Ahmadiyya Priangan Timur

.

Saturday, 2 January 2016

Cara Warga Ahmadiyah Tasikmalaya Rayakan Tahun Baru

Perayaan pergantian tahun baru selama ini identik dengan pesta kembang api dan tiupan terompet penuh kebisingan di tengah malam, di negeri barat pesta ini identik dengan minum minuman memabukan. Pergantian tahun baru identik dengan pesta perayaan penuh kegembiraan.

clean the city MKAI Ahmadiyah Tasikmalaya
Peserta Clean The City Tasikmalaya di Tugu Adipura
Di sudut tengah kota Tasikmalaya tepat di Jalan Nagarawangi di sebuah Masjid Ahmadiyah warga Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya menyambut tahun baru dengan cara yang berbeda, disaat warga lain baru merebahkan diri di tempat tidur setelah merayakan malam pergantian tahun baru, 131 warga Jemaat Ahmadiyah yang berasal dari daerah Tasikmalaya dan Ciamis khusyu mendirikan shalat Tahajud bersama di sepertiga akhir malam. Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda dan anak-anak Sekolah Dasar. Sejak sore hari sebelumnya para pemuda Ahmadiyah yang berasal dari Desa Tenjowaringin, Singaparna, Kawalu, Tasikmalaya dan Ciamis berkumpul menyelenggarakan acara Malam Khuddam Wilayah sedangkan anak-anak laki-laki yang berusia Athfal terpisah di lantai II mengadakan pekan Athfal yang diisi dengan hapalan Doa dan Tadarus Al Quran.

Malam Khuddam Wilayah di akhir tahun 2015 ini lebih istimewa karena dihadiri pula oleh Lakpesdam NU Kota Tasikmalaya yang tengah mensosialisasikan Program Peduli Masyarakat Inklusif. Mubaligh Wilayah Mln. Syaeful Uyun menjadi pemateri utama dalam acara tersebut beliau menyampaikan pesan agar tahun baru yang disambut dengan program kebersihan menjadi awal bagi para Pemuda Ahmadiyah untuk bertekad tidak hanya membersihkan lingkungan sekitar namun juga membersihkan diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dalam pesannya juga Mln. Syaeful Uyun mengingatkan agar para pemuda Ahmadiyah khususnya tidak melupakan sejarah Islam dan bagaimana untuk menjaga sejarah Islam Hazrat Khalifatul Masih II Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad ra menggagas kalender Islam yang didasarkan dengan perhitungan Matahari dimana nama ke-12 bulannya didasarkan pada suatu peristiwa penting dalam sejarah Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam, kalender ini diberi nama Kalender Hijrah Syamsi.

Kajian ruhani di malam menjelang pergantian tahun serta ibadah malam shalat tahajud di tengah malam merupakan gambaran periode daur masa bagaimana para generasi muda Ahmadiyah yang merupakan generasi yang tengah dalam masa tempaan menyikapi masa-masa yang mereka hadapi, tidak hanya sampai disitu saat fajar menyingsing selepas Shalat subuh para pemuda ini beserta Kaum Bapak dan kaum ibu yang turut bergabung turun ke jalan untuk mebersihakan segala kotoran yang berserakan di jalan-jalan sisa perayaan pergantian tahun.

Syaeful Uyun Clean The City Ahmadiyah Tasikmalaya
Mln. Syaeful Uyun sedang menyapu sampah depan Masjid Agung Tasikmalaya
Rute jalan Nagarawangi menuju Jl. H.Z. Mustofa dari Tugu Asmaul Husna yang malam sebelumnya baru diresmikan menjadi sasaran rombongan yang menyemut saat pagi menjelang, jalur H.Z. Mustofa yang merupakan pusat perbelanjaan Kota Tasikmalaya sepanjang kurang lebih 3 km hingga Tugu Adipura depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya menjadi area bebas sampah oleh kegiatan ini, kemudian alun-alun Kota Tasikmalaya menjadi tujuan akhir rombongan yang mana kegiatan ini mengusung tema Clean The City.

Sebagai catatan gerakan Clean The City ini digagas oleh Khuddamul Ahmadiyah Indonesia dan diselenggarakan di kota-kota besar Indonesia, sesuai sabda Rasulullah bahwa kebersihan sebagian dari Iman warga Jemaat Ahmadiyah wilayah Tasikmalaya menyambut tahun baru dengan melakukan kebersihan kota yang dicintainya sebagai pula perwujudan cinta tanah air.

Kabid Kebersihan Dinas Cipta Karya Kota Tasikmalaya yang turut hadir dalam kegiatan menyampaikan terima kasih atas inisiatif warga Jemaat Ahmadiyah yang turut membantu program pemerintah dalam menjaga kebersihan beliau saat di wawancarai menyambut semua komponen masyarakat untuk bekerja sama dalam kegiatan kebersihan di Kota Tasikmalaya, koordinasi dan komunikasi haruslah diperhatikan bagi kegiatan ini dan ia menghimbau warga masyarakat turut berperan aktif dalam menjaga kebersihan minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan di lingkungan sekitarnya.
Clean The City Ahmadiyah Tasikmalaya
Berpose di Alun-alun Kota Tasikmalaya

Doni Sutriana Tasikmalaya.

Monday, 21 December 2015

Keindahan Terlahir Dari Perbedaan

Oleh: Annisa Dewi ( LI Kersamaju )

Kita sudah sering mendengar apa yang dikatakan orang dan itu benar adanya, bahwa kita harus bersedia hidup berdampingan dengan rukun damai, dan saling menghormati keyakinan satu sama lain. Itulah konsep untuk menciptakan lingkungan aman, tentram dan nyaman. Seandainya kita tidak mau begitu buat bumi sendiri saja mungkin lebih baik ! tapi apa mungkin bisa hidup tanpa orang lain?


Bhineka tunggal ika “berbeda beda tapi satu jua” itulah indonesia mempunyai begitu banyak tradisi, kepercayaan, bahasa, agama, persepsi bahkan keputusan-keputusan yang berbeda. Kita sebagai bangsa indonesia dan sebagai manusia yang beradab harus mampu menerima perbedaan, sebab manusia itu harus hidup dengan manusia yang lain dengan kepribadian dan perbedaan masing-masing.
Manusia itu tidak mungkin bisa hidup hanya dengan perbedaannya saja karena kalau tidak ada perbedaan tidak akan ada keindahan, contohnya saja bunga dikatakan indah karena beragam baik warna atau jenisnya. Taman laut dikatakan indah karena ikannya yang berwarna warni, satwanya yang berbeda terumbu karang yang unik-unik. Jadi sudah jelas keindahan itu terlahir dari keberagaman yang berbeda beda. Tapi mengapa masih banyak manusia yang tidak mau menerima perbedaan itu?contohnya dalam menerima keyakinan orang-orang ahmadi. Mereka menentang keras ajaran-ajaran ahmadi padahal masalah keyakinan adalah masalah hati yang tidak mungkin untuk dipaksakan. 

Seandainya saya mempunyai kekuasaan, tidak akan dan tidak mungkin pula memaksa orang lain untuk berkeyakinan seperti saya. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diketahui bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan keyakinannya itu, seseorang mempunyai hak untuk lebih mengembangkan keyakinan itu tapi dengan tekad tidak untuk menghancurkan dan mengalahkan orang lain. 

Jadi tidak ada salahnya jika keyakinan kami sebagai ahmadi kami pertahankan dengan sekuat mungkin walau harus beribadah  dan melaksanakan kegiatan didalam tenda, itu tak menjadi halangan bagi kami. Justru dengan adanya kejadian seperti ini memberikan pelajaran yang luar biasa, memberi semangat yang menggebu-gebu untuk berjuang lebih semangat. 

Walau dengan kejadian ini juga membuat orang-orang disekitar menjauh, semakin memperolok-olok bahkan sepertinya kami (orang ahmadi) dimata mereka itu ibarat barang najis yang menjijikan yang harus dimusnahkan. Setiap ada kesempatan mereka menjadikan ahmadi sebagai sasaran obrolan mereka, tak jarang mereka membicarakan, menghina kami di depan kami sendiri, tetapi jika mereka sadari sesungguhnya yang mereka hina dan olok-olok adalah diri mereka sendiri.
Mereka katakan kami ini orang yang tidak tahu malu, masa shalat di tempat yang begitu, padahal yang harus malu bukan kami tapi mereka. Bagi kami shalat di atas tanahpun tak masalah asalkan bersih. Kami yang membangun, kami yang berkeluh kesah tapi mereka yang gigih merampas, menyegel  bahkan mau menghancurkan masjid tersebut. Apa mereka tidak punya malu pada Allah? apa mereka tidak takut dengan azab dari Allah? apa yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai, begitupun dengan kejahatan yang mereka perbuat, maka tunggulah balasannya !!!
Kalau mereka tahu, dibalik penyegelan yang mereka lakukan itu ada sesuatu yang bisa kami rasakan baik itu rasa marah, jengkel, haru, bahagia, tapi pokoknya ada sesuatu yang bisa kami rasakan tapi susah diungkapkan yang pasti mungkin perasaan itu terlahir dari satu perjuangan yang belum berakhir bahkan mungkin ini adalah awal perjuangan untuk kemenangan ahmadi kersamaju.

Langkahku tertahan......seakan tak mampu berjalan
Lidahku kelu kaku..........seoalah tak mampu bicara

Hatiku menangis........saat ku melihatmu
Tubuhku lemah gemetar tak berdaya

Pikirku melayang......
Dadaku berkecamuk penuh kemarahan
Ingin rasanya aku berontak

Melihat semua ini........
Tuhan.......
Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Mu

Doaku disetiap waktu hanyalah pada  Mu
Untuk jemaatku nan indah ini

Ingin rasanya kaki ini melangkah....
Tangan ini bergerak menggapaimu....

Saatku melihat rumah Mu berdiri tanpa kebebasan
Berdiri kokoh tanpa keindahan.....

Tuhan......
Semoga doa,ketabahan,kesabaran jemaat Mu
Bisa meluluhkan hati yang penuh kebencian
Memberikan sinar terang dihati kegelapan.....

Membeerikan kesejukan dihati yang kering gersang
Tanpa keimanan
Membebaskan belenggu akan rumah Mu......Tuhan

Friday, 30 October 2015

MENGOBARKAN KEMBALI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA

Oleh : M. Syaeful Uyun

Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia. Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia. Kami Putera dan Puteri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Sabtu-Ahad, 27-28 Oktober 1928. Pemuda dari berbagai elemen organisasi kepemudaan, mengukir sejarah. Mereka menyelenggarakan perhelatan akbar bernama Kongres Pemuda, yang melahirkan embrio (janin) Bangsa Indonesia.  Kongres Pemuda diprakarsai Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia. Elemen-elemen pemuda yang hadir, al: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan beberapa pemuda Tionghoa sebagai pengamat.

 Kongres berlangsung di tiga gedung berbeda. Sidang pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, berlangsung di gedung Katholieke Jongenlingen   Bond (KJB), Waterlooplein, Batavia (Jakarta-Lapangan Banteng sekarang). Sidang kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, berlangsung di Gedung Oost-Java Bioscoop. Dan, sidang ketiga (penutupan), masih di 28 Oktober 1928, berlangsung di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106. 

Pada sidang pertama, Sugondo Djojopuspito,  Ketua PPPI dan selaku Ketua Panitia Kongres, dalam sambutannya berharap, kongres dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Sementara Moehammad Yamin memaparkan tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurut Moehammad Yamin, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.  

Pada sidang kedua, tampil dua pembicara: Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, membahas masalah pendidikan. Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro memaparkan, anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. 

Pada sesi penutupan tampil dua pembicara: Mr. Sunario dan Ramelan. Mr. Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.  

Saat Mr. Sunario (sebagai utusan kepanduan) berpidato, Moehammad Yamin menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo Djojopuspito berisi rumusan Kongres Sumpah Pemuda, sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini). Soegondo kemudian membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut. Kertas berisi rumusan Sumpah Pemuda tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga.  

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda yang ditulis Moehammad Yamin yang kemudian menjadi putusan Kongres Pemuda berisi, sbb: 
  • Pertama, Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia. 
  • Kedua, Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia. 
  • Ketiga, Kami Putera dan Puteri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia. 

Di akhir sidang rumusan tersebut dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Moehammad Yamin. Rumusan Moehamad Yamin kemudian disepakati sebagai putusan Kongres dan secara bersama-sama diikrarkan sebagai Sumpah Setia. Ikrar Sumpah Setia bersama diakhir Kongres Pemuda 28 Oktober 1928: Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia. Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia.  Kami Putera dan Puteri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia, itulah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Pada sesi penutupan juga diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo Djojopuspito kepada W.R. Supratman. Teks lagu Indonesia Raya:

Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku hiduplah negriku bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya merdeka merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres dan semakin membangkitkan semangat nasionalisme. 

Diikrarkannya “Sumpah Pemuda” dan dinyanyikannya lagu “Indonesia Raya”, menandakan, 28 Oktober 1928, embrio (janin) Bangsa Indonesia lahir.

“Sumpah Pemuda” dan lagu “Indonesia Raya”, yang diikrarkan dan dinyanyikan pada 28 Oktober 1928, sangat heroik dan menumbuhkan semangat nasionalisme, semangat kebangsaan, semangat persatuan dan semangat perjuangan, pada jiwa para pemuda Indonesia untuk membebaskan dirinya dari penjajahan kolonial dan untuk merebut kemerdekaan. “Sumpah Pemuda” dan lagu “Indonesia Raya” menjadi darah segar, menjadi semacam ruh, menjadi jiwa, menjadi sepirit, dikalangan pemuda aktivis dan pejuang kemerdekaan. Ide, gagasan, dan upaya-upaya untuk mencapai kemerdekaan pun dilakukan para pemuda Bangsa Indonesia. Tidak sedikit para pemuda aktivis yang ditangkap, dipenjara, di internir (dibuang), dan bahkan dilenyapkan oleh kolonial belanda. Ir. Soekarno, Presiden pertama RI, termasuk seorang yang dalam upayanya memerdekakan Bangsa Indonesia berulang-ulang keluar masuk penjara dan pembuangan-pembuangan.

Perjuangan para pemuda untuk memperoleh kemerdekaan tidak sia-sia. Perjuangan para pemuda mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Teks proklamasi:

Proklamasi
Kami Bangsa Indonesia
Dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain 
akan diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang 
sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama Bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta

Proklamasi 17 Agustustus 1945, menandakan, Bangsa Indonesia yang lahir 28 Oktober 1928, merdeka.  Bangsa Indonesia lepas dari cengkraman kolonialisme Belanda. Bangsa Indonesia lepas dari penjajahan.

Bangsa Indonesia yang diproklamirkan merdeka Soekarno-Hatta ialah Bangsa Indonesia yang berketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia yang berkesatuan. Bangsa Indonesia yang berkemanusiaan yang adil dan beradab. Bangsa Indonesia yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Bangsa Indonesia yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

70 tahun telah berlalu sejak Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Namun, selama masa 70 tahun ini, Bangsa Indonesia tampaknya belum mencapai cita-cita kemerdekaannya. Sosial-politik-ekonomi, masih dikuasai dikendalikan neo-kolonialisme. Kekayaan alam Indonesia masih banyak dikuasai dikeruk bangsa-bangsa asing. Nasionalisme mengalami erosi. Kepentingan bangsa dan rakyat dikesampingkan, kepentingan asing diutamakan. Korupsi yang menyengsarakan rakyat telah menjadi budaya dan virus yang sulit diberantas. Pendidikan hanya bagi mereka yang beruang. Kesehatan diluar jangkauan. Hukum hanya berlaku bagi rakyat jelata tidak bagi penguasa dan mereka yang beruang. Kesenjangan kaya miskin makin menganga. Intoleransi dan radikalisasi merajelela. Istilah mayoritas minoritas mengemuka. Padahal Indonesia didirikan oleh semua dan untuk semua. Indonesia adalah rumah bersama yang yang aman bagi semua. Tidak mengherankan jika dalam usia 70 tahun Bangsa Indonesia merdeka, masih ada daerah yang ingin memisahkan diri meminta cerai dari NKRI, seperti RMS di Maluku dan OPM di Papua.

Saatnya pemuda Indonesia mengobarkan kembali semangat-ruh-jiwa “Sumpah Pemuda” dan lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”. Saatnya pemuda Bangsa Indonesia menghayati dan menjiwai Sumpah Pemuda. Peringatan hari Sumpah Pemuda tidak sebatas ceremoni, tetapi dijiwai, dihayati, dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata berbangsa dan bernegara, sehingga heroik Sumpah Pemuda dan Indonesia Raya, nasionalisme Sumpah Pemuda dan Indonesia Raya, semangat kebangsaan, semangat persatuan dan semangat perjuangan Sumpah Pemuda, hidup kembali dalam jiwa para pemuda Bangsa Indonesia. Jika, diperlukan, pemuda Bangsa Indonesia, mengikrarakan kembali Sumpah Pemuda.

Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda.[]

Tasikmalaya, 27 Oktober 2015 

Monday, 26 October 2015

Kepala Desa Cipakat: Apresiasi Ahmadiyah Singaparna Atas Bank Darah

Kepala Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Ade Gani, memuji komunitas Jemaat Ahmadiyah yang ada diwilayahnya sebagai kelompok yang selalu siap sedia saat warganya membutuhkan transfusi darah.

desa cipakat jemaat ahmadiyah singaparna

Berbicara dalam sambutan acara syukuran Masjid Baitur Rahim dikampung Babakan Sindang, Minggu (25/10). Ade Gani menyampaikan rasa terima-kasihnya kepada anggota Jemaat Ahmadiyah Singaparna yang senantiasa aktif menyukseskan kegiatan baik sosial mapun kegiatan lainnya di wilayah yang dipimpinnya.

"Terima kasih kepada anggota Jemaat Ahmadiyah yang telah melaksanakan hak dan kewajibannya dalam menjaga keamanan dan ketertiban melalui Pos Ronda yang rutin kami adakan" ucapnya membuka sambutan.

"Persuakan masjid 29 Juli 2005 bukan hanya dirasakan anggota ahmadi namun oleh saya sendiri dan warga sekitar turut merasakan dampaknya" sambungnya.

Menyinggung masalah kegiatan sosial kemanusiaan Ade Gani memuji organisasi Jemaat Ahmadiyah yang begitu tertib dalam administrasinya.

"Ketika warga ada yang kesulitan karena melahirkan atau kecelakaan dan memerlukan darah warga ahmadi selalu mudah dihubungi dan diambil darahnya" Jelas Ade Gani

"Bank Darah ada di Ahmadiyah' imbuhnya.

Pria yang masih memiliki ikatan keluarga dengan tokoh Jemaat Ahmadiyah Singaprana, H. Ii Argadiraksa, memaparkan bahwa pertalian darah membuat jalin tali silaturahmi antara warga ahmadi dan warga lainnya disekitarnya dapat terjalin untuk hidup bertoleransi dan tenggang rasa.

Menutup sambutannya Ade Gani menyampaikan tentang pentingnya adanya seorang pemimpin oleh karena itu ia mengajak kepada warga ahmadi untuk menyukseskan Pilkada Referndum yang akan diadakan di Kabupaten Tasikmalaya pada tanggal 9 Desember 2015.

Baca Juga:
Amir Jemaat Ahmadiyah Menyeru Memakmurkan Masjid | Tasyakur Masjid Baitur Rahim Singaparna

H. Ii Argadiraksa: Ujian Semakin Menggairahkannya Membangun Masjid | Baitur Rahim Singaparna

Doni Sutriana (Tasikmalaya)

Sunday, 25 October 2015

H. Ii Argadiraksa: Ujian Semakin Menggairahkannya Membangun Masjid | Baitur Rahim Singaparna

“Keyakinan kami masjid ini masjid Allah bukan masjid saya. Kalau dirusak Dia yang akan membangunnya kembali." ~ H. Ii Argadiraksa pada Masjid Baitur Rahim Singaparna

H. Ii Argadiraksa tokoh jemaat Ahmadiyah Singaparna
H. Ii Argadiraksa, tokoh Jemaat Ahmadiyah Singaparna
Dimasa senja usianya yang telah berkepala tujuh H. Ii Argadiraksa tokoh Jemaat Ahmadiyah Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat ini selalu terpancar kegembiraan dan gairat untuk mengkhidmati JemaatNya.

Beliau merupakan tokoh sentral dalam renovasi Masjid Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna sehingga kini masjid selain lebih luas juga memiliki beberapa fasilitas khusus sebagai pusat kegiatan organisasi Jemaat Ahmadiyah Singaparna.

Masjid Baitur Rahim yang terletak di kampung Babakan Sindang Desa Cipakat Kecamatan Singaparna yang berada tidak jauh dari komplek Pondok Pesantren Cipasung adalah masjid yang awal mulanya dibangun pada tahun 1925 oleh orang tua H. Ii Argadiraksa sebagai masjid milik keluarga Argadiraksa. Dalam perjalanannya masjid diserahkan kepada Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1930-an setelah seluruh jamaah baiat menerima kebenaran Jemaat Ahmadiyah.

Pasca penekanan dan penutupan paksa Masjid Mahmud yang terletak di Kampung Badak Paeh pada tahun 2005, pusat kegiatan Jemaat Ahmadiyah dipindahkan ke Masjid Baitur Rahim yang semula merupakan masjid kelompok bagi anggota Jemaaat Ahmadiyah yang berada di kampung Babakan Sindang. 

H. Ii Argadiraksa yang telah pensiun dari pekerjaannya bercita-cita untuk memperluas dan melengkapi fasilitas masjid Baitur Rahim, keterikatannya akan sejarah masjid Baitur Rahim yang dihibahkan oleh keluarga Argadiraksa membuat H. Ii Argadiraksa semakin bergairat untuk mewujudkan cita-citanya merenovasi masjid Baiturrahim.

Kendala utama adalah belum adanya biaya untuk menjalankan proses pembangunan, aset tanah yang dimilikinya di daerah Depok yang bernilai Rp 1 Milyar belum laku ada yang membeli, H. Ii berjanji bahwa bila asetnya tersebut laku terjual semua uang hasil penjualannya akan digunakan untuk pembangunan masjid.

Atas nasihat Hj. Uun Syarifatunnisa Makih (Sadr LI Indonesia periode sebelumnya), H. Ii menulis surat kepada Hazrat Khalifah melalui bantuan Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia, tidak lama setelah itu atas karunia Allah asetnya tejual dengan segala kemudahan dalam proses jual belinya. (Baca juga: Amir Jemaat Ahmadiyah Menyeru Memakmurkan Masjid | Tasyakur Masjid Baitur Rahim Singaparna )

Beliaupun mendapat surat balasan dari Hazrat Khalifah yang salah satu nasihatnya agar dalam pembangunan masjid tidak di monopoli oleh seseorang harus dibangun bersama-sama anggota Jemaat lainya agar tidak memunculkan sifat riya. 

Atas nasihat Huzoor tersebut H. Ii Argadiraksa mengikutsertakan anggota jemaat lainnya yang turut ikut menyumbangkan hartanya dalam pembangunan masjid Baiturrahim, H. Ii Argadiraksa yang adalah seorang arsitek turun langsung dalam pengawasan selama 4 tahun pembangunan perluasan masjid Baitur Rahim.

Jemaat Ahmadiyah Singaparna memberi amanah khusus kepada H. Ii Argadiraksa untuk menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Baiturrahim, 4 tahun masa pembangunan dari tahun 2011 sampai 2015 dilaksanakan dalam 2 tahap pembangunan.

Tahap pertama Pembangunan dilakukan dari tahun 2011-2014 dengan mendirikan dan merenovasi rumah misi menjadi Gedung kaum ibu (Gedung serbaguna) yang tediri dari 3 lantai seluas 400 m2 dan dapat menampung 250 orang jamaah. Untuk tahap pertama pembangunan ini total menghabiskan biaya sebesar Rp 490 juta yang berasal dari sumbangan pribadi Rp 180 juta, sumbangan dari anggota Jemaat Ahmadiyah asal Singaparna yang berada diluar kota sebesar Rp 225 juta serta bantuan dari PB Jemaat Ahmadiyah sebesar Rp 80 juta.

Tahap kedua dimulai pada Agustus 2014 sampai Oktober 2015 dengan memperluas gedung utama masjid hingga dapat menampung 600 orang jamaah, bangunan seluas 500 m2 terdiri dari 1 lantai diperluas dengan penambahan beberapa ruangan khusus untuk kamar tamu, kantor, ruang rapat, Tabligh Center, Klinik Homeopathy, ruang bayar candah dan tempat air wudhu dan toilet. Total biaya yang dihabiskan sebesar Rp 1,3 Milyar. Dana berasal dari sumbangan pribadi Rp 1,25 Milyar dan sumbangan anggota Jemaat Ahmadiyah Singaparna Rp 50 juta. 

Total 2 tahap pembangunan menghabiskan biaya Rp 1,79 Milyar selama empat tahun proses pembangunan. Total 11 fasilitas baru dibangun selama proses pembangunan terdiri dari Kantor Pengurus, Ruang Rapat, Perpustakaan/Tabligh Center, Rumah Tamu, Ruang Khusus Ibu & anak, Tempat Wudhu kaum bapak, Tempat wudhu kaum ibu, Dapur Umum, Klinik Homeopathy dan Ruang Bayar Candah.

Selain itu juga kompleks pemakaman musi/musiah yang terletak bersebelahan dengan Masjid Baitur Rahim dipercantik selama proses renovasi Masjid.

Tidak sedikit ujian yang harus dihadapi oleh H. Ii Argadiraksa selama 4 tahun proses pembangunan dari ujian terkecil berupa penekanan dari pihak-pihak tertentu yang tidak senang dengan perluasan pembangunan masjid Baitur Rahim sampai ujian terberat berupa 4 kali perusakan oleh kelompok intoleran dan usaha penyegelan masjid. 

Namun semua itu dihadapi H. Ii Argadiraksa beserta seluruh anggota Jemaat Ahmadiyah Singaparna dengan penuh kesabaran dan ketawakalan, bahkan bagi H. Ii Argadiraksa ujian berat yang ia hadapi tidak sedikitpun membuatnya ciut malah semakin membuatnya bergairah untuk sesegera mungkin menyelesaikan pembangunan Masjid Baitur Rahim yang jauh lebih megah.

Masjdi Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna
Masjid Baitur Rahim, Jemaat Ahmadiyah Singaparna
Renovasi yang dilakukan hanya merubah bangunan utama sementara gapura yang terletak didepan masjid tidak mengalami perubahan dan menjadi ornamen ciri khusus dari Masjid Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna, bangunan gapura tersebut telah masuk cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah sebagai bangunan asli yang telah ada sejak tahun 1925 saat awal mula masjid dibangun.

Anggota Jemaat Ahmadiyah sendiri tidak hanya memberi pengorbanan berupa nominal uang, beberapa diantara mereka turut menyumbangkan berupa kelengkapan fasilitas kantor, perpustakaan/Tabligh Cener serta Sound Sistem Masjid.

Saat Tasyakur pembangunan Masjid Baitur Rahim pada tanggal 25 Oktober 2015, di Masjid tersebut H. Ii Argadiraksa menyampaikan masih banyak keperluan masjid untuk menyempurnakan segala sesuatunya dan itu adalah tugas dari seluruh anggota Jemaat Ahmadiyah selanjutnya untuk melakukan pengorbanan harta di jalan Allah SWT.

Doni Sutriana (Tasikmalaya) 





Amir Jemaat Ahmadiyah Menyeru Memakmurkan Masjid | Tasyakur Masjid Baitur Rahim Singaparna

Syukuran sekaligus sebagai peresmian Masjid Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna pasca renovasi telah dilaksanakan minggu (25/10) Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mln. H. Abdul Basith Sahid, memimpin doa bersama dan memberikan sambutannya dalam acara tersebut.

Haji Abdul Basith Amir Jemaat Ahmadiya Indonesia
H. Abdul Basith Sahid, Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia
Acara syukuran tersebut dihadiri tidak kurang oleh 300 anggota dari aanggota Jemaat Ahmadiyah Singaparna serta anggota dari cabang-cabang di wilayah Priangan Timur ditambah tamu undangan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia berserta Para mubalighin markazi dan mubalighin yang bertugas di wilayah Priangan Timur.

Dalam sambutannya sebelum doa bersama Amir Jemaat Ahmadiyah menyampaikan bahwa kita harus senantiasa bersyukur atas segala karunia Allah SWT, beliau menyitir ayat suci Al Quran:

... la-in syakartum aziidannakum wala-in kafartum inna 'adzaabii lasyadiidun (Ibrahim :8)
'
"...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." – (QS.14:8)

Beliau menasehati agar anggota Jemaat Ahmadiyah harus senantiasa bersyukur agar Allah menambahkan nikmatNya, jika tidak maka azabNya sangatlah pedih.

Selain itu juga Amir Jemaat Ahmadiyah menyampaikan bagaimana Hazrat Khalifatul Masih V Mirza Masroor Ahmad (aba) dalam pesan saat peresmian pembangunan masjid senantiasa menekankan anggota Jemaat Ahmadiyah agar menunaikan hak dan kewajibannya yaitu dalam hal memakmurkan masjid sebagai hamba Allah yang bertaqwa hakiki.

"Keindahan sebuah masjid bukan karena kemegahan dan keindahan bentuk bangunannya namun karena diisi oleh orang yang bertaqwa" ungkapnya.

Menyangkut nama masjid 'Baitur Rahim' H. Abdul Basith berharap masjid yang dikelola oleh Jemaat Ahmadiya Singaparna ini akan menjadi tempat menyebarkan kasih sayang.

"Sesuai namanya saya berharap masjid ini menjadi tempat sumber ketentraman, kesejahteraan, pengikat tali persaudaraan dan sumber kasih sayang"

Dalam 4 tahun masa renovasi masjid Baitur Rahim Jemaat Ahmadiyah Singaparna telah melalui ujian yang berat yaitu mengalami penutupan paksa serta perusakan oleh kaum intoleran sebanyak empat kali, Amir Jemaat Ahmadiyah memuji keteguhan dan kekompakan Jemaat Ahmadiyah Singaparna yang menghadapi setiap ujian dengan penuh kesabaran dan ketawakalan.

"Jemaat Ahmadiyah Singaparna sangat solid, anggota bisa menahan diri tidak emosi segala sesuatunya diserahkan kepada Allah SWT" tutur H. Abdul Basith.

Amir Jemaat Ahmadiyah juga memberi apresiasi khusus kepada salah seorang tokoh Jemaat Ahmadiyah Singaparna, H. Ii Argadiraksa, yang menjadi ketua pembangunan Masjid Baitur Rahim. Beliau memuji akan keteguhan H. Ii Argadiraksa dalam masa pembangunan tidak merasa gentar dalam menghadapi segala ujian hingga bisa menyelasaikan perluasan pembangunan masjid.

"Ada hal menarik dari beliau (H. Ii Argadiraksa) prinsip beliau tugas kita adalah membangun masjid yang adalah rumah kepunyaan Allah, sementara urusan mereka yang merusak masjid itu urusan mereka" paparnya.

Amir Jemaat Ahmadiyah melanjutakan nasihat bagi anggota jemaat Ahmadiyah yang hadir pada acara tersebut.

"Kita harus ingat apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW bahwa masjid sebagai tempat orang untuk beribadah juga sebagai sumber rahmat kasih sayang" jelasnya.

H. Abdul Basith sebagai Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengingatkan anggota jemaat dengan sebuah kisah dalam sejarah kehidupan Rasulullah dimana beliau mempersilahkan masjidnya digunakan beribadah oleh orang nasrani yang sedang bertamu dari kisah tersebut Amir Jemaat Ahmadiyah menegaskan:

"Sejatinya Islam dapat memberikan kedamaian bagi siapa saja, disayangkan sekelompok orang disuatu tempat tidak mengamalkan teladan Rasulullah SAW" tegasnya.

H. Abdul Basith Amir Ahmadiyah di Masjid Baiturrahim Singaparna
Foto bersama Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia usai syukuran Masjid Baitur Rahim Singaparna
Di akhir sambutannya Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia menghaturkan terima kasih kepada semua anggota Jemaat yang telah turut serta dalam perluasan pembangunan Masjid Baitur Rahim serta mengajak anggota agar memakmurkan masjid tersebut.

"Atas nama Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia saya ucapkan Jazakumullah serta bersyukur atas karuniaNya. Menjadi tugas kita bagaimana agar masjid ini terus menjadi sempit (diisi oleh anggota Jemaat)" pungkasnya.

Beliau menambahkan dalam kunjungan ke cabang-cabang Jemaat Ahmadiyah di seluruh Indonesia beliau selalu menemukan ada pembangunan masjid oleh Jemaat Ahmadiyah dan di akhir sambutannya beliau menghaturkan terima kasih kepada pemerintahan setempat dalam hal ini Kepala Desa Cipakat Singaparna yang turut hadir saat itu.

Doni Sutriana (Tasikmalaya)

Sunday, 13 September 2015

Ahmadiyah Tasikmalaya Sport Day: Dari Tukang Becak Sampai Aparat Negara

Jemaat Ahmadiyah Cabang Tasikmalaya mengadakan Hari Berolahraga pada hari minggu 13 September 2015 dengan kegiatan sepeda santai bagi anggota Ansharullah dan khuddam serta jalan santai bagi anggota Lajnah Imiaillah.

sepeda-santai-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya

Rute sekitar 8 kilometer mengelilingi wilayah sekitar kota Tasikmalaya kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB pagi hari dengan garis start didepan Masjid Mubarak, jalan Nagarawangi  Kota Tasikmalaya. 

13 Anggota Ansharullah ditambah 3 anggota khuddam turut menjadi peserta dalam kegiatan ini, berbagai macam sepeda digunakan oleh para peserta, dari sepeda balap, sepeda ontel, sepeda gunung sampai sepeda torpedo berkonvoi menyusuri kota Tasikmalaya melalui jalur perumahan yang banyak terdapat di kota Tasikmalaya.

Sementara itu para anggota Lajnah Imaillah telah lebih dulu berangkat jalan santai dengan tujuan akhir berkumpul bersama di sebuah rumah makan khas Tasikmalaya, 13 anggota Lajnah Imaillah turut dalam kegiatan ini.

Rumah makan khas Tasikmalaya menjadi titik pertemuan antara seluruh anggota badan yang turut dalam kegiatan 'Hari Berolahraga'. Mubaligh Wilayah Priangan Timur Mln. H. Syaeful Uyun yang hendak menuju Kota Ciamis untuk menghadiri kegiatan Dai Ilallah menyempatkan diri dulu untuk menghadiri makan bersama seluruh anggota yang turut hadir dalam kegiatan Hari Berolahraga.

sepeda-santai-ahmadiyah-tasik

Kebersamaan dalam keragaman tampak begitu terasa hangat dalam silaturahmi antara anggota Jemaat, terutama pada anggota Ansharullah yang berasal dari berbagai latar belakang profesi dari mulai PNS, Wiraswastawan, Dokter, buruh, hingga tukang becak.

Atang Ahmadi yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang becak pada Hari Berolahraga menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan dengan meminjam sepeda dari anaknya. Sebagai seorang pekerja  yang setiap hari mengayuh becak tidak tampak kelelahan dari wajah Pak Atang.

"Saya sengaja tidak narik becak hari ini karena Jemaat ada sepeda santai, saya bela-belain meminjam sepeda dari anak saya" Kata Atang Ahmadi setelah menyantap hidangan di rumah makan khas Tasikmalaya.

"Derah ini mah tempat bermain saya zaman dahulu" sambung tukang becak yang biasa mangkal di Pasar Induk Cikurubuk Tasikmalaya ini.

Sementara itu salah seorang anggota Ansharullah, Sulaeman Jamjuri, yang bekerja sebagai PNS menuturkan rasa kakunya mengayuh sepeda karena setiap hari terbiasa menggunakan Sepeda motor saat bekerja di salah satu instansi pemerintahan di Tasikmalaya.

"Agak kagok, pegang stang sepeda tadi saya puter-puter mirip pegang stang motor saat mau tancap gas" Ujar bapak yang biasa dipanggil Pak Eman ini.

sepeda-santai-ahmadiyah-tasikmalaya

Kegiatan Hari Olahraga dengan melibatkan seluruh anggota badan dalam Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya ini merupakan kegiatan yang pertama dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan ini selain menyehatkan juga mempererat tali silaturahmi antara anggota Jemaat Ahmadiyah.

Doni Sutriana - Tasikmalaya

Tuesday, 25 August 2015

Jemaat Ahmadiyah & Warga Saling Mengalahkan di Cigunung Tasikmalaya

Ade Almahdi (Kawalu)
Tasikmalaya - Memperingati hari kemerdekaan RI ke-70 Jemaat Ahmadiyah Wilayah Tasikmalaya adakan pertandingan olahraga persahabatan dengan warga masyarakat non ahmadi.


Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan RI ke-70, rombongan Ansharullah Jemaat Ahmadiyah Wilayah Tasikmalaya yang terdiri dari Mubaligh Wilayah Jabar 7-8, Mubaligh Pembina cabang Cigunung, Amirda Jabar 7-8, 11 orang Anshar, 4 orang Khudam, 1 orang simpatisan dari Wanasigra & 2 orang LI mengunjungi masyarakat Desa Cigunung Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya dimana Jemaat lokal Cigunung berada. 

Kunjungan ini dimaksudkan untuk bersilaturahmi & rabtah dengan tokoh serta masyarakat Desa Cigunung. 

Diawali dengan pertandingan persahabatan Bola Voli antara tim Karang taruna desa Cigunung "IPPS" (Ikatan Pemuda Pemudi Sindangrasa) melawan tim Ansharullah Jemaat Ahmadiyah Wilayah Tasikmalaya yang diwakili oleh Anshar-Khudam Tenjowaringin. Pertandingan ini dimenangkan oleh tim karang taruna dengan skor 4-1. Dilanjutkan dengan pertandingan badminton sebanyak 5 partai gamda, yang dimenangkan oleh tim Ansharullah Jemaat Ahmadiyah dengan skor 4-1. 

Di akhir acara Ansharullah Wilayah Tasikmalaya menyerahkan hadiah kenang-kenangan untuk Karang Taruna desa Cigunung berupa sebuah net bola voli & Bola Voli. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Mubaligh Wilayah Jabar 7-8. 

Ketua Karang Taruna berterimakasih atas kunjungan ini & bisa menjadi sarana untuk memperat tali Silaturahmi diantara anggota masyarakat Cigunung dengan Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya.

Dadi Supriadi mewakili penguruh Ansharullah Wilayah Tasikmalaya mengatakan bahwa melalui kegiatan sehat jasmani dapat menjadi sarana silaturahmi antar anggota Jemaat Ahmadiyah dengan masyarakat sekitarnya. Ansharullah Wilayah memprogramkan kegiatan serupa di Jemaat lainnya melalui Ansharullah cabang.

Kegiatan olahraga & permainan dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI di desa Cigunung merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat disana. Ipa Mustopa sebagai ketua Jemaat Ahmadiyah Lokal Cigunung menjabat pula sebagai ketua pemuda desa Cigunung. Setiap peringatan hari Kemerdekaan RI, beliau selalu menjadi ketua panitianya. 

Hubungan sosial Jemaat Ahmadiyah di desa Cigunung dengan masyarakat sekitar sudah demikian erat. Beliau mengharapkan toleransi yang ditunjukan oleh masyarakat di Cigunung dapat diikuti oleh Desa-desa lainnya di Kabupaten Tasikmalaya juga kota-kota lainnya di Indonesia, sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang harmonis. 


Beliau juga mengajak para anggota Ansharullah Jemaat Ahmadiyah di cabang lain untuk memperat hubungan dengan masyarakat sekitarnya.


Kemerdekaan Bersama Lajnah Imaillah Garut

Kemerdekaan dapat di artikan di saat suatu negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya, di saat seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi. 


Dan sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 bangsa kita sudah tidak terkena atau lepas dari tuntutan penjajah negara lain. 

Dalam memperingati hari kemerdekaan bangsa Indonesia, Lajnah se-daerah Garut mengadakan kegiatan perlombaan yang dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2015 di lapang Ngamplang-Garut. 


Acara ini di hadiri oleh Li 107 orang, Nasirat 42 orang, Banat 7 orang, Mubaligh 3 orang, Anshor 8 orang, Khudam 10 orang, Athfal 36 orang, dan Simpatisan 3 orang. Total yang hadir keseluruhan mencakup 224 orang. Acara ini dibuka oleh Ketua Daerah Li Garut Ny. Euis D. Jubaedah dan di mulai dengan do’a oleh Mln. Yoesnepil.

Adapun perlombaan yang dilaksanakan yaitu Bakiak Cross, Balap Karung, Balap Kerupuk, Karet Berantai, Duel Balon. 

Perlombaan berjalan dengan tertib dan sangat ramai, walaupun terdapat beberapa rintangan yang dirasakan oleh para peserta saat melaksanakan lomba baik yang Tua maupun Muda, namun tidak memecahkan semangat mereka untuk senantiasa berpartisipasi memeriahkan acara Kemerdekaan ini. 

Setelah acara perlombaan selesai dipenghujung acara ini yaitu saatnya pembagian hadiah untuk para pahlawan perlombaan dan di tutup dengan do’a oleh Mln. Tatep Wahyu.

Amatul Hafiz 



Thursday, 20 August 2015

Peringatan HUT RI ke-70 Athfal & Nashirat Ahmadiyah Tasikmalaya

Oleh: Nusrat Amatul Majid
Minggu 16 Agustus 2015, Nasirat dan Athfal Tasikmalaya telah mengadakan peringatan Hari Ulang Tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-70. Kegiatan dilakukan di Balai Pertemuan Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya, jalan Nagarawangi kota Tasikmalaya yang diikuti athfal, nashirat, dan LI.

athfal-nashirat-ahmadiyah-tasikmalaya

Pukul 08.30 WIB, kegiatan di buka oleh Wakil Ketua LI Tasikmalaya, Ibu Iis Ibnu. Tak lupa sambutan diberikan oleh Bapak Mubaligh Wilayah Jabar 7, Mln. Hj. Syaiful Uyun.

“Kemerdekaan adalah anugerah dan juga nikmat dari Ilahi. Bangsa Indonesia harus mensyukuri nikmat kemerdekaan, dengan cara mengisi kemerdekaan dengan mewujudkan masyarakat yang adil makmur dan berkeadaban sesuai dengan cita-cita kemerdekaan”, ucap Bapak Syaiful Uyun. “Kita, Ahmadiyah mempunyai tanggung-jawab moral merawat keutuhan NKRI dan merawat kebhinekaan bangsa Indonesia”, lanjut beliau. Doa pembuka yang menjadi akhir dari acara pembuka dipimpin oleh Bapak Mubaligh Wilayah.

Acara dilanjut dengan perlombaan kemerdekaan. Perlombaaan makan kerupuk, kelereng, dan memasukan benang ke dalam jarum menjadi lomba pembuka yang diikuti nashirat dan athfal. Selain itu lomba pecah balon dan memasukan bola ke dalam keranjang diikuti oleh Ibu-ibu Lajnah. Antusias terpancar dari raut wajah para peserta. Perlombaan berlangsung hingga pukul 11.30 WIB, dengan galah menjadi lomba terakhir.
anak-anak-ahmadiyah-tasrikmalaya-hut-ri

Kegiatan kembali dilanjutkan setelah shalat dhuhur. Makan siang bersama, kemudian pembagian hadiah kejuaraan. Pembacaan kejuaraan dibacakan oleh Ibu Iis Ibnu. Satu persatu sang juara dipanggil untuk mendapatkan hadiah. Selain kejuaraan perlombaan kemerdekaan, terdapat pula kejuaraan hasil karya ilmiah yang diikuti adek-adek nashirat dan athfal.

Selesai dengan pembagian hadiah kejuaraan. Acara diakhiri dengan doa penutup oleh Bapak Mubaligh Wilayah. Sebelum doa, beliau menyampaikan sekilas kisah mengenai W.R Supratman sang pencipta lagu “Indonesia Raya” yang dahulu beliau pernah sempat aktif dalam kegiatan Jemaat Ahmadiyah. Kegiatan seperti ini sangat diperlukan. Disamping untuk hiburan juga dapat menumbuhkan rasa cinta kebangsaan kepada generasi muda Indonesia.




Monday, 3 August 2015

Khutbah Jumat: Mutiara-Mutiara Hikmah

khalifa-of-islam
Ringkasan Khutbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
24 Juli 2015 di Baitul Futuh, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Khutbah Jumat pada hari ini adalah beberapa riwayat yang disampaikan oleh Hadhrat Muslih Mau’ud ra berkenaan dengan Hadhrat Masih Mau’ud as dan para sahabat beliau as.

Hadhrat Masih Mau’ud as menerima sebuah wahyu berbahasa Arab yang tertulis dalam Tadhkirah tanggal 9 Februari 1908. Terjemahan dari wahyu tersebut adalah ‘Jangan bunuh Zainab’ [Tadhkirah, hal 995]

Hadhrat Muslih Mau’ud ra menulis bahwa pada awal tahun 1908, Hafiz Ahmad Sahib mengusulkan pernikahan bagi 2 putrinya Zainab dan Kalsoom. Datang dua lamaran untuk Zainab. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as tidak menyukai lamaran dari Misri Sahib. Akan tetapi seperti biasa, beliau as tidak juga terlalu menekankan hal tersebut. Pada saat-saat itulah beliau as menerima wahyu: ‘Jangan bunuh Zainab’. Hafiz Sahib memahami wahyu tersebut bahwa hendaknya ia menikahkan putrinya dengan Misri Sahib dengan anggapan bahwa wahyu tersebut telah mengesampingkan nasehat dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Kemudian ia pun menikahkan putrinya dengan Misri Sahib. Wahyu tersebut tertanggal 9 Februari sedangkan pernikahan tersebut terjadi pada tanggal 19 Februari. Tanggal pernikahan tersebut tercatat dalam sejarah karena berlangsung bersamaan dengan beberapa pernikahan lainnya termasuk pernikahan Hadhrat Nawab Mubaraka Begum Sahiba. Allah Ta’ala secara jelas telah memberi peringatan sebelumnya berkenaan dengan pernikahan Zainab supaya tidak timbul kehancuran di kemudian hari. Namun sang ayah malah mengambil kesimpulan sebaliknya.

Terbukti bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan nasehat kepada Hafiz Sahib, orang tua Zainab tersebut. Dan memang benar Misri Sahib di kemudian hari memisahkan diri dari Jemaat. Seorang sahabat berkata bahwa sungguh di hadapannya, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menasehati Hafiz Sahib agar tidak menikahkan putrinya dengan orang tersebut. Seorang sahabat tersebut tidak suka melihat pernikahan tersebut tetap dilangsungkan. Kemudian sahabat tersebut mendatangi Hadhrat Masih Mau’ud as dan berkata, “Hudhur diutus oleh Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala memerintahkan agar orang-orang mendengar perkataan Hudhur. Namun Hafiz Sahib tidak berbuat demikian.” Hadhrat Masih Mau’ud as membenarkannya akan tetapi beliau menambahkan bahwa beliau tidak mencampuri urusan tersebut.

Ketika riwayat ini sampai kepada Hadhrat Muslih Mau’d ra, beliau ra sedikit pun tidak meragukannya. Namun karena riwayat itu hanya satu saja sehingga beliau ra merasa khawatir. Memang seharusnya ada saksi dalam hal ini yang dapat menjelaskan latar belakang keluarnya Misri Sahib dari Jemaat dan sebagainya. Oleh sebab itu beliau ra befikiruntuk mencari bukti yang kongkrit. Keesokan harinya, beliau ra menerima surat dimana seseorang telah menulis bahwa ketika ia berada di Qadian, ia mempelajari Al-Quran dari Hafiz Ahmad. Orang tersebut pernah menceritakan padanya bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memintanya untuk menikahkan putrinya dengan seseorang akan tetapi ia mengingkarinya. Karena terdapat wahyu “Jangan bunuh Zainab”, maka ia pun mengambil kesimpulan bahwa nasehat beliau as sebelumnya adalah tidak benar. Ia pun kemudian menikahkan putrinya dengan Misri Sahib.

Ia berkata bahwa Misri Sahib sangat keras terhadap putrinya dan ia rasa bahwa hal itu merupakan akibat dari tidak mengindahkan apa yang telah Hadhrat Masih Mau’ud as katakan. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menulis bahwa beliau pun ingat bahwa pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih I ra, Misri Sahib pernah memukul ayah mertuanya di tengah kota. Hadhrat Khalifatul Masih I ra merasa sangat tidak senang dengan Misri Sahib dan Hadhrat Muslih Mau’ud ra telah meminta beliau ra untuk memaafkan Misri Sahib.

Sheikh Abdul Rahman Misri Sahib merupakan bagian dari sejarah Jemaat. Ia merupakan seorang terpelajar yang berbaiat pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as dan Hadhrat Zafrullah Khan Sahib membiayainya untuk pergi ke mesir. Karena perjalanannya ke Mesir itulah maka ia diberi gelar ‘Misri’. Tiba saatnya ketika ia sangat menentang Hadhrat Muslih Mau’ud ra dan melontarkan perkataan yang sangat menentang beliau ra serta berupaya untuk menciptakan perselisihan di dalam Jemaat. Allah Ta’ala senantiasa melindungi Jemaat ini dari rencananya dan beberapa orang diperlihatkan mimpi tentang rencananya tersebut. Dahulunya, Ia begitu dihargai dan dihormati di dalam Jemaat sehingga ketika ia keluar dari Jemaat, seseorang dari Afrika menulis kepada Hadhrat Muslih Mau’ud ra bahwa keluarnya Misri Sahib dari Jemaat sungguh sangat mengkhawatirkan karena jika seseorang yang begitu penting dan berarti seperti ini kehilangan keimanan mereka, lalu bagaimana dengan keimanan orang-orang biasa seperti penulis surat ini. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menjawab surat tersebut seraya berkata bahwa adalah Allah Ta’ala lah yang memutuskan siapa yang penting dan berarti bagi Jemaat dan bukan si penulis surat. Kemudian beliau ra menambahkan bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan Misri Sahib kehilangan arah dan hal tersebut membuktikan bahwa yang penting dan yang berarti bagi Jemaat adalah si penulis surat ini, bukan Misri Sahib. Setelah mengadakan penentangan dan kemudian meninggalkan Jemaat, Misri Sahib mencoba untuk menunjukan betapa pentingnya dirinya dengan menguhubung-hubungkan dirinya dengan wahyu tersebut. Namun setelah Hadhrat Muslih Mau’ud ra menjelaskan kenyataan dibalik semua itu, ia mengeluh kenapa istrinya diseret ke dalam ini semua.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra mengatakan bahwa pada nubuatan ‘Jangan bunuh Zainab’ tersebut, Misri Sahib sendiri menekankan hal tersebut pada tahapan selanjutnya. Beliau ra bersabda bahwa peristiwa ini adalah seperti kisah yang diceritakan oleh orang-orang Arab tentang seorang pria yang mengambil sebilah pisau hendak menyemblih seekor kambing namun kemudian menyimpan pisau tersebut dan ia pun lupa. Lalu ada seorang anak yang menyembunyikan pisau tersebut di tanah. Ketika orang tersebut mencari pisau yang hilang tersebut, kambing itu menyeret-nyeret kakinya di tanah. Akibatnya, terkikislah tanah tersebut dan pisau yang disembunyikan tadi pun ditemukan. Dengan demikian, orang tersebut dapat menyemblih kambing tersebut. Jadi ketika seseorang menyebabkan kehancurannya sendiri, orang-orang Arab berkata bahwa ia sendiri telah menemukan pisau tersebut seperti kambing dalam kisah itu. Jika ia telah melaksanakan apa yang Hadhrat Masih Mau’ud as nasehatkan, keimanannya tidak akan menjadi sia-sia. Orang-orang mukmin hendaknya mendengarkan perkataan mereka yang diutus oleh Allah Ta’ala.

Maulwi Muhammad Ahsan Sahib memiliki sifat tergesa-gesa. Suatu kali ketika pergi berjalan keluar dengan Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau salah mendengar perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as ketika beliau as berkata ada perbedaan antara firman tuhan dengan perkataan hamba-Nya. Kemudian beliau as menyampaikan sebuah wahyu dari Allah Ta’ala dan membandingkannya dengan perkataan Hariri (seorang penulis syair). Karena tergesa-gesa, Ahsan Sahib tidak mendengarkan bagian akhir dari perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as dan kemudian berkata bahwa itu merupakan kalam Hariri. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as segera menjelaskan bahwa ini bukanlah kalam Hariri melainkan Wahyu Allah Ta’ala. Segera setelah menyadari kesalahannya, ia langsung berkata betapa indahnya perkataan tersebut.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra menceritakan bahwa seorang Sikh datang mengunjungi beliau ra dan berbicara tentang para leluhur beliau ra. Ia berkata bahwa ayahnya telah bertanya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Murtada Sahib, “Saya dengar Tuan memiliki anak selain Mirza Ghulam Qadir. Dimana anak itu?”  Hadhrat Mirza Ghulam Murtada Sahib menjawab, “Ia telah menghabiskan hari-hari di dalam mesjid untuk membaca Al-Quran. Saya merasa khawatir darimana ia dapat memperoleh mata pencaharian. Katakanlah kepadanya, agar ia mau bekerja. Saya ingin ia bekerja. Ketika saya telah mengatur segala sesuatunya agar ia dapat bekerja, namun ia selalu menolaknya.”

Ketika orang Sikh tersebut berbicara kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau as menjawab bahwa ayah tidak perlu khawatir. Beliau meminta orang Sikh tersebut untuk menyampaikan kepada ayah beliau bahwa beliau telah bekerja kepada Wujud Yang beliau inginkan dan ia tidak tertarik untuk bekerja kepada manusia. Hal ini sangat memberikan kesan orang Sikh tersebut sehingga ia membuncah setiap kali ia menceritakannya. Suatu kali ia menangis getir karena ia telah pergi ke kuburan Hadhrat Masih Mau’ud as dan ingin bersujud di hadapannya karena kecintaan terhadap beliau as. Namun para ahmadi menghentikannya dan hal tersebut membuatnya tersinggung. Ia berkata bahwa bersujud di kuburan bukanlah sesuatu yang dilarang dalam agamanya.

Maulwi Muhammad Hussain Batalwi dahulu merupakan teman Hadhrat Masih Mau’ud as. Setelah pendakwaan beliau as, ia berkata bahwa adalah ia-lah yang telah membawa Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi terkemuka namun sekarang ia akan membuat beliau as jatuh. Namun demikian, Allah Ta’ala menghapuskan namanya dan sebaliknya menyebarkan nama Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Muslih Mau’ud ra mengatakan bahwa seorang anak Maulwi Muhammad Hussain Batalwi telah menganut agama Hindu. Hadhrat Muslih Mau’ud telah menghubunginya dan memintanya untuk kembali kepada Islam. Maulwi Muhammad Hussain menulis surat yang berisi ucapan terima kasih kepada Hadhrat Muslih Mau’ud ra.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa penentangan terhadap Jemaat telah terjadi sejak zaman Hadhrat Masih Mau’ud as namun Jemaat tetap saja mengalami kemajuan. Jemaat telah melewati jalan penuh duri untuk mencapai kesuksesan dan hal ini mengatakan kepada kita bahwa karunia Allah Ta’ala telah menyertainya. Agar karunia ini bertahan lama, Jemaat hendaknya senantiasa sibuk dalam berdoa.

Allah Ta’ala memberkati Hadhrat Maulana Nuruddin, Khalifatul Masih I ra dengan pekerjaan yang sangat mulia. Kemudian, beliau telah sukses menjalankan praktek di kota kelahirannya dimana banyak orang yang mencintainya. Suatu kali, beliau datang ke Qadian untuk mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as dan ketika hendak pulang, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tuan telah melihat dunia dan sekarang tinggallah di Qadian.” Beliau mengamalkannya dan kemudian tidak jadi pulang. Beliau meminta agar barang-barangnya dikirimkan dari kampungnya. Beliau tidak mungkin mengadakan praktek di Qadian namun beliau tidak peduli akan hal itu.

Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as lainnya adalah Maulwi Abdul Karim Sahib. Beliau memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang hanya bisa dinilai oleh orang-orang yang ada di sekitarnya pada saat itu. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda, “Maulwi Sahib meninggal dunia ketika saya sedang berumur 16 atau 17 tahun namun saya mengenal besarnya kecintaan beliau Hadhrat Masih Mau’ud as sejak saya masih kecil berumur 12 tahun. Namun demikian, kecintaannya tersebut memberikan kesan di dalam hati saya.” Ada 2 aspek kepribadiannya yang tidak terlupakan; cara beliau minum seraya bersyukur pada Allah Ta’ala dan kecintaannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Pada saat itu, air sumur mesjid Aqsa sangat terkenal dan beliau akan berkata kepada orang-orang untuk mengambilkannya air. Ketika ia berada di antara para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, terlihat seolah-olah mata beliau sedang memakan fisik Hadhrat Masih Mau’ud as. Seluruh wujud Maulwi Sahib akan menjadi gambaran kegembiraan yang tidak terhingga karena melihat wujud Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau sangat bergairah terhadap segala sesuatu yang beliau as katakan. Adalah kebiasaan Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa beliau mengadakan pertemuan setelah shalat Maghrib. Beliau menghentikan rutinitas ini setelah kewafatan Maulwi Sahib. Ketika seseorang menanyakan hal ini, beliau as menjelaskan bahwa hal tersebut membuat beliau sakit karena kehilangan Maulwi Sahib.

Suatu kali di Qadian, ada seseorang yang melontarkan kata-kata kasar berkenaan dengan Maulwi Abdul Karim Sahib dan orang-orang pun mulai memukulinya. Namun demikian, ia tetap keras kepada dan terus mengulangi kata-kata kasarnya. Pertengkaran pun terjadi. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau masih kecil pada saat itu dan bagi anak-anak dan tentu hal ini menjadi tontonan. Seorang pegulat non-ahmadi biasa mendatangi Hadhrat Khalifatul Masih I ra untuk mendapatkan pengobatan. Ketika mendengar tersebut, ia berfikir untuk ikut ambil bagian dalam keributan tersebut dan kemudian memukuli orang tersebut. Akan tetapi,  tetap saja orang tersebut mengatakan apa yang ia ingin katakan. Hadhrat Masih Mau’ud as sangat tidak senang ketika beliau mengetahui kejadian tersebut dan bersabda bahwa ini bertentangan dengan ajaran kita. Beliau bersabda bahwa orang-orang mencaci maki kita namun hal tersebut tidaklah merugikan kita sedikitpun, lalu apa masalahnya jika ada seseorang yang berbuat demikian
kepada kita!

Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as lainnya adalah Munshi Roora Khan Sahib. Beliau sangat mencintai Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau berasal dari Kapoorthala. Hadhrat Masih Mau’ud as sangat memuji para ahmadi Kapoorthala atas ketulusan mereka dan bersabda bahwa mereka menunjukan ketulusan yang sedemikian rupa sehingga mereka akan bersama beliau di surga. Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as tiba di Kapoorthala tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Seorang penentang melihat beliau as ketika turun di stasiun. Terkejut akan kehadiran beliau as, ia berlari ke tempat Roora Sahib dan mengatakan padanya bahwa Mirza Sahib telah datang. Mendengar hal tersebut, Roora Sahib juga bergegas ke stasiun tanpa mengenakan tutup kepala yang merupakan suatu hal yang wajib pada saat itu. Di pertengahan jalan, beliau berhenti dan bertanya-tanya apakah ini benar, apakah penentang tersebut telah mempermainkannya dan apakah mereka begitu beruntung sekali mendapatkan karunia atas kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as. beliau mengutuk penentang tersebut karena telah mengatakan kebohongan. Namun kemudian beliau mengubah pikirannya lagi dan mulai berjalan ke stasiun. Beliau berhenti dan mulai melihat dengan rasa tak percaya hingga beliau melihat Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berjalan ke arahnya. Demikianlah gelora kecintaannya terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as.

Setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as, Roora Sahib datang ke Qadian dan memberikan beberapa koin emas kepada Hadhrat Muslih Mau’ud ra serta meminta beliau untuk memberikannya kepada ibunda tercintanya. Beliau kemudian mulai menangis getir. Awalnya, Hadhrat Muslih Mau’ud ra berfikir bahwa beliau menangis karena kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau menangis hampir setengah jam dan selama itu Hadhrat Muslih Mau’ud ra terus bertanya padanya apa yang menyebabkan beliau menangis.  Namun karena sedang dikuasai emosi, beliau tidak dapat menjawabnya. Pada akhirnya, beliau menjelaskan bagaimana beliau telah berhemat dan menyimpan uang sejak pertama kali baiat untuk dapat memberikan sesuatu kepada Hadhrat Masih Mau’ud as serta menjelaskan pula bagaimana ketika telah memiliki simpanan yang cukup, beliau berkeinginan memberi sesuatu yang lebih kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan pada saat itu beliau berharap dapat memberikan emas kepada beliau as. Namun, setiap kali beliau menabung, beliau merasa gelisah melihat Hadhrat Masih Mau’ud as dan memberikannya apapun yang ia telah simpan. Dengan demikian beliau tidak pernah memiliki cukup simpanan untuk memberikan emas. Pada saat beliau telah cukup menyimpan 2 keping emas, Hadhrat Masih Mau’ud as wafat. Dengan demikian, beliau telah menghabiskan 30 tahun merindukan untuk memberikan emas kepada Hadhrat Masih Mau’ud as namun tak dapat terlaksana karena beliau as telah meninggal dunia.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa beberapa huruf Arab hanya dapat diucapkan dengan benar oleh orang-orang Arab. Suatu kali, seorang Arab menghadiri majelis Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as menablighinya dan mengutip dari Al-Quran seraya mengucapkan kata ‘Quran’ dalam aksen bukan Arab. Orang Arab tersebut memberikan komentar bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as menganggap diri sebagai seorang nabi namun tidak mengetahui bagaimana cara mengucapkan kata ‘Quran’ dengan benar. Lalu bagaimana beliau dapat memberikan tafsirannya! Seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as mengangkat tangannya hendak memukul orang tersebut namun Hadhrat Masih Mau’ud as meraih tangannya dan menghentikannya. Beliau as menjelaskan bahwa orang-orang ini hanya memiliki senjata hanya dengan melontarkan cacian ini. Jika mereka tidak menggunakannya, lalu apa lagi yang akan mereka gunakan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa hendaklah kita tidak mengharapkan kebenaran dan dalil-dalil yang benar yang akan keluar dari mulut mereka. Jika demikian, apa pula perlunya kedatangan beliau as. Dengan kedatangan beliau as ini membuktikan bahwa mereka tidak lagi memiliki kebenaran. Jadi yang dapat mereka lakukan adalah menghina beliau as dan tidak mungkin bagi kita untuk menghalangi mereka untuk tidak menggunakan satu-satunya senjata yang mereka miliki tersebut. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa ketika orang-orang Arab sendiri mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengucapkan huruf ‘qaf’ dan ‘dhadh’ seperti mereka, lalu mengapa pula mereka begitu kritis ketika seseorang salah mengucapkannya?

Hadhrat Muslih Mau’ud ra menjelaskan bahwa kisah ini adalah tentang huruf ‘qaf’ dan ‘dhadh’. Beliau menjelaskan hal ini supaya orang-orang tidak menulis seraya mengatakan kisah yang mereka ketahui adalah tentang huruf ‘dhat’ dan hal ini menyebabkan banyaknya surat yang beliau terima. Hudhur ra bersabda bahwa tim yang berurusan dengan surat menyurat tersebut merasa khawatir akan tumpukan surat yang diterima!

Berkenaan dengan kesabaran, Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa para penentang menulis surat yang sangat kotor kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan membaca surat-surat tersebut dapat membuat darahnya mendidih. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as begitu sabar dalam memberikan jawaban. Hadhrat Muslih Mau’ud ra berkata bahwa surat-surat yang seperti ini sering datang, mungkin 2 atau 3 kali seminggu sementara beliau ra sendiri menerima surat-surat seperti ini 4 atau 5 kali setahun. Surat-surat ini sangat bodoh dan penuh caci makian. Suatu kali Hadhrat Muslih Mau’ud ra tidak sengaja membaca beberapa surat tersebut yang membuat darah beliau mendidih. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as melihat beliau ra sedang membaca surat-surat tersebut, beliau membawa tas yang berisikan surat-surat tersebut dan berkata bahwa beliau ra hendaknya tidak membaca surat-surat ini. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menyimpan surat-surat tersebut di dalam tas-tas dan kemudian disimpan di dalam peti kayu. Beliau as sering membakar surat-surat tersebut namun surat-surat semacam itu terus saja berdatangan. Inilah tas-tas yang Hadhrat Masih Mau’ud as tulis bahwa aku mempunyai tas-tas yang penuh caci makian para penentang. Surat-surat ini tidak hanya berisi caci makian saja namun juga tuduhan palsu dan fitnahan. Bodoh sekali jika harus marah karena hal-hal ini. Surat-surat tersebut malah menjadi pupuk untuk menegakan ketakwaan kita. Tidak perlu merasa marah dan terbawa emosi. Pada akhirnya, sebuah bejana hanya akan menumpahkan apa yang ada di dalamnya dan hanya kebodohanlah yang akan menjadi bukti dari hati para penentang. Hendaklah kita menjaga dan mengintrospeksi akhlak dan tingkah laku kita.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa tercantum di dalam surat kabar Badr dan beliau juga ingat dengan baik bahwa pada salah satu kunjungan beliau ke Delhi, Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke tempat-tempat ibadah para orang suci untuk berdoa. Orang-orang suci tersebut adalah Khawaja Baqi Billa Sahib, Hazrat Qutb Sahib, Khawaja Nizam ud Din Sahib Aulia, Shah Wali Ullah Sahib, Hazrat Khawaja Mir Dard Sahib dan Naseer ud Din Sahib Chiragh. Meskipun tidak tercatat di dalam diari beliau as pada saat itu, namun apa yang Hadhrat Muslih Mau’ud ra ingat dengan baik adalah bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as memanjatkan doa: “Hati orang-orang Delhi ini telah mati. Kami ingin pergi ke kuburan para orang suci yang telah wafat untuk memanjatkan doa bagi mereka, bagi keturunan mereka dan juga bagi orang-orang Delhi sehingga semangat para orang suci ini akan dibangkitkan untuk memanjatkan doa agar mereka memperoleh petunjuk.” Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa kisah yang tercatat di dalam diari beliau as hanyalah sebatas ini yakni di tempat-tempat ibadah para orang suci, Hadhrat Masih Mau’ud as memanjatkan doa bagi mereka, bagi diri beliau dan untuk beberapa perkara lainnya.

Dalam buku beliau yang berjudul Tadkiratush Shahadatain, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ketika Aku mulai menulis buku ini, aku berniat untuk segera menyelesaikannya dan membawanya ke Gurdaspur. Namun yang terjadi adalah aku menderita rasa sakit di Ginjal dan aku memahami bahwa rencanaku tidak akan terpenuhi karena waktu sangat singkat. Allah Ta’ala kemudian menarik perhatianku untuk berdoa. Saat itu adalah pukul 3 dini hari dan aku berkata kepada istriku bahwa aku akan berdoa kepada Allah Ta’ala dan ia pun mengaminkannya. Dalam situasi demikian dan seraya mengingat Sahibzada Abdul Latif, aku mulai memohon kepada Allah Ta’ala serta berdoa bahwa aku telah berkehendak untuk menulis buku ini untuk mengenangnya. Aku sungguh telah sembuh sebelum pukul 6 pagi dan aku selesai menulis setengah buku pada hari tersebut.”  Beliau menulis kisah ini dengan judul: Suatu mukjizat yang baru dari Almarhum Maulwi Abdul Latif Sahib. Terbukti bahwa Hadhrat Rasulullah saw sendiri seringkali berdoa dengan corak seperti ini.

Adalah dilarang untuk menganggap bahwa seseorang yang telah meninggal dapat memberikan faedah bagi kita. Hal ini adalah salah dan haram di dalam Islam. Akan tetapi, pergi ke tempat-tempat demikian seraya memanjatkan doa senantiasa membangkitkan kelembutan dan kerendahan hati atau berdoa dengan mengingat janji-janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Rasulullah saw dan dengan memohon agar semua janji tersebut terpenuhi di dalam diri kita merupakan sebuah realitas kerohanian dan wajib bagi setiap mukmin mencari keberkatan dari tempat-tempat semacam itu. Sebagai contoh, kita dapat berdoa di makam Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ini merupakan seorang wujud yang bersama dengannya terdapat janji Engkau untuk menghidupkan kembali agama Islam. Adalah janji Engkau untuk membawa nama beliau as ke ujung dunia. Buatlah diri kita menjadi bagian dari janji tersebut dan penuhilah tanggung jawab kita untuk menyempurnakan misi beliau as.

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk merasakan gambaran sejati agama Islam bagi diri kita dan juga untuk menunjukannya kepada dunia!

Akan dilaksanakan shalat jenazah ghaib bagi Maulwi Muhammad Yusuf Sahib, seorang Darwaisy, Qadian yang meninggal dunia pada tanggal 22 Juli pada umut 94 tahun. Hudhur membacakan penghargaan singkat bagi beliau.

Penerjemah: Hafizurrahman

Donor Darah Ahmadiyah, Bentuk Kepedulian Sesama & Antusiasme Pendonor Muda

Jumat 31 Juli 2015, Jemaat Ahmadiyah Singaparna telah mengadakan kegiatan donor darah massal.



Kegiatan ini bertempat di Mesjid Baiturrahim Singaparna, dan juga berlangsung serentak di dua tempat lainnya yaitu di Wanasigra serta Citeguh yang bertempat di Mesjid Baitussubhan.



Sebanyak 33 labu darah terambil dalam kegiatan donor darah ini. Kegiatan donor darah di Singaparna ini diikuti pula oleh anggota Jemaat dari Tasikmalaya, Singaparna, Kawalu dan Sukapura. Kegiatan ini berlangsung setelah selesai ibadah shalat Jumat di Mesjid Baiturrahim.

Peserta donor darah sangat antusias mengikuti kegiatan donor darah ini. Mulai dari bapak dari kaum Anshar dan Lajnah yang masih diperbolehkan berdonor sampai Khudam serta Lajnah remaja yang berstatus pelajar SMA.



Mereka yang masih pelajar sangat senang dengan kegiatan donor darah ini karena selain menjadi donor darah pertama mereka kegiatan ini pun menjadi tempat bagi mereka berbagi untuk kemanusiaan. Sebanyak 44 orang hadir dalam kegiatan donor darah ini dan darah yang terambil sebanyak 33 orang.

Menurut Asep salah seorang anggota Anshar Jemaat Singaparna yang diterima donornya, ia mengatakan “Donor darah ini sudah seharusnya menjadi kegiatan rutin, karena selain kita bisa berbagi untuk kemanusiaan hal ini bagus juga untuk tubuh kita. Saya sudah puluhan kali donor darah dan alhamdulillah selalu diterima”.

Namun adapula yang donornya tidak dapat diterima oleh petugas dikarenakan berbagai hal, termasuk yang dialami oleh Muhamad Yahya. Beliau tidak bisa berdonor karena menurut petugas tekanan darahnya terlalu tinggi.


“Ya sedih juga hari ini tidak bisa berdonor, tapi ya dilain kesempatan Insya Allah bisa”, ujarnya.
 Danny Kurnaman - Singaparna