Ahmadiyya Priangan Timur

.

Sunday, 19 July 2015

Khutbah Jumat: MUTIARA HIKMAH Mu’jizat dan Tanda-Tanda Kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
tanggal 17 April 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ‘anhu pernah menjelaskan perihal pentingnya doa dalam kaitannya dengan bagaimana terjadinya pencapaian besar diraih dengan berdoa.

Dalam hubungannya dengan hal itu, Hudhur ra membicarakan perihal mesmerisme (hipnotisme) dengan bersabda, “Orang-orang yang yang ahli dalam menghipnotis pun bisa membawa perubahan pada orang lain melalui ilmu dan ketrampilan mereka, namun perubahan tersebut bersifat sementara dan perorangan serta tidak membawa manfaat yang revolusioner. Akan tetapi, ketika doa dilakukan dengan semua persyaratan yang sesuai dan dengan penuh adab, itu bisa merubah nasib bangsa dan memperbaiki mereka.”

Berkaitan dengan hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan sebuah kisah dari kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai Tuan Sufi Ahmad Jan. Tuan Sufi menghabiskan waktunya bertahun-tahun mengkhidmati seorang Pir dan melakukan upaya dan latihan spiritual. Kemudian, ia mengabdikan dirinya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as yang dikenalnya sebelum pendakwaan beliau sebagai al-Masih.

Sebelum mendakwakan diri sebagai al-Masih, Hadhat Masih Mau’ud as telah menulis buku “Barahin Ahmadiyah” yang meraih popularitas besar dikalangan orang saleh dan ulama Islam. Ketika itu Tuan Sufi, salah satu dari orang-orang suci yang begitu takut kepada Tuhan di masa itu, melihat poster Hadhrat Masih Mau’ud as dan mulai melakukan surat-menyurat dengan beliau. Tuan Sufi adalah seorang mukhlis yang juga memperoleh keahlian dalam menghipnotis. Ia meminta Hadhrat Masih Mau’ud as mengabarinya jika nanti berkunjung ke Ludhiana supaya mereka dapat bertemu. 

Ia mengundang makan Hadhrat Masih Mau’ud as di kediamannya dan saat mereka berjalan pulang setelah makan, Tuan Sufi berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ia sudah begitu lama mengkhidmati seorang Pir yang telah memberikannya begitu banyak kekuatan dalam berkonsentrasi, sehingga apabila ia fokus dan berkonsentrasi orang yang berjalan di belakang mereka bisa jatuh. Mendengar itu, Hadhrat Masih Mau’ud as berhenti dan perlahan mencungkil tanah dengan ujung tongkatnya. Beliau mencungkil tanah dengan ujung tongkatnya bila mana beliau merasakan gairat akan sesuatu hal. Beliau bertanya, “Tuan Sufi jika orang itu jatuh apa untungnya bagi anda atau dia?”
Tuan Sufi memiliki pandangan jauh ke depan. Ia merenungkan ucapan tersebut secara mendalam dan berkata bahwa ia menyesal dan akan meninggalkan praktek seperti itu. Ia mengatakan bahwa kini ia menyadari jika hal tersebut merupakan perbuatan duniawi dan tidak ada hubungannya dengan kerohanian. Ia telah mengumumkan bahwa tidak boleh seorangpun dari pengikutnya menganggap praktek tersebut sebagai bagian dari keyakinan dalam Islam melainkan menganggapnya praktek duniawi.

Pandangan jauh Tn Sufi terbukti dari fakta bahwa ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menulis ‘Barahin Ahmadiyah’ Tn Sufi menyadari bahwa beliau as akan menjadi al-Masih yang dijanjikan kendati Tuhan masih belum mewahyukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as supaya membuat sebuah pendakwaan. Tuan Sufi menulis bait syair Urdu kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dalam sebuah surat: ‘Kami, yang sedang sakit ini hanya melihat anda semata, Karena Tuhan, Anda adalah al-Masih!’ Tuhan telah mengabarkannya mengenai Hadhrat Masih Mau’ud as oleh karena itu sebelum wafatnya Tn Sufi menasehatkan kepada anak-anaknya untuk  segera menerima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad begitu beliau as membuat suatu pendakwaan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa tekad dan konsentrasi seorang penghipnotis tidak seberapa dibandingkan dengan tekad dan konsentrasi dari keimanan dan itupun tidak bisa bertahan lama. Tekad dan konsentrasi yang diberikan Tuhan kepada setiap individu itu berbeda. Satu kali Hadhrat Masih Mau’ud as sedang duduk di Masjid Mubarak berbicara dalam sebuah pertemuan dan saat itu juga seorang akuntan Hindu yang datang dari Lahore datang kepada beliau as. Akuntan Hindu itu adalah seorang ahli hipnotis yang datang dengan niat menghipnotis Hadhrat Masih Mau’ud as, dalam pertemuan tersebut ia ingin, naudzubillah, membuat beliau as berjoget.

Orang Hindu itu sendiri yang menceritakan kisah ini kepada seorang Ahmadi. Kejadiannya seperti ini bahwa saat itu Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan salah satu buku beliau kepada seorang Ahmadi dari Lahore dengan pesan agar memberikan buku itu kepada seorang Hindu tertentu. Ketika sang Ahmadi telah memberikannya, ia bertanya kepada orang Hindu itu, “Mengapa Hadhrat Tn. Mirza mengirimkan buku ini kepada Anda. Apa hubungan antara Anda dengan beliau?” Orang Hindu itu mengatakan, “Saya terkenal sebagai seorang ahli Hipnotis. Jika mau, saya dapat menghipnotis orang asing yang tidak saling mengenal dengan saya yang sedang berjalan menjadi orang yang berlari di belakang kereta kuda yang sedang saya tumpangi.” 

Ia (orang Hindu ahli hipnotis itu) mengatakan bahwa ia mendengar banyak hal tentang Hadhrat Masih Mau’ud as dari buku-buku beliau yang menentang ajaran Hindu sehingga ia memutuskan untuk mempermalukan beliau di depan para pengikut beliau. Dengan niatan itu ia pergi ke Qadian dan duduk di depan pintu Masjid tempat Hadhrat Masih Mau’ud as mengadakan pertemuan. Ia berupaya keras berkonsentrasi (memusatkan perhatian dan pikiran) untuk menghipnotis beliau as namun nampak tidak ada pengaruhnya terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, dan ia berpikir ia harus memiliki kesungguhan tekad yang luar biasa, maka ia pun memutuskan lebih berkonsentrasi menghipnotis beliau as. Tetap, tidak terjadi apa-apa. 

Dengan pantang menyerah, ia mencoba mengerahkan segala kemampuannya untuk menghipnotis Hadhrat Masih Mau’ud as. Saat itulah ia melihat seekor singa siap menerkam dirinya. Dengan ketakutan, ia mengambil sepatunya dan lari. Hadhrat Masih Mau’ud as mengirim seseorang untuk menyusulnya. Orang itu mengejar dan menangkapnya. Si Hindu itu berkata, “Mohon lepaskan saya! Saya dalam keadaan tidak sadar, nanti saya akan menulis surat ke Tn. Mirza menceritakan semua yang terjadi.” Ia pun dilepaskan oleh salah seorang murid Hadhrat Masih Mau’ud as yang menangkapnya. Memang setelah itu ia menulis surat menceritakan semuanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan diantaranya menuliskan, “Saya telah berani berbuat kurang ajar kepada Anda dikarenakan ketidaktahuan saya atas kedudukan tinggi dan agung Anda. Mohon, maafkanlah saya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa Miyan Abdul ‘Aziz Mughal, penduduk Lahore (keturunan beliau sekarang banyak tinggal di Inggris) meriwayatkan kepada kami, “Saya bertanya kepadanya (orang Hindu ahli hipnotis itu), ‘Mengapa Anda tidak beranggapan bahwa Tn. Mirza itu ahli seni hipnotis, tetapi Anda beranggapan beliau lebih ahli dan kemampuannya melebihi Anda sehingga mampu menangkal hipnotis Anda?’ Orang Hindu itu menjawab, ‘Hipnotis itu memerlukan konsentrasi sempurna, ketenangan sempurna dan keheningan sempurna bagi seseorang yang akan menghipnotis, sementara Tn. Mirza sedang berbicara dalam pertemuan saat saya mencoba untuk menghipnotisnya, jadi قوته الإرادية ‘Quwwat al-Iradiyah’ (kekuatan tekad) beliau itu berasal dari Langit.’”

Kekuatan tekad yang dipelajari seseorang ibarat mainan anak-anak bila dibandingkan dengan kekuatan tekad anugerah Tuhan sebagaimana yang dibuktikan dalam kisah Hadhrat Musa as dengan tukang sihir dan ularnya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa dalam rangka kemajuan sebuah komunitas (umat, bangsa, Jemaat) adalah teramat penting untuk menyerap semua kebenaran baik terkait masalah apa saja maupun akidah (kepercayaan). Sebagai contoh, tidak hanya sekedar telah menerima keyakinan bahwa Yesus as (Nabi Isa) sudah wafat, dan itu sudah merasa cukup. Melainkan, kita pun harus merefleksikan kewafatan Yesus tersebut dan berusaha memahami mengapa keyakinan telah wafatnya Nabi Isa as itu penting untuk diterima! 

Bagi kita, keyakinan Yesus yang hidup, merupakan indikasi (isyarat tanda) dari keunggulan Yesus atas Rasulullah saw meskipun tidak ada nabi Allah yang memiliki kemuliaan daripada Rasulullah saw. Jadi, pemikiran tersebut bertentangan dengan kepercayaan Islam dan sebuah pemikiran yang tidak bisa menghibur kita barang sejenak pun. Menerima keyakinan bahwa Rasulullah saw dikuburkan di bumi sedangkan Yesus as bersemayam di langit keempat adalah pelanggaran (serangan) besar bagi Islam.

Selain itu, ide tentang Yesus hidup di atas langit merupakan serangan pencederaan atas wahdaniyyat (Keesaan) Allah, Yang Tunggal. Seandainya dua poin tersebut tidak ada, kita tidak akan perduli apakah Yesus as itu ada di langit atau di bumi. Namun bagaimana mungkin kita bisa menerima kekurangajaran terhadap Rasulullah saw dan sesuatu yang bertentangan dengan Keesaan Tuhan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa pada umumnya para Ahmadi nampak tidak merasa bergairah ketika berdiskusi tentang kematian Yesus as. Beliau ra mengatakan bahwa beliau menyaksikan sendiri betapa besarnya gairat semangat yang dirasakan Hadhrat Masih Mau’ud as tatkala berdiskusi mengenai kewafatan Yesus. Beliau as akan bergetar dengan kekuatan emosi yang dirasakannya dan suara beliau begitu agung sewaktu mengatakan bahwa beliau akan menghapus rintangan besar di jalan yang menuju kepada kemajuan dunia. Dunia ada dalam kegelapan dan beliau membawanya kepada cahaya. Melihat gairat Hadhrat Masih Mau’ud as seperti itu terasa bahwa beliau sedang mengambil kembali takhta Rasulullah saw dari Yesus as.

Demikianlah gairah semangat beliau as atas Baginda Nabi Muhammad saw. Namun, sangat mengherankan bahwa para ulama penentang zaman sekarang menuduh beliau as mengunggulkan diri beliau sendiri diatas Nabi saw atau mengistimewakan Ahmadiyah diatas Islam. والعياذ بالله Wal ‘iyadz biLlaah.

Saat Tuhan menganugerahkan derajat kerohanian yang tinggi pada seseorang, Dia sendiri yang akan menuntun mereka dan membukakan rahasia-rahasia umat manusia. Mereka menerima bimbingan petunjuk tersembunyi yang tidak dapat kita sebut itu wahyu namun juga kita tidak dapat pula menyebutnya bagian yang terpisah dari wahyu. Kita tidak dapat menamainya wahyu karena bimbingan tersebut bukan berbentu kalimat ucapan. Begitu pula tidak dapat kita menyebutnya bukan wahyu karena diterima dalam bentuk wahyu secara perbuatan. Tatkala Allah menurunkan nur-Nya kepada qalbu orang tersebut dan mengungkapkan kebenaran berbagai perkara kepada mereka sementara itu tidak terdapat padanya tanda wahyu secara kalimat.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra melanjutkan bahwa seringkali Allah memberitahukan dengan jelas sebuah perkara yang ini dinamai kasyaf. Hadhrat Masih Mau’ud as pernah berkata bahwa ketika banyak orang menjumpai beliau, beliau nampak melihat cahaya nur yang seakan keluar dari mereka yang membuatnya sadar akan kebaikan dan kelemahan yang tersembunyi dari orang-orang tersebut. Namun beliau tidak diijinkan untuk mengungkapkan hal tersebut (kelemahan mereka) kepada orang-orang itu. Ini adalah sunnah (cara kebiasaan) Tuhan, kecuali jika orang itu sendiri yang menyebabkan kelemahannya terungkap dengan amal perbuatannya ia tidak dianggap termasuk orang-orang berdosa. Selaras dengan sunnah Ilahiyah tersebut, merupakan sunnah para Nabi Allah bahwa mereka tidak mengungkapkan kepada manusia perihal keadaan batiniah seseorang yang berupa kelemahan ruhani hingga orang itu sendiri yang menyebabkan kelemahannya tersebut terungkap dengan perbuatannya sendiri.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis perihal sebuah peristiwa yang menjelaskan kepada kita bagaimana Allah Ta’ala memperlihatkan tanda-tanda kepada orang selain kita juga sebagai pendukung atas kebenaran orang yang dikasihi-Nya. Peristiwa ini disaksikan oleh orang non Ahmadi. Hadhrat Masih Mau’ud as pergi berkunjung ke Lahore pada tahun 1904. Beliau berbicara pada sebuah konvensi (pertemuan) saat kunjungan tersebut. Ada beberapa tamu non-Ahmadi yang hadir di konvensi itu mengatakan bahwa saat Hadhrat Masih Mau’ud as berbicara, ia melihat gumpalan cahaya yang besar seakan muncul dari kepala Hadhrat Masih Mau’ud as dan menuju ke angkasa. Ia menyebutkan hal itu kepada orang yang duduk di sebelahnya yang juga melihat gumpalan cahaya tersebut. Pengalaman tersebut meninggalkan pengaruh yang besar kepada mereka dan mereka menerima Ahmadiyah pada hari itu juga.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis bahwa beliau ingat satu kali seseorang menulis kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang isinya bahwa saudara perempuannya kerasukan Jin dan Jin tersebut mengatakan agar mereka segera menerima Hahdrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as membalas tulisan tersebut dan berkata sampaikan kepada Jin tersebut mengapa mereka mengganggu seorang wanita yang malang dan miskin. Jika mereka hendak mengusik seseorang, datanglah kepada Maulwi Muhammad Hussain Batalwi atau Maulawi Tsana Ullah!!! (Penentang Jemaat)

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis, “Jin dalam jenis yang umumnya diyakini manusia itu tidak maujud (tidak ada, konsep tentang jin oleh umumnya manusia itu salah). Tentunya orang-orang yang berpendidikan dalam kebudayaan dan pendidikan English (Inggris) meyakini tidak ada itu Jin. Sebaliknya, orang yang beriman tidak menerima perkara tersebut hanya melalui daya nalarnya saja tapi melihat kebenarannya dari al-Quran. Jika al-Quran mengatakan perihal adanya Jin dalam jenis yang dipercayai oleh umumnya manusia, maka kita katakan: ‘Kita percaya dan bersaksi atas kebenaran tersebut! Akan tetapi, jika telah terbukti dari al-Quran tidak ada itu Jin seperti yang diceritakan itu, selain manusia, maka yang hal ini harus diterima!’

Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala terkadang menggunakan orang-orang yang sakit jiwa guna meneguhkan kebenaran orang-orang yang dikasihi-Nya. Hadhrat Masih Mau’ud as pernah menceritakan sebuah kejadian bahwa satu kali dalam kunjungannya ke Lahore beberapa sahabat bersikeras untuk mengunjungi seorang majzub (petapa yang sakit jiwa) yang tinggal di Syahdara, sebuah kota di luar Lahore. Sahabat yang lain tidak tertarik dengan ide tersebut karena sang majzub mengucapkan kata-kata kotor. Akan tetapi, mereka yang mendukungnya bersikeras bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as merupakan penerima wahyu Ilahi, menarik sekali untuk melihat apa yang akan diucapkan sang majzub tentang beliau. 

Hadhrat Masih Mau’ud as menolak untuk pergi namun para sahabat entah bagaimana membawa beliau bertemu orang tersebut. Saat mereka bertemu, sang Majzub sedang mengucapkan kata-kata kotor namun segera berhenti. Lalu menawarkan buah melon kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka yang mudah terpengaruh dengan hal-hal lahiriah akan yakin sekali tentang majzub tersebut meski Hadhrat Masih Mau’ud as berkata bahwa ia sakit jiwa. Terkadang orang yang sakit jiwa dapat melihat sesuatu yang orang normal tidak bisa; karena mereka terpisah dari dunia ini, mereka dapat menguraikan perkara-perkara yang tidak terlihat.

Dan sekarang ini, saya (Hudhur V atba) hendak menyajikan beberapa hal yang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah riwayatkan perihal tanda-tanda dan mu’jizat-mu’jizat Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau ra bersabda, “Semua kisah dan peristiwa pada zaman Rasulullah saw tidak tercatat sehingga hal itu membuat kita tidak dapat menemukannya sekarang ini contoh-contoh yang banyak dalam macam dan jenis ini, akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa ada sejumlah ratusan bahkan ribuan contoh seperti ini dalam kehidupan beliau saw. Namun, pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as ada kebutuhan mendesak untuk menghancurkan dan membasmi Ilhaad (Ateisme, paham tak ber-Tuhan)  sehingga terkait hal itu terdapat kebutuhan paling tinggi berupa tanda-tanda Samawi. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala memperlihatkan melalui perantaraan beliau as tanda-tanda yang sangat banyak yang memungkinkan kita dapat menaksir (mengukur) tanda-tanda yang nampak melalui perantaraan Rasulullah saw.

Saya sajikan salah satu tanda tersebut adalah bahwa seorang pelajar bernama Abdul Karim yang telah melakukan serangkaian perjalanan dari Hyderabad Dekkan (India Selatan-Tengah) untuk menerima pelajaran agama di Qadian (Punjab, India Utara). Ia digigit oleh anjing gila dan dikirim ke suatu tempat untuk pengobatan. Awalnya ia merasa lebih baik tapi kemudian merasakan sakit lagi dan akhirnya dokter mengatakan, ‘Nothing can be done for Abdul Karim.’ – ‘Tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk Abdul Karim.’ 

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as diberitahu hal tersebut, beliau merasa sedih bahwa anak muda yang menempuh perjalanan jauh untuk datang belajar agama telah jatuh sakit. Beliau as berdoa dengan penuh keharuan untuk Abdul Karim. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Ibunya dengan penuh kecintaan dan begitu banyak harapan telah mengirimnya hanya untuk belajar agama. Inilah juga yang membuat terbit di dalam hatiku kepedihan dan gejolak semangat berkobar untuk mendoakannya.’ Sebagai hasil dari doa Hadhrat Masih Mau’ud as itu, Allah Ta’ala memberikan kesembuhan bagi Abdul Karim meskipun dari penyakit yang seperti itu, orang sakit dengan penyakit yang seperti itu tidak pernah ada yang dapat sembuh sejak manusia diciptakan.” (Inilah yang dikatakan dalam Sejarah Pengobatan)

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan mengenai seorang sahabat beliau yang dokter bercerita kepada beliau bahwa ketika di masa kuliahnya di fakultas kedokteran ia mendiskusikan tentang keberadaan Tuhan dengan sesama mahasiswa saat menceritakan peristiwa sembuhnya Abdul Karim sebagai bukti Tuhan mengabulkan doa. 

Teman mahasiswanya yang tidak percaya adanya Tuhan menanggapi, “Hal itu bukanlah sesuatu yang besar; orang-orang yang digigit anjing gila dapat diselamatkan.” Kebetulan hari itu rabies merupakan topik kuliah di perguruan tinggi tersebut. Profesor mereka menekankan pada pengobatan yang tepat dengan segera dan cepat setelah digigit anjing gila dan mengatakan bahwa jika pengobatan tepat dan cepat tidak diberikan dan pasien mulai menderita kejang-kejang akibatnya akan fatal. Mahasiswa Ahmadi tersebut mencoba meminta kejelasan pendapat kepada profesor bahwa beberapa orang mengatakan rabies bisa disembuhkan setelah terserang penyakit itu. Sang profesor menjawab dengan tegas, “Tidak ada dan tidak mungkin. Siapa yang mengatakan hal itu berarti dia sangat bodoh.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Pengobatan yang efektif dan tepat tidak ada hingga waktu itu dan contoh terjadinya kesembuhan dari penyakit itu sebelumnya pun belum ada, akan tetapi Allah Ta’ala menyembuhkan Abdul Karim dengan perantaraan doa Hadhrat Masih Mau’ud as dan ia masih hidup setelah kesembuhan itu dengan karunia Allah. Jelaslah dari itu bahwa diatas hukum alam, Ada Sang Maha Bijaksana Yang Maha Kuasa dalam menyembuhkan.”

Satu kali dua orang pria dan seorang wanita dari Amerika Serikat mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as. Salah seorang pria dari mereka mempertanyakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as perihal pendakwaan beliau. selama percakapan tersebut dibahas pula perihal Yesus as. Orang itu berkata, “Yesus adalah tuhan.” Hadhrat Masih Mau’ud as menanyakan, “Apakah dalil (bukti dan argumentasi) atas ketuhanannya?” Orang tersebut menjawab, “Yesus telah memperlihatkan mukjizat-mukjizat.” Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Saya pun memperlihatkan mukjizat-mukjizat.”

Orang itu meminta Hadhrat Masih Mau’ud as menunjukan mukjizatnya. Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan kepadanya, “Keberadaan Anda adalah salah satu mukjizat saya!” Orang itu berkata, “Bagaimana bisa demikian?” Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab, “Qadian adalah desa kecil yang tidak dikenal, bahkan bahan makanan biasa pun tidak tersedia, orang-orang bahkan tidak bisa menemukan tepung seharga satu rupee di sini. Jika seseorang membutuhkannya, ia terpaksa harus membuatnya sendiri, ia menggilingnya sendiri dengan tangannya.

Pada saat itulah Tuhan mengabarkan kepadaku bahwa Dia akan meninggikan dan menyebarluaskan namaku. Dia akan memahsyurkanku hingga ke sudut-sudut dunia. Dia berfirman, ‘Orang-orang dari tempat yang jauh dari berbagai penjuru akan mengunjungimu. Dan akan tersedia sarana-sarana kenyamanan dan peristirahatan bagi mereka di sini.’ 

Dia berfirman kepadaku, يأتون من كل فجّ عميق، يأتيك من كل فجّ عميق ‘Begitu banyak orang-orang akan datang kepadamu dari dan melalui jalan yang jauh, sukar dan berat sehingga membuat jalan-jalan mendalam. Dan pertolongan akan datang kepadamu dari tempat yang jauh, serta jalan tersebut akan penuh dengan perjalanan dari orang-orang yang berjalan diatasnya.’”1 (Perhatikanlah! Betapa pada hari ini banyak jalan-jalan yang mendalam dan mengeras dikarenakan banyaknya orang yang melewatinya, dikarenakan kedatangan orang-orang. Ambil contoh jalan dari Batala ke Qadian! Tahun lalu pemerintah telah menghabiskan sejumlah dana ribuan Rupees untuk mengaspalnya [memperkerasnya].)

Hadhrat Masih Mau’ud as berkata kepada orang tersebut, “Perhatikanlah, Anda mengunjungi saya dari Amerika Serikat! Apakah ada ikatan antara saya dan Anda sebelumnya? Tak satu pun orang mengenal saya sebelum pendakwaan saya ini? Ada pun hari ini, Anda telah datang setelah menempuh perjalanan nan jauh. Ini adalah tanda kebenaran saya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Saya masih ingat dengan baik saat orang Amerika itu menyebut-nyebut dalam percakapan itu agar ada penampakan tanda kebenaran dan mu’jizat beliau as orang-orang menjadi berteka-teki (bertanya-tanya) dan dalam hati mereka berkata, ‘Apa kiranya jawaban yang diberikan Hadhrat Masih Mau’ud as kepada orang Amerika itu?’ Mereka mengira mungkin beliau akan menyampaikan ceramah yang di dalamnya dijelaskan kepadanya perihal pokok-pokok dan cara penampakan mu’jizat. Namun, ternyata Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan jawaban yang berbeda! Segera setelah orang itu menyelesaikan perkataannya dalam percakapan itu, lalu kalimatnya diterjemahkan kedalam bahasa Urdu [dari bahasa Inggris] dan disampaikan [oleh penerjemah] kepada Hadhrat Masih Mau’ud as segera saja beliau as menjawab dengan jawaban yang telah disebutkan tadi. 

Bagi sementara kalangan hadirin, hal ini adalah perkara kecil padahal sebenarnya mereka tidak berusaha mencerna dengan akal mereka [perihal penting dan agungnya perkara ini]. Orang yang tidak menggunakan akalnya akan berkata, ‘Mu’jizat apa ini?’ Akan tetapi, mereka yang mata hatinya terbuka dan mempergunakan akalnya dan pemahamannya mengetahui bahwa itu adalah mu’jizat agung dan itu sudah cukup buat siapa saja yang hendak menerima kebenaran. 

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menulis bahwa telah muncul puluhan ribu tanda untuk membenarkan beliau. Sementara saya berkata bahwa telah muncul tanda-tanda kebenaran beliau yang tidak terhitung banyaknya. Sebagian orang yang jahil (tuna ilmu) berkata, ‘Ilham-ilham Tn. Mirza tidak mencapai jumlah itu bagaimana mungkin tanda-tanda kebenarannya dapat mencapai jumlah itu (tak terhitung)?’ Namun demikian, orang-orang yang berakal mengetahui bahwa ratusan ribu tanda dapat lahir hanya dari satu wahyu yang diterima Hadhrat Masih Mau’ud as saja.” 

Ada sebuah kisah yang terkenal perihal pembuatan ‘Laddu’ (manisan atau permen berbentuk bola kecil khas India).2 Seorang paman berkata kepada para keponakannya, “Besok permen ‘Laddu’ akan saya berikan kepada kalian. Pembuatan permen ini mengikutsertakan ribuan bahkan puluhan ribu orang.” Ketika mereka duduk-duduk pada keesokan harinya untuk makan - apa yang mereka harapkan ialah akan makan permen itu – mereka meminta paman mereka datang membawa ‘Laddu’ itu. Sang paman mengeluarkan sebutir manisan berukuran normal (biasa) dari manisan ‘Laddu’ dan meletakkannya di depan mereka, sembari mengatakan, “Ini ‘Laddu’ yang paman janjikan.”

Mereka menderita kebingungan yang sangat setelah melihat itu [baru tahu ‘Laddu’ dan ukurannya], mereka pun bertanya, “Bagaimana mungkin puluhan ribu orang telah ikut serta dalam pembuatan manisan ini?” Sang paman berkata kepada mereka, “Paman akan menjelaskan kepada kalian sekarang. Ambillah pena dan kertas! Catatlah bagaimana puluhan ribu orang telah berpartisipasi dalam pembuatan ‘Laddu’. 

[Sang paman menguraikan satu per satu bahan-bahan pembuatan ‘Laddu’ seperti tepung, gula pasir, susu dan sebagainya. Sang paman lalu menjelaskan perihal bagaimana tiap-tiap bahan itu menjadi ada dan siap pakai. Contohnya gula. Ada proses dari persiapan lahan siap tanam, proses penanaman tebu, pekerja yang menanamnya, membajaknya, alat untuk membajak, besi yang disiapkan untuk dibuat pembajak dan seterusnya. Atau kayu-kayu yang dipakai dalam penggilingan. Proses penebangan pohon untuk kayu dan seterusnya hingga dibikin alat pembuatan dan seterusnya. Memakan tenaga, waktu dan jumlah orang yang banyak]

Para keponakan yang masih anak-anak itu takkan paham perkara mendalam ini hingga paman mereka yang bijaksana menguraikan kepada mereka bagaimana satu butir ‘Laddu’ berasal dari usaha manusia berjumlah ribuan.

Sang paman itu telah menggemakan kepada mereka sebuah nasihat duniawi, tetapi para ilmuwan rohaniah dan orang-orang saleh juga melakukan seperti yang hendak disebutkan. Berikut adalah peristiwa yang diriwayatkan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra perihal Mirza Mazhar Jan Janan yang memberikan dua butir ‘Laddu’ kepada seseorang dari Batala. [Orang itu sangat cepat menghabiskan dua butir ‘Laddu’. Di sisi lain, Mirza Mazhar Jan Janan ketika memakan satu ‘Laddu’ saja merenung sangat lama perihal proses pembuatan ‘Laddu’, orang-orang yang terlibat dalam pembuatan itu, karunia-karunia Allah ta’ala dan seterusnya, sehingga dari waktu Zhuhur sampai waktu Ashar, beliau hanya menghabiskan sebagian kecil saja dari satu butir ‘Laddu’ itu.]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Mengapa beliau melakukan hal ini wahai orang yang melihat? Karena beliau melihat ribuan ayat-ayat (tanda-tanda) Allah dalam sebutir ‘Laddu’. Orang-orang begitu super cepat setiap kali makan 4 atau 5 atau 10 atau 20 butir ‘Laddu’, tetapi bagi Mirza Mazhar Jan Janan memakan salah satunya saja terasa begitu berat sehingga seperti mematahkan punggungnya.3 Melalui mengingat karunia-karunia Ilahi, orang bijak dapat melihat tanda-tanda yang besar dari sesuatu hal yang kecil, tapi orang yang bodoh tidak melihat apa-apa bahkan dalam hal-hal besar raksasa. Orang bijak melihat tanda-tanda agung dari Tuhan bahkan dengan hal-hal yang kecil, sementara orang bodoh tidak melihat apapun bahkan dengan sesuatu yang skalanya besar.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah biasa mengatakan bahwa telah muncul puluhan ribu tanda untuk membenarkan beliau. Hal ini benar adanya. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa telah muncul tanda-tanda kebenaran beliau yang tidak terhitung banyaknya. Kepada siapa tanda-tanda Ilahi ini Dia perlihatkan? Ialah kepada orang-orang yang mau berpikir dan merenungkan. Bangunan depan masjid Aqsha di Qadian, setiap bangunan-bangunan di arah utara Qadian, tiap bangunan bahkan tiap partikel dari bahan bangunan adalah menjadi tanda kebenaran beliau. Seluruh orang yang kalian lihat berjalan di Qadian, baik Ahmadi maupun bukan Ahmadi adalah sebagai tanda kebenaran beliau. ... Orang-orang datang untuk menemui Hadhrat Masih Mau’ud as setelah beliau membuat pendakwaan dan mereka mendapatkan faedah dari pergaulan dengan beliau.

Sesungguhnya, kemajuan Qadian, seluruh wilayah Qadian dan semua yang ada di dalamnya merupakan tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as, Mengestimasikan jumlah tanda-tanda beliau sangatlah sederhana. Tanda-tanda beliau begitu banyak sehingga tanda-tanda tersebut di luar kemampuan manusia dan hanya Tuhan yang mampu mengukurnya.

Hahdrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Tak perlu berpikir jauh-jauh, tapi lihat masjid ini (tempat beliau berkhotbah), konstruksi, kayu serta semua pilarnya adalah termasuk ayat-ayat (tanda-tanda kebenaran), karena itu semua tidak ada sebelum pendakwaan Hudhur as, tapi semuanya didirikan setelah itu. Ada puluhan ribu ayat yang dapat Anda dapati di sini. Selain itu, banyaknya orang yang hadir pada kesempatan pertemuan tahunan (Jalsah Salanah), dan masing-masing dari mereka adalah sebagai tanda yang Allah perlihatkan setiap tahun, dan akan Dia perlihatkan hingga apa-apa yang Dia kehendaki.

Maka dari itu, perkiraan jumlah tanda-tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa itu jumlahnya puluhan ribu adalah perkiraan mudahnya saja. Tidak demikian, melainkan, jumlah banyaknya hingga mencapai tingkat tidak dapat dihitung jumlahnya oleh kemampuan manusia. Tidak dapat menghitungnya kecuali Allah saja yang bisa. Tanda-tanda ini menjadi sarana penyebab penguat iman kita. Demikian pula, tanda-tanda itu menuntun kita sesuai dengan ayat yang telah saya (Hudhur II ra) sebutkan tadi 4 kearah pembukaan mata tiap orang yang datang kemari agar dapat melihat seberapa banyak jumlah tanda-tanda ini dan ia juga dapat melihat bahwa dirinya sendiri itu termasuk sebuah tanda juga.”
Sesungguhnya, para Ahmadi yang tersebarluas hari ini di seluruh dunia, masjid-masjid Jemaat Muslim Ahmadiyah, Markas-Markas mereka, Jamiah-Jamiah mereka, sekolah-sekolah mereka, rumah sakit-rumah sakit mereka, penghargaan dan penghormatan warga dan lingkungan di sekitar para pemukim Ahmadi terhadap para Ahmadi yang tinggal di kawasan mereka yang jumlahnya jutaan di seluruh dunia juga termasuk bagian dari tanda-tanda itu, maka, bagi siapa yang mempunyai mata rohaniah dapat menyaksikannya.  

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Saya masih ingat betul bahwa suatu kali seorang Maulwi mendatangi Hadhrat Masih Mau’ud as dan berkata, ‘Saya datang untuk melihat tanda kebenaran dari Anda.’ Hadhrat Masih Mau’ud as tersenyum dan bersabda, ‘Bacalah buku saya ‘Haqiqatul Wahyi’ dan anda akan menyadari betapa banyak tanda-tanda yang Tuhan perlihatkan untuk mendukung saya. Apa manfaat yang telah anda peroleh dari tanda-tanda yang ada di buku ‘Haqiqatul Wahyi’ sehingga kini anda datang untuk melihat lebih banyak lagi tanda-tanda tersebut?’”

Perhatikan bahwa  ‘Haqiqatul Wahyi’ juga mengandung tanda-tanda yang muncul dalam hitungan beberapa menit, maka jika muncul di tangan seseorang satu ayat dalam beberapa menit, maka tak diragukan lagi kita harus membenarkannya dalam nubuat-nubuat yang akan terjadi setelah dua tahun atau dua abad, hal demikian karena kita telah melihat beberapa nubuatannya telah sempurna (terjadi) dalam beberapa menit, kita harus mengatakan bahwa nubuatan jangka panjangnya juga pasti terwujud. Tetapi dengan menunjuk nubuatan jangka panjang tanpa melihat tanda-tanda jangka pendek maka kita katakan bahwa apa yang dikatakannya adalah bertentangan dengan akal pikiran.

Telah sempurna nubuatan-nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud as di masa hidup beliau, dan terus-menerus sempurna selanjutnya, kemajuan Jemaat di hari-hari ini adalah dalil yang baik atas hal itu. Semoga Allah memberikan bashirah (penglihatan dan pengetahuan yang mendalam) kepada mereka yang belum melihat sempurnanya tanda-tanda Hadhrat Masih Mau’ud as dan mutu penyempurnaannya sehingga mereka dapat menyaksikannya; semoga Dia juga menguatkan keimanan kita di setiap saat dan tempat. آمين.

Penerjemah: Yusuf Awwab & Dildaar Ahmad

Khutbah Jumat: HAKIKAT DARI BERIBADAH KEPADA ALLAH

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
tanggal 10 April 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)
 ‘Sesungguhnya, telah berhasil orang-orang yang beriman, 
orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.’ (Al Mu’minun 23: 2-3)
 
Mula-mula ayat tersebut memberikan khabar gembira mengenai keberhasilan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, morang-orang yang beriman jenis apa yang dimaksud? Ayat berikutnya memberikan banyak persyaratan dan ketentuan bagi orang yang beriman. Pertama, persyaratan atau kualitas yang harus dimiliki orang mukmin adalah bahwa mereka harus khusyu dalam Shalatnya. Khusyu dalam konteks ini umumnya mengandung arti menangis saat shalat, namun, ternyata ada banyak makna dan pengertian lainnya dan jika semua itu tidak terpenuhi, maka kondisi sejati sebagai orang yang beriman tidak akan tercapai. Khusyu artinya menunjukkan dengan penuh kerendahan hati, merendahkan diri dengan sebenar-benarnya, menafikan (melenyapkan) diri sendiri, bersimpuh, berusaha membuat diri sendiri hina, menundukan pandangan dan berbicara dengan lemah lembut. Dengan demikian satu kata mencakup sebuah kerangka yang amat luas yang diperuntukan bagi orang beriman. Seseorang yang kembali kepada Tuhan dengan kekhusyuan (kerendahan hati) yang tinggi serta menerapkan kualitas yang lainnya, maka dijanjikan akan memperoleh qurub ilahi (kedekatan dengan Tuhan). Hal ini pada gilirannya akan menarik perhatiannya bahwa selain memenuhi hak-hak Tuhan, ia juga harus memenuhi hak-hak ciptaan Tuhan. Hal ini akan membimbingnya untuk berusaha menjadi perwujudan dari apa yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) ungkapkan dalam bait syair Urdu beliau ini:

“Bayangkanlah dirimu lebih rendah daripada orang lain”
“Bisa jadi itu akan mengantarkanmu ke kediaman Tuhan yang Esa”

Disamping khusyu dalam Shalat, orang tersebut pun harus berusaha mengamalkan kekhusyuan (kerendahan hati) tersebut dalam kehidupannya sehari-hari serta berusaha menghindarkan diri dari semua keburukan sosial. Serta Ia harus berusaha bertutur kata lembut dan menghindar dari segala bentuk konfrontasi dan argumentasi (perdebatan). Tentunya banyak sekali penyakit yang menghalangi orang beriman jauh dari jalan yang benar. Hanya orang-orang yang memelihara dan menjunjung tinggi hal tersebutlah yang akan meraih kesuksesan. Kata bahasa Arab “فلاح” yang digunakan pada ayat diatas memiliki konotasi yang sangat luas. Kata itu berarti situasi yang tentram, kemakmuran, kesejahteraan, terkabulnya segala keinginan, keamanan, ketentraman, kebahagiaan serta karunia hidup yang terus menerus. Ini adalah faedah yang beraneka ragam yang dinikmati oleh mereka yang berbuat baik yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Langkah pertama dan penting untuk meraih karunia tersebut adalah khusyu-lah dalam Shalat. Tentu saja orang-orang dunia pun khusyu dalam shalatnya, namun tidak hanya sekedar menangis. Orang-orang duniawi akan menangis dan merendahkan diri mereka ketika hal itu mereka anggap layak untuk dikerjakan. Mereka melakukannya karena mereka memiliki kepentingan pribadi atau mereka melakukan hal tersebut sekedar untuk berpura-pura atau karena emosi sesaat saja. Akan tetapi Orang-orang yang khusyu untuk mencari ridho Tuhan sangat jauh dari hal-hal semacam itu.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai orang-orang semacam itu: ‘Saya secara pribadi melihat banyak sekali pertapa dan orang-orang lainnya yang seperti itu yang langsung mencucurkan air mata dengan derasnya saat mendengarkan syair yang menyayat hati, atau melihat sebuah pemandangan yang menyakitkan atau mendengarkan kisah-kisah yang memilukan, seperti halnya saat hujan deras mulai turun di malam hari, tidak mungkin seseorang yang sedang merapihkan tempat tidurnya dan membawanya ke dalam ruangan tidak akan basah kuyup terguyur hujan. [Hal ini merujuk kepada orang-orang yang berada di sub-benua yang biasa tidur diluar selama bulan-bulan yang ada di musim panas] Namun saya bersaksi atas ucapan saya ini bahwa kebanyakan orang-orang yang seperti itu lebih licik dan jahat daripada orang-orang dunia. Saya menemukan beberapa dari mereka berwatak jahat, tidak jujur dan tak bermoral dalam segala aspeknya. Melihat mereka menangis dan menunjukan kerendahan hati membuat saya jijik untuk menangis ataupun terharu dalam setiap pertemuan.’

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) menceritakan bahwa Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) pernah menyampakan sebuah kisah tentang seseorang yang sudah tua. Orang tua tersebut melaksanakan Shalat di masjid selama bertahun-tahun lamanya dengan pikiran bahwa orang-orang akan memujinya. Namun karena beberapa amalan baiknya di masa lalu, Tuhan menyusupkan ke dalam hati setiap orang supaya mereka menyebutnya orang munafik. Suatu hari ia sadar bahwa ia telah menghabiskan masa hidupnya dengan beribadah di Masjid namun tidak pernah ada seorang pun yang memanggilnya orang saleh, ia pun berpikir jika shalatnya itu dikerjakan semata-mata demi untuk Tuhan, Tuhan pasti akan ridho dengannya. Pikiran tersebut menusuknya begitu kuat sehingga ia pergi ke hutan belantara dan mengerjakan Shalat dengan begitu khusyu dan menyayat hati, serta memohon bahwa kini ia shalat semata-mata hanya untuk Tuhan. Setelah itu Tuhan menyusupkan ke dalam hati orang-orang bahwa orang tua ini adalah orang saleh yang terhina dan tersia-sia. Orang tua tersebut amat bersyukur kepada Tuhan. Shalat yang dikerjakannya dengan ketulusan demi untuk Tuhan semata telah mengubah hati orang-orang itu dan mereka mulai memuliakannya. Kisah ini pun menunjukan bahwa dengan nilai dari beberapa kebaikan yang mungkin dilakukan seseorang pada masa lampau, Tuhan akan dapat mempermudah dalam mereformasi dirinya. Oleh karena itu orang tua tersebut termasuk diantara orang-orang yang memperoleh “فلاح” (keberhasilan). Amal baik seseorang di masa lampau meski dikemudian hari melakukan dosa dapat menyelamatkannya dari akhir yang buruk dan menjadikannya dari antara orang-orang yang dianugerahi “فلاح”. Hal tersebut tergantung sifat Rahmaniyat Ilahiah. Namun, sebenarnya “فلاح” diberikan kepada mereka yang berusaha meraih kebaikan dari sifar Rahimiyat Ilahi dan inilah syarat pertama dari hal tersebut yaitu melaksanakan shalat dengan penuh kerendahan hati.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menulis: Tahap awal dari kondisi keruhanian orang yang beriman ialah kerendahan hati, meratap (mencucurkan air mata) dan kelemah lembutan (melas diri) dimana orang beriman tersebut alami saat Shalat dan berzikir kepada Allah. Artinya bahwa hal tersebut untuk menghasilkan di dalam dirinya gairat berdoa, kepedihan, kerendahan hati, kekhusyuan yang tinggi, kesabaran, dan hasrat yang membara. Juga untuk menarik perasaan takut saat kembali kepada Tuhan sebagaimana yang ayat ini nyatakan: ‘Sesungguhnya, telah berhasil orang-orang yang beriman, orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.’ (Al Mu’minun 23: 2-3). yaitu bahwa, keberhasilan disini adalah keberhasilan bagi orang-orang beriman yang khusyu dalam shalat mereka dan berzikir kepada Allah serta yang sibuk mengingat Tuhan mereka dengan kepedian, kelemah lembutan, hasrat dan gairat yang tulus.’ 

Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menulis: ‘Orang-orang yang merenungkan al-Quran akan memahami bahwa keadaan khusyu dalam Shalat seperti cairan nutfah bagi keadaan ruhani kita. Dan sama seperti cairan nutfah, namun dalam arti keruhanian, ia menyembunyikan segala kekuatan, kualitas dan kemampuan untuk membentuk manusia yang sempurna. Seperti cairan nutfah yang berada dalam keadaan berbahaya hingga ia mencapai rahim, begitupun keadaan ruhani yang belum sempurna ini, dengan kata lain bahwa kerendahan hati (khusyu), tidak berada dalam bahaya selama ia berhubungan dengan Tuhan yang Maha Rahim. Haruslah diingat bahwa ketika karunia Allah Ta’ala dianugerahkan tanpa ada usaha sama sekali, hal itu didasarkan atas sifat Rahmaniyat Ilahi. Misalnya, Tuhan menciptakan langit dan bumi bagi manusia atau DIa menciptakan manusia, semua ini terwujud atas dasar karuna dari sifat Rahmaniyat-Nya. Namun, ketika sebuah karunia dianugerahkan karena beberapa amalan, ibadah, dan usaha keras dalam melatih kerohanian, itu adalah karunia dari sifat Rahimiyat-Nya. Inilah cara yang senantiasa dilakukan Allah bagi manusia. Sepanjang manusia menerapkan keadaan rendah hati (khusyu) dalam shalat serta saat berzikir kepada Allah, maka ia telah mempersiapkan dirinya untuk karunia Rahimiyat Allah Ta’la. Perbedaan antara cairan nutfah dan tahap awal kondisi kerohanian adalah bahwa jika cairan nutfah tergantung pada tarikan rahim (kandungan), maka kondisi kerohanian tergantung pada tarikan Rahimiyat Tuhan. Sama seperti itu mungkin bagi cairan nutfah akan terbuang sebelum ditarik ke rahim (kandungan), begitu juga mungkin bagi tahap awal keadaan rohani orang beriman, yaitu kerendahan hati, akan musnah sebelum terhubung kepada Rahimiyat Tuhan.

Banyak orang-orang yang mencucurkan air mata dan menangis dalam shalat saat mereka berada dalam tahap awal kerohaniaan. Mereka memperlihatkan perangai dan gairat yang luar biasa dalam kecintaan mereka kepada Tuhan, tapi karena mereka tidak menempa sebuah hubungan dengan Dia, pemilik Sumber Karunia, yaitu Rahimiyat Tuhan, dan mereka tidak ditarik kearah-Nya disebabkan perwujudan-Nya yang special, maka segala kepedihan dan kondisi kekhusyuaannya tidak berdasar (beralasan) dan kadang mereka begitu banyak tergelincir dan tersandung sehingga mereka mundur melewati tahap awal kerohanian mereka. Ini adalah sebuah hal yang menakjubkan, ada kesamaan yang menarik bahwa seperti halnya cairan nutfah yang merupakan tahap awal bagi terbentuknya kondisi fisik, jika tidak ditarik ke rahim maka ia tidak ada artinya sama sekali, demikian pula kerendahan hati (khusyu) yang merupakan tahap awal dari kondisi kerohanian jika tidak dibantu Rahimiyat Tuhan serta ditarik kearah-Nya, kerendahan hati tidak akan ada artinya sama sekali.

Inilah sebabnya mengapa kalian akan mendapati ribuan orang yang setelah memperoleh kenikmatan di separuh kehidupan mereka saat berzikir dan shalat, mereka mengalami keadaan seperti tak sadarkan diri dan menangis, namun kemudian beberapa keburukan berhasil menguasainya sehingga setelah mereka ditarik kepada hal-hal yang mementingkan diri sendiri mereka kehilangan semua kerohaniannya disebabkan nafsu mereka terhadap hasrat-hasrat duniawi. Inilah penyebab dari keprihatinan yang besar bahwa kondisi kerendahan hati (khusyu) sering hilang sebelum terhubung dengan Rahimiyat dan musnah sebelum daya tarik Rahimiyat Tuhan dapat bekerja atasnya.’ (Baraheen e Ahmadiyya, Part V. pp. 188 – 190)

Dengan demikian, tidak seorang pun dapat menegaskan bahwa ibadah mereka kepada Tuhan telah mencapai sebuah tahapan kerendahan hati (kekhusyuan) yang tinggi. Kerendahan hati meliputi semua elemen sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Sebenarnya, kita perlu membuat upaya secara dawam untuk menarik karunia Rahimiyat Allah Ta’ala. Sama seperti seseorang yang tidak tahu kapan pembuahan akan terjadi dan janin akan terbentuk serta kapan saatnya keguguran itu terjadi, begitu juga sekali pun upaya seseorang berbuah kekhusyuan (kerendahan hati), kadang ia menjadi takabur. Seperti orang-orang yang pertama kali menerima Nabi Allah dan kemudian berpaling; Mereka terhubung dengan Tuhan sepanjang bersentuhan dengan seseorang yang ditugaskan oleh-Nya. Jika tidak, mereka akan jatuh dan hilang kedalam lubang kehinaan. Kita harus terus menerus berusaha demi karunia Rahimiyat Allah Ta’ala. Amat sedikit upaya yang dilakukan dalam hal ini, pengabulan doa yang menakjubkan atau beberapa mimpi yang benar tidak harus membuat kita merasa bangga. Meskipun telah mencapai qurub ilahi dan meraih ‘فلاح’ (keberhasilan), walaupun telah menjadi begitu khusyu, sungguhpun telah menjauhkan segala hal yang sia-sia, kendatipun telah berkorban di jalan Allah, meskipun telah menjaga kesucian (Farji) mereka, sekalipun telah memenuhi perjanjian mereka, sungguhpun telah memenuhi kewajiban Shalat dan ibadah lainnya kepada Tuhan, orang-orang yang meraih ‘فلاح’ (keberhasilan) memohon kepada Tuhan agar membungkus mereka dengan selimut rahmat dan karunia-Nya, karena mereka tahu bahwa tanpanya mereka tidak ada artinya. Karena karunia Tuhan sematalah, maka segala upaya yang terus menerus kita lakukan guna menarik karunia Rahimiyat Allah Ta’ala diterima dan dikabulkan.

Seorang mukmin sejati harus senantiasa berpandangan bahwa tidak diragukan lagi Tuhan telah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman telah meraih ‘فلاح’ (keberhasilan), akan tetapi untuk membuat ‘فلاح’ (keberhasilan) ini bagian dari kehidupan kita yang terus berkelanjutan, kita tidak boleh mengaitkan setiap pencapaian yang diraih merupakan upaya kita sendiri. Karena setiap pencapaian yang diraih harus dianggap bahwa hal itu bukan kita yang melakukannya, namun terjadi dengan karunia Tuhan. Jika tidak, mungkin saja amalan baik kita akan terbuang seperti cairan nutfah yang berakhir dengan keguguran. Kita perlu fokus pada akhir kita sehingga karunia Rahimiyat Allah Ta’ala dapat menerima upaya kita dan proses tersebut melahirkan sebuah wujud yang lengkap segala-galanya. Dan kita mungkin termasuk diantara orang-orang yang meningkat dalam kerendahan hati (khusyu) saat cairan nutfah tersebut berkembang secara kerohanian.

Sesungguhnya, Rasulullah (saw) yang standar dan level ibadah kepada Tuhannya berada diluar jangkauan kita bahkan mengatakan jika beliau nanti dianugerahi surga, itu semata-mata karena karunia Tuhan. Bagaimana bisa amalan orang-orang yang lainnya kemudian mengantarkan mereka ke surga! Kendati sudah diberikan jaminan oleh Tuhan, Rasulullah (saw) yang datang untuk mereformasi seluruh Dunia, begitu meningkat kekhusyuan dan ketaatan beliau saat shalat di malam hari dimana beliau berdiri dalam jangka waktu yang lama sehingga kaki beliau bengkak-bengkak. Hal ini penting bagi setiap orang mukmin bahwa keadaan qalbu sebelum dan sesudah melaksanakan Shalat harus nampak berbeda. Apabila ada tanda-tanda keegoisan atau yang seperti itu sebelum Shalat, maka setelah selesai Shalat qalbu harus bersih dari perasaan yang negatif. Di setiap akhir ibadah kita kepada Tuhan, kita harus menaklukan kearogansian (kesombongan) apapun dan menerapan kerendahan hati (kekhusyuan). Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sopan kepada setiap orang, kita harus menerapkan kerendahan hati demi mencari ridho Tuhan serta harus beribadah kepada Tuhan secara dawam demi memalingkan kita kepada Tuhan sehingga kita bisa menjadi penerima berkat yang lezat dari karunia Rahimiyat-Nya. Setiap hari kita harus mengidentifikasi kelemahan kita dan meningkatkan Rahmat Tuhan kepada kita. Semoga Allah Ta’ala selalu menjadikan kita orang-orang yang senantiasa beristigfar dan semoga setiap amal baik kita, apabila itu baik dalam pandangan Tuhan, menjadi sumber meraih keridhoan-Nya. Semoga kita semua termasuk dari antara orang-orang yang memperoleh ‘فلاح’ di mata Tuhan!

Khutbah Jumat: KEBERKATAN ALLAH YANG TAK TERHINGGA

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
tanggal 3 April 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Masih Mau’ud (as) suatu kali mengatakan: Allah Ta’ala memberikan penekanan yang besar dalam menciptakan nur kebenaran guna mendukung misi kita namun mata orang-orang ini tidak juga terbuka. Beliau bersabda satu kali seorang penentang menulis kepada saya dengan mengatakan bahwa orang-orang tidak akan menyerah dalam melawan anda namun kami tidak mengerti satu hal, meskipun ditentang anda senantiasa sukses dalam berbagai hal yang anda kerjakan.

Tentu saja hal ini merupakan penggenapan janji Ilahi. Para musuh kita terus menerus berusaha hingga hari ini, namun dengan kasih karunia Tuhan Jemaat ini terus berkembang. Dimana pun Ahmadiyah ditekan atau ada upaya untuk melenyapkannya, Tuhan akan membangkitkan semangat pengorbanan para Ahmdi dari berbagai negara dan Dia akan membuka jalan baru bagi Jemaat di negara-negara yang lainnya.

Tentu saja tidak diragukan lagi bahwa Jemaat ini didirikan oleh tangan Tuhan Sendiri dan akan terus berkembang pesat sesuai dengan janji Tuhan. Berikut ini ada beberapa kisah tentang bagaimana qalbu condong kepada kebenaran akan pesan Jemaat.

Mubaligh kita di Nigeria menulis bahwa satu kali mereka pergi bertabligh dengan menempuh jalan berlumpur. Tiga hari kemudian mereka kembali melakukan perjalan dengan menempuh rute yang sama, pada saat itu penduduk kampung menghentikan mereka seraya mengatakan bahwa mereka telah ditunggu kedatangannya. Para penduduk membawa mereka kehadapan Imam setempat yang meminta formulir bai’at. Mubaligh kita mengatakan kepada mereka agar jangan terburu-buru menyatakan bai’at, namun Imam tersebut mengatakan bahwa Tuhan telah memberikan keyakinan kepada mereka dan mereka tidak lagi ragu dengan kebenaran Ahmadiyah. Ketika ditanyakan kenapa hal itu bisa terjadi, dijawabnya bahwa setelah para Ahmadi pergi sekelompok Wahabi datang ke desa tersebut dan mengatakan kepada para penduduk desa bahwa orang-orang Ahmadi itu kafir bagaimana bisa mereka mengijinkan orang-orang kafir tersebut untuk ceramah! Imam tersebut menjawab bahwa disini lah perbedaannya; Orang-orang Ahmadi tersebut cuma berbicara tentang al-Quran dan Hadis, sementara para Wahabi malah mengatakan orang lain itu kafir. Ulama Wahabi tersebut pulang dengan kegagalan sementara bai’at dilaksanakan di desa tersebut.

Mubaligh kita dari Tanzania (Afrika Timur) menulis bahwa sebuah Jemaat besar didirikan diluar wilayah Tabora oleh seorang Ahmadi yang bernama Sulaiman Jummah Sahib. Beliau telah menyebarkan selebaran-selebaran (pamflet) di wilaya tersebut yang diikuti dengan Tabligh dan menghasilkan orang-orang yang bai’at. Dengan rahmat Allah Ta’ala jumlah orang-orang Ahmadi meningkat di wilayah tersebut. Meski mereka adalah orang-orang yang miskin dari segi duniawi namun mereka penuh dengan keimanan. Bahkan mereka telah membangun sebuah masjid dari tanah liat.

Amir dari Mali (Afrika Barat) menulis bahwa seorang Imam dari golongan lain telah bai’at dan berkata bahwa ia mendengarkannya melalui rekaman Audio Jemaat dan stasiun radio Jemaat dalam waktu yang lama. Ia mengatakan bahwa ayahnya juga seorang Imam yang telah mengubah banyak desa yang tak ber-Tuhan kedalam Islam. Ayahnya berkata kepadanya dalam mimpi bahwa Ahmadiyah adalah jalan kebenaran. Melalui Imam tersebut ribuan lebih orang menyatakan bai’at. Mereka pergi ke desa-desa lainnya untuk bertabligh. Orang-orang berdatangan dan beberapa dari mereka pulang ke rumah dan kembali dengan foto Hahdrat Masih Mau’ud (as), Huzur dan beberapa selebaran (pamflet). Mereka berkata bahwa mereka meyakini jika ini adalah komunitas yang sama dengan yang dikatakan almarhum saudara mereka. Mereka mengatakan bahwa saudara mereka bekerja di Ghana namun jatuh sakit saat berkunjung dan meninggal di tempat tersebut. Seribu orang pun berbaiat di tempat tersebut.

Mualim kita dari Mali menulis bahwa seorang Ahmadi pergi ke sebuah desa terdekat dimana orang-orang berkata kepadanya jika daerah tersebut sudah lama tidak turun hujan. Mereka berkata bahwa jika Jemaat ini adalah benar ia harus berdoa agar turun hujan maka mereka pun akan meyakini kebenarannya. Mualim tersebut melaksanakan shalat sunah nawafil dan berdoa dengan kerendahan hati yang mendalam agar tanda kebenaran Jemaat ini ditunjukan. Seketika hujan turun dengan derasnya dan penduduk desa tersebut berkata bahwa mereka mengakui jika Jemaat ini benar dan mereka seluruhnya masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah.

Seorang Mubaligh dari Ghana yang telah wafat menulis bahwa satu kali seorang Ahmadi yang sedang bertabligh diminta berdoa agar turun hujan. Ia berkata bahwa sejak itu setiap kali ia ceramah guna menyebarkan pesan Ima Mahdi (as) pasti akan minta hujan. Dengan rahmat Allah Ta’ala hujan turun dan sejumlah besar orang tersebut menerima Ahmadiyah.

Seorang wanita Mubayyin baru bernama Fatimah berasal dari Pantai Gading berkata bahwa ia menyadari apa itu Islam hakiki setelah bai’at. Ia meninggalkan semua bentuk amalan yang merugikan yang diikuti umat Islam lainnya.

Mubayin baru yang lainnya yang berasal dari Pantai Gading berkata bahwa kerohaniannya meningkat setelah baiat. Mengerjakan shalat adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan sekarang ini dan ia telah jauh lebih baik dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menjadi seorang Ahmadi kini mudah baginya untuk mengamalkan ajaran Islam yang sesunggunya dan ia pun lebih maju dalam hal wawasan dan pengetahuannya.

Raisuttabligh Republik Guinea (Guinea Conakry, Afrika Barat) menulis bahwa seseorang datang ke rumah misi meminta bantuan kepada Jemaat agar mendirikan sebuah masjid di desanya. Sebuah pengantar mengenai Jemaat diberikan kepadanya dan ia diberitahukan tentang kedatangan Isa yang dijajikan. Ia sangat puas setelah melewati sesi yang begitu panjang dimana segalanya dijelaskan kepadanya dan dikatakan bahwa kedua matanya kini telah terbuka. Ia menyarankan Jemaat untuk berkunjung ke desanya sehingga pesan tersebut tersampaikan ke semua orang. Ia mengatakan bahwa semenjak baiat ia merasakan perubahan ruhani di dalam dirinya yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Mubaligh dari Benin (Afrika Barat) menulis bahwa beberapa waktu yang lalu saat Masjid kita dibangun seorang pendeta Kristen lewat dan memuji keindahan bangunan tersebut dan bertanya Masjid apakah ini. Ketika dijelaskan bahwa itu adalah Masjidnya Ahmadiyah ia mengatakan bahwa ia akrab dengan pesan Muslim Ahmadiyah dan merasa jika orang-orang Ahmadiyah itu adalah orang-orang yang benar. Mubaligh kita bertanya bahwa jika ia yakin mereka itu orang-orang yang benar mengapa ia tidak menerima Ahmadiyah. Pendeta tersebut menjawab bahwa tentu saja Ahmadiyah adalah Islam yang benar dan ia berada dalam kondisi dimana karena alasan tertentu hal tersebut diluar dari kemampuannya.

Seorang Pendeta Kristen di Kongo (Afrika Tengah) menjadi Ahmadi dan mengatakan bahwa meskipun ia telah menjadi pendeta bertahun-tahun pada akhirnya ia tidak merasakan kepuasan batin dan kedekatan dengan Tuhan sebagaimana yang ia rasakan setelah menerima Ahmadiyah.

Seorang kawan dari Aljazair (Afrika Utara, Magribi) menulis bahwa ibunya bermimpi bahwa seorang Syeikh datang ke rumah mereka dan mengajarkan anak-anaknya ajaran Islam yang begitu positif dampaknya. Anak perempuannya menemukan MTA saat saluran televisinya diganti-ganti dan ketika wanita itu melihat foto Huzur ia begitu histeris (gembira) dan berkata bahwa orang yang ada di foto itu adalah orang yang sama yang dilihatnya dalam mimpi. MTA mengabarkan kepada mereka tentang kedatangan Imam Mahdi (as). Wanita itu menulis bahwa setelah mengambil baiat semua penderitaannya berubah menjadi kegembiraan (dengan mengamalkan ajaran Islam yang hakiki).

Mubaligh Kongo menulis bahwa seorang Ahmadi setempat telah bermimpi dimana ia mendapati dirinya sedang menghadap ke arah yang berbeda saat Shalat. Ia tidak mengerti arti dari mimpi tersebut. Kemudian, beberapa selebaran (pamflet) dari Jemaat diterimanya di tempat tersebut dan pria itu menempuh perjalanan sejauh 260 km untuk mengetahuinya lebih banyak lagi. Seorang Mualim Ahmadiyah dipanggil untuk menyampaikan pesan tersebut. Saat ditablighi oleh sang mualim orang itu pun menerima Ahmadiyah. Lalu ia menyadari bahwa mimpinya tersebut merupakan indikasi untuk menerima Islam Ahmadiyah. Banyak orang-orang yang lainnya pun yang baiat. Seorang mahasiswa kedokteran menyumbangkan sebidang tanah untuk pembangunan Masjid.

Arah kiblat semua umat Islam ketika Shalat adalah sama, jadi arti dari merubah arah shalat dalam mimpi tersebut adalah bahwa arah lahiriah bukan lah segalanya, kita harus merubah arah ruh yang ada didalam hati dan pikiran kita.

Mubaligh kita dari Republik Guinea (Guinea Conakry) menulis bahwa dengan rahmat Allah Ta’ala sebuah perkampungan yang besar yang terletak 200 km jauhnya serta beberapa desa yang berdampingan dengannya telah menerima Ahmadiyah. Pada saat Jemaat bermaksud untuk mengukuhkan keberadaannya di tempat tersebut kepala desa setempat berkata bahwa seluruh sumber daya manusia di desanya telah menyeberang ke Jemaat. Ia berkata bahwa mereka sangat bahagia telah bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah, Islam hakiki yang telah membuka mata mereka.

Amir Kongo menulis bahwa tabligh Ahmadiyah melalui selebaran-selebaran mencapai daerah yang jauh terpencil, hal ini mendorong orang-orang untuk bisa berhubungan langsung dengan Jemaat via email. Seorang mualim dikirim ke daerah tersebut kemudian menetap disana selama tiga bulan dan menyampaikan pertablighan kepada mereka. Banyak sekali pertemuan yang dilaksanakan dan dengan rahmat Allah Ta’ala lebih dari 60 orang menerima Ahmadiyah. Mereka adalah orang-orang yang mulia dalam ketulusan dan keikhlasannya bahkan salah seorang dari mereka menempuh perjalan sejauh 600 km untuk menghadiri Jalsah pada tahun 2013. 300 km ditempuh dengan perahu dan sisanya dengan sepeda tua reot yang dipinjamnya dari seorang teman. Ketika mubaligh kita mendengar kisah pengayuh sepeda tersebut yang telah menempuh perjalanan sejauh 300 km untuk menghadiri Jalsah ia seakan tidak percaya.

Mubaligh kita dari Lungi (Sierra Leon) menulis bahwa beberapa orang telah ditablighi dan mereka ingin sekali masuk kedalam Ahmadiyah. Namun, seorang Imam ghair Ahmadi yang belajar di Arab Saudi memberitahukan mereka hal-hal yang berlawanan tentang Jemaat yang kemudian membuat mereka menjauh. Mereka dan Imam tersebut diundang ke Jalsah. Pada hari kedua Jalsah sang Imam menghampiri mubaligh kita dan berkata ‘Demi Tuhan Jemaat Ahmadiyah adalah Islam yang benar, saya tidak akan menentangnya dan jika siapa saja yang ingin bergabung dengan Ahmadiyah saya akan katakan kepada mereka agar melanjutkan dan melakukannya.’

Seorang Ahmadi dari Italia menulis bahwa program siaran langsung MTA yang disiarkan dari Kababir (Haifa, Israel) amat mengesankan bagi dirinya, dan selama kurang lebih enam bulan ia menyatakan bai’at di dalam hatinya, meskipun ia belum menandatangani formulirnya. Ia mengatakan jika ia tinggal sendiri dan kegembirannya dalam menemukan kebenaran Islam Ahmadiyah tak terhingga. Ia menganggap jika dirinya merupakan tanda kebenaran Ahmadiyah tersebut. Ia katakan bahwa ia pertama kali menonton MTA tahun 2008 pada waktu itu ia tidak memiliki pengetahuan tentang Jemaat sama sekali. Ia terus menyaksikan program-program MTA karena sangat menyukainya dan secara bertahap ia menerima kebenaran Ahmadiyah. Ia bai’at pada tahun 2013.

Seorang Ahmadi menulis dari Aljazair bahwa pada tahun 1990’an ia bergabung dengan Pasukan Pertahanan Sipil hal ini disebabkan karena kelompok Islam radikal yang membawa kekejaman teroris telah mengatas-namakan Islam, dan Pasukan tersebut bertugas melindungi para penduduk dari mereka. Ia berkata bahwa ia menjauh dari Islam sejak itu dan tak habis pikir melihat orang Islam membunuh orang Islam atas nama Jihad dan Islam. Ia terkejut ketika tahu bahwa Imam Mahdi pun datang untuk memerintahkan pembunuhan tersebut. Kawannya yang merupakan seorang Ahmadi berbicara kepadanya dan menjelaskan tentang perkara tersebut dan menyampaikan kepadanya tafsir al-Quran tentang perkara tersebut yang memuaskan dirinya. Ia diberitahu bahwa Tuhan telah mengutus Imam Mahdi satu abad yang lalu di India dan beliau mempunyai sebuah Jemaat yang sudah didirikannya. Mendengar hal tersebut, ia merasa seakan Tuhan telah mendengarkan doanya dan ia pun mengisi formulir bai’at!

Tak lama setelah itu ia bermimpi. Seseorang yang suci menarik dirinya dengan tangannya dari tempat yang gelap dan berjalan ke tepi laut dimana sebuah perahu menunggu. Seorang suci yang lainnya juga berada di sana, dan ketiganya naik ke atas perahu. Orang suci tersebut berkata kepadanya bahwa ia adalah Rasulullah (saw) dan orang yang satunya itu adalah Imam Mahdi, Masih Mau’ud (as). Perahu tersebut mencapai kapal yang besar dan kedua orang suci tersebut menyuruhnya untuk naik ke Kapal tersebut dan bergabung dengan orang-orang yang ada diatasnya.

Seorang Mubayyin Baru menulis dari Maroko bahwa ia adalah seorang guru sejarah dan geografi, dan meskipun dlimpahi keberkatan dari segi duniawi, namun ia terjerat dalam keangkuhan dan keburukan. Ia diperkenankan untuk mengambil bai’at yang menuntunnya membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang mana telah memurnikan ruhaninya.

Ketua Jemaat Nasional kita di Jepang menulis bahwa seorang yang berasal dari Jepang yang telah berhubungan selama enam bulan terpanggil setelah Huzur menyampaikan masalah kesyahidan para Ahmadi yang terjadi di Shiekupura, Pakistan pada saat khutbah Jumaat. Orang Jepang itu menyatakan keinginannya untuk menerima Ahmadiyah setelah mendengar berita kesyahidan tersebut.

Amir Yadgir, India menulis bahwa seorang pelajar Hindu melihat motto ‘Love for all harted for none’ pada buku catatan temannya yang Ahmadiyah. Motto tersebut membawa dampak yang dalam bagi dirinya dan ia meminta informasi lebih lanjut. Ia diberikan buku-buku dan literature-literatur untuk dibaca. Setelah mempelajarinya dengan mendalam dan menyaksikan pengkhidmatan Jemaat bagi kemanusiaan, ia merasa yakin dan baiat pada bulan Maret 2014.

Seorang kawan dari Mesir menulis bahwa ‘Demi Allah Jemaat ini benar’ dan berkata bahwa semoga seluruh dunia mengikuti ajaran Jemaat ini. Ia amat bersyukur bahwa ayahnya dan kemudian berangsur-angsur seluruh keluarganya menyatakan baiat.

Mubaligh kita dari Bosnia menulis bahwa setelah mengikuti rangkaian khutbah Jumaat Huzur mengenai reformasi amalan, terjadi peningkatan jumlah yang hadir pada waktu Shalat Subuh berjamaah. Kendati cuaca sangat dingin sekali, turun salju dan sebagainya para Mubayyin baru rela melakukan perjalanan hingga 10 km demi melaksanakan Shalat berjamaah.

Seorang Ahmadi menulis dari Macedonia (Eropa Selatan) bahwa istrinya tidak memperhatikan Pardah. Ia mengutarakan rasa terimakasinya bahwa setelah mendengar ceramah Huzur di tempat kaum Ibu pada saat Jalsah Jerman, Istrinya kini telah mengenakan pardah dan semakin meningkat dalam hal keimanan.

Semua cerita-cerita diatas hanyalah beberapa kilasan dari sekian banyak kisah yang tak terhitung jumlahnya yang diterima dalam laporan Huzur mengenai bagaimana Tuhan membimbing orang-orang tersebut kepada Kebenaran Ahmadiyah, Islam hakiki. Itu adalah tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud (as). Kisah-kisah tersebut adalah bukti tentang nubuatan Rasulullah (saw) akan kebenaran dan kesempurnaan agama yang dibawah oleh beliau (saw). Amat sangat disesalkan bahwa umat Islam tertarik dengan apa yang mereka sebut ulama dan menolak untuk menerima kebenaran. Doa harus dipanjatkan untuk seluruh umat Islam. Dunia Islam ada dalam keadaan sangat menyedihkan. Para pemimpin Islam menindas rakyatnya dan akibat tidak adanya ruh kepemimpinan rakyat pun melawan pemimpinnya. Pembunuhan sekte (kelompok) sedang terjadi. Pada masa dahulu pemerintahan Islam dipenuhi dengan aksi kekerasan antar sekte (kelompok) yaitu antara kelompok Suni dan Syiah. Pada masa sekarang pemerintah Islam sendiri yang melibatkan diri dalam perselisihan tersebut. Situasi di Irak, Syiria dan Libiya semakin bertambah buruk beberapa tahun belakangan ini. Kini situasi antara Arab Saudi dan Yaman pun memanas dan bahaya besar akan meletusnya peperangan pun meluas. Lasykar-lasykar setan sukses dalam melemahkan umat Islam. Awalnya serangan dilancarkan secara langsung namun kini mereka menggunakan kekuatan mereka guna menyulut pertikaian dan umat Islam tidak berhenti dan berpikir mengapa para pengikut nabi terakhir ini ada dalam kadaan kacau balau seperti ini! Ada satu cara bagi mereka untuk menghindari terjadinya keburukan tersebut yaitu dengan menerima al-Masih yang diutus Tuhan. Semoga Allah Ta’ala meridhoi mereka agar dapat melakukannya dan semoga Allah Ta’ala meridhoi kita untuk mendoakan mereka!

Dua Shalat Jenazah diumumkan.

Shalat Jenazah bagi Intisar Ahmad Ayaz Sahib yang wafat pada tanggal 28 Maret pada usia 50 tahun di Boston, Amerika Serikat. Beliau adalah cucu dari pihak ibunya Maulana Abu Ata Jalundhri. Beliau lahir di Tanzania (Afrika Timur). Beliau adalah orang yang saleh, dawam membaca al-Quran dan melaksanakan Tahajud. Beliau mengabdikan (mewaqafkan) dirinya bagi Nizam Jemaat dan Khilafat serta telah berkhidmat di Jemaat dalam berbagai posisi. Beliau sangat gencar bertabligh dan membaitkan. Beliau adalah anak, adik, suami dan ayah yang teladan. Beliau meninggalkan orang tua, saudara perempuan, istri dan seorang putra yang berusia sepuluh tahun. Semoga Allah Ta’ala mengampuninya dan menaikan derajatnya serta memberikan ketabahan bagi yang ditinggalkan.

Shalat Jenazah gaib untuk Waseem Ahmad, mahasiswa Jamiah Qadian. Beliau tenggelam di sungai Beas, India. Jasadnya ditemukan setelah empat hari pencarian, namun tidak ada bekas pada tubuhnya dan tubuhnya nampak biasa tidak seperti orang yang mati tenggelam. Beliau adalah mahasiswa yang pintar dan pekerja keras yang selalu terdapan dalam hal Shalat Tahajud. Beliau meninggalkan ibu, dua kakak laki-laki dan dua adik perempuan. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajatnya!

Mutiara-Mutiara Hikmah dari Khalifatul Masih II ra

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
tanggal 27 Maret 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyebutkan 5 cabang tujuan kedatangan beliau as yang salah satunya ialah penerbitan dan penyebarluasan selebaran (informasi, pemberitahuan) dalam rangka tabligh, dakwah dan itmaamul hujjah (penyempurnaan hujah). Beliau as bersabda: “Saya telah memutuskan untuk menerbitkan 40 selebaran pada hari ini sebagai penyempurnaan bukti bagi orang-orang yang menentang dan yang menolak. Jadi pada hari kiamat, saya dapat menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala bahwa saya telah memenuhi tugas yang untuk itu saya diutus.”

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menerbitkan banyak selebaran bahkan sebelum beliau mendakwakan diri serta terus menerbitkannya hingga beliau wafat. Semua selebaran ini merupakan khazanah bagi dunia keagamaan. Ini merupakan keinginan yang mendalam dan yang sangat kuat dari diri beliau untuk menyelamatkan umat Islam, Kristen dan para pengikut agama lain dari kehancuran. Dan beliau sendiri bekerja dengan sangat rajin demi tercapainya tujuan ini. Bahkan selebaran beliau yang lebih kecil memperlihatkan perhatian serta kasih sayang beliau yang begitu mendalam bagi umat manusia dan untuk perbaikannya. Saat ini para Ahmadi harus mengekalkan dalam diri mereka keprihatinan dan kepedihan hati serta kepedulian terus hidup dan berlanjut untuk membuat perbaikan bagi sesama makhluk dan semuanya menaruh perhatian akan hal ini.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as terus bekerja siang dan malam meskipun sedang dalam keadaan sakit. Beliau akan menerbitkan suatu selebaran dan akan terus menerbitkan selebaran lainnya selama para penentang belum reda melakukan aksinya. Beberapa orang berfikir bahwa dengan sering menerbitkan selebaran-selebaran maka dapat menimbulkan pengaruh yang merugikan atau merusak. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, “Besi yang panas akan mudah diolah dan dicetak. Oleh karena itu, saat besi sedang panas-panasnya, seseorang harus mengolahnya dalam suatu cetakan.” Setiap kali penentangan mereka mereda, beliau buat lagi selebaran lain. Selebaran beliau itu akan menimbulkan badai protes lagi. Namun, beliau tetap terus melakukan pekerjaan beliau siang dan malam. Inilah rahasia kesukesan beliau.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan bahwa pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as, tabligh dilaksanakan melalui selebaran-selebaran yang terdiri dari 2 hingga 4 halaman. Penerbitannya menciptakan kehebohan di seluruh negeri. Sejumlah 1.000 atau 2.000 selebaran diterbitkan.
Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa karena Jemaat telah tumbuh berkembang secara luas, maka mungkin diperlukan 100.000 selebaran untuk diterbitkan.

Beberapa tahun yang lalu (tiga atau empat tahun lalu), saya (Hadhrat Khalifatul Masih V aba) menginstruksikan kepada Jemaat untuk mempersiapkan serta mendistribusikan selebaran kecil sehingga dunia dapat mengetahui Islam yang sebenarnya dan juga diberitahukan bahwa Allah Ta’ala telah mengirim Hadhrat Masih Mau’ud as pada zaman ini untuk menghidupkan kembali ajaran Islam. Distribusi selebaran di seluruh dunia berjalan sangat sukses. Saya telah mengirim para Mahasiswa Jamiah ke Spanyol untuk bertanggung jawab atas tugas ini. Para mahasiswa Jamiah Canada mendistribusikannya di negara-negara Amerika Tengah yang memperluas tabligh dan walhasil banyak yang baiat. Selebaran yang hanya satu atau dua halaman ini hendaknya secara dawam diterbitkan dan disebarkan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memperingatkan tentang selebaran yang dipersiapkan secara pribadi karena hal tersebut dapat menimbulkan unsur ‘ujub (Narsisme, kemenonjolan diri). Hadhrat Masih Mau’ud as biasa meriwayatkan sebuah kisah berkenaan dengan hal ini. Seorang wanita memiliki cincin yang sangat indah namun tidak satupun sahabatnya yang mengagumi cincin itu. Wanita tersebut kemudian membakar rumahnya dan segalanya menjadi terbakar. Ketika semua orang berkumpul, wanita ini berkata kepada mereka, segalanya telah hancur karena terbakar api kecuali cicinnya ini yang selamat. Seseorang bertanya kepadanya kapan dia membuat cincin itu. Wanita itu menjawab jika saja ada orang yang telah menanyakan hal tersebut sebelumnya, maka rumahnya bisa terselamatkan.

Seraya menceritakan berbagai macam riwayat Hadhrat Masih Mau’ud as dan para sahabat beliau, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa ketika para syuhada Afganistan sedang dilempari batu, mereka menghadapi situasi tersebut dengan gagah berani. Mereka hanya berdoa meminta petunjuk bagi mereka yang melempari batu itu. Kecintaan yang menggelora terhadap Allah Ta’ala mengubah cara berfikir seseorang. Kata-katanya memiliki pengaruh yang luar biasa dan wajahnya memancarkan cahaya rohani. Ribuan orang datang untuk melihat Hadhrat Masih Mau’ud as di Qadian dan seraya melihat wajah beberkat beliau as, mereka berkata bahwa ini bukanlah wajah seorang pendusta dan mereka menerima beliau as tanpa mendengarkan beliau as berkata satu patah kata pun. Bahkan sekarang orang-orang melihat foto beberkat Hadhrat Masih Mau’ud as dan kemudian berbaiat.

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa bersabda bahwa pada saat itu ada 3 jenis orang di dalam Jemaat beliau as. Mereka yang telah mendengar pendakwaan beliau as serta telah berusaha untuk memahaminya dan kemudian menjadi seorang Ahmadi. Mereka mengetahui tujuan kedatangan beliau as dan mereka juga mengetahui bahwa mereka harus memberikan pengorbanan karena Jemaat para nabi sebelumnya juga harus memberikan pengorbanan.

Kemudian ada beberapa orang yang telah bergabung ke dalam Jemaat ini hanya karena Hadhrat Nuruddin ra, yang merupakan pembimbing mereka dan mereka menganggap beliau sebagai seorang wujud yang terhormat dan bijaksana, sehingga mereka berbaiat karena beliau ra sendiri telah berbaiat. Mereka tidak memahami hikmah di balik kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as dan tujuan dari misi beliau as.

Kemudian ada beberapa anak muda yang telah bergabung ke dalam Jemaat karena mereka sangat ingin menjadi bagian dari sebuah Jemaat Islam dan itulah alasan mereka bergabung ke dalam Jemaat. Ketika mereka menyadari bahwa tujuan utama dari Jemaat adalah agama, maka mereka pun pergi. Mereka hanya antusias untuk menjadi bagian dari sebuah organisasi. Dan karena tidak mungkin bagi mereka untuk menjalankan rencana seperti ini di kalangan muslim lainnya, maka mereka masuk Jemaat.

Mereka kira, misi Hadhrat Masih Mau’ud as adalah mendirikan sebuah organisasi saja bukan sebuah Jemaat rohani. Memang, banyak organisasi berkembang dengan cara yang berbeda dalam hal keimanan. Kemajuan dalam hal keimanan membutuhkan akhlak yang tinggi, rasa pengorbanan, shalat, puasa, ketergantungan dan ketaatan kepada-Nya. Dunia mungkin memandang hal-hal ini sebagai sesuatu yang gila namun dalam pandangan Allah Ta’ala, orang-orang yang mengikuti berbagai hal ini semua adalah orang-orang yang paling bijaksana.

Bahkan, pada saat ini, ada anak-anak muda di kalangan umat Islam yang memiliki semangat yang tidak terarah dan hanya antusias untuk bergabung ke dalam sebuah kelompok di kalangan umat Islam yang akan memberikan mereka identitas sebagai seorang Muslim. Berbagai laporan mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan tentang agama.

Jika kita mengira bahwa kita dapat berbohong setiap kali perlu untuk berbohong, menipu dan mengelabui orang lain di manapun jika perlu, dan bergunjing serta mendengki kapanpun diperlukan, maka kita hendaknya ingat bahwa kita tidak akan pernah memperoleh kemajuan yang dijanjikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Dalam hal keimanan, segala aspek tersebut tidak mengandung sedikit pun keberkatan namun sebaliknya malah akan menarik laknat ilahi.

Perihal latar belakang dan keharusan berdirinya sekolah Talimul Islam di Qadian. Seraya mengkisahkan riwayat-riwayat masa-masa permulaan ketika para guru sekolah menengah (kelas 7 dan 8) di Qadian hampir semua beragama Arya (Hindu) karena sekolah tersebut milik kalangan mereka, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda guru-guru beragama Arya ini akan mengajarkan anak-anak untuk tidak makan daging. Mereka juga menentang terhadap ajaran Islam. Anak-anak akan pulang dan menceritakannya kepada keluarga mereka.

Beliau ra berkata bahwa pada hari pertama di Sekolah Dasar Negeri yang mayoritas gurunya ialah orang Arya, beliau dikirimi bekal makanan dari rumah. Beliau pergi dan duduk di bawah sebuah pohon untuk menyantap bekal yang isinya hati. Anak yang lain yang beragama Islam yang sedikit lebih tua datang menghampirinya dan terkejut bahwa beliau sedang makan ‘maas’ (daging, istilah yang digunakan untuk menyebut daging oleh guru-guru Arya). Anak itu mengatakan bahwa para guru telah melarang para murid untuk memakan daging karena itu adalah hal yang kejam dan sangat buruk.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, ini merupakan pertama kalinya beliau mendengar istilah ‘maas’ dan beliau tidak tahu apa artinya. Para murid Muslim selalu saja mendengar dari para guru mereka yang Arya perihal ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Islam. Setelah pulang, mereka menceritakannya kepada orangtuanya.

Ketika kisah ini sampai ke Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau bersabda, “Walau bagaimana pun, yang jelas Jemaat harus melakukan pengorbanan dan Sekolah Dasar milik kita sendiri hendaknya dibuka.” Sekolah Dasar pun berhasil didirikan. Kemudian, Nawab Muhammad Ali Khan Sahib, suami saudari Hudhur II ra, sangat antusias untuk membuka sekolah. Dan ketika beliau pindah ke Qadian, beliau membuka Sekolah Menengah di sana. Sekolah Tinggi pun menyusul dibangun yang memakan waktu untuk berkembang.

Pada waktu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis, bersabda, saat ini ada sekitar 1700 siswa di Qadian, dan jika dihitung dengan siswa perempuannya, maka ada sekitar 3000 siswa. (padahal, sebelumnya hanya 170, 200, 300, 400, dan seterusnya) Kemudian Madrasah Ahmadiyya dibentuk dan para mubaligh lulus setiap tahunnya.

Pada masa-masa permulaan, anggota Jemaat kebanyakan adalah berasal dari kalangan orang-orang yang berpenghasilan kecil dan hanya ada sedikit di antara mereka yang sejahtera. Begitu banyaknya sehingga Hadhrat Khalifatul Masih I ra mengatakan bahwa sesuai dengan Al-Quran dan Hadits, pada awalnya, umumnya orang-orang penting dan terkemuka tidak beriman kepada para nabi Allah sehingga ini pun merupakan tanda kebenaran dari Hadhrat Masih Mau’ud as.

Pada hari ini, dengan karunia Allah Ta’ala, Jemaat menjalankan ratusan sekolah dan kampus di seluruh dunia. Anggota Jemaat sekarang termasuk dari kalangan para ahli terkemuka dan orang-orang penting. Di sini, para Ahmadi merupakan anggota parlemen nasional sedangkan di Afrika, banyak Ahmadi yang menduduki posisi kementrian yang tinggi. Tidak hanya meraih kedudukan yang tinggi secara duniawi namun mereka juga memiliki ketinggian rohani.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra kemudian menjelaskan perihal para Ahmadi menghadapi segala kekerasan di depan mereka pada masa permulaan lalu turunlah karunia-karunia Ilahi setelahnya. Diantara sikap kekerasan dimaksud adalah para Maulwi mengeluarkan fatwa terhadap orang-orang Ahmadi. Fatwa tersebut berupa dorongan agar membunuh orang-orang Ahmadi, merampas rumah-rumah mereka dan menikahi para wanita Ahmadi tanpa diceraikan oleh suami mereka, yang seharusnya haram di kalangan mereka, itu malah berpahala dan baik bagi kalangan mereka (laki-laki Muslim) yang dihasut para ulama tersebut.

Orang-orang yang bertabiat buruk menggunakan fatwa-fatwa tersebut sebagai tipu muslihat untuk menjalankan keburukan mereka. Waktu itu para Ahmadi diusir dari rumah mereka dan dipecat dari pekerjaan mereka. Harta benda mereka dirampas. Banyak yang terpaksa pindah ke Qadian dan hal ini memberikan tekanan yang besar pada sumber daya yang sedikit di Qadian.

Namun mengherankan,  ratusan orang di antara mereka malah diberi makan dua kali sehari dan orang-orang Qadian membuka pintu rumah mereka bagi mereka yang telah pindah dan seluruh keluarga menempati satu  ruangan yang disediakan oleh tuan rumah. Setiap pagi akan membawa persoalan dan tanggung jawab yang baru seperti yang dihadapi pada malam setiap malam. Bagaimanapun juga, keyakinan teguh mereka terhadap "أليس الله بكاف عبده"  “Tidak cukupkah Tuhan bagi hamba-Nya” senantiasa mengurangi semua kesulitan yang dihadapi.

Sekarang para Ahmadi dianiaya di dunia, namun sebagian besar situasi di Pakistan tidaklah seperti dahulu. Para Ahmadi telah pindah ke seluruh belahan dunia. Ketika dihadapkan dengan berbagai kesulitan, maka Firman Ilahi senantiasa bekerja sebagai pendukung bahkan pada hari ini. Hari ini, Langgar Khana Masih Mau’ud as berjalan di seluruh belahan dunia. Allah Ta’ala tidak pernah meninggalkan kita dan jika kita tetap menjalin hubungan dengan-Nya, Dia tidak akan pernah meninggalkan kita di kemudian hari. Memang, perlu adanya pengorbanan yang siap diberikan oleh para Ahmadi dan dengan karunia Allah Ta’ala, setiap pengorbanan senantiasa membuka jalan-jalan baru.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan bahwa seorang Hindu memiliki hubungan yang begitu tulus dengan Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga Hadhrat Masih Mau’ud as bahkan setiap kali memerlukan uang beliau meminjam uang darinya. Alasan atas sikap tulusnya adalah bahwa dia telah melihat beberapa tanda Hadhrat Masih Mau’ud as jauh sebelum beliau mendakwakan diri. Pada waktu itu, mereka menginap di Sialkot. Pada suatu malam Hadhrat Masih Mau’ud as terbangun dan terlintas di hati beliau bahwa rumah tersebut sedang dalam bahaya. Jadi, beliau as membangunkan teman-teman beliau dan menyarankan agar keluar dari rumah. Teman-teman beliau mengeluh karena merasa tidur mereka terganggu. Mereka berkata bahwa tidak akan terjadi apa-apa, itu hanya khayalan beliau as saja, kemudian mereka kembali tidur. Sementara itu, perasaan Hadhrat Masih Mau’ud as semakin kuat dan beliau sekali lagi mengatakan kepada teman-teman beliau bahwa beliau mendengar suara mencicit dari langir-langit rumah dan mereka harus segera keluar. Beliau as begitu memaksa teman-temannya sehingga tidak ada lagi pilihan bagi mereka kecuali menyetujuinya. Hadhrat Masih Mau’ud as yakin bahwa rumah tersebut aman sejauh ini karena beliau masih berada di dalamnya dan beliau sendiri dilindungi oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, beliau meminta teman-temannya agar keluar dari rumah terlebih dulu. Ketika teman-teman beliau sudah keluar dan tepat ketika beliau melangkahkan kaki keluar dari rumah, atap rumah tersebut ambruk.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra biasa meriwayatkan sebuah kisah bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as suatu kali berpergian dengan kereta kuda dari Amritsar. Seorang Hindu berbadan besar bergegas ke atas kereta dan duduk dengan kaki yang dilunjurkan. Hadhrat Masih Mau’ud as duduk di tempat sempit yang tersisa. Hari itu adalah musim panas dan panasnya sungguh tak tertahankan. Allah Ta’ala begitu menghendaki adanya sekumpulan awan yang menaungi dan memberikan keteduhan di atas kereta beliau sepanjang jalan hingga kota Batala. Orang Hindu itu berkata, “Anda tampaknya merupakan seorang suci yang istimewa dari Allah Ta’ala.”

Memang, perlakuan Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya dapat menjadi hal yang mengherankan jika diperhatikan oleh orang lain. Namun, syaratnya adalah kecintaan dan penghambaan yang sempurna kepada-Nya. Tidak diragukan lagi, orang-orang yang seperti ini akan dalam kondisi akhir yang baik. Secara duniawi, orang-orang yang berasal dari Allah Ta’ala mungkin tidak dihargai di mata dunia namun pada akhirnya mereka dihargai. Hal ini awalnya ialah dengan kecintaan dan penghambaan terhadap Allah Ta’ala yang pada akhirnya diganjar dengan pertolongan Allah Ta’ala.

Ada seseorang yang mendukung Hadhrat Masih Mau’ud as bernama Munshi Ahmad Jan Sahib. Beliau meninggal dunia sebelum pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun, dengan wawasan kerohaniannya, beliau mengakui kualitas Al-Masih yang dimiliki Hadhrat Masih Mau’ud as. Sebelum meninggal, beliau menasehati anak-anaknya bahwa beliau akan meninggalkan dunia namun mereka hendaknya memperhatikan bahwa Mirza Sahib pasti akan menyampaikan pendakwaan dan beliau menasehatkan kepada anak-anaknya untuk menerima beliau as. Sewaktu muda, Munshi Sahib telah mengkhidmati seorang suci selama 12 tahun dengan menggerakkan sebuah treadmill yang ditarik oleh sapi (penggilingan untuk mendapatkan tepung) sebelum orang suci itu memberikan ilmu rohaninya kepada beliau.

Orang-orang yang dianggap memiliki kerohanian tinggi sangat kikir memberikan pengetahuan rohani mereka kepada yang lain. Hadhrat Masih Mau’ud as tidak hanya memberikan semua pengetahuan rohani kepada dunia namun juga menyingkapkan segala persoalan yang hingga saat ini belum diketahui dan menyebarluaskannya. Akan tetapi, kendati pun demikian, seperti yang dinubuatkan oleh banyak hadits, orang-orang tidak menghargainya dengan penghargaan yang semestinya atas beliau as.

Senyatanya, orang-orang yang dipandang sebagai rohaniawan oleh para penduduk dunia tidak dapat bersaing dengan atau tidak dapat mencapai keluhuran mereka yang telah dikirim oleh Allah Ta’ala khususnya dengan tugas untuk mengadakan perubahan di dunia, untuk meningkatkan kerohaniannya dan membawanya semakin dekat dengan-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Allah Ta’ala telah mengirim beliau untuk menghilangkan segala kepahitan yang telah berkembang di dalam hubungan antara Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya dan menggantinya sekali lagi dengan kecintaan dan ketulusan. Untuk menyingkapkan kebenaran agama yang telah tersembunyi dari mata dunia dan menunjukan teladan kerohanian yang telah dikubur di bawah kegelapan keinginan pribadi! Dan lebih dari segalanya adalah sekali lagi untuk menaburkan benih-benih Ketauhidan Ilahi  yang gilang-gemilang yang telah dimiliki dunia namun telah ditinggalkannya.

Kita berdoa kepada Allah supaya Dia memberi taufik kepada kita untuk menunaikan hak baiat, menikmati perjumpaan Ilahi, mengetahui hakikat-hakikat agama dan mengamalkannya, kita menambah kerohanian, meraih bagian dari kilau tauhid hakiki. Begitu juga kita berdoa semoga Allah memberi taufik kepada penduduk dunia supaya mengetahui hal-hal itu, memberi taufik kepada umat Islam khususnya agar memahami apa yang ada di hati Hadhrat Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud as berupa keprihatinan atas Islam dan mereka masuk kedalam baiat kepada beliau as.

Hudhur mengumumkan akan melaksanakan 2 shalat jenazah ghaib. Pertama, Noman Ahmad Anjum dari Karaci disyahidkan pada tanggal 21 Maret ketika ada penyerang bersenjata menembaknya ketika sedang berada di toko. Segera pemilik toko memberi tahu saudaranya agar segera datang ke tempat kejadian. Ambulans telah dipanggil namun Noman Ahmad Anjum meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Beliau lahir di Rabwah pada tahun 1985 dan merupakan seorang Musi. Beliau merupakan seorang Ahmadi muda yang setia. Para penentang telah mengancamnya sebelumnya dan beliau senantiasa berkata kepada adiknya untuk berhati-hati. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

Kedua, seorang insinyur, Farooq Ahmad Khan Sahib, seorang Naib Amir wilayah Peshawar, meninggal dunia pada kecelakaan mobil. Beliau lahir pada tahun 1954 dan meskipun keluarga beliau telah masuk Jemaat Ahmadiyah pada masa permulaan, namun kemudia mereka masuk ke Jemaat Lahore. Farooq Sahib baiat pada tahun 1989 dengan kembali ke Jemaat Ahmadiyah. Beliau merupakan seorang musi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni beliau serta menurunkan berkat kepada beliau.

Penerjemah: Hafizurrahman; editor: Dildaar Ahmad

Friday, 17 July 2015

Perayaan Idul Fitri Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya

Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1436 H pada hari Jumat sesuai dengan keputusan pemerintah Republik Indonesia.
Perayaan-Idul-Fitri-Jemaat-Ahmadiyah-Tasikmalaya
Khutbah Idul Fitri Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya
Tepat pukul 6.30 WIB shalat Id didirikan 300 jamaah yang memenuhi 2 lantai bangunan masjid Mubarak di jalan Nagarawangi Tasikmalaya. Mln. Yahya Sumantri mubaligh lokal Jemaat Ahmadiyah Cabang Singaparna menjadi imam dan yang menyampaikan khutbah pada shalat Idul Fitri tahun ini.

Dalam khutbahnya beliau menyampaikan inti sari khutbah Idul Fitri Hazrat Khalifatul Masih V Mirza Masroor Ahmad tanggal 30 Juli 2014 di Masjid Baitul Futuh, London. Dalam khutbah tersebut Khalifah mengingatkan jemaat tentang hakikat Id yang hakiki, Rasulullah SAW juga menyebut bahwa selain Idul Fitri dan Idul Adha hari jumat juga merupakan hari Id namun banyak yang melalaikan Id ini dan tidak menaruh perhatian serta tidak terbiasa menghadirinya.
Perayaan-Idul-Fitri-Ahmadiyah-Tasikmalaya
Mln Yahya Sumantri khutbah idul fitri
di Jemaat Ahmadyah Tasikmalaya
Mengutip sabda khalifah, Mln Yahya Sumantri menyampaikan "Janganlah mengira dengan menunaikan shalat jumat ataupun shalat Id, kalian telah merayakan Id hakiki dan mencapai maqam keruhanian yang kalian rindu-rindukan." seraya menagaskan kutipan sabda "Sebenarnya Id-Id itu datang supaya menarik perhatian kita bahwa maqam-maqam ruhani juga bersifat relatif. Jika seseorang tidak menjadikan setiap jumat dan setiap Id sebagai sebab untuk meningkatkan maqam keruhanian tentu kesempatan-kesempatan ini akan menjadi sebab kehancurannya bukan menjadi sebab kebahagiaannya."

Dalam khutbah yang dibacakan oleh Mln Yahya Sumantri ditegaskan oleh sabda khalifah bahwa Id hakiki adalah yang didalamnya insan merasakan kelezatan dalam beramal, maksudnya ia merasa bahagia ketika mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan dan ia bersedia untuk mati di dalam api serta selamanya tidak berfikir untuk meninggalkan beramal.

Pada akhir khutbah disampaikan mengenai sunnah Rasulullah yang harus diikuti oleh para jemaah yaitu puasa 6 hari di bulan syawal, dimana mengutip hadits Mln Yahya Sumantri menyampaikan bahwa barangsiapa mengerjakan puasa di bulan ramadhan dan diikuti 6 hari selanjutnya puasa di bulan syawal ia seolah-olah berpuasa sepanjang tahun.
Idul-Fitri-Ahmadiyah-Tasikmalaya
Musafahah setelah shalat Id
Pesan terakhir yang diingatkan kepada Jamaah yang hadir adalah mengingatkan untuk membayarkan zakat Mal, Mln. Yahya Sumantri menegasakan kepada Jamaah harta yang mengendap selama 1 tahun baik itu tabungan, harta berupa emas, perak maupun pertanian harus segera dibayarkan zakatnya sebagai pensucian dari harta tersebut.

Seselai khutbah seluruh jemaah yang banyak diantaranya merupakan perantau yang tengah pulang ke kampung halaman saling bersilaturahmi, puluhan anak berusia athfal dan Nashirat mendapat hadiah lebaran dari Jemaat Ahmadiyah yang diberikan langsung oleh seorang pengurus. <Doni Sutriana>

Idul-Fitri-Ahmadiyah
Athfal tengah mendapat THR

Thursday, 9 July 2015

AMSA & MKA Tasikmalaya : Berbagi Di Bulan Suci

Selasa 7 Juli 2015 hari ke-20 Ramadhan AMSA & MKA Tasikmalaya turut berpartisipasi dalam bagi takjil gratis bersama Komponen Lintas Iman Tasikmalaya (Kompas Iman).
Bagi Takjil Gratis Kompas Iman
Bertempat di bundaran Tugu Adipura depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya sebanyak 200 paket takjil dibagikan kepada masyarakat Kota Tasikmalaya yang melewati kawasan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, acara yang dimulai menjelang Maghrib ini mendapat sambutan positif hanya dalam waktu 30 menit paket terdistribusikan dimana kebanyakan yang menerima adalah masyarakat kecil seperti Tukang Becak, pedagang kecil kaki lima dan masyarakat yang tengah beraktivitas di Masjid Agung  dan sedang melewati perempatan jalan depan Masjid Agung.

MKA & AMSA Tasikmalaya bersama Kompas IMan
Kompas Iman sendiri merupakan kelompok komponen pemuda Lintas Agama yang ada di Tasikmalaya dimana selain AMSA dan MKAI dari Jemaat Ahmadiyah ada pula PMII salah satu Organisasi kemahasiswaan NU, Pers Mahasiswa Universitas Siliwangi, Gereja Bethel, Komisariat UNSIL, Hima HMS UNSIL dan banyak lagi yang turut berpartisipasi dalam wadah ini. 

Rifqi Taufiq Sidqi penggagas Kompas Iman Tasikmalaya menyampaikan bahwa acara bagi takjil tersebut merupakan salah satu bentuk kegiatan Kompas Iman dalam mengkampanyekan keragaman di Kota Tasikmalaya. "Kegiatan ini memberikan satu cerminana bagimana harusnya memberi contoh membangun keragaman/toleransi tidak hanya sebatas lingkup wacana, namun harus dipraktekan dalam bentuk aksi nyata" Ujar Aktivis PMII Kota Tasikmalaya saat diwawancarai. "Kegiatan ini memberi contoh bagaiman kami bersama-sama dengan komunitas agama yang berbeda latar belakang bersama-sama bagi takjil." Lanjut pria yang turut hadir pada Jalsah di Krucil Jawa Tengah akhir Mei 2015 lalu.
Komponen Lintas Iman Kota Tasikmalaya
Jhonson tokoh muda dari Gereja Bethel salah seorang yang turut dalam kegiatan tersebut mengatakan "Sangat setuju dengan kegiatan ini semoga jadi kegiatan rutin tidak hanya pada saat moment lebaran kegiatan ini diadakan namun juga pada kegiatan agama yang lain." pria berbadan tegap yang aktif bersama Jaringan Gusdurian ini menambahkan "Semangat Gusdurian, Semangat Pluralisme harus menjadi gaya hidup anak bangsa."

Ketua Panitia Pelaksana Asep Rifa'i dari PMII Kota Tasikmalaya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kampanye plurarisme yang dituangkan dalam bagi takjil, panitia dalam hal ini Kompas Iman yang terdiri pemuda lintas agama setelah kegiatan bagi takjil berlanjut pada buka bersama. "Masih banyak warga yang meminta kedepan kita akan rencanakan lagi untuk kegiatan seperti ini." ungkap Asep Rifai.

 - Doni Sutriana -
Panitia Tajil Gratis Kompas Iman

Thursday, 2 July 2015

Kelas Tarbiyat 2015 : 3 Wilayah 2 Lokasi 1 Semangat

Dilaporkan oleh : Syihab Ahmad


Citeguh - Di bulan ramadhan 1436 H ini Jemaat Ahmadiyah gabungan tiga wilayah besar di Jawas Barat mengadakan kegiatan pesantren ramadhan atau yang lebih dikenal dengan nama Kelas Tarbiyat bagi anak-anak usia Sekolah Dasar kelas 4 hingga mahasiswa. Acara ini diadakan selama seminggu penuh di dua lokasi yang berdekatan yaitu Jemaat Wanasigra dan Jemaat Nagrak yang sama-sama berada di Desa Tenjowaringin.

Kelas Tarbiyat yang dimulai pada hari Senin, 22 Juni 2015 ini diikuti oleh 716 peserta dari wilayah Jabar 5 (Priangan Barat), Jabar 6 (Garut), dan Jabar 7 (Priangan Timur). Selama satu minggu penuh para peserta dibimbing serta diberikan tarbiyat secara khusus. Peserta dibagi ke dalam 4 tingkatan kelas. Karena cukup banyak peserta masing-masing tingkatan dibagi lagi dalam beberapa ruangan. Peserta putra dibagi ke dalam 11 ruangan di Jemaat Wanasigra dan peserta putri 13 ruangan di Jemaat Nagrak.


Setiap harinya para peserta memasuki kelas untuk menerima pelajaran mulai pukul 8 pagi. Pelajaran yang diterima oleh mereka diantaranya yaitu Akhlak Fadhilah, Fiqh, Aqidah, Ilmu Kalam, serta Tarikh Islam dan Ahmadiyah. Kelas Ta’lim ini dilaksanakan hingga pukul 12 siang yang bertepatan dengan waktu Sholat Zuhur.  Watu ba’da Zuhur hingga menjelang magrib diisi dengan berbagai aktivitas seperti perlombaan-perlombaan rohani, games, serta evaluasi yang dilaksanakan oleh para mentor. Malam hari tidak ada kegiatan khusus karena para peserta harus mengikuti sholat tarawih berjama’ah. Kegiatan lain yang rutin dilaksanakan pada kesempatan ini adalah tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan per hizeb setiap selesai melaksanakan Sholat Subuh.
 
Di sela-sela kegiatan kelas tarbiyat ini pun sempat dilaksanakan seminar Rishta Nata yang mengikut sertakan para peserta Khuddam dan Lajnah. Kegiatan yang dibimbing oleh para Muballighin ini menekankan kepada para anggota Khuddam dan Lajnah akan pentingnya pernikahan sesama muslim Ahmadi. Pertemuan ini meningkatkan antusias para peserta karena topik yang diangkat sangat erat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
 
Akhirnya pada hari Minggu, 28 Juni 2015 “kemah rohani” para pemuda Ahmadiyah ini ditutup dengan tanya jawab berhadiah yang dipandu oleh para panitia, muballighin, dan pengajar serta pembagian hadiah bagi para juara kelas dan pemenang perlombaan-perlombaan selama Kelas Tarbiyat ini berlangsung. Diharapkan setelah kelas tarbiyat ini timbul kecintaan yang lebih mendalam pada generasi penerus Jemaat Ahmadiyah khususnya di tiga wilayah di Jawa Barat ini.