Ahmadiyya Priangan Timur

.
Showing posts with label Nasional. Show all posts
Showing posts with label Nasional. Show all posts

Thursday, 2 July 2015

Kelas Tarbiyat 2015 : 3 Wilayah 2 Lokasi 1 Semangat

Dilaporkan oleh : Syihab Ahmad


Citeguh - Di bulan ramadhan 1436 H ini Jemaat Ahmadiyah gabungan tiga wilayah besar di Jawas Barat mengadakan kegiatan pesantren ramadhan atau yang lebih dikenal dengan nama Kelas Tarbiyat bagi anak-anak usia Sekolah Dasar kelas 4 hingga mahasiswa. Acara ini diadakan selama seminggu penuh di dua lokasi yang berdekatan yaitu Jemaat Wanasigra dan Jemaat Nagrak yang sama-sama berada di Desa Tenjowaringin.

Kelas Tarbiyat yang dimulai pada hari Senin, 22 Juni 2015 ini diikuti oleh 716 peserta dari wilayah Jabar 5 (Priangan Barat), Jabar 6 (Garut), dan Jabar 7 (Priangan Timur). Selama satu minggu penuh para peserta dibimbing serta diberikan tarbiyat secara khusus. Peserta dibagi ke dalam 4 tingkatan kelas. Karena cukup banyak peserta masing-masing tingkatan dibagi lagi dalam beberapa ruangan. Peserta putra dibagi ke dalam 11 ruangan di Jemaat Wanasigra dan peserta putri 13 ruangan di Jemaat Nagrak.


Setiap harinya para peserta memasuki kelas untuk menerima pelajaran mulai pukul 8 pagi. Pelajaran yang diterima oleh mereka diantaranya yaitu Akhlak Fadhilah, Fiqh, Aqidah, Ilmu Kalam, serta Tarikh Islam dan Ahmadiyah. Kelas Ta’lim ini dilaksanakan hingga pukul 12 siang yang bertepatan dengan waktu Sholat Zuhur.  Watu ba’da Zuhur hingga menjelang magrib diisi dengan berbagai aktivitas seperti perlombaan-perlombaan rohani, games, serta evaluasi yang dilaksanakan oleh para mentor. Malam hari tidak ada kegiatan khusus karena para peserta harus mengikuti sholat tarawih berjama’ah. Kegiatan lain yang rutin dilaksanakan pada kesempatan ini adalah tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan per hizeb setiap selesai melaksanakan Sholat Subuh.
 
Di sela-sela kegiatan kelas tarbiyat ini pun sempat dilaksanakan seminar Rishta Nata yang mengikut sertakan para peserta Khuddam dan Lajnah. Kegiatan yang dibimbing oleh para Muballighin ini menekankan kepada para anggota Khuddam dan Lajnah akan pentingnya pernikahan sesama muslim Ahmadi. Pertemuan ini meningkatkan antusias para peserta karena topik yang diangkat sangat erat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
 
Akhirnya pada hari Minggu, 28 Juni 2015 “kemah rohani” para pemuda Ahmadiyah ini ditutup dengan tanya jawab berhadiah yang dipandu oleh para panitia, muballighin, dan pengajar serta pembagian hadiah bagi para juara kelas dan pemenang perlombaan-perlombaan selama Kelas Tarbiyat ini berlangsung. Diharapkan setelah kelas tarbiyat ini timbul kecintaan yang lebih mendalam pada generasi penerus Jemaat Ahmadiyah khususnya di tiga wilayah di Jawa Barat ini.

Thursday, 18 June 2015

Jalsah Salanah Wilayah Garut : Meningkatkan Kecintaan Kepada Allah


Dilaporkan oleh : Syihab Ahmad

Garut - Jum’at terakhir sebelum memasuki bulan ramadhan (12/6) wilayah Garut membuka Jalsah Salanah untuk 12 jemaat lokal di wilayah Garut. Kegiatan rutin tahunan Jemaat Ahmadiyah ini dilaksanakan selama 3 hari. Hadir sebanyak 615 orang peserta selama berjalanya acara yang mengambi tema “Meningkatkan Kecintaan Kepada Allah Ta’ala Dengan Mengikuti Suri Teladan Rasulullah SAW.”

Kegiatan ini dipimpin oleh Mln. Ahmad Hidayatullah yang hadir sebagai perwakilan dari Amir Nasional yang berhalangan hadir. Beliau memberikan ceramah mengenai bagaimana hubungan kita dengan Khilafat. Selain beliau para pembicara lain yang terdiri dari para Muballighin, Amir Daerah, serta tokoh-tokoh Jemaat di Wilayah Garut ini pun menyampaikan ceramah-ceramah yang sangat menarik yang memang sangat khas disampaikan pada saat Jalsah Salanah seperti Nizam Al-Wasiat, Da’i Ilallah, Sholat Berjamaah serta makna daripada Jalsah Salanah yang menjadi air rohani bagi para peserta yang hadir pada kesempatan itu.

Selain ceramah-ceramah kegiatan Jalsah Salanah ini juga diisi dengan menyaksikan Khutbah dari Hadhrat Khalifah Waqt secara live via MTA. Khutbah diterjemahkan dengan bantuan kemajuan teknologi dan media sosial seperti adanya live twit yang mempermudah proses penterjemahan Khutbah ini. 

Drs. Pitoyo M.Ikom
Di malam terakhir Jalsah juga diputar sebuah video dokumenter yang menceritakan perjalanan Jemaat Ahmadiyah sejak 1889 hingga sekarang. Melihat perkembangan Jemaat ini dengan karunia Allah membuat semangat kecintaan kepada Jemaat ini pun semakin bertambah. Selain itu sebuah video footage mengenai Bai’at yang diambil dari mtaonline pun membuat para peserta sangat antusias dan betah melihat penjelasan yang diberikan secara virtual ini.

Akhirnya di penghujung acara tahunan ini seorang undangan khusus memberikan kesan mengenai Jalsah ini. Beliau adalah Drs. Pitoyo M.Ikom Kepala Redaksi Harian Tribun Jabar. Beliau baru saja mendapatkan gelar doktoral setelah mengadakan penelitian terhadap Jemaat Ahmadiyah. Untuk keperluan penelitian ini beliau sampai mengunjungi Qadian dan Kashmir untuk melihat tempat bersejarah Jemaat Ahmadiyah dan makam Nabi Isa as. di Srinagar, Kashmir. Beliau melihat banyak contoh-contoh yang bisa didapatkan dari Jalsah ini. Diantaranya adalah Sholat Tahajud bersama yang menjadi ciri khas dalam setiap pelaksanaan Jalsah.


Sunday, 22 February 2015

Dua Mutiara SMA Plus Al-Wahid pada Olimpiade Sains

Wanasigra - Pagi itu tepatnya hari rabu tanggal 11 Pebruari 2015, mentari yang kala itu bersinar dengan terangnya menemani perjalanan ke 23 siswa-siswi SMA Plus Al-Wahid yang hendak mengikuti OSK (Olimpiade Sains Kabupaten) seolah-olah memberikan harapan cerah bagi mereka. OSK ini diadakan di SMA Negeri 1 Singaparna. Mereka tampak siap berjuang demi sekolah tercinta  mereka SMA Plus Al-Wahid. Pagi itu mereka berangkat dengan penuh harapan dan iringan do’a dari teman-teman, para guru, dan orang tua mereka. Rombongan berangkat dengan guru pembimbing Ibu Nia dan Bapak Dodi yang akan menemani mereka di OSK nanti.

Rombongan putra dan putri berangkat dengan kendaraan terpisah. Gelak tawa masih terlihat di wajah para siswa yang akan bertempur di meja ujian olimpiade sains siswa SMA se-kabupaten Tasikmalaya ini. Para guru pembimbing dapat mencairkan suasana tegang yang menghampiri para siswa tersebut.
Setelah sampai disana para peserta OSK mengikuti upacara pembukaan dengan pembina upacaranya yakni Bapak Drs. H. Bartis Sumargana, M.Pd (Kabid Dikmen Kabupaten Tasikmalaya). Begitu upacara selesai, para peserta dipersilahkan memasuki ruangan kelas.

Selama 2 jam mereka harus berkutat dengan berbagai macam soal yang cukup memeras otak anak-anak ini. Segenap kemampuan pun sudah dikerahkan dan tinggal menunggu hasil dari kerja keras mereka. Dua hari setelah penyelenggaraan olimpiade sains tersebut keluarlah hasil yang ditunggu-tunggu. Dan tanpa diduga-duga SMA Plus Al-Wahid meraih prestasi yang cukup membanggakan. Dua orang perwakilan sekolah menengah yang berada di perbatasan Tasikmalaya dan Garut ini mendapatkan peringkat pertama dan kedua dalam bidang berbeda pada event se-Kabupaten Tasikmalaya itu. 

Kedua orang itu adalah Teguh Ahmad Cheema yang mendapatkan peringkat pertama TIK (Teknologi Informasi dan Komputer), dan Abdussalam yang menjadi runner-up di bidang Matematika.  Sebuah prestasi yang cukup membanggakan mengingat letak SMA Plus Al-Wahid yang berada di tengah-tengah desa dan persawahan. Mereka berdua pun akan menjadi wakil dari Kabupaten Tasikmalaya di Tingkat Provinsi Jawa Barat.

 Teguh Ahmad Cheema

Ada cerita inspiratif yang datang dari siswa kelas “dupays” atau XI IPS 1 yang bernama Teguh Ahmad Cheema. Siswa yang lahir di Tasikmalaya 24 november 1997 ini termasuk siswa yang juga menjadi salah satu perwakilan dari Sma Plus Al-Wahid untuk OSK di SMAN 1 Singaparna di bidang TIK.

Tahun lalu Teguh juga pernah mengikuti OSK di bidang yang sama yaitu TIK, namun sayang saat itu dia belum beruntung untuk melangkah ke tingkat provinsi. Akan tetapi tekadnya tidak pernah putus, dia masih ingin membuktikan bahwa Al-Wahid bisa menjadi yang terbaik. Teguh diberi waktu satu bulan untuk persiapan. Namun karena SMA Plus Al-Wahid kekurangan guru pembimbing di Bidang TIK, terpaksa  Teguh dan rekan-rekannya mencari tahu sendiri dengan cara mempelajari soal OSK tahun lalu serta mendownload kunci jawabanya di internet. Tidak habis akal  dia meminta Ibu Nia selaku guru matematika untuk ikut mengajarinya. Kebetulan soal TIK sekitar 70% adalah soal matematika.

Siswa yang tinggal di Citeguh ini begitu memanfaatkan satu bulan persiapanya itu untuk OSK dengan kerja kerasnya dan tentunya bantuan dari rekanya ia bisa mendapatkan medali emas di bidang TIK. Dia mampu mengalahkan 85  peserta lainya. Ketika ditanya bagaimana perasaanya saat mengetahui kalau dia menjadi siswa terbaik di bidang TIK, dia menjawab “ga nyangka sama pengumuman kalo aku bawa medali emas OSK dan rasanya bahagia banget”. Ya itulah rencana Tuhan, semuanya akan indah pada waktunya. Jika tahun lalu ia tidak lolos mungkin Tuhan memberi kesempatan untuknya bekerja lebih giat lagi.

Saat ini siswa yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara ini mampu memberikan apa yang tidak bisa ia berikan tahun lalu kepada SMA Plus Al-Wahid ini, bahkan jauh lebih baik dari yang diharapkan. Siswa yang berperawakan tinggi dan mempunyai kulit putih ini, memberikan kesannya terhadap SMA Plus Al-Wahidi,  “Sangat menyenangkan dapat bersekolah di SMA Plus Al-Wahid ini, perasaan lebih tentram, karena ternyata yang paling penting itu bukan fasilitas sekolah, atau yang lainnya tapi apakah kita nyaman bersekolah, mempunyai teman, dan semangat untuk belajar”. Lebih jauh megenai OSK tahun ini Teguh berpendapat, “Soal OSK tahun sekarang lebih gampang dari tahun sebelumnya”. Putra dari Bapak Soni Suwandi dan Ibu Heni Kartika ini memberikan motivasi untuk teman-temannya di SMA Plus Al-Wahid, “Terus berusaha agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik lagi, dan yang paling penting itu doa dan berusaha”.

Abdus Salam

“Waaahh...soalnya susah,banyak soal yang kurang yakin jawabannya, deg-degan juga”.  Begitulah yang ia katakan ketika sudah selesai mengerjakan soal matematika selama dua jam di SMA Negeri 1 Singaparna. Namun siswa kelas sepuluh ini  tetap optimis dan yakin soal yang ia jawab setidaknya ada beberapa yang benar. Abdus Salam, siswa yang lahir pada tanggal 30 Nopember 1998 di Tasikmalaya ini berangkat sekolah tiap paginya dengan berjalan kaki dari tempat tinggalnya, Pasir Mukti sekitar 1 kilometer dari Al-Wahid. 

Putra dari seorang penjahit ini merupakan siswa yang polos tetapi tekun. Ketekunanya  terlihat ketika bimbingan OSK selama satu bulan yangi hanya dilaksanakan sebanyak 8 kali pertemuan. Ketika ditanya tentang kiat-kiat apa yang ia lakukan untuk sukses di OSK, ia menjawab, “Selain bimbingan dengan guru pembimbing, saya suka pergi ke warnet mencari soal-soal olimpiade dan mempelajari nya kemudian berdiskusi dengan rekan saya.” Dan ternyata usaha tekunnya membuahkan hasil, Alam mendapat peringkat ke 2 dari 108 peserta OSK bidang matematika. Alam bilang ia sangat terharu, bangga, dan tidak menyangka mengenai hasil yang didapatnya.
 
Siapa sangka, siswa yang suka memakai peci  dan mempunyai cita-ita menjadi pengusaha sukses ini, ternyata bisa memberikan harapan yang cerah bagi SMA Plus Al-Wahid. Ketika ditanya siswa yang menyukai mata pelajaran eksak ini, mengaku bahwa ia termotivasi oleh ungkapan Pak Dodi, “Sudah lama sejak tahun 2003 Al-wahid tidak lolos di OSK lagi. Kita sudah haus akan juara mudah-mudahan OSK tahun ini bisa memberikan hasil yang memuaskan bagi SMA Plus Al-Wahid.” Mendengar kata-kata itu ia berusaha untuk mewujudkan harapan semua siswa SMA Plus Al-Wahid. 

Putra kedua dari dua bersaudara ini menyampaikan kesan saat sekolah di Al-Wahid, dimana putra Bapak Suparmin senang karena penjagaan pardah di SMA Al-Wahid, yang menjadikan suasana belajar disana tentram. Alam memberikan pesan kepada para siswa yang lain ”Meskipun Al-Wahid infrastukturnya agak kurang, tapi kita jangan pesimis, kita harus tetap belajar. Jadi Insya Allah hasilnya maksimal”. Dan yang terakhir, kunci sukses menurut Alam adalah percaya diri, belajar yang rajin, dan menikmati soal yang diberikan.

Tentunya, kita semua bangga akan kesuksesan Teguh dan Abdussalam di OSK tahun ini. Semoga mereka berdua bisa memberikan yang terbaik untuk SMA Plus Al-Wahid di jenjang yang selanjutnya. Mari kita doakan untuk keberhasilan mereka berdua. Dan mudah-mudahan OSK tahun ini merupakan awal yang baik bagi Al-wahid untuk keberhasilan OSK di tahun-tahun yang akan datang. Sehingga mejadikan siswa dan siswi SMA Plus Al-Wahid selain bertaqwa juga cerdas di bidang akademik. (Tahira)

Monday, 2 February 2015

Humanity First Indonesia Mengadakan Pengobatan Gratis di Garut


Garut -  Di awal tahun 2015 ini Humanity First Indonesia bekerja sama dengan GP Ansor mengadakan pengobatan homoeopathy gratis di Kabupaten Garut. Kali ini pengobatan dilaksanakan di Pondok Pesantren Muwahhidin, Panawuan, Garut.


Sekitar 200 orang pasien berhasil ditangani oleh tim HFI yang hadir pada tanggal 31 Januari ini. Karena kegiatan ini juga bertepatan dengan event Harlah NU yang ke-89 serta pemilihan ketua NU untuk kabupaten Garut, maka banyak juga pasien yang hadir adalah para tokoh keagamaan dari berbagai daerah di Kabupaten Garut.

Masyarakat sangat terbantu dengan diadakan pengobatan seperti ini. "Kebanyakan kalau ada pengobatan itu yang gratis hanya periksa saja tapi obat-obatnya tetap saja bayar" ujar Suhe, salah satu pasien pada saat itu. Malahan banyak yang meminta agar pengobatan seperti ini dapat juga dilaksanakan di daerah mereka.

Tokoh Masyarakat sedang diberi pengarahan
Tim HFI juga memberikan kontak kepada siapa saja yang hendak melaksanakan pengobatan homoeopathy ini di lingkungan tempat mereka tinggal. Sedikit harapan yang diberikan bagi masyarakat yang sangat mendambakan kesehatan dengan biaya yang tidak mahal. (Syihab)


Saturday, 3 January 2015

Ijtima Waqf-e-Nou Priangan Timur : Membentuk Generasi Emas Menyongsong Seabad JAI

Garut - “Para Waqf-e-Nou ini adalah milik Huzur”. Inilah petikan amanat yang disampaikan oleh Sekretaris Waqf-e-Nou PB, Gunawan Wardi pada acara Ijtima Waqf-e-Nou untuk wilayah Priangan Timur yang diadakan di Mesjid Nasir, Garut  pada tanggal 30 Desember 2014.

Acara yang mengambil tema “Menciptakan Generasi Emas Menyongsong Seabad Jemaat Ahmadiyah Indonesia” ini berlangsung selama 3 hari dan dihadiri oleh 122 peserta Waqf-e-Nou beserta 76 orang tua pendampingnya.

Yang berbeda dari Ijtima kali ini adalah partisipasi Waqf-e-Nou remaja dengan anggota AMSA Garut yang sangat terlihat jelas. Hal ini untuk meningkatkan ruh wakaf pada diri mereka sehingga mereka siap menjadi generasi emas pengkhidmat Jemaat ini.

Kegiatan yang dilaksanakan lebih kepada peningkatan kualitas para anggota Waqf-e-Nou dan orang tuanya agar ruh wakaf dapat senantiasa menjadi dasar dalam perjalanan para wakafin ini kedepannya.

Penekanan agar para wakafin ini dapat memilih diantara profesi-profesi yang dianjurkan oleh Huzur kepada mereka pun disampaikan oleh Pembina Waqf-e-Nou PB. Muballigh Wilayah Jabar 6, Mln. Ridwan Ahmad pun memberikan nasihat kepada Waqf-e-Nou remaja agar mereka memperhatikan juga masalah rishta nata sehingga pasangan mereka nanti tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk berkhidmat bagi Jemaat ini. (Syihab)




Clean The City : Tahun Baru dengan Membersihkan Alun-alun Garut




Garut - Mengawali hari pertama di Tahun 2015, sebanyak 120 orang athfal dan nasirat ditambah beberapa mentor Khuddam dan Lajnah turun membersihkan salah satu ikon dari Kabupaten Garut yaitu alun-alun Garut.

Pasukan semut sampah ini membersihkan alun-alun dari sampah yang berserakan sisa dari perayaan Tahun Baru di malam sebelumnya. Anak-anak berbaris membuat sebuah barisan yang panjang kemudian maju perlahan-lahan untuk memungut sampah yang ada di sekitar mereka kemudian membuangnya ke kantong sampah yang dipegang oleh para mentor yang menghabiskan waktu tahun baru mereka bersama anak-anak calon penerus generasi Jemaat ini. 

Petugas kebersihan yang dating kemudian pun merasa terkejut dan senang sekali melihat banyaknya orang yang membantu pekerjaan mereka. “Waktu tadi melihat sampah yang berserakan berat rasanya” saur Umar salah satu petugas kebersihan yang bertugas di sana. Tetapi dengan adanya tangan-tangan mungil yang membantu mereka, pekerjaan mereka pun terasa lebih ringan. 


Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Pekan Madrasah yang dilaksanakan oleh wilayah Jabar 6 untuk mengisi pergantian tahun. Hal ini juga merupakan bagian program Clean The City yang diprogramkan oleh PPMKAI dan dilaksanakan serentak di beberapa wilayah. (Syihab)



Pekan Madrasah Jabar 6 : Mengisi Tahun Baru ala Athfal dan Nasirat

 Garut - Penghujung tahun 2014 ini seperti beberapa tahun ke belakang di wilayah Garut selalu diisi dengan kegiatan untuk anak-anak Athfal dan Nasirat. Mengambil tajuk “Mengisi Tahun Baru ala Athfal dan Nasirat”, 120 orang anak-anak dari berbagai Jemaat lokal di wilayah Jabar 6 berkumpul di Mesjid Nasir, Garut.

Kegiatan yang dimotori oleh MKAI Jabar 6 ini cukup mendapatkan antusiasme yang tinggi dari peserta. Jumlah peserta yang hadir pun lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. 

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan agar anak-anak Ahmadi dalam menyambut pergantian tahun tidak mengisinya dengan kegiatan hura-hura, pesta-pora, bergadang, dan hal-hal negatif yang sering terjadi di malam tahun baru. Anak-anak diarahkan agar menyambut tahun 2015 ini dengan bersyukur, berdoa kepada Allah Ta’ala dalam sholat tahajud serta agar diri mereka dekat dengan mesjid. 


Acara dimulai pukul 16.00 dengan sesi ice breaking dimana anak-anak saling mengenal satu sama lain melalui games yang dikemas menarik oleh para mentor. Setelah makan malam acara dilanjutkan dengan berbagai macam perlombaan rohani seperti MTQ, adzan, hafalan Juz Amma serta Cerdas Cermat. 

Keesokan harinya tidak kalah seru. Setelah Ta’limul Qur’an oleh Muballigh Wilayah, Mln. Ridwan Ahmad, anak-anak dibawa ke alun-alun Garut dalam rangka membersihkan sampah-sampah sisa peringatan tahun baru pada malam sebelumnya. Sangat terlihat sekali bedanya sebelum dan sesudah operasi semut yang dilakoni anak-anak Ahmadi yang penuh semangat memungut sampah dan membuangnya ke dalam trash bag yang sudah disediakan oleh panitia.

Setelah operasi semut di alun-alun Garut para peserta mengikuti perlombaan jasmani seperti membangun menara, melukis wajah, estafet air serta jacket racing yang memancing gelak tawa para peserta maupun pembimbing yang hadir pada acara tersebut.
Pukul 11.00 WIB akhirnya acara pun ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang serta doa yang dipimpin oleh Muballigh Wilayah Jabar 6.  (Syihab)





Friday, 19 December 2014

Bantuan Kepada Korban Longsor Pakenjeng Garut

Garut - Pagi hari tanggal 11 Desember yang lalu 9 orang dari Jemaat Ahmadiyah di wilayah Jabar 6 (Kabupaten Garut) berangkat dari Mesjid Nasir, Garut menuju desa Panyindangan Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut.

Rombongan berangkat pukul 6 pagi menggunakan mobil menuju lokasi yang seminggu sebelumnya mengalami musibah tanah longsor dan terbelahnya tanah di desa itu sehingga 39 Kepala Keluarga harus diungsikan ke tempat lain. Tujuan tim yang dipimpin oleh Muballigh Wilayah Jabar 6, Mln. Ridwan ini ke lokasi yang berjarak hampir 100 km dari pusat Kabupaten Garut ini adalah untuk memberikan 100 paket bantuan sembako yang disumbangkan oleh keluarga besar Bapak Maskawan sebagai donatur utama.

Lurah desa Panyindangan, Aas Setiawan S.Pdi. menayampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan ini. Beliau menyampaikan bahwa kebetulan lokasi tersebut adalah salah satu lokasi yang belum mendapatkan bantuan sama sekali dari pihak yang lain. 

Setelah menyerahkan bantuan rombongan pun kembali ke Garut pada pukul 11.00 WIB. Diharapkan bantuan yang diberikan  dapat bermanfaat bagi para korban tanah longsor tersebut. Rencananya ke depan tim homoeopathy akan diterjunkan juga kesana untuk dapat memberikan pengobatan gratis.



Friday, 28 November 2014

Study Tour SMA Plus Al-Wahid ke Yogyakarta : Learning by Touring


Yogya – SMA Plus Al-Wahid mengadakan wisata ajar untuk yang kedua kalinya ke Yogyakarta pada tanggal 25-28 Nopember 2014 ini. Wisata ajar atau study tour ini diadakan untuk implementasi pembelajaran yang biasa dilaksanakan di sekolah sekaligus ajang perpisahan siswa kelas XII yang akan meninggalkan Al-Wahid dalam beberapa bulan kedepan.

Rombongan berangkat dari Wanasigra pada hari Selasa (25/11) malam dengan menggunakan bus pariwisata. Sekitar 55 orang ikut serta dalam tur yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini. Beberapa orang guru dan 3 orang muballigh pun ikut serta berangkat ke kota Gudeg. Perjalanan cukup lancer walaupun berada di dalam cuaca yang kurang bersahabat malam itu.

Pukul 07.00 WIB rombongan sudah sampai ke destinasi yang pertama yaitu Candi Borobudur, Magelang.  Kemegahan candi kebanggaan Indonesia ini menjadi objek yang menarik bagi para siswa. Selain nilai historisnya yang tinggi, banyaknya turis asing juga menjadi daya tarik bagi para siswa sehingga mereka pun memanfaatkannya untuk sekedar mengajak kenalan atau meminta foto bersama.
Rombongan meninggalkan salah satu situs keajaiban dunia ini pada pukul 11.00 WIB menuju Monumen Jogja Kembali atau lebih dikenal dengan monjali dimana para siswa dapat menemukan bagaimana jejak sejarah para pahlawan di Yogyakarta yang dipimpin oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Sore harinya para siswa menuju penginapan serta menikmati wisata belanja di kawasan terkenal Yogyakarta, jalan Malioboro. Kaos serta tas menjadi barang yang paling banyak diburu oleh para siswa sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Selain itu wisata kuliner juga menjadi kesan tersendiri bagi Qanita. “Wedang ronde enak, anget, sama ada rondenya yang unik teh”. “Baru nemu disini”, tambah Nurul. 

 Hari kedua dimulai dengan mengunjungi Taman Wisata Candi Prambanan. Cuaca yang panas menjadi hal yang membuat perjalanan kesana tidak terlupakan saur Rifa salah satu siswi kelas XII. Candi ini merupakan kompleks candi hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi.

Dari sana para siswa dibawa ke Museum Dirgantara dimana kita dapat melihat berbagai macam model pesawat terbang yang dulu pernah dipakain oleh anggota TNI AU. Semula Keraton Yogyakarta yang menjadi destinasi tetapi batal karena disana sedang ada prosesi sekaten (peringatan maulid nabi Muhammad Saw.). 

Akhirnya kunjungan ke Yogyakarta tersebut diakhiri dengan mengunjungi Masjid Yogyakarta yang juga menjadi markaz belasan mahasiswa khuddam yang sedang menjalani studi di Yogyakarta. Disana para siswa mendapatkan motivasi dari Dr. Munawar Ahmad, anggota Jemaat yang menjadi dosen di UIN Sunan Kalijaga. Mereka didorong agar memiliki niat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau juga memberikan tips bagaimana agar dapat diterima di PTN. 
 
Ada juga sharing yang diberikan oleh Reza, salah satu khuddam berprestasi yang pernah menjadi juara debat nasional. Reza mengatakan tidak masalah di kampus mana mereka masuk yang penting adalah bagaimana usaha para siswa itu sendiri. Dua orang alumni siswa Al-Wahid yang juga kuliah di UIN Sunan Kalijaga pun ikut berbagi pengalaman mereka kepada para siswa Al-Wahid.

Akhirnya pada pukul 8 malam bis yang membawa rombongan wisata ajar SMA Plus Al-Wahid berangkat meninggalkan kota Yogyakarta dengan membawa banyak sekali kenangan dan pelajaran. Kebersihan, toleransi, kerapihan serta disiplin merupakan nilai-nilai yang bias diambil oleh para siswa dari DIY Yogyakarta. Sebuah hal yang tidak ternilai mengingat ini adalah saat-saat terakhir kebersamaan mereka sebagai siswa SMA. (Syihab)



Focus Group Discussion UIN Sunan Kalijaga Menyoal Jemaat Ahmadiyah

Yogya – Institute of Southeast Islam (ISAIs) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yogyakarta mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Mengkaji Jemaat Ahmadiyah Indonesia dalam Perspektif Aqidah, Syariat, dan Kebangsaan di Gedung Rektorat UIN Sunan Kalijaga pada hari Kamis (27/11/2014). 

Acara dimulai pukul 09.30 dengan opening remarks yang disampaikan oleh Dr. Zuhairi Misrawi, MA. Beliau menyampaikan bahwa keluarnya fatwa-fatwa mengenai Ahmadiyah di Indonesia adalah karena selama ini belum pernah ada kajian yang komprehensif tentang Ahmadiyah dari sisi teologis khususnya masalah kenabian yang selama ini menjadi masalah. Beliau juga melihat bahwa Ahmadiyah adalah organisasi yang diakui secara de jure sebagai bagian dari gerakan keagamaan di Indonesia. 

Setelah pemaparan dari cendekiawan NU yang sering dipanggil Gus Mis ini, sesi pertama dimulai dengan membahas Jemaat Ahmadiyah Indonesia dalam Perspektif Aqidah dan Syariat. Hadir sebagai pembicara adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain yang pernah menulis buku Gerakan Ahmadiyah di Indonesia dan Muballigh JAI, Mln. H. Saiful Uyun. Profesor Iskandar memaparkan Ahmadiyah dari beberapa literature yang beliau temukan baik dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Lahore) maupun dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Qadian). Beliau mengatakan bahwa Ahmadiyah selama ini dicap diluar Islam dikarenakan ketidaktahuan masyarakat secara langsung bagaimana Ahmadiyah ini. Maka dari itu para akademisi harus melakukan kajian yang lebih mendalam mengenai Jemaat Ahmadiyah ini. 

Mln. H. Saiful Uyun menerima penghargaan dari panitia
Sementara itu Mln. H. Saiful Uyun memaparkan bahwa Ahmadiyah itu 100% Islam. Yang menjadi permasalahan hanyalah pemahaman mengenai konsep kenabian yang dibawa oleh pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. Muballigh yang bertugas di Tasikmalaya ini mengatakan bahwa bentuk kenabian yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad ini yang baru yaitu Nabi Zilli atau Buruzi yang berarti bayangan yang mendapat warisan kenabian dari Rasulullah saw. Bukan nabi yang membawa agama baru, syariat baru maupun kitab suci baru. 

Pada sesi kedua dibahas Jemaat Ahmadiyah Indonesia dalam Perspektif Kebangsaan yang disampaikan oleh Drs. Pitoyo, M.Ikom. seorang peneliti Ahmadiyah yang juga merupakan Ketua Umum Harian Tribun Jabar serta Ketua Komite Hukum JAI, Abdul Musawir, SH. M.Hum. Pitoyo memaparkan Ahmadiyah melalui teori konstruksi makna yang dibawa oleh Herbert Blumer. Jadi yang menjadi perbedaan selama ini hanyalah perbedaan penafsiran yang biasa terjadi baik di dalam golongan Sunni maupun Syiah sendiri. Sedangkan Abdul Musawir memaparkan bagaimana JAI merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang juga mempunyai hak-hak yang sama dengan warga negara yang lain. 
Drs. Pitoyo dan Abdul Musawir, SH.

Acara ini merupakan kegiatan rutin UIN Sunan Kalijaga yang kali ini mengambil Jemaat Ahmadiyah sebagai objek diskusi. Sekitar 30 orang peserta hadir pada kesempatan ini yang semuanya adalah akademisi. Sebelumnya mereka diminta membuat tulisan mengenai apa yang mereka ketahui soal Jemaat Ahmadiyah khususnya di Indonesia. FGD ini akan dilanjukan dengan Studi Ekskursi pada hari Sabtu ini dimana para peserta akan diajak melihat langsung kehidupan anggota JAI di Krucil, Banjarnegara. 

Diharapkan dari pertemuan ini nanti banyak tulisan-tulisan serta kajian-kajian akademis mengenai Jemaat Ahmadiyah ini yang dapat memberikan penerangan secara objektif sehingga dapat menghilangkan gejala-gejala yang timbul akibat ketidaktahuan masyarakat mengenai apa itu Ahmadiyah yang sebenarnya. (Syihab)

Monday, 13 October 2014

International Peace Symposium (Discourses and Practices of Multiculturalism and Peace in Indonesia)

Pada hari Rabu 8 Oktober 2014 telah diselenggarakan Simposium Perdamaian yang bertempat di  University Club Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Acara ini terselenggara berkat kerja sama Humanity First Indonesia (HFI) dengan Sociology Research (Sorec) FISIPOL UGM. Pembicara dalam kesempatan simposium ini pada sesi pertama adalah Dr. Iftikhar Ahmad Ayaz MA. PhD, Dra. Khofifah Indar Parawansa, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin dan Romo Patrick Edward Charlie.
Dr. Iftikhar Ahmad Ayaz sebagai pembicara utama dalam Simposium ini merupakan seorang tokoh tekemuka Jemaat Ahmadiyah, beliau merupakan praktisi yang bekerja dalam memperjuangkan hak-hak minoritas dan intensif dalam resolusi konflik. Bekerja dalam berbagai organisasi PBB seperti FAO, UNESCO, UNDP dan Komisi Perdamaian Internasional. Beilau juga menjabat posisi tinggi dalam Commonwealth Network dan telah meraih berbagai macam penghargaan diantaranya ‘Man Of The Year 2010’ dalam Hak Azasi Manusia, World Freedom Medal 2005, juga mendapat gelar kehormatan OBE dari ratu Inggris Raya pada tahun 1998.
Dalam pembukaan pemaparannya beliau menyampaikan merasa terhormat dapat hadir diundang sebagai pembicara, beliu menyampaikan ucapan selamat kepada presiden terpilih Joko Widodo dan mendoakan untuk kesuksesan dalam masa kepemimpinannya yang akan datang.
Secara garis besar isi dari pemaparan Dr. Iftikhar Ahmad Ayaz membahas mengenai bangsa Indonesia dan tantangannya sebagai negara multikultural yang di masa depan memiliki potensi untuk menjadi model bagi negara lain sebagai negara bependuduk muslim terbesar yang menganut sistem demokrasi.
Dr. Iftikhar Ahmad Ayaz juga memberi apresiasi kepada Bapak pendiri bangsa Presiden Ir. Soekarno atas gagasanya 5 prinsip yang menjadi dasar negara yaitu pancasila. Beliau juga menyinggung falsapah “Bhineka Tunggal Ika” sebagai modal berharga bangsa Indonesia mempertahankan persatuan dan kesatuan dalam bingkai negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, ras dan kebudayaan.
Di akhir pemaparannya Dr. Iftikhar Ahmad Ayaz mengutip ayat Al Quran 59;24 sebagai pedoman kaum muslim bahwa menurut Al Quran sumber sejati dari perdamaian adalah Allah SWT dan hanya dengan berusaha membangun hubungan sejati semata dengan Allah SWT maka akan terwujud perdamaian sesungguhnya. Beliau menasehatkan bahwa kita harus mengikuti jalan ketaqwaan bukan hanya mengikuti pemimpin politik semata, sebagai penutup pemaparannya beliau mendoakan semoga bangsa Indonesia dilimpahkan karunia kekayaan rohani bukan semata kekayaan duniawi.
Pembicara kedua Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin Dosen fakultas Hukum dan Syariah UIN Sunan Kalijaga yang juga sebagai anggota komisi Hak Azasi Manusia OKI (Organization of Islamic Cooperation) menyampaikan tentang bagaimana Indonesia dapat bertahan dari tantangan disintegrasi dengan tiga modalitas, yaitu pertama bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa mayoritas penduduknya adalah moderat, kedua bangsa Indonesia menganut paham modernitas dan rasionalitas dalam hal keagamaan tidak menganut paham kefanatikan seorang tokoh (Mulahisme) dan modalitas yang ketiga adalah  warga negara Indonesia memiliki komitmen yang besar pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menyinggung soal MUI Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin menyatakan bahwa fatwa MUI tidak mengikat dan tidak memiliki kekuatan hukum, MUI adalah organisasi massa sama halnya dengan organisasi Islam lainnya. Aparat negara harus diingatkan kedudukan MUI dalam kehidupan beragama, negara tidak memiliki hak dalam pembinaan agama karena hal itu merupakan domain dari organisasi keagamaan bagi pemeluknya.
Ketiga model yang telah disebutkan diatas saat ini tengah diperjuangkan oleh Dr.Siti Ruhaini Dzuhayatin kepada negara muslim lainya sebagai model negara muslim demokratis. "Indonesia merupakan negara demokrasi yang unik dimana meskipun sebagai negara dengan jumah populasi muslim terbesar namun tidak menganut paham negara Islam. Meskipun terdapat dominasi satu suku bangsa namun tidak menjadi identitas tunggal negara Indonesia, keragaman dipersatukan sebagai kekuatan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika" Dra. Siti Ruhaini menambahkan. 
Pembicara ketiga adalah Romo Patrick Edward Charlie kelahiran Irlandia tinggal diperkampungan pesisir pantai Cilacap, dalam pemaparannya beliau lebih banyak menceritakan pengalaman hidupnya bagaimana yang dari awalnya ia ditentang oleh warga karena keyakinannya kini berubah setelah melakukan pendekatan kepada warga masyarakat melalui pembangunan infrastruktur umum yang bermanfaat bagi warga dan melibatkan warga masyarakat dalam pengerjaannya. Melalui proyek padat karya pembangunan infrastruktur inilah menurut Romo dapat menciptakan suasana damai dalam lingkungannya.
Pembicara penutup di sesi pertama adalah Dra. Khofifah Indar Parawansa pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada kabinet Persatuan Nasional (1999-2001). Dalam pemaparannya beliau menyampaikan bahwa melihat gejala konfik di timur tengah ukhuwah islamiyah semata tidaklah cukup, ukhuwah watoniyah atau persaudaraan kebangsaan merupakan perekat kehidupan bangsa Indonesia.
Setelah istirahat shalat dan makan siang sesi kedua dilanjutkan dengan menghadirkan empat orang pembicara yaitu Drs Udin M.Pd, AllisaWahid, Lambang Triyono dan Prof Dr Sunyoto Usman. Pada sesi kedua ini pembicara merupakan praktisi atau mereka yang memiliki pengalaman langsun dalam hal konflik keberagaman.
Drs. Udin M.Pd merupakan salah satu korban konflik Jemaat Ahmadiyah di Lombok, rumah beliau turut megalami perusakan dan kini beliau menjabat sebagai Ketua Jemaat Ahmadiyah Mataram. Selama 7 tahun terakhir anggota Jemaat Ahmadiyah telah tinggal di pengungsian asrama Transito, melalui upaya berbagai kegiatan sosial kemanusiaan yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah di Lombok kini hubungan anggota Jemaat Ahmadiyah Lombok dengan warga sekitar asrama Transito mulai berubah. Jemaat Ahmadiyah mulai diterima warga masyarakat salah satunya adalah melalui kegiatan bersama donor darah.
Allisa Wahid salah seorang putri dari mantan presiden Almarhum Abdurahman Wahid menjadi pembicara berikutnya, beliau merupakan salah seorang aktivis kemanusian. Jaringan GusDurian yang dikembangkannya kini telah menjangkau jaringan luas bahkan sampai luar negeri. Pemikiran warisan Bapak bangsa Gus Dur menjadi ciri dari pergerakan jaringan Gus Durian dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara terutama dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan, 4 platform perjuangan Gus Durian disampaikan dalam pemaparan yaitu basis teologis, resiliensi masyarakat, poros membangun kultur inklusif damai dan memperjuangan hak asasi.
Acara simposium yang dimulai pada pukul 9.00 WIB berakhir pada pukul 15.30 dengan pembacaan rangkuman oleh Nazib Azca koordinator acara. Dari sekitar 150 tempat duduk yang disediakan oleh panitia semua terisi penuh dan panitia mendatangkan kursi tambahan untuk memfasilitasi peserta yang hadir  belakangan.
Peserta yang hadir baik undangan maupun yang mendaftarkan diri berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akaemisi, aktivis sosial, aliansi kebebasan beragama dan berkeyakinan, professional sampai pelajar. Beberapa media massa lokal maupun media kampus turut hadir melakukan liputan, tidak ketinggalan MTA Internasional Studio Indonesia milik Jemaat Ahmadiyah meliput acara secara keseluruhan dan berencana untuk sesegera mungkin menyiarkannya melalui MTA Internasional yang berpusat di London Inggris.
Doni Sutriana

Tuesday, 23 September 2014

Membangun Pohon Kebhinekaan di Griya Krida Sekesalam

Bandung - Ketika perbedaan tidak menjadi halangan untuk saling menghargai, maka harapan untuk mewujudkan perdamaian sejati bukanlah hanya sebuah mimpi. Inilah pemandangan yang dapat kita lihat pada Youth Interfaith Camp (YIC) yang terselenggara atas kerjasama Gereja Kristen Pasundan dan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub). Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari mulai hari Jum’at, 19 September 2014. Sebanyak 80 orang calon duta perdamaian dari berbagai komunitas di Jawa Barat mengikuti rangkaian kegiatan yang sudah ke empat kalinya ini diadakan.
Dr. KH. Abdul Muqsid Ghazali, MA.
Antusiasme para peserta sudah dapat dirasakan sejak hari pertama. Pada sesi keakraban para peserta didampingi oleh fasilitator yang merupakan alumni YIC sebelumnya saling memperkenalkan diri masing-masing kepada anggota dari kelompoknya dan diminta untuk mengingat nama seluruh anggota di daam kelompoknya tersebut. Setelah itu mereka diminta menyebutkan nama teman-teman dalam grup masing-masing di hadapan peserta yang lain.
Setelah makan malam acara dilanjutkan dengan sebuah sesi yang menarik yaitu Religious Cafe. Dalam sesi ini terdapat lima stand yang berisi expert dari lima keyakinan yang berbeda. Setiap kelompok diberikan kesempatan selama 10 menit untuk bertanya-tanya tentang masing-masing keyakinan itu. Lima stand tersebut adalah Islam, Kristen, Buddha, Baha’i dan Penghayat. Stand Baha’i dan Penghayat mendapat antusias lebih dari para peserta karena banyak yang baru mendengar serta mengetahui adanya dua keyakinan ini di Indonesia.
Hari kedua dimulai dengan olahraga pagi di halaman Griya Krida Sekesalam yang dipilih menjadi lokasi bertemunya berbagai keyakinan dalam kerukunan ini. Sesi indoor pertama pada hari ini yaitu nonton bareng film “Ketika Bung di Ende” yang menceritakan kehidupan Presiden pertama Indonesia, Soekarno ketika beliau diasingkan ke Pulau Ende di Flores oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1934-1938. Terlihat bagaimana Bung Karno hendak mewujudkan cita-cita mempersatukan Indonesia yang beragam baik suku, budaya maupun agama. Setelah itu acara diisi oleh narasumber dari Wahid Institute yang juga merupaka Dosen di UIN Syarif Hidayatullah serta Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Dr. KH. Abdul Muqsid Ghazali, MA. Beliau menyampaikan bagaimana realitas keragaman agama dalam payung besar bangsa Indonesia. Selama ini terjadi stratifikasi sosial di Indonesia yang memang sudah masuk sejak zaman pendudukan kolonial Belanda di Indonesia.
Sesi Keakraban
Setelah itu Kang Wawan, koordinator Jakatarub dan Pendeta Obertina, koordinator YIC menjelaskan permasalahan di Indonesia yang menyangkut radikalisme serta diskriminasi yang terjadi kepada beberapa keyakinan tertentu dan bagaimana kita harus menghadapinya. Acara dilanjutkan kepada sesi grup lagi. Setiap grup mendapatkan selebaran yang berbeda-beda berisikan isu-isu terhangat mengenai toleransi. Kemudian para peserta diminta untuk mengutarakan apa yang mereka rasakan setelah melihat isi dari selebaran yang mereka dapatkan. Kemudian perasaan itu diungkapkan dalam bentuk gambar. Setiap grup dapat menggambarkan apa saja yang mereka rasakan di dalam kertas A2 yang kemudian mereka presentasikan di hadapan para peserta yang lain. Setelah itu para peserta dibagi berdasarkan regional wilayah masing-masing. Mereka mendiskusikan Rencana Tindak Lanjut apa yang akan dilaksanakan setelah berakhirnya YIC ini agar kegiatan ini tidak hanya terhenti disini saja dan dapat menghasilkan sesuatu yang kongkrit.

Malam harinya tidak kalah seru. Acara api unggun dikemas menarik dengan menampilkan  slideshow foto-foto dokumentasi selama 2 hari acara diselenggarakan. Lagu harmoni dan rumah kita yang dibawakan bersama-sama menambah hangatnya suasana malam itu. Kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan dua komunitas yang ada di Kota Bandung yaitu Praxis yang bergerak di bidang sosial serta LBH yang bergerak di bidang advokasi. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film Alur Waktu karya komunitas 6211 yang menampilkan perjalanan toleransi bangsa Indonesia sejak kemerdekaan RI pada tahun 1945. Banyak peristiwa yang menunjukkan masih harus dibangunnya toleransi pada diri seluruh masyarakat Indonesia. Akhirnya malam itu ditutup dengan renungan yang dipimpin oleh Mln. Syaefullah Ahmad Farouq, muballigh Jemaat Ahmadiyah Indonesia untuk wilayah Priangan Barat. Beliau menyampaikan pentingnya motto Love For All Hatred For None dalam menyikapi keberagaman di negeri kita.
Kunjungan ke Vihara Dharma Ramsi
Pada hari terakhir para peserta diajak oleh panitia dan fasilitator YIC untuk berwisata rohani ke beberapa tempat ibadah di kota Bandung. Ada dua kelompok besar yang dibagi untuk mengunjungi Hindu Hare Krisna, Vihara Dharma Ramsi, Pesantren Darut Taubah, Kong Miao milik Kong Hu Cu serta Gereja St. Mikael yang menjadi destinasi terakhir rangkaian acara YIC ini.
Sebuah pengalaman yang luar biasa mengetahui bagaimana ajaran agama dan keyakinan lain diajarkan. Dengan mengetahui langsung dari setiap agama dan keyakinan itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Semua mengarahkan manusia untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik. Hanya cara pandang serta pelaksanaan yang berbeda. Seperti pepatah banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk menuju Sang Pencipta sesuai dengan keyakinan yang ada di hati kita masing-masing. Berbeda itu indah karena dengan berbeda kita bisa menjadi suatu kesatuan yang berwarna. (Syihab)

Thursday, 29 May 2014

Ahmadiyah Gelar Media Gathering

Amir Nasional JAI KH Abdul Basith (tengah) saat menjelaskan tentang Ahmadiyah. (Foto: Luthfie)
JAKARTA (KRjogja.com) - Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menggelar Media Gathering di aula JAI Jalan Balikpapan Cindeng Gambir Jakarta Pusat, Selasa (27/05/2014). Acara yang dihadiri wartawan dari berbagai media ini dimaksudkan untuk mempererat hubungan antara awak media dengan JAI.

Dalam acara bertema "Islam Damai untuk Indonesia Damai" ini Amir Nasional JAI KH Abdul Basith menjelaskan, pada dasarnya Islam adalah agama yang damai dan membawa damai untuk umat manusia. "Karena itu kita sebagai umat Islam tidak boleh melakukan aniaya terhadap orang lain," katanya.

Dijelaskan juga Ahmadiyah yang berdiri sejak tahun 1889 (125 tahun lalu) belum pernah membuat track record yang tidak baik dan membawa kedamaian sesuai ajaran agama Islam. Karena itu sekarang Ahmadiyah sudah berkembang di 206 negara dengan pengikut sekitar 150 juta orang.

"Di Indonesia sendiri masuk tahun 1925, jadi sudah hampir satu abad. Selama ini kami tidak pernah menularkan kekerasan. Bahkan sekitar 500 ribu orang pengikut Ahmadiyah di Indonesia yang tersebar di 365 cabang adalah kader-kader bangsa Indonesia yang jujur dan amanah dan dengan sifatnya ini mempunyai kontribusi besar kepada bangsa dan negara Indonesia," paparnya. (Fie)
sumber krjogja.com

Ahmadiyah Tolak Manifesto Gerindra

TEMPO.CO, Jakarta - Amir Nasional (Ketua Umum) Pengurus Besar Jamaah Ahmadiyah Indonesia Abdul Basit menolak manifesto Partai Gerindra yang menyerukan pemurnian agama. Dia menilai manifesto partai yang mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden itu akan membuat negara bertambah kacau. Alasannya, Indonesia memiliki banyak golongan minoritas yang termarginalkan.

"Misalnya Ahmadiyah diberangus, kemudian nanti akan merembet ke yang lain," katanya, Selasa, 27 Mei 2014. Pemberangusan itu, kata dia, merupakan contoh sikap tak menghargai hal yang sudah dijadikan sebagai dasar negara oleh para pendiri bangsa. (Baca juga: Kata Prabowo Soal Subsidi BBM Sampai KPK)

Manifesto Gerindra menyebutkan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama atau kepercayaan. Namun pemerintah atau negara wajib mengatur kebebasan dalam menjalankan agama atau kepercayaan. Negara juga dituntut menjamin kemurnian ajaran agama yang diakui oleh negara dari segala bentuk penistaan dan penyelewengan.

Abdul mempertanyakan dasar penilaian murni-tidaknya suatu agama atau kepercayaan. Meski demikian, ia mengatakan pengeluaran manifesto merupakan hak setiap kubu pengusung calon presiden.

Dasar itulah yang dijadikan pedoman Ahmadiyah dalam menentukan pilihan soal calon presiden. Namun Abdul tidak mau menyebut nama calon presiden yang akan dia pilih. "Kami akan memilih capres yang mendukung Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, yang berusaha melindungi golongan minoritas," katanya.

Dia yakin suara jemaahnya tak akan terpecah. "Kalau saya bilang A, semua mesti A," ujarnya. Jemaah Ahmadiyah, kata dia, diperintahkan untuk tak golput dalam pemilihan nanti.
sumber:

http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/05/28/269580739/Ahmadiyah-Tolak-Adanya-Manifesto-Gerindra?utm_medium=twitter&utm_source=twitterfeed

Tuesday, 20 May 2014

Ada Bedah Buku Ahmadiyah di UIN

Senin, 19 Mei 2014
BANDUNG, TRIBUN - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung menggelar acara Bedah Buku "Tinjauan Kritis Jemaat Ahmadiyah Indonesia", di Kampus FISIP UIN SGD Jalan AH Nasution, Senin (19/5).
Pada kesempatan tersebut hadir sebagai Keynote Speaker, Dekan Fisip-UIN Bandung Dr Sahya Anggara dan para pembicara yakni Kunto Sofianto PhD (Penulis buku), Dr Hamzah Turmudi MSi (UIN Bandung), Dr Reza Dienaputra (Unpad), Pitoyo Ss Mikom (Tribun Jabar), dan Drs Mahmud Mubarik (JAI).
Acara tidak saja diikuti oleh mahasiswa FISIP tapi mahasiswa dari fakultas lain serta beberapa tamu undangan. Pada acara yang dimoderatori oleh Zuldin tersebut, penulis buku, Kunto memaparkan isi bukunya yang berjudul "Tinjauan Kritis Jemaat Ahmadiyah Indonesia"
serta menyampaikan makalah "Gerakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Jawa Barat 1931-2000 Penyebaran Ideologi dan Respon Masyarakat". (tif)
Suber: Tribun News Jabar http://jabar.tribunnews.com/2014/05/19/ada-bedah-buku-ahmadiyah-di-uin