalam diri orang itu tidak terdapat ruh kehidupan suci ini, yaitu orang yang secara zahir disebut hidup tetapi sebenarnya dia mati, sebab setan menungangi kalbunya. Disayangkan bahwa orang ini tidak ingat akan maut (kematian).

Maut (kematian) itu tidak jauh. Seseorang yang umurnya sudah mencapai 50 tahun, jika dia itu hidup, maka paling tidak dia akan memperoleh waktu dua atau empat tahun lagi. Atau paling banyak 10 tahun, dan akhirnya dia akan mati. Maut (kematian) adalah sesuatu yang pasti, dan tidak seorang pun dapat terhindar darinya.

Aku melihat, orang-orang begitu teliti menghindari kesalahan-kesalahan dalam menghitung uang, namun mereka tidak pernah menghitung umur. Malanglah orang yang tidak memberikan perhatian terhadap hitungan umur. Sesuatu yang paling penting dan paling pantas untuk dihitung justru adalah umur. Jangan-jangan maut (kematian) tiba dan insan meninggalkan dunia ini dengan penuh penyesalan” (Malfuzat, jld. II, hlm. 182-184).

HAZRAT UMAR (ra)

”Merupakan kudrat Allah Ta’ala, yakni Uamr r.a. yang pada satu masa ingin mensyahidkan (membunuh) Rasulullah saw., ternyata pada masa lain Umar itu sendiri yang telah mati syahid di dalam Islam. Betapa menakjubkan masa itu.

Ringkasnya, saat itu sudah terjadi kesepakatan bahwa Umar akan melakukan pembunuhan [terhadap Rasulullah saw.]. Setelah kesepakatan itu Umar terus mencari dan memata-matai Rasulullah saw.. Di malam hari ia keluar dan mencari peluang kalau beliau saw. seorang diri maka langsung akan ia bunuh.

Umar menanyakan kepada orang-orang kapan biasanya Rasulullah saw. sedang sendirian? Orang-orang mengatakan biasanya setelah lewat tengah malam beliau pergi ke Ka’bah dan biasanya melakukan salat di sana. Mendengar hal itu Umar pun sangat senang. Umar lalu datang ke Ka’bah dan bersembunyi.

Tidak berapa lama kemudian dari kegelapan terdengar suara “Laa Ilaaha illallaahu”, dan itu merupakan suara Rasulullah saw.. Mendengar suara itu Umar pun mengetahui bahwa beliau sedang datang dari arah [suara] tesebut. Umar pun hati-hati dan menyembunyikan diri. Umar bermaksud ketika Rasulullah saw. sedang sujud maka ia akan memenggal kepada beliau dengan pedang sehingga terlepas dari badan.

Begitu Rasulullah saw. tiba beliau saw. langsung memulai salat. Kemudian peristiwa selanjutnya diterangkan sendiri oleh Hadhrat Umar r.a.: “Rasulullah saw. sedang menangis-nangis memanjatkan doa di dalam sujud, dan saya mulai merasa gemetar, sampai-sampai Rasulullah saw. juga mengatakan: `Sajada laka ruuhii wa janaanii – wahai Junjungan-ku, ruhku dan kalbuku juga bersujud kepada-Mu.”

Hadhrat Umar r.a. mengatakan: “Mendengar doa-doa itu hati saya luluh. Akhirnya karena kehebatan kebenaran itu pedang pun sampai terlepas dari tangan saya. Dari kondisi Rasulullah saw. itu saya pun mengerti bahwa beliau itu benar dan pasti akan berjaya. Namun nafsu Ammarah itu memang sangat buruk, sehingga ketika beliau saw. sudah selesai salat dan keluar maka saya mengikuti beliau dari belakang.

Dari suara langkah saya beliau mengetahui. Saat itu malam gelap, Rasulullah saw. bertanya, “Siapa itu?” Saya pun menjawab, “Umar!” Beliau saw. bersabda, “Wahai Umar, engkau tidak menyia-nyiakan malam maupun siang [untuk mengejarku].” Saat itu saya mencium aroma wangi ruh Rasulullah saw., dan ruh saya merasakan bahwa Rasulullah saw. akan memanjatkan doa buruk bagi saya, maka saya pun mengatakan, “Yang Mulia, janganlah panjatkan doa buruk.”.

Hadhrat Umar mengatakan: “Saat dan detik itu merupakan saat dan dan detik Islam-nya saya, sampai akhirnya Allah Ta’ala memberi taufik kepada saya sehingga saya menjadi orang Islam” (Malfuzat, jld. II, hlm. 180-181).


MENGAPA COBAAN JUGA MENIMPA PARA UTUSAN ALLAH?

“Ini merupakan Sunnatullah bahwa para utusan (rasul) Allah diganggu dan diberi penderitaan-penderitaan Kesulitan demi kesulitan menghadang mereka. Hal itu bukan supaya mereka binasa, melainkan supaya mereka menarik nushrat (pertolongan) Ilahi. Itulah sebabnya kehidupan beliau (Rasulullah s.a.w. --pent.) di Mekkah jauh lebih lama dibandingkan kehidupan beliau di Madinah.

Di Mekkah beliau saw. melalui masa selama 13 tahun, sedangkan di Madinah 10 tahun. Dari ayat ini – ["Was taftahuu wa khaaba kullu jabbaarin 'aniid – dan mereka memohon kemenangan, dan binasalah tiap-tiap orang yang sombong lagi durhaka" Ibrahim, 16] -- diketahui bahwa memang demikianlah yang terjadi pada setiap nabi dan utusan Ilahi.

Yakni, pada awalnya mereka dibuat menderita. Mereka dituduh sebagai pembuat makar, pendusta dan penipu. Tidak ada sebutan buruk yang tidak dilontarkan terhadap mereka. Nabi dan utusan (rasul) itu menanggung semua hal tersebut serta merasakan setiap penderitaan. Namun tatkala sudah mencapai puncaknya maka tampillah kekuatan kedua untuk (berupa) kepedulian terhadap umat manusia.

Seperti itu pula kepada Rasulullah saw. telah diberikan segala penderitaan. Segala macam sebutan buruk dikenakan kepada diri beliau. Akhirnya perhatian beliau saw. terpusatkan dengan kuat serta telah mencapai puncaknya, sebagaimana hal itu didapati dari kata istaftahu (mereka memohon kemenangan). Dan akibatnya adalah: "Wa khaaba kullu jabbaarin 'aniid – dan binasalah tiap-tiap orang yang sombong lagi durhaka." Rencana segenap orang yang bejad dan jahat itu telah hancur. Perhatian (konsentrasi) ini merupakan puncak dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan para penentang, sebab jika sejak semula sudah demikian maka pasti mereka sudah hancur [terlebih dahulu].

Pada masa kehidupan Rasulullah saw. di Mekkah, beliau sering menjatuhkan diri dan menangis di hadapan Sang Ahad (Allah Ta’ala), dan kondisinya sampai sedemikian rupa, sehingga orang-orang yang menyaksikan serta mendengar hal itu akan gemetar tubuh mereka. Namun akhirnya, lihatlah keperkasaan pada kehidupan beliau saw. di Madinah. Yakni orang-orang yang dahulunya gencar melakukan kejahatan-kejahatan dan sangat sibuk untuk membunuh serta mengusir beliau saw. [dari Mekkah], kesemuanya mereka telah binasa, sedangkan yang tersisa terpaksa mengakui kesalahan-kesalahan mereka dengan sangat merendahkan diri di hadapan beliau saw. serta terpaksa memohon pengampunan.

Lihatlah Hadhrat Umar r.a., betapa besar manfaat yang diperoleh Hadhrat Umar r.a.. Dahulu pada suatu masa beliau tidak beriman. Hal itu berselang sampai empat tahun. Allah Ta’ala benar-benar memahami akan maslahatnya, yakni apa rahasia yang terdapat dibaliknya. Abu Jahal waktu itu mencari orang yang dapat membunuh Rasulullah saw.. Pada masa itu Hadhrat Umar dikenal gagah perkasa dan sangat berani serta sangat ditakuti.

Mereka berdua berembuk, lalu melakukan upaya-upaya untuk membunuh Rasulullah saw. Dan sudah terjadi kesepakatan antara Hadhrat Umar r.a. dan Abu Jahal, serta telah ditetapkan jika Umar berhasil membunuh beliau saw. maka akan memperoleh sejumlah uang.” (Malfuzat, jld. II, hlm. 179-180).

KARUNIA TUHAN

“Bukti terbesar dari kebenaran pendakwaan Rasulullah saw. adalah kehidupan yang beliau jalani. Tidak seorang pun yang dapat menuduh beliau saw. dengan tuduhan. Beliau saw. diutus ke dunia di saat kegelapan melingkupinya dari segala sisi dan beliau saw.  hidup sampai saat beliau saw.  mendengar wahyu:
 
(Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu” – Al-Maidah, 4).Beliau saw.  tidak wafat sebelum melihat manusia masuk Islam dalam jumlah besar.

Sesungguhnya banyak sebab beliau saw. dipanggil Muhammad. Beliau saw. juga memiliki nama lain, Ahmad. Inilah nama yang dinubuatkan oleh Al-Masih  mengenai kedatangannya:

(Memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad” – Ash-Shaf, 76).      Nama ini merujuk kepada Tuhannya melebihi kepada orang lain. Kalimat ini menjelaskan – dan hal itu benar – bahwa orang-orang memuji orang  yang  mereka akan mendapat sesuatu, dan semakin banyak yang mereka peroleh jika semakin banyak mereka mendoakan. Dia yang diberi satu rupee hanya akan mendoakan sebesar penerimaannya. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa Rasulullah saw. menerima karunia Tuhan lebih banyak dari orang lain.

Sesungguhnya nama [Muhammad/Ahmad] itu  mengandung nubuwatan (kabar gaib) bahwa orang ini akan menjadi penerima karunia terbesar dari Tuhan.”  (Malfuzat, jld. II, hlm. 177).

NAMA MUHAMMAD KHUSUS BAGI RASULULLAH SAW.

”Ringkasnya, sejauh mana kalian menelaahnya maka akan diketahui bahwa tidak ada seorang nabi pun yang berhak menyandang nama [Muhammad] ini, hingga akhirnya tibalah masa Nabi Karim kita saw., dan itu merupakan kawasan yang penuh duri, yang di atasnya Nabi Karim kita saw. telah melangkahkan kaki, dan saat itu sedang terjadi puncak kegelapan.

Akidah saya adalah, jika Rasulullah dipisahkan dari satu sisi, dan segenap nabi yang telah berlalu hingga saat itu berkumpul menjadi satu, lalu ingin melakukan pekerjaan dan ishlah (perbaikan) yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. maka sama sekali mereka tidak akan mampu melakukannya. Di dalam diri mereka tidak terdapat kalbu dan kekuatan yang dimiliki Nabi kita saw..

Jika ada yang mengatakan bahwa [akidah] itu merupakan -- ma’adzallaah – kelancangan (ketidak-sopanan) terhadap para nabi tersebut, berarti orang jahil (bodoh) itu melontarkan kedustaan atas diri saya. Menghargai dan menghormati para nabi saya anggap sebagai bagian dari iman saya. Namun keunggulan Nabi Karim saw. atas segenap nabi lainnya merupakan bagian paling besar dari keimanan saya, dan hal itu sudah merasuk ke dalam darah-daging saya, bukanlah ikhtiar saya untuk mengeluarkannya [dari diri saya].

Para penentang yang malang dan yang tidak memiliki mata silakan mengatakan apa saja semaunya. Nabi Karim kita saw. telah melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak dapat dilakukan oleh siapa pun, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bergotong-royong. Dan ini merupakan fadhal (karunia) Allah Ta’ala: Dzaalika fadhlullaahi man-yasaa-u -- “ini adalah karunia Allah dan Dia berikan kepada siapa yang Di kehendaki”.

Jika seseorang mengetahui peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah saw, dan ia benar-benar mengetahui bagaimana kondisi dunia [saat itu] dan apa saja yang telah diperbuat oleh beliau s.a.w., maka manusia serta-merta akan bangkit mengatakan: "Allaahumma shalli 'alaa Muhammad”.

Saya katakana dengan sebenarnya, bahwa itu bukanlah sesuatu yang berupa khayalan atau mimpi. Quran Syarif serta sejarah dunia memberikan kesaksian penuh akan hal itu, yakni apa yang telah dilakukan oleh Nabi Karim saw.. Jika tidak demikian maka apa yang telah membuat difirmankan-Nya secara khusus hal ini bagi beliau:

(“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” – Al-Ahzab, 57).

Firman seperti ini tidak pernah diperuntukan bagi nabi lain. Hanya inilah isan satu-satunya yang telah datang ke dunia ini dengan penuh kejayaan penuh serta dengan pujian penuh, yaitu yang dinamakan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam” (Malfuzat, jld. II, hlm. 174-175).