Ahmadiyya Priangan Timur

.

Tuesday, 30 September 2014

NYALINDUNG Dari Segala Godaan dan Cobaan.

Jemaat lokal ini bernama Jemaat lokal Nyalindung. Kalau dalam bahasa Indonesia artinya berlindung. Nyalindung ini merupakan salah satu Jemaat lokal di Kabupaten Garut. Sesuai dengan namanya dan karakteristik daerahnya, Nyalindung merupakan sebuah daerah yang berada di bawah/di dataran rendah atau dalam bahasa Sunda disebut “di lebak”. Karena untuk menjangkau rumah-rumah anggota sendiri kita harus melewati jalanan yang menurun dengan jalan yang berupa tanah merah. Arti Nyalindung dapat juga berarti daerah yang tersembunyi/terlindungi karena didaerah tersebut banyak ditumbuhi pohon-pohon yang cukup besar.
Jemaat bisa sampai di Nyalindung merupakan salah satu jasa dari tokoh yang berasal dari daerah itu sendiri, bernama Bpk. Warsa, alm. Sampai sekarang jumlah anggota disana kurang-lebih 100 orang. Terdiri dari Anshar, Khuddam, LI, Nashirat, Abna dan Banath.
Ada beberapa cerita yang cukup menggetarkan hati setiap kali mendengar untaian kata dari beberapa anggota disana yang menceritakan keadaan jemaat disana yang alhamdulillah sedang mendapatkan limpahan karunia dari Allah Ta’ala.
Berikut salah satu cerita yang membuat kita semakin kokoh dan cinta kepada Jemaat ini. Beberapa waktu ke belakang, jemaat Nyalindung ini memakai sebuah mesjid yang sebenarnya kepemilikan mesjid tersebut merupakan milik dari salah satu anggota masyarakat non ahmadi disana. Namun untuk masalah pengelolaan mesjid tersebut diserahkan sepenuhnya kepada anggota jemaat kita. Selama ini tidak ada masalah apapun dengan kepengurusan mesjid tersebut sampai akhirnya sebelum terjadi penyerangan FPI di Wanasigra (saat Jalsah Salanah), mulai mencuat beberapa masalah yang semakin hari semakin memanas saja. Hal tersebut dipicu ketika ada orang yang meninggal (orang itu merupakan keturunan dari pemilik mesjid tersebut). Pengurus kita mengatakan bahwa orang yang meninggal tidak boleh di shalatkan di dalam mesjid. Sontak hal tersebut membuat anggota keluarganya emosi, sehingga terjadi kesalahpahaman yang juga melibatkan para muspika setempat. Dan pada akhirnya anggota kita tidak bisa lagi memakai mesjid disana untuk beribadah. Ini menimbulkan kesedihan yang mendalam pada setiap anggota yang berada disana.
Semenjak kejadian tersebut saudara kita mendapatkan beberapa tindakan intimidasi, baik dari keturunan pemilik mesjid tersebut maupun dari beberapa aparat desa setempat. Sampai pada beberapa Jumat, Imam Shalat Jumatnya merupakan utusan dari MUI. Hal itu membuat hati saudara kita sakit, dan saya mendengar hal itu langsung selama beberapa kali. Sehingga saya berpikir bahwa saudara kita disana memang begitu mencintai Jemaat, sehingga hal ini membuat mereka susah dan sedih hati. Terkadang mereka juga mendengar hujatan, fitnah dan sindiran yang membuat hati mereka pedih. Ada yang sampai menempelkan stiker di jendela rumah masyarakat yang merupakan ghair dengan tulisan “bukan ahmadiyah” pada setiap rumah, kecuali rumah anggota jemaat.  Mereka juga merayu anak-anak non yang biasa sekolah agama di anggota jemaat dengan iming-iming seragam dan uang saku 2000/orang. Namun tak lama anak-anak itu kembali sekolah agama di jemaat, dengan alasan mereka tidak suka sekolah agama di tempat non ahmadi tersebut karena yang mereka dapatkan bukan ilmu agama, melainkan ejekan-ejekan kepada anggota jemaat ahmadiyah Nyalindung.
Dikarenakan kekuatan dan keteguhan saudara kita disana, alhamdulillah karunia Allah pun berangsur-angsur turun. Ini dimulai dengan kegiatan shalat tarawih berjamaah saat bulan ramadhan yang dikunjungi oleh mubaligh pembina Jemaat lokal tersebut, yaitu Mln. Syihab Ahmad. Dikarenakan mereka ingin tetap tersirami rohaninya dengan air suci Jemaat, saudara-saudara kita mengadakan inisiatif pembagian kelompok tarawih yang digilir setiap minggunya guna mendapatkan giliran Imam oleh Mubaligh sekaligus siraman rohani.
Selama ini jemaat disana mengadakan kegiatan kejemaatan dengan berkelompok dan dibagi dibeberapa rumah anggota. Untuk kelompok tarawih dibagi menjadi 3 kelompok besar. Dan alhamdulillah setiap kelompok tersebut bisa dikunjungi oleh Mubaligh. Kemudian mulai muncul anggota-anggota yang tadinya tidak begitu aktif mengikuti kegiatan selama mesjid yang sebelumnya masih bisa dipakai. Setelah sering dikunjungi oleh Qaid daerah Garut Fathan Mubaraq, alhamdulillah kepengurusan khudam disana mulai tersusun, terbentuklah Majelis Khudam Nyalindung dengan Qaid Majelis terpilih Sdr. Hen-hen.
Sambutan-sambutan hangat penuh semangat pun mulai membakar. Tak lama setelah itu anggota disana sudah mendapatkan sebuah keputusan untuk membeli  lahan kosong yang letaknya tak jauh dari mesjid yang lama. Mereka berharap dapat segera membeli tanah dan mendirikan mesjid. Tak perlu waktu lama, alhamdulillah seorang anggota dari Jemaat lokal Garut Kota bersedia untuk membiayai pembangunan mesjid tersebut. Untuk dana pembelian tanahnya sendiri anggota disana bergerak cepat dengan membuat perjanjian. Dalam waktu beberapa minggu sudah terkumpul dana kurang lebih 1 juta rupiah(meskipun baru sebatas nominal perjanjian). Angka yang cukup besar, melihat mata pencaharian anggota disana sebagian besar hanya merupakan petani, peternak,dan buruh.
Untuk masyarakat sekitar sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan ahmadiyah apa dan bagaimana. Hanya beberapa oknum masyarakat yang merasa tidak senang dengan keberadan ahmadiyah disana yang mencoba menggoyang-goyangkan jemaat namun tidak berhasil. Karena pada akhirnya masyarakat disana sendiri yang bertanya-tanya pada anggota jemaat bahwasannya kapan jemaat akan mendirikan mesjid, karena mereka sudah tidak sabar ingin ikut shalat berjamaah dan mengaji bersama di mesjid baru milik Jemaat. Bahkan pertanyaan yang sederhana sering mereka tanyakan kepada saudara-saudara kita, seperti “Mau shalat Ied dimana? Saya mau ikut,” “Jumatan dimana saya mau ikut.” Untuk Jumatan sendiri, anggota disana pergi ke Mesjid Garut Kota. Dan ketika Hari Raya Idul Fitri tahun 2013 ini, tidak sedikit ghair ahmadi yang melaksanakan shalat Ied bersama anggota Jemaat. Sehingga jumlah yang hadir melebihi tempat yang disediakan, sampai-sampai halaman dan teras rumah dijadikan tempat shalat. Bagaimana dengan mesjid ghair ? menurut anggota disana, saat dia hendak pergi ke tempat shalat ied dia hanya melihat hanya ada dua orang yang berada di mesjid. Terdengar kabar pula bahwa makmum disana merupakan makmum bayaran dari luar daerah tersebut.
Mesjid tersebut kini nampak tidak terpelihara. Ketika anggota kita melihatnya pun, didalam mesjid tersebut berderet asbak rokok yang disimpan dipinggiran jendela. Bahkan ada juga yang bermain kartu didalamnya. Mesjid yang dahulu ramai dengan kegiatan memuji Allah Ta’ala, kini sepi dan kotor.
Alhamdulillah untuk anggota jemaat disana makin hari makin tersinari oleh petunjuk. Karena mereka sendiri yang berusaha membuka dan mencari cahaya Illahi, sehingga mereka tidak membiarkan sedikitpun ruang dalam hati mereka menjadi hitam dan gelap.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan Karunia-NYA dimanapun Jemaat ini berada. Mohon doa untuk Jemaat Nyalindung supaya dapat selalu menjaga kecintan kepada Jemaat Allah Ta’ala ini,dalam segala godaan dan cobaan yang menerpa sehingga pembangunan mesjid pun dapat segera terealisasi. Aamiin Allahuma Aamiin. Jazakumullah Ahsanal Jaza.
Oleh : Adinda Firdhausya Zakhra - Sanding

Pelatihan Jurnalistik Media Center Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur

Dalam upaya menumbuh-kembangan minat menulis anggota Jemaat Ahmadiyah khususnya yang berada di wilayah Priangan Timur, Media Center Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur mengadakan pelatihan jurnalistik dan publikasi media.
Pelatihan yang diadakan di masjid Mubarak Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya berlangsung selama 2 hari dari hari sabtu sore sampai minggu siang 27-28 September 2014 diikuti oleh utusan badan-badan dari setiap cabang Jemaat Ahmadiyah yang ada di daerah Tasikmalaya ditambah anggota AMSA tasikmalaya. Tercatat 26 khuddam, 10 ansharullah dan 29 Lajnah Imaillah mengikuti kegiatan ini.
Selama 2 hari pelaksanaan kegiatan peserta diperkenalkan seputar fungsi dan kerja Media Center, selain itu juga diajarkan bagaimana menulis reportase sebagai bentuk partisipasi aktif anggota bagi kemajuan Media Center. Tutorial membuat blog dan mebuat tulisan untuk di publkasikan juga diajarkan dalam kegiatan ini. Kelemahan secara umum Jemaat Ahmadiyah yang berada di wilayah Priangan Timur selama ini adalah banyaknya kegiatan yang tidak bisa dilaporkan karena tidak memahami bagaimana menuangkan reportase kedalam sebuah tulisan dan cara mempublikasikannya.
Kegiatan pelatihan tidak hanya berupa teori semata, pada pagi hari minggu seluruh peserta turun ke lapangan untuk belajar mencari liputan berita dimana setelah data diperoleh peserta mengolahnya menjadi sebuah tulisan yang langsung di pubikasikan melalui blog yang dibuat sebelumnya. Sebagai apresiasi panitia memberikan hadiah untuk blog yang memiliki keunikan dalam isi yang disajikan.
Ketua Media Center Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur, Nanang Ahmad Hidayat merasa terkejut atas antusiasme peserta selama kegiatan maupun setelah kegiatan. Permintaan untuk mengadakan pelatihan lanjutan datang dari Lajnah dan Ansharullah, selain itu daerah Salawu serta Garut juga meminta panitia untuk mengadan acara yang sama di daerahnya.  Pasca pelatihan pengelola Media Center banyak mendapatkan kiriman tulisan baik liputan berita maupun artikel hasil tulisan anggota Jemaat.
Kegiatan Pelatihan Jurnalistik dan Orientasi Media Center ini sendiri terselenggara dari dana swadaya wilayah Priangan Timur khususnya daerah Tasikmalaya dan Ciamis dengan bertempat di Masjid, pembicara dari kalangan internal serta biaya konsumsi yang sederhana pengeluaran dapat di hemat dan tidak memboroskan biaya untuk hal yang tidak perlu. Orientasi pelatihan yang ditekankan kepada seluruh badan Jemaat Ahmadiyah lebih tepat sasaran dalam mengasilkan penulis-penulis Jemaat yang diharapkan kedepannya dapat meningkatkan kualitas tulisannya.
Doni Sutriana



Lajnah Imaillah Singaparna Adakan Pelatihan Menjahit

Untuk meningkatkan keterampilan kaum perempuan Lajnah Imaillah Singaparna dibawah bimbingan Dina Widianti (Ketua Lajnah Imaillah Singaparna) berinisiatif mengadakan pelatihan menjahit khusus bagi kaum ibu anggota jemaat ahmadiyah dan ibu-ibu warga yang berada disekitar masjid Baiturrahim, Babakan Sindang Singaparna.
Bertempat di gedung serba guna milik Jemaat Ahmadiyah Singaparna dibawah instruktur Ibu Maesaroh (Sekr. Khidmat Khalq) para perserta di ajarkan dasar-dasar keterampilan menjahit, seperti membuat pola dasar dan perhitungan membuat pola dasar untuk diterapkan dalam bentuk gambar.Kegiatan yang dilaksanakan setip hari minggu pagi jam 9 selama kurang lebih 3 jam telah di adakan sejak bulan november 2013, dimana kelas pelatihan diadakan setiap 1 bulan sekali.
Kegiatan yang selain diikuti oleh anggota Lajnah Imaillah Singaparna juga diikuti oleh kaum ibu warga sekitar masjid ini mendapat sambutan yang antusias, sebuah LSM yang bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan AMAN Indonesia (The Asian Muslim Action Network) yang telah menjalin kerjasama dengan badan perempuan Jemaat Ahmadiyah Singaparna (LI) turut pula mendukung kegiatan Lajnah Imaillah Singaparna lainnya dalam upaya pemberdayaan kaum perempun.
Dini Widianti (Singaparna)

SAMBUT HARI MUSLIH MAU’UD 2014 DENGAN LOMBA KEROHANIAN

 Minggu, 9 Pebruari 2014 adalah moment yang ditunggu-tunggu anak-anak dan ibu-ibu LI Cabang Singaparna. Ya..seperti yang telah direncanakan sebelumnya, kami ingin menyambut datangnya Hari Muslih Mau’ud dengan sesuatu yang berbeda, yaitu perlombaan kerohanian antar kelompok.
Pukul 09.00 pagi ibu-ibu dan anak-anak Nashirat sudah terlihat berkumpul di halaman mesjid Baitur-Rahim Babakan Sindang. Mereka yang hadir terdiri dari para peserta lomba yang menjadi wakil dari beberapa kelompok binaan LI. Beberapa orang lainnya hadir untuk memberikan semangat bagi para peserta lomba yang mewakili kelompoknya. Tercatat sekitar 35 orang LI dan 15 Nashirat hadir dalam acara perlombaan menyambut Hari Muslih Mau’ud ini. Begitu kunci masuk ke ruangan untuk LI dibuka mereka langsung berhamburan masuk ke dalam.  Serombongan anak-anak Nashirat duduk bersama kawan-kawan sebayanya. Raut wajah mereka terlihat menyiratkan kegembiraan dan semangat untuk mengikuti acara perlombaan.Tak ketinggalan ibu-ibu pun sudah tak sabar menunggu acara segera dimulai.
Perlombaan yang diadakan terdiri dari 4 macam untuk LI yaitu MTQ, praktek shalat dengan bacaan dan artinya, hafalan 17 ayat pertama surah Al-Baqarah berikut artinya dan cerdas cermat. Sedangkan untuk  Nashirat perlombaan yang diadakan yaitu praktek shalat dengan bacaan yang benar, hafalan 17 ayat pertama surah Al-Baqarah dan cerdas cermat. Acara pun dimulai dengan do’a pembukaan yang dipimpin oleh Bapak Ketua Cabang. Setelah itu para peserta mendaftarkan diri ke panitia perlombaan.
Untuk menghemat waktu maka perlombaan diadakan secara serentak dan dilaksanakan di beberapa ruangan. Lomba MTQ mengambil tempat di mesjid dan lomba lainnya bertempat di beberapa ruangan yang ada di lingkungan  komplek mesjid Baitur-Rahim. Lomba demi lomba berlangsung dengan khidmat dan lancar. Para peserta lomba baik ibu-ibu maupun nashirat terlihat antusias dan semangat mengikuti perlombaan. Tak terasa 2 jam telah berlalu dan tersisa satu perlombaan yang terakhir yaitu cerdas cermat. Perlombaan cerdas cermat kali ini dilakukan dengan sistim rangking , dimana peserta menjawab setiap soal yang dibacakan panitia secara tertulis. bila sudah dua kali jawabannya salah, maka peserta dipersilakan mundur dari arena lomba sampai tersisa 1 orang yang berhak menyandang sebagai juara.
Perlombaan cerdas cermat untuk Nashirat dilakukan lebih dulu. Para peserta duduk berderet ke belakang  dan telah siap dengan alat tulisnya. Dengan seksama mereka memperhatikan setiap soal yang dilontarkan panitia. Satu per satu soal dilontarkan dan langsung dijawab secara tertulis oleh peserta. Jawaban yang sudah ditulis ditunjukkan secara serempak ke panitia. Peserta yang salah menjawab harus rela mundur dari arena lomba. Demikian seterusnya hingga akhirnya tersisa dua peserta nashirat yang akan memperebutkan posisi rangking 1. Soal demi soal yang disampaikan panitia mampu dijawab oleh dua orang nashirat tersebut. Hingga  soal dari panitia habis, dua peserta nashirat ini masih tetap bertahan dengan hasil berimbang.  Akhirnya untuk menentukan juara pertama cerdas cermat Nashirat panitia mengajukan satu pertanyaan yang dapat dijawab oleh seorang peserta dengan cepat dan tepat. Maka usai sudah perlombaan cerdas cermat Nashirat yang penuh persaingan ketat ini.
Tibalah giliran peserta Lajnah yang tampil untuk perlombaan cerdas cermat. Soal yang dilontarkan panitia adalah seputar wawasan kejemaatan secara umum, pengorbanan, ibadah sholat dan khutbah Huzur tentang Taqwa. Sama seperti pada perlombaan cerdas cermat tingkat Nashirat, peserta Lajnah pun satu per satu berguguran hingga akhirnya menyisakan satu peserta yang keluar sebagai juara pertama.
Jam di dinding mesjid menunjukkan hampir pukul 12.00 seiring dengan berakhirnya acara perlombaan kerohanian antar kelompok. Alhamdulillah, dengan karunia Allah Ta’ala acara perlombaan ini berjalan dengan baik dan lancar hingga selesai. Para peserta dari Lajnah dan Nashirat tampak senang dan puas ketika panitia lomba mengumumkan pemenang-pemenang lomba meskipun hadiah baru diberikan pada tanggal 20 Pebruari yang merupakan puncak Peringatan Hari Muslih Mau’ud.
Acara perlombaan kerohanian antar kelompok ditutup dengan do’a. Setelah itu barulah kami membuka bekal masing-masing dari rumah untuk makan siang bersama. Alangkah nikmatnya makan siang pada waktu itu……
Dengan diadakannya perlombaan-perlombaan semacam ini kami berharap ikatan kekeluargaan secara rohani antara anggota semakin erat, wawasan ilmu kejemaatan anggota pun meningkat dan dapat menumbuhkan gairah dan semangat  terhadap Nashirat sebagai generasi muda agar terus belajar menambah ilmu kerohanian dan aktif di jemaat. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin….
(Dina Widianti, Ketua LI Cabang Singaparna)   

Monday, 29 September 2014

Ijtima MKAI dan AAI Jabar II : Riungan Al-Wasiyyat di Papandayan

Liputan oleh : Syihab Ahmad

Merupakan sebuah pengalaman baru bagi para anggota Khuddam dan Athfal wilayah Garut atau Jabar II melaksanakan Ijtima wilayah di Gunung Papandayan, yang menjadi ikon wisata Kabupaten Garut. Sebanyak 13 orang Khuddam termasuk 2 orang muballigh serta 10 orang Athfal mengikuti dengan antusias kegiatan tahunan yang kali ini dilaksanakan selama 2 hari mulai tanggal 28 September 2014 ini. Hadir pula seorang simpatisan pada Ijtima kali ini.
Sebelumnya para peserta Ijtima yang bertajuk “Ririungan Khuddam dan Athfal Kanggo Suksesna Al-Wasiat” (Ijtima Khuddam dan Athfal Untuk Suksesnya Al-Wasiat) ini berkumpul dan berangkat dari Mesjid Mahmud, Sanding hari Sabtu pukul 08.00 WIB. Karena mobil juga dipergunakan untuk mengangkut barang, maka para peserta harus diangkut dua kali sehingga baru tiba di Taman Wisata Alam Gunung Papandayan pada pukul 11.30 WIB.  
Sesampainya di Camp David, tempat perkemahan di kaki gunung Papandayan, para peserta dan panitia langsung mendirikan 5 buah tenda yang telah disiapkan sebelumnya. Hidangan santap siang pun langsung disiapkan untuk mengobati rasa lapar setelah melakukan perjalanan dan mempersiapkan lokasi Ijtima. Setelah makan siang, acara pun dibuka pada pukul 14.30 WIB. Janji khuddam dan athfal pun bergema di tengah hamparan gunung yang terkenal dengan kawahnya ini.

 Setelah acara dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Mln. Jafar Ahmad, serta Sholat Zhuhur dan Ashar, peserta pun dibebaskan untuk beristirahat, bercengkrama atau sekedar berkeliling menikmati indahnya pemandangan kaki Papandayan. Panitia memberi nama sesi ini “Lesoang” yaitu Leleson, Sholat, dan Barang tuang (Santai, Sholat dan Makan). Ya, memang bahasa sunda dipakai dan diutamakan dalam kegiatan Ijtima ini untuk juga memperkenalkan budaya tanah kelahiran para peserta.
Malam harinya dengan mengitari api unggun, diadakan diskusi mengenai Al-Wasiyyat. Mln. Jafar Ahmad dan Mln. Syihab Ahmad menjadi narasumber utama pada sesi ini. Mln. Jafar Ahmad menyampaikan bahwa Candah Wasiat merupakan puncak dari pengorbanan seorang Ahmadi. Tentunya dengan dibarengi perubahan akhlak. Terlihat antusiasme peserta dengan beberapa pertanyaan yang diutarakan pada kegiatan di malam hari yang cukup dingin tersebut.

Hari kedua dimulai pukul 03.00 dimana para peserta berangkat menuju puncak gunung Papandayan untuk menyaksikan “Meletékna Panon Poe” (Sunrise) yang cukup terkenal indah. Sholat subuh dilaksanakan di kawasan perkemahan Hooberhoot tidak jauh dari puncak yang hendak para peserta tuju. Setelah melihat pemandangan alam ciptaan Allah SWT yang luar biasa, para peserta melanjutkan hiking ke beberapa titik yang menjadi tujuan para pendaki gunung yang bertandang kesana, seperti Hutan Mati, Tegal Alun serta danau kawah Gunung Papandayan. Rasa lelah terbayar kembali ditambah rasa syukur setelah melihat mukjizat Allah SWT ini.
Sekitar pukul 09.00 WIB para peserta kembali ke lokasi Ijtima untuk bersiap-siap melaksanakan penutupan yang dilaksanakan satu jam setelahnya dan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Mln. Syihab Ahmad. Para peserta berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan lagi dan mari taklukkan gunung-gunung yang lainnya. (SA)

Foto-foto lainnya :













Sunday, 28 September 2014

COBAAN ITU PENTING

Sebab, cobaan itu penting. Sebagaimana ayat ini mengisyaratkan:

Ahasibannasu ayyutrakuw ay-yakuluww aamanna wahum laa yuftanuwn (Al-ankabut;3)

Allah Ta’ala barfirman bahwa orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah”, serta mereka memperlihatkan keteguhan, maka malaikat-malaikat akan turun pada mereka. Adalah kesalahan para ahli-tafsir,yang mengatakan bahwa turunnya para malaikat adalah pada saat sakratul-maut.Itu tidak benar.

Artinya adalah bahwa orang-orang yang membersihkan hati mereka serta menghindarkan diri mereka dari kekotoran dan najis yang membuat manusia jauh dari Allah, maka di dalam diri mereka akan timbul suatu keserasian/kecocokan bagi rangkaian ilham. Untaian ilham akan mulai mengalir.

Kemudian, mengenai kemuliaan orang mutaki, Dia berfirman di tempat lain:

Alaa inna awliyaa’a allaahi laa khaufun ‘alaiyhim walaa hum yahzanuuwn. (Yunus:63)

Yakni,orang-orang yang merupakan Wali/Sahabat Allah, mereka tidak akan memperoleh kedudukan. Seseorang yang baginya Tuhan itu mencukupi, Orang yang melawannya tidak akan dapat memberikan kemudaratan padanya, yaitu jika Tuhan menjadi sahabat baginya. Kemudian dia berfirman:
Wa-absyiruw biljannatil-laty kuntum tuw-‘aduwn (Haamiim As-Sajdah, 41:31).
Yakni,hendaknya kalian bergembira akan surga yang telah dijanjikan bagi kalian.

Dua Buah Surga Bagi Manusia

Di dalam ajaran Al-Quran ditemukan bahwa terdapat dua buah surga bagi manusia. Seorang yang menjalin kecintaan dengan tuhan, dapatkah dia itu tinggal di dalam kehidupan yang membakar? Tatkala di sini saja sahabat seorang penguasa menjalani sejenis kehidupan surgawi, maka kenapa pula pintu surga tidak akam terbuka bagi sahabat-sahabat Tuhan. Walaupun dunia ini penuh dengan kesengsaraan dan musibah, namun siapa yang tahu bahwa betapa mereka itu merasakan kelezatan. Seandainya mereka memperoleh kesedihan- menanggung derita barang setengah jam saja pun sudah sulit - padhal seluruh umur mereka itu mereka lalui dalam kesengsaraan. Seandainya kepada mereka di berikan sebuah pemerintahan dalam suatu zaman supaya mereka mau menghentikan pekerjaan mereka, maka kapan pula mereka mau mendengar kata orang lain? Demikian pula sekiranya gunung akan meletus, mereka tidak akan meninggalkan iradah mereka. (pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzhat jld.1,h.16)

Orientasi Media Center dan Pelatihan Jurnalistik (Hari-1)

Orientasi Media Center Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur hari pertama sabtu 27 September 2014 berjalan sukses, sebanyak 29 LI dan 36 Anshar/Khuddam mengikuti kegiatan yang diselenggaran di Masjid Mubarak Jemaat Ahmadiyah cabang Tasikmalaya.
Acara dibuka selepas bada ashar denga pembacaan ayat suci al quran yang ditilawatkan oleh Apip Yuhana, anggota khuddam majelis Tasikmalaya. Sambutan dari ketua Media Center JAI Priatim dan Amir Daerah Tasikmalaya & Ciamis disampaikan sebelum amanat dan doa pembukaan oleh Mubaligh Wilayah Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur, Mln. H. Syaeful Uyun.
Dalam sambutannya Ketua Media Center Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur, Nanang Ahmad Hidayat menyampaikan bahwa peran media sangat penting dalam rangka menyongsong seabad JAI tahun 2025. Media Center yang telah dibentuk tidak dapat berjalan tanpa ada peran dari anggota Jemaat, di masa kini kini sebagai anggota Jemaat dituntut untuk dapat mengubah citra negatif Ahmadiyah menjadi positif.
Sementara itu Bapak Amir Daerah Tasikmalaya & Ciamis menyatkan bahwa dalam perubahan politik dimasa kini kita sebagai anggota Jemaat dituntut untuk menguasai ilmu agar dapat menanggulangi permasalahan yang dihadapi, peran Media Center dalam kasus yang terjadi di Priangant Timur sangat besar sekali faedahnya terutama dalam menjalin hubungan dengan birokrasi.
Sebelum doa pembukaan Mln Syaeful Uyun Mubaligh Wilayah Priangan Timur menyampaikan bahwa peran media sangat besar dalam kehidupan masa kini, beliau menyatakan banyak pemimpin bangsa yang meraih kesuksesan karena peran media. Jemaat Ahmadiyah telah memiliki media televisi MTA namun sayangnya di Indonesia belum difungsikan maksimal sebagaimana mestinya. Beliau menekankan bagaimana MTA programa Indonesia kesulitan untuk membuat program baru meski hanya untuk siaran 1 jam, banyak program lama yang diulang-ulang dan tidak begitu variatif. Ini menjadi pekerjaan kita karena beberapa Organisasi Islam kini juga telah memiliki stasiun televisi sendiri. Jemaat Ahmadiyah Indonesia memilik sumber daya manusia untuk mengembangkan MTA namun sumber daya tersebut belum bisa dimaksimalkan. Tahun 2025 Jemaat Ahmadiyah Indonesia harus dapat mengundang Huzoor sebagai tamu negara bukan sekedar tamu jemaat, ini diperlukan usaha keras bagaimana kita mengubah citra negatif Ahmadiyah di masyarakat Indonesia. Hendaknya anggota Jemaat jangaan alergi dengan isu negatif. Menyinggung mengenai media cetak/tulis milik Jemaat Ahmadiya Indonesia sebagian besar hanya bersifat internal, dalam akhir amanatnya beliau menyampaikan agar anggota Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur memanfaatkan weblog resmi yang telah dikembangkan untuk media publikasi.

Dalam sesi materi orientasi Media Center Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur, Nanang Ahmad Hidayat memaparkan bahwa keberadaan Media Center merupakan wujud dari instruksi Hazrat Khalifah sebagau media untuk menjawab segala serangan kepada Jemaat khususnya dan kepada Islam umumnya.
Materi ke-2 yang di dapatkan oleh peserta Pelatihan Jurnalistik adalah mengenai teknik dasar menulis reportase dan kronologis peristiwa yang disampaikan oleh Firmansyah (penggiat HAM)
Pada malam hari peserta pelatihan jurnalistik di perkenalkan dengan weblog Jemaat Ahmadiyah Priangan Timur yang disampaikan oleh Doni Sutriana (pengelola weblog), dalam sesi ini peserta diperkenalkan menu-menu yang terdapat didalam blog untuk mempermudah dalam mendapatkan informasi dengan topik tertentu, selain pengenalan Weblog diajarkan pula bagaimana membuat akun blog dan memposting tulisan. Diakhir acara hari pertama Doni Sutriana membahas sekilas mengenai sosial media dan bagaimana twitter difungsikan sebagai sumber informasi yang kita cari. Acara hari pertama berakhir pada pukul 22.00 WIB setelah sesi tanya jawab seputar Internet dan sosial media.
Doni Sutriana

Saturday, 27 September 2014

ORANG-ORANG MUTAQI MEMPEROLEH KABAR SUKA DI DUNIA INI JUGA MELALUI MIMPI-MIMPI BENAR

Bagi orang mutaki terdapat sebuah janji lagi:

Lahumul-busyraa fylhayaatid-dunyaa wafiyl-aakhirah (Yunus:65)

Yakni,orang –orang yang mutaki,mereka memperoleh kabar-kabar suka di dunia ini juga melalui mimpi-mimpi yang benar. Bahkan lebih daripada itu mereka merupakan ahli-kasyaf [orang-orang yang telah melihat kasyaf-pen.]. mereka memperoleh kehormatan bercakap-cakap dengan Allah. Pada kondisi sebagai manusia pun mereka dapat melihat malaikat. Sebagaimana ia berfirman:

Innalaziyna qoluw rabbunallahhu summastaqomuw tatanazzalu alaiyhimulmalaa’ikah...(haamin As-sajadah:31
Yakni,orang-orang yang mengatakan bahwa, “Tuhan kami adalah Allah”, serta mereka memperlihatkan keteguhan....’Yakni, pada masa datangnya cobaan, Dia memperlihatkan seseorang yang sedemikian rupa dimana dia menyatakan bahwa,”Adapun janji yang telah Aku kemukakan melelui mulutku,Aku penuhi secara nyata “.(pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzat jld.1, h.15)

MTA Studio Indonesia Biro Priatim: SMU Plus Al Wahid

Liputan kegiatan Madrasah Ulya yang ada di SMU Plus Al Wahid, desa Tenjowaringin kab Tasikmalaya

Friday, 26 September 2014

BARANG SIAPA YANG DATANG KEPADA ORANG MUTAQI IAPUN AKAN DISELAMATKAN

Orang-orang terbelenggu di dalam banyak sekali musibah,namun orang-orang mutaki senantiasa di selamatkan. Bahkan barang siapa yang datang kepada orang mutaki, ia pun akan di selamatkan. Musibah-musibah tidak mempunyai batas. Liht sajalah penyakit-penyakit, ada ribuan jenis penyakit yang cukup untuk menciptakan musibah-musibah.Namun orang yang berada dalam benteng ketakwaan, dia akan terhindar dari musibah-musibah itu. Sedangkan orang yang berada di luarnya, dia tengah berada dalam hutan-belantara yang dipenuhi oleh binatang-binatang buas. pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pd jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1,h.15)

MTA Studio Indonesia Biro Priatim: Children Corner Garut

Children Corner Athfal-Nashirat daerah Garut

Thursday, 25 September 2014

BILAKAH SETIAP PERBUATAN MANUSIA ITU SELARAS DENGAN KEHENDAK TUHAN

Masalahnya adalah bahwa tatkala manusia bersih dari gejolak-gejolak nafsu serta meninggalkan egoisme lalu berjalan di dalam kehendak-hendak Tuhan, maka tidak ada perbuatan yang tidak benar. Bahkan setiap perbuatan selaras dengan kehendak Tuhan. Dimana saja orang-orang mengalami cobaan, di sana selalu timbul hal ini, yaitu perbuatan mereka tidak selaras dengan kehendak Tuhan. Keridaan (kesenangan ) Tuhan bertenangan dengan hal itu. Orang-orang yang demikian berjalan di bawah dorongan hati mereka. Misalnya karena emosi mereka melakukan perbuatan yang menimbulkan perkara-perkara dan peradilan-peradilan.

Namun seandainya ini iradah seseorang, yaitu tampa mengambil musyawarah dari Kitabullah dia tidak akan bertindak serta dia akan merujuk kepada Kitabullah dalam segala permasalahannya, maka hal ini sudah pasti bahwa Kitabullah akan memberikan musyawarah. Sebagaimana (Allah Ta’ala) berfirman:

Walaa rathbiw-walaa yaabisinillaa fiy kitaabim-mubiyn—[Dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang terang] (Al-An’am:60)

Jadi, seandainya kita beriradah bahwa akan meminta musyawarah dari Kitabullah., maka kita pasti akan memperoleh musyawarahnya. Akan tetapi orang mengikuti kehendak nafsunya, dia pasti akan mengalami kerugian. Kadang-kadang dia disana harus memberikan pertanggungjawaban.maka sebaiknya Allah berfirman bahwa sahabat yang melakukan pekerjaan sembari terus bercakap-cakap dengan-Nya. Jadi,sejauh mana kekurangan pada diri seorang dalam hal kesirnaan itu, maka sejauh itu pula dia berada jauh dari tuhan.akan tetapi jika dia memiliki kesirnaan seperti apa yang telah di firmankan oleh Allah Ta’ala, maka keimananya tidak dapat dibayangkan.

Dalam memberikan dukungan-Nya terhadap mereka, Allah Ta’ala berfirman:Waman aada waliyyan faqad ‘aazantuhuu bilbarbi (hadis) - -“Barang siapa yang berperang melawan sahabat-Ku,berarti dia berperang melawan-Ku”

Kini lihatlah, betapa tingginya kemuliaan orang mutaki serta betapa tingginya derajat yang ia miliki.Seseorang yang memiliki kedekatan sedemikian rupa di sisi Tuhan,maka betapa Tuhan itu akan menjadi pendukung dan penolong baginya.(pidato pertama Hz.Masih Mauud as. pada jalsah salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1, h.14-15)

MTA Studio Indonesia Biro Priatm: Reportase Jalsah Salanah Daerah Garut 2014

Liputan acara Jalsah Salanah daerah Garut tahun 2014

Wednesday, 24 September 2014

DUA BAGIAN KEBAIKAN-KEBAIKAN MANUSIA

Kebaikan-kebaikan yang di lakukan oleh manusia terdiri dari dua bagian. Yang pertama adalah fardu-fardu dan kedua adalah nafal-nafal. Fardu-fardu adalah yang telah di wajibkan atas manusia. Misalnya melunasi utang atau membalas kebaikan dengan kebaikan. Selain fardu-fardu tersebut bersamaan dengan semua kebaikan itu terdapat nafal-nafal. Ini merupakan penggenap dan penyempurna fardu-fardu.

Di dalam dadits tersebut di terangkan bahwa penyempurna fardu-fardu diniyyah (keagamaan) para waliullah melalui nafal-nafal. Misalnya, selain dari pada zakat mereka memberikan sedekah-sedekah. Allah Ta’ala akan menjadi sahabat orang-orang demikian. Allah Ta’ala berfirman bahwa persahabatan dengannya adalah sedemikian rupa sehingga, “Aku merupakan tangannya, kakinya dan sebagainya. Sampai-sampai Aku menjadi lidah yang dengannya ia berbicara “. (Pidato Pertama Hz. Masih Mauud as. pd Jalsah Salanah 25 Des. 1897 / Malfhuzat jld.1 h.13-14)

MTA Studi Indonesia Biro Priatim: Children Corner Tasikamalaya

Liputan Children Corner Athfal-Nashirat Daerah Tasikmalaya dipimpin oleh Maulana Mubarak, pada peringatan hari Masih Mauud 2014

Cerianya Porda LI Tasikmalaya

Tasikmalaya - Pagi itu sekira pukul 7 Balai Pertemuan Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya sudah terlihat ramai oleh suara riuh rendah  LI dan Nashirat yang bersiap akan mengikuti kegiatan Pekan Olah Raga – Porda. Panitia membagikan kartu yang telah disiapkan untuk doorprize jalan santai, yang  menjadi acara pertama dari kegiatan Porda.
Barisan terdepan Nashirat diikuti dengan anggota LI berderet rapi, pengarahan dari Wakil Ketua Daerah serta doa dipimpin oleh Bapak Mubaligh Wilayah Priangan Timur menandai dimulainya Porda LI Tasikmalaya dan sekitarnya.

 Barisan bergerak menuju jalan raya dipandu oleh para Sekretaris Sehat Jasmani, Sekretaris Nashirat dari cabang-cabang LI Tasikmalaya.
Langkah-langkah kaki wanita Ahmadi yang muda maupun yang sudah tidak lagi muda, melalui seputaran Pusat Kota Tasikmalaya, berbaur dengan masyarakat Tasikmalaya menikmati saat Car Free Day sehingga kita lebih leluasa berjalan tanpa harus berjibaku dengan kendaraan bermesin. 
Spanduk yang bertuliskan Peringatan Hut RI ke 69 dan Hari Olah Raga Nasional dengan sigapnya digenggam oleh generasi muda Ahmadi (baca Nashirat) secara bergantian dengan spanduk yang bertuliskan Pekan Olah Raga LI Daerah Tasikmalaya selama jalan santai, tak kurang dari 100 LI dan Nashirat ada dalam barisan.
Tak terasa 40 menit berlalu, barisan pun kembali memasuki Balai Pertemuan. Tak nampak raut lelah pada peserta jalan santai, kegiatan pun dilanjutkan dengan senam pagi yang dipimpin dengan lincahnya oleh seorang anggota LI, walaupun beliau sebenarnya sedang dalam keadaan kurang fit, tak mengurangi semangatnya memandu setiap gerakan dari pemanasan hingga pendinginan dengan senam poco-poco.
Tenis meja double menjadi rangkaian pertandingan olah raga berikutnya, yang hanya diikuti oleh 3 pasang dari 3 cabang. Pertandingan yang cukup menguras tenaga para pemain karena setiap pertandingan dilakukan dengan “long play”. 
Nashirat dibimbing oleh Panitia LI usia sekolah, mulai menyiapkan diri untuk mengikuti beberapa permainan dengan diawali beberapa ice breaking bertempat di lantai 2 gedung kebanggaan Jemaat Tasikmalaya. 
Lomba balap makan kerupuk, paku beregu, sarung beregu dan galah asin “gobak sodor” menjadi sajian pertandingan untuk LI yang diikuti oleh perwakilan 4 cabang. 
Nashirat pun dengan tetap penuh “semangat juang” melalui berbagai permainan paku beregu, balon pasangan, sendok kelereng, sedotan karet dan lomba makan kerupuk. 
Tak terasa seluruh perlombaan telah dilangsungkan, tibalah pengumuman juara dari setiap lomba. Sebelumnya ibu Muffatish PPLI telah menyampaikan rasa syukurnya dengan berjalannya Porda ini semata-mata karunia Allah swt. Antusias dan semangat yang diperlihatkan oleh semua peserta semoga terus dijaga, terutama dengan kehadiran dan keikutsertaan anggota pada kegiatan-kegiatan Ta’lim/ Tarbiyat baik yang diadakan oleh LI maupun Jemaat. 
Para pemenang mendapatkan penghargaan yang sederhana, termasuk doorprize untuk peserta jalan santai, namun semoga tak mengurangi barokah dari silaturahmi dan kecintaan kepada Jemaat yang terbangun melalui Porda ini. Wilujeng tepang deui sadayanaaaa... *) selamat berjumpa lagi semua
  
Peliput : Ranti Rahimah Munawwar (Kontributor Asy-Syifa Priatim/ Biro MTA Priatim)  

Tuesday, 23 September 2014

TANDA-TANDA ORANG MUTAQI

Jadi, hendaknya harus senantiasa di lihat sampai di manakah kita telah meraih kemajuan dalam hal ketakwaan dan kesucian. Standarnya adalah Al-Qur’an. Dari sekian tanda-tanda orang mutaki, Allah Taala ada juga menetapkan sebuah tanda, yaitu Allah Ta’ala membebaskan orang yang mutaki itu dari dunia kemakruhan [hal-hal yang tidak di sukai-Nya -pent.] lalu memberikan kecukupan pada orang itu untuk pekerjaan-pekerjaannya. Sebagaimana ia berfirman:

Wamayyattaqilloha yaj-allahu makhrajan, wayarzuqhu min haysu laa yahtasib – [Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar.Dan, Dia akan memberikan rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia menyangka] (Ath-Thalaq: 3-4)

Orang yang takut kepada Allah Ta’ala, dalam setiap musibah Allah Ta’ala akan membukakan jalan keikhlasan untuknya, dan ia akan menciptakan sarana-sarana penghasilan/ nafkah bagi orang itu yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Yakni, inipun merupakan sebuah tanda orang yang mutaki, bahwa Allah Ta’ala tidak menjadikan orang mutaki itu butuh akan keperluan-keperluan yang tidak bermamfaat.

Misalnya seorang tukang kedai beranggapan bahwa tanpa berkata dusta maka pekerjaannya tidak akan jalan, oleh karena itulah dia tidak berhenti dari berkata dusta. Dan untuk berdusta ia menzahirkan alasan-alasan keterpaksaan. Akan tetapi hal itu sama-sekali tidak benar. Allah Ta’ala sendiri yang menjadi Pelindung bagi orang mutaki, dan ia menghindarkan-nya dari kndisi yang seperti itu.

Orang-orang yang menciptakan suasana keterpaksaan atas dasar hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran, ingatlah, kalau seseorang telah meninggalkan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala meninggalkannya. Kalau sang Maha pengasih telah meninggalkan seseorang, maka pasti syetan akan menjalin hubungan dengannya.

Janganlah beranggapan bahwa Allah itu lemah. Dia memiliki kekuatan yang sangat besar. Kalau kalian bertawakal atau bertumpu pada-Nya mengenai suatu hal, maka pasti Dia akan menolong kalian.

Wamay-yatawakkal alallahi fahuwahasbuhuu -- [Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia memadai baginya] (Ath-Thalaq:4)

Akan tetapi orang-orang yang pertama kali di tuju oleh ayat-ayat ini adalah orang-orang yang beragama. Seluruh perhatian (pemikiran) mereka hanyalah untuk hal-hal keagamaan, sedangkan masalah duniawi mereka serahkan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Allah swt. Menentramkan mereka bahwa “aku bersama kalian”. Ringkasnya salah satu dari berkat-berkat ketakwaan adalah bahwa Allah Ta’ala telah menganugrahkan keikhlasan kepada orang mutaki terhadap musibah-musibah yang merupakan penghalang bagi hal-hal keagamaan.

Allah Ta’ala Secara Khusus memberikan Rizki Kepada Orang Muttaki

Demikian pula hanya Allah Ta’ala secara khusus memberikan rezeki kepada orang mutaki. Di sini saya akan menyinggung masalah rezeki-rezeki makrifat (ilmu)

Rasulullah saw. Memperoleh Rezeki Rohaniah (Makrifat-makrifat) Sedemikian Rupa Sehingga Beliau Unggul atas semuanya

Walaupun yang mulia Rasulullah saw. seorang ummi (buta hurup), beliau harus melawan seluruh alam, dimana di dalam terdapat ahlikitab, filosof, orang-orang yang mempunyai selera ilmiah tinggi serta para cerdik-pandai. Akan tetapi beliau saw.telah memperoleh rezeki rohani sedemikian rupa sehingga beliau unggul atas semuanya dan telah membuktikan kesalahan-kesalahan mereka. Itulah rezeki rohani yang tidak ada bandingannya. Mengenai orang mutaki, di tempat lain pun ada dikatakan:

Inawliyaaa’uhuu illal-muttaquwn - [Wali-walinya yang sebenarnya adalah orang-orang yang bertakwa] (Al-Anfaal:35).

Wali Allah Ta’ala itu adalah orang-orang yang mutaki, yakni sahabat Allah Ta’ala. Jadi betapa hebatnya nikmat ini bahwa dengan kesusahan yang sedikit saja pun dapat di katakan sebagai orang yang memperoleh kedekatan dengan Tuhan.

Zaman sekarang ini betapa pengecutnya. Kalau ada penguasa atau pejabat yang mengatakan kepada seseorang, “Engkau adalah sahabatku,” atau memberikan kursi kepadanya serta menghormatinya, maka orang itu akan bangga dan menyombongkan diri kemana-mana. Akan tetapi betapa mulianya derajat orang yang telah dikatakan sebagai wali atau sahabat oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah berjanji melalui lidah rasul mulia saw.—sebagaimana tercantum di dalam sebuah Hadits Bukhari: Laa yazaalu yataqarrabu abdiy bin-nawaafili hattauhibbahuu faizaa ahbabtuhuu kuntu samahullazy yasma-u bihii wayadahullaty yabtisyu bihaa warijlahullaty yamsyi bihaawala’in sa’alaniy la’a’taytuhuu wala’in ista’azany la’uiyzannahuu

Yakni, Allah Ta’ala berfirman bahwa, “sahabatku menciptakan kedekatan terhadap-Ku melalui nafal-nafal....”
(pidato Pertama Hz.Masih Mauud as. pd Jalsah Salanah 25 Des.1897 / Malfuzaat jld.1, h.12-13)

Membangun Pohon Kebhinekaan di Griya Krida Sekesalam

Bandung - Ketika perbedaan tidak menjadi halangan untuk saling menghargai, maka harapan untuk mewujudkan perdamaian sejati bukanlah hanya sebuah mimpi. Inilah pemandangan yang dapat kita lihat pada Youth Interfaith Camp (YIC) yang terselenggara atas kerjasama Gereja Kristen Pasundan dan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub). Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari mulai hari Jum’at, 19 September 2014. Sebanyak 80 orang calon duta perdamaian dari berbagai komunitas di Jawa Barat mengikuti rangkaian kegiatan yang sudah ke empat kalinya ini diadakan.
Dr. KH. Abdul Muqsid Ghazali, MA.
Antusiasme para peserta sudah dapat dirasakan sejak hari pertama. Pada sesi keakraban para peserta didampingi oleh fasilitator yang merupakan alumni YIC sebelumnya saling memperkenalkan diri masing-masing kepada anggota dari kelompoknya dan diminta untuk mengingat nama seluruh anggota di daam kelompoknya tersebut. Setelah itu mereka diminta menyebutkan nama teman-teman dalam grup masing-masing di hadapan peserta yang lain.
Setelah makan malam acara dilanjutkan dengan sebuah sesi yang menarik yaitu Religious Cafe. Dalam sesi ini terdapat lima stand yang berisi expert dari lima keyakinan yang berbeda. Setiap kelompok diberikan kesempatan selama 10 menit untuk bertanya-tanya tentang masing-masing keyakinan itu. Lima stand tersebut adalah Islam, Kristen, Buddha, Baha’i dan Penghayat. Stand Baha’i dan Penghayat mendapat antusias lebih dari para peserta karena banyak yang baru mendengar serta mengetahui adanya dua keyakinan ini di Indonesia.
Hari kedua dimulai dengan olahraga pagi di halaman Griya Krida Sekesalam yang dipilih menjadi lokasi bertemunya berbagai keyakinan dalam kerukunan ini. Sesi indoor pertama pada hari ini yaitu nonton bareng film “Ketika Bung di Ende” yang menceritakan kehidupan Presiden pertama Indonesia, Soekarno ketika beliau diasingkan ke Pulau Ende di Flores oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1934-1938. Terlihat bagaimana Bung Karno hendak mewujudkan cita-cita mempersatukan Indonesia yang beragam baik suku, budaya maupun agama. Setelah itu acara diisi oleh narasumber dari Wahid Institute yang juga merupaka Dosen di UIN Syarif Hidayatullah serta Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Dr. KH. Abdul Muqsid Ghazali, MA. Beliau menyampaikan bagaimana realitas keragaman agama dalam payung besar bangsa Indonesia. Selama ini terjadi stratifikasi sosial di Indonesia yang memang sudah masuk sejak zaman pendudukan kolonial Belanda di Indonesia.
Sesi Keakraban
Setelah itu Kang Wawan, koordinator Jakatarub dan Pendeta Obertina, koordinator YIC menjelaskan permasalahan di Indonesia yang menyangkut radikalisme serta diskriminasi yang terjadi kepada beberapa keyakinan tertentu dan bagaimana kita harus menghadapinya. Acara dilanjutkan kepada sesi grup lagi. Setiap grup mendapatkan selebaran yang berbeda-beda berisikan isu-isu terhangat mengenai toleransi. Kemudian para peserta diminta untuk mengutarakan apa yang mereka rasakan setelah melihat isi dari selebaran yang mereka dapatkan. Kemudian perasaan itu diungkapkan dalam bentuk gambar. Setiap grup dapat menggambarkan apa saja yang mereka rasakan di dalam kertas A2 yang kemudian mereka presentasikan di hadapan para peserta yang lain. Setelah itu para peserta dibagi berdasarkan regional wilayah masing-masing. Mereka mendiskusikan Rencana Tindak Lanjut apa yang akan dilaksanakan setelah berakhirnya YIC ini agar kegiatan ini tidak hanya terhenti disini saja dan dapat menghasilkan sesuatu yang kongkrit.

Malam harinya tidak kalah seru. Acara api unggun dikemas menarik dengan menampilkan  slideshow foto-foto dokumentasi selama 2 hari acara diselenggarakan. Lagu harmoni dan rumah kita yang dibawakan bersama-sama menambah hangatnya suasana malam itu. Kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan dua komunitas yang ada di Kota Bandung yaitu Praxis yang bergerak di bidang sosial serta LBH yang bergerak di bidang advokasi. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film Alur Waktu karya komunitas 6211 yang menampilkan perjalanan toleransi bangsa Indonesia sejak kemerdekaan RI pada tahun 1945. Banyak peristiwa yang menunjukkan masih harus dibangunnya toleransi pada diri seluruh masyarakat Indonesia. Akhirnya malam itu ditutup dengan renungan yang dipimpin oleh Mln. Syaefullah Ahmad Farouq, muballigh Jemaat Ahmadiyah Indonesia untuk wilayah Priangan Barat. Beliau menyampaikan pentingnya motto Love For All Hatred For None dalam menyikapi keberagaman di negeri kita.
Kunjungan ke Vihara Dharma Ramsi
Pada hari terakhir para peserta diajak oleh panitia dan fasilitator YIC untuk berwisata rohani ke beberapa tempat ibadah di kota Bandung. Ada dua kelompok besar yang dibagi untuk mengunjungi Hindu Hare Krisna, Vihara Dharma Ramsi, Pesantren Darut Taubah, Kong Miao milik Kong Hu Cu serta Gereja St. Mikael yang menjadi destinasi terakhir rangkaian acara YIC ini.
Sebuah pengalaman yang luar biasa mengetahui bagaimana ajaran agama dan keyakinan lain diajarkan. Dengan mengetahui langsung dari setiap agama dan keyakinan itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Semua mengarahkan manusia untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik. Hanya cara pandang serta pelaksanaan yang berbeda. Seperti pepatah banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk menuju Sang Pencipta sesuai dengan keyakinan yang ada di hati kita masing-masing. Berbeda itu indah karena dengan berbeda kita bisa menjadi suatu kesatuan yang berwarna. (Syihab)

MTA Studio Indonesia Biro Priatim: Liputan Pembukaan Segel Masjid Nur Khilafat Ciamis

Liputan pembukaan segel mesjid Nur Khilafat ciamis 4 Juli 2014

Khutbah Jumat: Kekuatan Doa untuk Pertolongan Khas

(Ringkasan Khutbah Jumat Hazrat Khalifatul Masih V, 8 Agustus 2014)
 "Atau, siapa yang menjawab orang yang sengsara ketika ia menyeru kepada-Nya, dan menghilangkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah (penerus) di bumi? Apakah ada Tuhan selain Allah? Sedikit sekali kamu merenungkan." (27:63) 
Hadhrat Masih Mau’ud as. berulang kali menasehati Jama'at beliau untuk memberikan perhatian besar pada doa karena kemajuan Jama'at dan terlepasnya dari kejahatan musuh adalah melalui doa! beliau menerangkan dengan jelas bahwa satu-satunya senjata kita untuk menang atas musuh adalah doa. lalu seberapa banyak kita harus mementingkan doa dan seberapa banyak kita harus fokus pada hal ini; ya, seberapa banyak kita mementingkan dan memperhatikan hal ini. Hal ini dapat diukur oleh setiap orang dengan merenungkan kondisi mereka sendiri. 
Baru-baru ini seorang kerabat menceritakan mimpi mereka kepada Hudhur di mana Hudhur mengatakan kepada mereka bahwa Ramadhan telah berlalu sangat cepat sementara Hudhur bermaksud menarik perhatian yang lebih besar dari Jama'at kepada doa. Satu poin penting di sini adalah bahwa fokus kita pada doa tidak akan tetap seperti selama hari-hari Ramadhan meskipun Jama'at sangat membutuhkan doa. Bahkan sebelum mimpi ini diceritakan kepada Hudhur, Hudhur terilhami/terdorong untuk menarik perhatian Jama'at kepada doa setelah Ramadhan dan ini meningkat setelah mendengarkan mimpi tersebut. Ini adalah cara Allah; meskipun Ia mengilhami hati terhadap sesuatu, Dia juga memotivasi orang mukmin sejati kepada sesuatu melalui orang-orang mukmin sejati lainnya. Secara umum intensitas dalam doa tidak tetap sama setelah Ramadhan! 
Kondisi global saat ini mengerikan; situasi di dunia Muslim, khususnya serangan kejam terus menerus oleh Israel terhadap warga Palestina. Sampai kemarin gencatan senjata sementara diberlakukan, tapi dikatakan bahwa hari ini telah rusak. tuduhannya adalah bahwa gencatan senjata dirusak oleh pihak Palestina meskipun Tuhan yang paling mengetahui. Semoga Allah -entah bagaimana- mengakhiri penganiayaan ini! kita juga melihat betapa umat Muslim membunuh umat Muslim dan ekstremisme terburuk dari orang-orang yang mengucapkan syahadat adalah bahwa dengan nama Allah dan Rasul-Nya, mereka menganiaya orang-orang Ahmadi. Dan dengan keras kepala mereka mencari-cari alasan untuk melanjutkan penganiayaan ini. Mereka ingin menganiaya para Ahmadi di setiap tingkatan, di setiap kesempatan. 
akibat pengaruh para Mullah, ini telah menjadi cara sebagian besar orang-orang ghair Ahmadi di Pakistan. Para pemuda diracuni, pikiran mereka diracuni. Mereka tidak tahu apa itu iman dan siapakah musuh, tetapi mereka mengatakan bahwa para Ahmadi adalah kafir dan mereka boleh dibunuh. para siswa berlaku kasar kepada para guru sekolah Ahmadi hanya karena keyakinan mereka. tuntutan diajukan untuk memecat mereka dari sekolah dan siswa-siswa menolak diajar oleh mereka! Baru-baru ini di sebuah kota kecil di Pakistan para siswa dan orang tua mereka melakukan unjuk rasa terhadap seorang guru Ahmadi memboikotnya atas dasar keimanannya. Kepala sekolah atau beberapa orang lain yang berakal mengatakan kepada mereka bahwa Rasulullah saw. bahkan membebaskan para tahanan perang yang berilmu dengan syarat bahwa mereka mengajarkan ilmu mereka kepada umat Islam meskipun mereka telah datang untuk memerangi umat Muslim dengan maksud membunuh mereka. Orang-orang dari kota kecil di Pakistan yang suka bertengkar ini menjawab bahwa Rasulullah saw. mungkin telah mengatakan demikian kepada orang-orang kafir, tetapi mereka tidak setuju karena 'Qadiani' lebih buruk daripada orang-orang kafir, kemudian menambahkan, mereka akan melepaskan para 'Qadiani' meskipun membunuh mereka diperbolehkan. 
Penganiayaan dan kekejaman ini tidak berhenti setelah insiden tertentu, melainkan terus berlanjut. Ketika tetangga para Ahmadi di Gujaranwala yang biasa bergaul dengan mereka melihat rumah mereka dikosongkan, mereka bergabung dengan massa. Ketika moral jatuh begitu rendah tidak ada yang bisa dikatakan kecuali 'Inna Lillah'! Mengingat keadaan ini, kita perlu berpaling kepada Allah jauh lebih banyak dari sebelumnya. Kita seharusnya tidak membiarkan doa kita menurun. ketika umat Islam lainnya merespon penganiayaan secara agresif untuk menuntut balas, cara kita adalah kembali kepada Tuhan dalam kesedihan kita dan dengan demikian menyelesaikannya. Hadhrat Masih Mau’ud as. mengatakan dalam salah satu bait syair beliau: 
Ketika musuh melampaui batas dalam keributan
kita menenggelamkan diri pada Teman kita yang Tersembunyi
Dan inilah yang dibutuhkan; yang dibutuhkan untuk menanamkan suatu kondisi dalam diri kita sendiri yang akan menggerakkan langit. Mimpi yang diceritakan kepada Hudhur menyebutkan bahwa Hudhur harus lebih memotivasi Jama'at untuk berdoa. Meminta Jama'at untuk mengerjakan shalat berjamaah adalah untuk keberhasilan dan kemajuan Jemaat dan untuk menghilangkan kesulitan. Ini adalah keinginan kita semua bahwa masa ujian segera berakhir. Oleh karena itu aliran doa kita harus untuk Jama'at dan untuk perlindungan terhadap kejahatan musuh. dewasa ini sangat perlu berdoa sebanyak-banyaknya untuk perlindungan terhadap kejahatan musuh. Hudhur teringat mimpi lama beliau yang telah beliau sebutkan sebelumnya. Di dalamnya beliau diberitahu bahwa supaya keadaan berbalik dengan cepat seluruh Jemaat perlu berpaling kepada Allah dengan ketulusan sempurna demi Dia, dan berdoa untuk melindungi Jama'at dari ujian-ujian. Jika kondisi ini tertanam di seluruh Jemaat, dan malam kita dihabiskan dalam doa-doa untuk Jama'at, perubahan revolusioner dapat terjadi dalam beberapa hari karena doa-doa yang dipanjatkan dalam beberapa malam. Memang, perubahan revolusioner ditakdirkan untuk terjadi, itu adalah janji Tuhan, tetapi akan memakan waktu. 
Pesan yang diberikan kepada Hudhur dalam mimpi beliau adalah bahwa seluruh Jemaat yang menisbahkan dirinya kepada Hadhrat Masih Mau'ud as. perlu berpaling kepada Allah dalam doa dengan penuh kesungguhan. Mimpi itu memberi kesan bahwa pesan itu khusus untuk para Ahmadi Pakistan, baik itu kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan. Penganiayaan terburuk terhadap para Ahmadi terjadi di Pakistan dan para Ahmadi di dunia juga perlu memperhatikan hal ini. Hal ini karena keberlangsungan dunia ini berkaitan dengan kemenangan Ahmadiyah, bagi umat Islam untuk menerima berkat Tuhan berkaitan dengan Ahmadiyah, dan akhir penganiayaan juga terkait dengan itu. baik kebebasan Palestina maupun kebebasan umat Islam dari penguasa tirani, hanya doa para Ahmadi yang bisa menjamin hal itu. Saat ini para Ahmadi adalah orang yang paling teraniaya dan inilah mengapa doa kita akan menjadi doa مضطر (muztir, orang yang sengsara - seperti dikutip dalam ayat Alquran di atas) dan bukan hanya itu dapat menjadi sumber kebebasan kita tetapi juga sumber menghapuskan penganiayaan terhadap umat manusia. 
Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda bahwa efek menakjubkan doa menjadi jelas selama ujian dan kenyataannya adalah bahwa Tuhan kita dikenali melalui doa! 
Siapa yang lebih teraniaya daripada para Ahmadi di beberapa negara Muslim? moral dari sebagian besar orang-orang di negeri ini (Pakistan) - sebagaimana Hadhrat Khalifatul Masih III (r.h.) sering katakan - telah menjadi  moral yang bisu. Ayat Al-Qur`an (seperti dikutip di atas) menyatakan bahwa siapa lagi tetapi Tuhan mendengar doa orang-orang yang berada dalam kesulitan, ketika mereka adalah Mudhthir ! Mudhthir (orang yang kesulitan)  berarti seseorang yang melihat dirinya dilanda ujian-ujian dari segala sisi dan tidak melihat jalan keluar secara dzahir atau duniawi bagi dirinya dan hanya melihat jalan Tuhan sebagai solusinya. Mudhthir  tidak hanya mengisyaratkan seseorang yang menderita karena  gelisah tidak menemukan jalan keluar, tetapi mudhthir menemukan sinar cahaya dan berlari ke arahnya dan tidak mengisyaratkan kepada seseorang yang berlari secara serampangan ketika dikelilingi oleh api. Dengan cara ini justru dia dapat terjerumus ke dalam api. Mudhthir adalah seseorang yang melihat cahaya tertentu pada saat mengalami ujian dan cobaan kemudian dia mengikuti cahaya tersebut. Tuhan berfirman bahwa Dia adalah naungan yang sejuk bagi seorang Mudhthir yang menyelamatkannya dari api. Kita harus kembali kepada Tuhan dengan keyakinan yang kokoh bahwa Dia akan mengeluarkan kita dari masalah-masalah. Sebagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s., bahwa keunikan yang menakjubkan menjadi bukti dalam mendukung kalian. Seseorang yang menjadi mudhthir yang tidak mengakui atau mengenal perlindungan lain selain perlindungan Tuhan dan tidak mengakui atau mengenal yang lain selain Tuhan sebagai Penyelamat dari ujian-ujian dan cobaan-cobaan adalah mudhthir yang sejati dan doa-doanya menampakkan keajaiban-keajaiban. Dalam keadaan seperti ini Tuhan berlari menuju mudhthir ini dan melenyapkan masalah-masalahnya. Masalah-masalahnya terselesaikan, baik itu secara kelompok maupun pribadi. Ini tidak berarti bahwa Tuhan hanya melenyapkan kesulitan-kesulitan dari orang-orang semacam ini, kenyataannya adalah ketika Dia menganugrahkan berkat-berkat-Nya pada mereka berkat-berkat itu tidaklah terbatas. Disini, dalam ayat di atas Tuhan berfirman bahwa Dia bukan hanya akan melenyapkan masalah-masalah para mukmin sejati yang berada dalam kesulitan tetapi juga berjanji akan menjadikan mereka ‘khalifah-khalifah di bumi’. Tuhan menghancurkan tirani yang tinggi dan kuat dan memberikan keunggulan kepada orang-orang yang nampak lemah sebagai gantinya. Demikianlah, Dia melenyapkan masalah-masalah pribadi maupun kelompok.
Al-Qur`an Suci menyatakan bahwa ketika orang-orang terdahulu tidak adil kepada para Nabi Tuhan, Tuhan menghancurkan mereka dan memberikan kepada kedudukan mereka kepada orang-orang yang (nampak) lemah. Banyak tirani besar dihancurkan sepenuhnya. Hukum ini berlaku bahkan sampai sekarang. Tuhan menghancurkan yang tidak adil ketika seseorang yang menjadi korban berdoa dalam cara seorang mudhthir dan menyeru mengatakan: ‘... Kapankah pertolongan Allah datang?... (2:215) kasih-sayang Tuhan muncul dan secara cepat mengadakan perhitungan (hisab) kepada para penindas.  Semoga Tuhan memberikan kesadaran kepada mereka yang menindas orang lain karena kesombongan atas kekuatan mereka. Jika tidak, kekuatan dan mayoritas itu juga yang akan menjadi sumber kehancuran bagi mereka. Tuhan berfirman bahwa orang-orang yang tidak menjalankan ketakwaan dikarenakan mereka kuat dan mayoritas maka mereka mendapatkan akhir yang buruk, Ketika orang-orang mengucapkan syahadat dan membawa nama Rasulullah s.a.w., tetapi terus saja melakukan penindasan kepada orang lain, syahadat itu dan Rasulullah s.a.w., tidak senang dengan orang seperti itu.  Tuhan berfirman bahwa para penindas akan mendapatkan akhir yang buruk. Siapapun yang menentang perintah-perintah Tuhan akan mendapatkan akhir yang buruk, akan tetapi, untuk segera menyingkirkan penindasan itu adalah perlu bagi kita untuk mengamalkan kondisi seorang mudhthir dan meminta pertolongan Tuhan, lalu lihatlah bagaimana Dia datang menolong! Tiap-tiap kita perlu untuk menanamkan kondisi ini.  
Hadhrat Masih Mau’ud a.s., bersabda: ‘ Kalian lihat, Tuhan Yang Maha Kuasa itu Ghani (Maha Cukup). Dia tidak akan peduli kecuali doa-doa dipanjatkan demikian banyak, berulang-ulang dan dengan perasaan pedih. Bagaimana sedihnya seseorang yang istrinya atau anaknya jatuh sakit atau seseorang yang dihadapkan kepada sebuah kasus pengadilan yang sulit. Jika doa tidak dipanjatkan dengan kesedihan sejati dan sambil melahirkan sebuah kepedihan maka itu benar-benar tidak berpengaruh dan tidak berguna. kepedihan adalah syarat pengabulan doa.’
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa pengabulan doa-doa memiliki syarat bahwa doa-doa itu dipanjatkan sebanyak mungkin dan berulang-ulang. hendaknya jelas bahwa keliru menganggap doa-doa Ramadhan sudah cukup. Kita perlu berdoa secara dawam. Bahkan ketika kita akan dianugrahkan kemenangan yang nyata, untuk mengumpulkan berkat-berkat Tuhan, kita tetap akan memerlukan doa. Singkatnya, hubungan seorang mukmin sejati dengan Tuhan tidak pernah berkurang. Kepedihan perlu diciptakan selama dalam kesulitan dan mengingat Tuhan diperlukan selama waktu-waktu yang baik (aman).  Seorang mukmin sejati tidak pernah egois dan tidak menganggap doa-doa sementara adalah cukup. hubungan dengan Tuhan inilah yang memperlihatkan tanda-tanda pengabulan doa selama waktu-waktu yang biasa.
Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda: “ Ingatlah, berpaling kepada yang lain selain dari pada Allah itu artinya memutuskan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.” Memang, hal ini adalah suatu hal yang tak mungkin terpikirkan bagi seorang mukmin sejati, namun kadang-kadang, disebabkan oleh kelemahan-kelemahan, hak-hak (syarat) doa tidak ditunaikan dan seseorang berpaling kepada sarana-sarana duniawi. Oleh karena itu, setiap dari kita hendaknya senantiasa mengintrospeksi diri apakah, jangan-jangan kita menjadi demikian tenggelam dalam urusan-urusan dan masalah-masalah kita sendiri sehingga kita  tidak ingat untuk berdoa bagi orang-orang yang berada dalam kesulitan-kesulitan, karena bagaimanapun mereka adalah bagian dari Jemaat. Kita hendaknya ingat bahwa doa setiap orang yang dipanjatkan sementara dia menyadari kemurahan, pengampunan Tuhan, dan sifat-sifat-Nya yang lain, mampu melenyapkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh Jema’at.

sebuah Hadits menceritakan bahwa terdapat kejadian dimana ada tiga orang dari kaum terdahulu yang terjebak dalam badai. Mereka berlindung dari badai didalam sebuah gua. Badai tersebut begitu dahsya sehingga ia menghempaskan sebuah batu besar yang akhirnya menutup mulut gua tadi dan pintu keluar dari gua itu tertutup. Ketiga orang itu pergi kedalam gua untuk melindungi diri mereka dari masalah yang lebih kecil dan mendapat masalah yang lebih besar. Mereka tidak bisa memindahkan batu itu, begitupun orang yang diluar pun tidak mampu menggerakkannya. Mereka sangat gelisah dan mulai membayangkan apakah mereka akan terkubur hidup-hidup didalam gua. 
Salah seorang dari mereka menyarankan agar mereka mulai berdoa dengan menyebutkan perbuatan baik yang telah mereka lakukan dalam hidupnya, perbuatan dilakukan hanya demi Tuhan. Seorang dari mereka berkata, “Wahai Tuhan, saya pernah menyukai seorang gadis dan saya ingin melakukan perbuatan buruk dengannya. Saya lakukan beberapa rencana, menghabiskan uang dan akhirnya ia setuju. Ketika saya sudah menguasainya, ia berkata ‘Wahai hamba Tuhan, aku mohon demi Tuhan, jangan lakukan dosa ini.’ ketika itulah aku menyingkir darinya. Wahai Tuhan, jika aku melakukan ini demi keridhaan-Mu, maka pindahkanlah batu ini untuk kami. karena doanya, badai menyebabkan batu itu bergeser sedikit, tapi tidak cukup bagi mereka untuk keluar.
orang kedua berkata, “Wahai Tuhan, Engkau Tahu bahwa seorang buruh pernah datang kepadaku dan melakukan suatu pekerjaan untukku, namun ia pergi sebelum ia diberikan upah atas pekerjaannya itu. Upahnya itu pun dikembangkan menjadi sejumlah padi-padian, dan saya menebarkan benih padi itu sehingga memperoleh panen yang baik. Saya juga membeli beberapa hewan ternak yang tumbuh dan  berlipat ganda menjadi sekawanan besar kambing dan domba. Beberapa tahun kemudian, laki-laki tadi datang dan meminta upahnya. Saya katakan kepadanya bahwa domba-domba dan kambing-kambing yang tersebar di lembah ini adalah milikinya dan ia boleh untuk mengambilnya. laki-laki itu berkata bahwa dia datang untuk mengumpulkan upahnya tapi saya memperainkannya. Saya katakan kepadanya bahwa saya sudah menginvestasikan upahnya itu untuk perdagangan yang menjadi sekawanan besar ternak, dan mengatakan bahwa itu adalah miliknya. Laki-laki itu mengambil hewan-hewan ternak tersebut. Wahai Tuhan, jika saya melakukan ini untuk mencari ridho-Mu, maka kasihilah kami dan singkirkan batu ini.” Hembusan angin yang kuat menggeserkan batu itu sedikit lagi, namun tetap belum cukup bagi mereka untuk keluar. 
Kemudian, orang ketiga pun berdoa, “Wahai Tuhan, Engkau Tahu bahwa saya (memiliki) sekawanan kambing dan kami hidup dari susunya. Suatu hari, saya terlambat pulang ke rumah, dan orang tua saya yang sudah sangat tua yang tinggal bersama saya, dimana saya selalu memberikan susu kepadanya sebelum kepada anak saya, telah tidur. Saya tidak ingin membangunkan mereka, maka saya berdiri disamping mereka dengan membawa susu, sehingga saya bisa memberikannya tatkala mereka terbangun. Anak saya menangis karena lapar, tapi saya tetap berdiri disamping orang tua saya dengan susu itu sampai pagi hari, mereka bangun dan saya memberikan mereka susu itu dan setelah itu barulah saya memberikannya kepada anak dan istri saya. Wahai Tuhan, jika tindakanku ini adalah untuk keridhaan-Mu, dan tidak ada niatan lain didalamnya, maka kasihanilah hamba dan singkirkan batu itu.” Badai semakin kencang dan menggeser batu itu sedikit lagi dan jalan terbuka, dan orang-orang tadi keluar. Ketiga orang ini telah melakukan hal yang berbeda; yang pertama, ia telah berlaku adil terhadap seorang buruh (pekerja), yang kedua, ia telah berbuat baik dan sangat perhatian terhadap orang tuanya, dan yang terakhir, ia telah berusaha menghindari perbuatan zina demi keridhaan Allah Ta’ala. tetapi, tujuan doa-doa mereka sama. mereka ingin batu itu disingkirkan, dan batu itu disingkirkan. Oleh karena itu, doa-doa mereka itu pun telah mampu menolong mereka, yakni mereka menginginkan agar batu itu bergeser, dan akhirnya digeserkanlah batu itu. walaupun hadist ini mengandung banyak pelajaran, salah satunya adalah perbuatan baik seseorang menjadi sumber/sarana untuk menghilangkan kesulitan bersama. Seseorang yang merasakan kepedihan ketika ia berdoa secara pribadi, hendaknya menumbuhkan perasaan yang sama tatkala ia berdoa untuk Jemaat. Ketika menunaikan shalat nafal dua rakaat seperti yang dinasihatkan oleh Huzur untuk kemajuan Jemaat dan supaya situasi beruah, doa yang penuh kasih sayang mesti dipanjatkan. 
rasa empati   dapat timbul dari orang-orang yang terjebak dalam gua. Mereka telah kehilangan semua harapan terhadap  pertolongan  duniawi  dan telah berdoa berdasarkan amal shaleh yang mereka lakukan untuk mencari keridhoan Tuhan. sementara kita harus menjadikan amal-amal kita  semata-mata  demi Tuhan, kita juga perlu menganggap masalah-masalah yang dihadapi oleh Jama'at sebagai gangguan terhadap pribadi kita dan  berdoa dengan kerendahan hati dan kelembutan.
Hadhrat Masih Mauud alaihis salam bersabda: ' sangat penting untuk pengabulan  doa bahwa seseorang  menanamkan perubahan suci dalam dirinya. jika ia tidak bisa menjauhi keburukan dan melanggar batas-batas yang ditetapkan Allah Taala, maka  doanya  tidak akan punya pengaruh.
Jika kalian menjadi seperti orang (kaum) lain, Allah Taala tidak akan membuat pembedaan antara mereka dan kalian. Jika kalian tidak menimbulkan perbedaan nyata dalam diri kalian, Tuhan juga  tidak akan membedakan kalian dengan yang  lainnya. Orang yang baik  adalah orang yang  mengikuti kehendak Allah Taala.
 Bagaimanapun, seseorang yang  dzahirnya lain dan batinnya lain adalah orang munafik. yang paling utama sucikan hati. yang paling aku takuti  adalah bahwa kita tidak akan menang melalui pedang atau kekuatan lain. Senjata kita hanya doa  kesucian hati
Semoga kita berusaha  melakukan perubahan murni dalam diri kita seperti Hadhrat Masih Mau’ud as. Harapkan dan melakukan segala sesuatu demi Tuhan dan berdoa seperti muztir kepada-Nya. semoga kita memanjatkan doa-doa untuk kemajuan Jemaat dan untuk menghilangkan ujian-ujian terhadap Jemaat dengan intensitas yang sama seperti kita memanjatkan doa-doa pribadi! Semoga kita berdoa supaya kita terlindungi dari kejahatan lawan-lawan! Seperti disebutkan sebelumnya, kecuali kita kembali kepada Allah dengan tulus  untuk menghilangkan ujian-ujian jamaah kita tidak akan mencapai tujuan kita dengan cepat. Setelah berbai’at pada Masih Mau’ud as. Doa-doa kita untuk jamaah juga menghilangkan masalah pribadi kita. Ketika setiap orang berdoa untuk satu sama lain para malaikat berdoa bagi mereka. Batu disingkirkan dari mulut-mulut gua ketika tujuan doa-doa sama. kepedihan para Ahmadi yang tinggal di mana saja di dunia harus menjadi kepedihan kita dan kita harus berdoa dengan perasaan ini. Ini adalah senjata yang kita punya yang  Masih Mau’ud as. Menarik perhatian kita kepadanya.. 
Kita juga harus ingat, bahwa dalam semangat kita jangan berdoa agar siksaan menimpa musuh, lebih baik kita hendaknya berdoa: Ya Allah, kami berharap untuk kesuksesan kami dan kami berharap supaya ujian-ujian kami dihilangkan! Sementara kita berdoa supaya masa sulit ini berakhir, sampai akhir, ya Allah, kami juga berharap perbaikan musuh, bukan kehancuran mereka. Engkau telah menutupi kelemahan kami dengan rahmat-Mu dan meskipun melalui masa yang sangat sulit kami merasakan karunia dan berkah-Mu. Jika Engkau juga mengampuni lawan dan menuntun mereka, itu akan sangat baik bagi kami dan bagi mereka. Namun, jika dalam kebijaksanaan Engkau, Engkau tidak menganggap sebagian dari mereka layak untuk hal ini dan lebih baik jika menghancurkan mereka, maka singkirkan mereka dari jalan kami dengan cara dimana kehadiran mereka bukan halangan bagi kemajuan Islam, Islam sejati yang sekarang telah engkau takdirkan melalui Ahmadiyah.
Kebijaksanaan Tuhan akan mewujudkan doa ini dimana dianggap tepat. beginilah hendaknya kita berdoa dan bukannya mengharapkan laknat/ doa (buruk) atas mereka. Semoga Tuhan memberi taufik kepada  kita semua untuk membayar hak-hak doa. 

Monday, 22 September 2014

LETAK RASA TAKUT TERHADAP ALLAH

Rasa takut kepada Allah terletak di dalam hal berikut ini, yaitu supaya manusia melihat sejauh mana kesesuaian antara ucapan dan perbuatannya. Maka pahamilah bahwa dia akan menjadi sasaran murka Tuhan. Hati yang tidak suci, betapapun sucinya kata-kata yang ia ucapkan, di pandangan Tuhan hati tersebut tidak mempunyai nilai apa-apa. Bahkan karenanya kemurkaan tuhan akan bergejolak.

Jadi, Jemaatku harus memahami bahwa mereka telah datang kepadaku, untuk di taburi benih. Yangmana mereka akan mejadi pohon-pohon yang berbuah. Nah, setiap orang harus menelaah dirinya sendiri, bagaimana di dalam keadan diriya. Dan bagaimana keadaan batinnya. Seandainya Jemaat kitapun seperti itu – semoga tuhan tidak menjadikannya demikian – yakni di lidahnya lain dan didalam hatinya ternyata lain lagi., maka kita akan berakhir dengan tidak baik.

Kalau Allah Ta’ala melihat bahwa suatu Jemaat yang hatinya kosong mengeluarkan pernyataan-pernyataan di lidahnya, maka Dia itu Mahacukup dan tidak akan memperdulikannya. Sudah turun khabar ghaib tentang kemenangan di medan Badar. Berbagai harapan untuk menangpun ada. Namun walau demikian Yang Mulia Rasulullah saw. tetap berdoa sambil menangis-nangis. Hz. Abu Bakar Siddiq ra. Mengatakan bahwa janji kemenangan sudah ada, maka untuk apa memohon dengan merintih sendu. Yang Mulia Rasulullah saw. menjawab bahwa Zat (Allah) itu Mahacukup, yakni mungkin saja terdapat syarat-syarat yang terselubung di dalam janji Ilahi tersebut. (Pidato pertama Hz. Masih Mauud as.pd Jalsah Salanah 25 Des. 1897 / Malfuzaat jld.1 h.11)

MTA Studio Indonesia Biro Priatim: Menyambut Hari Khilafat di Gungung Papandayan

Liputan singkat hiking anak-anak asrama Tahir Al-Wahid bersama 3 orang muballighin ke Gunung Papandayan dalam rangka menyambut Hari Khilafat.

Khutbah Jumat: Serangan Gujranwala yang Patut Dikutuk

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH
HADHRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 1 Agustus 2014 dari Baitul Futuh London, U.K.               
Tentang : Serangan Gujranwala yang patut dikutuk

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
 اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ o الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ  oملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ  o اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُo 
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَo  صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْ عَمْتَ عَلَيْهِمْ , غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْن
    
Artinya: Demi langit yang mempunyai gugusan bintang-bintang. Dan demi Hari yang dijanjikan. Dan demi saksi dan yang disaksikan. Binasalah para pemilik parit. Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang mu’min. Dan mereka tidak merasa benci terhadap mereka itu, melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah, Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji. Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi. Dan Allah menjadi saksi atas segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah orang-orang mu’min laki-laki dan orang-orang mu’min perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar. Sesungguhnya orang-oang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Hal demikian itu merupakan keberhasilan besar. (Al Buruj: 1- 12). 
Ayat-ayat tersebut menggambarkan tepat sekali dengan peristiwa yang terjadi terhadap para Ahmady di Gujranwala. Hal itu merupakan dalil bagi kebenaran Ahmadiyya dan Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. hanya saja jika orang-orang Muslim dengan jujur merenungkan Surat Buruj tersebut. Maka kezaliman yang dilakukan terhadap para Ahmady, khususnya kezaliman yang ditunjukkan dan dilakukan oleh para Ulama, para pemimpin Agama, para politisi, dan siasat yang dilakukan oleh Pemerintah, berkenaan dengan perlawanan terhadap Ahmadiyya, semua akan terbuka dengan jelas kepada mereka. Dan terpaksa mereka akan mengakui kebenaran Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. dan mereka tidak akan terlibat didalam kezaliman dan penganiayaan seperti itu, yang sudah melampau batas. Namun untuk memahami Kalam Allah Ta’ala juga diperlukan kedatangan seorang Utusan Allah Ta’ala. Namun apabila Utusan Tuhan itu sudah datang-pun mereka tidak mau mendengar atau menerima pesan yang disampaikannya kepada mereka. Oleh sebab itu kezaliman-pun berlangsung terus. 
Di sini saya akan memberi penjelasan secara ringkas mengenai ayat-ayat tersebut. Yang dimaksud dengan   “gugusan bintang-bintang” di dalam ayat tersebut diatas adalah 12 gugusan bintang atau planet tentang mana astronomy menjelaskan kepada kita. Namun yang dimaksudkan di sini adalah gugusan bintang-bintang itu secara ruhani yang ada kaitannya dengan Tarikh Islam, yaitu dua belas orang Mujaddid dalam Islam, yang bersinar cemerlang setelah mataharinya terbenam. Dan terdapat Hadis yang mengisyarahkan kearah peristiwa ini, dan Ulama-ulama terdahulu juga telah memberi kesaksian. Sungguh mengherankan sekali bahwa 12 orang Mujadid yang dilantik oleh Allah Ta’ala di setiap abad selama dua belas abad yang lalu telah diakui kebenaran mereka oleh orang-orang Muslim. Namun ketika sesuai dengan firman Allah Ta’ala;   artinya, Demi hari yang telah dijanjikan, yakni seorang Utusan yang dijanjikan itu telah datang tepat pada waktunya, maka orang-orang Muslim serempak mengingkarinya. Mengenai para Mujaddid yang lalu itu Hadhrat Rasulullah saw hanya memberitahu bahwa pada setiap permulaan abad akan datang seorang Mujaddid. Akan tetapi mengenai Utusan yang dijanjikan ini, Allah Ta’ala sendiri telah menjelaskan-nya secara khas dan Nabi Muhammad saw juga telah memberitahu bermacam-macam tandanya dengan jelas pula, diantaranya Gerhana Bulan dan Matahari dan sebagainya, yang telah sempurna dengan jelas dan terang laksana sinar Matahari. orang-orang Muslim serempak mengingkarinya. Bahkan setelah penda’waan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mahdi dan Masih yang dijanjikan, sampai sekarang mereka sesumbar sambil berteriak : ‘Kami tidak memerlukan seorang Mujaddid atau Reformer.’ Sebab, para Maulwi (para pemimpin Agama) dan orang-orang yang menamakan diri ulama itu semuanya pada takut akan kehilangan pengikut mereka dan mereka takut rahasia ilmu pengetahuan dan pikiran mereka yang licik dan picik akan terkuak. 
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kebangkitan beliau:” Perkara ini sangat menakjubkan! Dan hal ini saya menganggap sebagai Tanda dari Allah Ta’ala, bahwa tepat pada tahun 1290 Hijriah, saya yang lemah ini memperoleh kehormatan untuk menerima wawancakap (temu bual) dengan Allah Ta’ala.” Tidak lama kemudian beliau mendapat perintah untuk menda’wakan diri sebagai Imam Mahdi, Masih Mau’ud. Dan Tanda-tanda ardhi dan samawi (tanda-tanda dari bumi dan dari langit) juga telah sempurna mendukung kebenaran penda’waan beliau itu. Penjelasan tentang ini terdapat di dalam Buku-buku Jema’at atau di dalam Buku-buku Hazrat Masih Mau’ud a.s. Saya tidak bermaksud untuk menjelaskan secara rinci tentang itu. Walhasil, pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala menjadi saksi bahwa sekarang ini adalah zaman kebangkitan Imam Mahdi dan Masih Mau’ud. Allah Ta’ala berfirman bahwa kebangkitan kembali Islam sungguh akan segera dimulai. Atau zaman baru Islam akan segera bangkit. Dan orang-orang yang mendapat karunia menjadi murid-murid Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. akan mendapat peluang untuk menyerahkan pengurbanan-pengurbanan yang sangat besar. 
Allah Ta’ala berfirman:    Binasalah para pemilik parit   Api yang dinyalakan dengan bahan bakar.   Ketika mereka duduk di sekitarnya. Semua ini melukiskan gambaran nasib para penentang. Akan tetapi para penentang akan menyaksikan akibat buruk dari perlakuan mereka terhadap orang-orang Mu’min itu. Mereka akan dibinasakan. Dan orang-orang beriman harus bersabar sebab mereka dijadikan sasaran penganiayaan yang sangat pedih dan mengerikan untuk waktu yang cukup lama. Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. juga telah mengisyarahkan kearah ini bahwa kemajuan Islam meminta pengurbanan kepada kita. Pengurbanan apa gerangan yang diminta? Yaitu pengurbanan nyawa kita. Ayat tersebut di atas memberitahu kita bahwa api akan dinyalakan dengan kuat dan berulang kali, dan bahan bakar-pun akan dimasukkan kedalamnya agar api lebih berkobar. Para penyulut api itu sambil duduk menyaksikan kejadian itu sebagai tontonan. Mungkin para penyerang itu berpikir bahwa mereka sedang menggali parit untuk mengepung orang-orang Mu’min dari segenap penjuru kemudian menjerumuskan mereka kedalam api yang mereka kobarkan. Akan tetapi Allah Ta’ala lebih dahulu telah berfirman bahwa; Memang orang-orang Mu’min dengan susah harus melewati kobaran api namun akhirnya orang-orang itu sendiri yang berusaha menjerumuskan orang-orang Mu’min kedalam api akan dibinasakan oleh Allah Ta’ala. Mungkin mereka sudah berpikir untuk siap-siap mengepung dari semua penjuru agar jangan ada seorang-pun yang selamat keluar dari api yang mereka kobarkan. 
Kita melihat sendiri keadaan di Pakistan, polisi juga berdiri seperti patung menyaksikan kejadian itu sebagai tontonan, sedikitpun mereka tidak berusaha untuk menyelamatkan, bahkan mereka sendiri terlibat di dalam penganiayaan itu. Dan para penyulut api kebakaran itu bukan hanya duduk atau berdiri di sekitar api itu, bahkan membakar orang-orang Mu’min sambil bergembira-ria.   Ketika mereka duduk di sekitarnya, ini bukan kisah lama, melainkan satu kabar ghaib, bagaimana para penentang akan mengobarkan api untuk membakar orang-orang mu’min. Mereka mengobarkan api kemudian duduk dan berdiri menjaganya. Itulah sebuah bukti lagi tentang kebenaran kita bahwa kita adalah orang-orang beriman sejati, termasuk musuh-musuh kita sebagai bukti yang berlaku sebagai penyulut api kebakaran untuk membakar orang-orang beriman sejati. Mereka bukan hanya mengepung agar jangan ada orang yang keluar menyelamatkan diri dari kobaran api, melainkan mereka sorak-sorai bergembira-ria; “Apa yang kami lakukan sangat baik sekali.” 
Sekarang akan saya terangkan beberapa rincian tentang para syuhada. Anda semua akan menyaksikan peristiwa di Gujranwala itu tepat seperti apa yang telah dijelaskan di atas, mereka menutup semua pintu kemudian membakar rumah-rumah. Sedangkan di dalam rumah itu tiggal 11 orang perempuan termasuk anak-anak. Kemudian rumah itu mereka bakar sambil sorak-sorai dan melambai-lambaikan tangan melalui jendela kaca dan mengancam serta mencaci-maki orang-orang yang terperangkap di dalam rumah itu, karena mereka itu tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri, kemudian orang-orang zalim itu-pun pergi. Dari tanyangan video nampak jelas sekali dari air muka semua pelaku menunjukkan sangat garang dan biadab tidak bermalu termasuk slogan-slogan mereka-pun sangat keji dan memalukan. Alhasil, itulah gambaran puncak kebencian dan permusuhan mereka terhadap Jema’at. Bahkan setelah peristiwa ini terjadi, seorang Maulwi dari sekitar Gujranwala itu datang untuk mengumpulkan penduduk dan berjanji di hadapan mereka untuk melakukan serangan lebih kejam lagi dari peristiwa ini, sebab penganiayaan terhadap orang-orang Ahmady di kawasan ini mereka anggap belum ada artinya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa setelah terjadi peristiwa pensyahidan orang-orang perempuan beserta anak-anak tidak berdosa ini barangkali musuh-musuh Jema’at akan merasa malu. Dari antara mereka terdapat orang-orang yang sangat biadab dan tidak bermalu serta berpikiran zalim, mereka merilis berita melalui Twitter mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan terhadap para Ahmady itu sangat baik sekali dan begitulah yang harus terjadi, kata mereka. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ! Yang sangat kita sesalkan sekali adalah kezaliman yang telah mereka lakukan itu diatas namakan kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad saw. 
  Ketika mereka duduk di sekitarnya...dari ayat ini juga jelaslah bahwa mereka duduk secara dawam maksudnya mereka akan membuat rencana penganiayaan itu terus-menerus.   artinya ‘duduk’ atau terus-menerus duduk, melakukan sesuatu terus-menerus. Menurut arti kata ini mereka akan meneruskan perbuatan dusta, penipuan  dan penganiayaan untuk jangka waktu yang lama bekerja sama dengan musuh-musuh baru. Mereka akan terus melakukan demikian. Akan tetapi perbuatan jahat mereka itu akan ada akhirnya juga. Dan akhir kesudahan mereka telah ditetapkan oleh Ta’ala, yakni akhirnya mereka semua akan dibinasakan dengan api. Mereka itu akan dijerumuskan kedalam api Jahannam. 
Para ulama mereka juga tahu bahwa perbuatan mereka itu disertai perkataan dusta. Mereka tidak memiliki dalil apapun untuk menolak penda’waan Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. kecuali jawaban yang diputar-balik dan dibuat-buat disertai dengan dalil-dalil dusta demi menghasut masyarakat agar tunduk ikut bergabung dengan mereka. Mereka mengutip dari buku-buku Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. kemudian diputar-balik arti dan maksudnya, dibuat-buat serta dibalut dengan setumpuk perkataan-perkataan dusta sekehendak hati mereka. Dan para penentang membuat masyarakat menjadi buta tidak tahu apa-apa, dan perbuatan demikian akan terus mereka lakukan. Untuk mengobarkan api kebencian terhadap Jema’at mereka melibatkan masyarakat awam juga bersama mereka. Maka, kobaran api ini kadangkala dalam bentuk api yang sebenarnya untuk membakar orang-orang Ahmady, disuatu tempat mereka juga berhasil melakukannya dan ditempat lain mereka gagal melakukannya. Namun api kedengkian dan permusuhan ini memang terus berkobar disetiap penjuru. Sekarang di seluruh Pakistan, di setiap kota, di setiap lorong dan setiap tempat selebaran-selebaran dan iklan-iklan anti Jema’at yang sarat dengan dalil-dalil dusta telah tersebar luas. Tuduhan-tuduhan palsu menentang Jema’at meningkat di seluruh tempat, di gedung-gedung Pemerintah bahkan di gedung Pengadilan Tinggi. Mereka melibatkan semua perkara dusta dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. atau mereka menisbahkan akidah-akidah sesat kepada Jema’at Ahmadiyya yang sebenarnya sedikitpun tidak ada kaitannya dengan Jema’at Ahmadiyya. Tujuan mereka tiada lain semata-mata untuk memicu kebencian dan kemarahan masyarakat terhadap Jema’at Ahmadiyyah. 
Untuk menenteramkan hati para anggota Jema’at Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ” Kalian jangan mengira Allah Ta’ala akan mensia-siakan kalian. Kalian adalah benih yang ditanam di bumi oleh Tangan Tuhan. Tuhan berfirman bahwa benih itu akan tumbuh dan berbunga kemudian dahan-dahannya akan berkembang kesetiap arah, sehingga akan menjadi sebatang pohon yang sangat besar. Mubaraklah mereka yang beriman kepada firman Tuhan dan tidak merasa takut menghadapi rintangan dan kesulitan apapun.” Dengan karunia Allah Ta’ala pohon Jema’at yang telah ditanam oleh Allah Ta’ala akan tumbuh dan berkembang, maka untuk itu para anggota Jema’at memang harus menghadapi berbagai macam pengurbanan. Dan para penyulut api kebakaran, mereka sendiri akan terbakar di dalam api yang sama atau Tuhan akan membinasakan mereka dengan sarana yang lain.   Binasalah para pemilik parit..ini adalah nubuatan atau kabar ghaib yang telah dan sedang sempurna bagi Jema’at dan semakin terus menunjukkan kesempurnaannya. Orang-orang itu akan terus menghadapi kebinasaan dan kehancuran. Maka kabar ghaib atau nubuatan ini akan sempurna berulang kali terhadap orang-orang zalim. Dan hal itu juga akan menujukkan kezaliman mereka berulang kali. Akan tetapi pohon Ahmadiyya yang telah  ditanam oleh Allah Ta’ala, akan terus-menerus berkembang semakin luas. Kemajuan Jema’at yang terus menerus semenjak permulaan sampai sekarang usianya 125 tahun bukan hasil kinerja tangan mansuia melainkan hasil kinerja Allah Ta’ala. Dan siapapun berusaha mencampuri pekerjaan Allah Ta’ala atau berusaha menghalanginya hanya akan mengakibatkan Dia murka kepadanya. Mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah atau Alqur’an dan Rasulu-Nya tidak mendukung mereka. 
Kisah tentang para Sahabah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di masa yang lalu dan juga tentang mereka yang menerima kebenaran beliau a.s. dan Bai’at pada zaman ini telah saya uraikan, mereka yang menamakan diri ulama yang memusuhi kita berkata kepada murid-murid mereka: Jangan berbicara dengan orang-orang Qadiani (Ahmady) menggunakan dalil Alqur’an, sebab mereka (orang-orang Qadiani) akan membuktikan wafat Nabi Isa dari padanya, mereka akan membuktikan Khataman Nabiyyin dengan-nya, dan mereka akan membuktikan kebenaran da’wa Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mahdi dan Masih yang dijanjikan dengan-nya; oleh sebab itu janganlah berdiskusi tentang apapun dengan mereka. Sebab mereka itu sudah menyadari tidak memiliki suatu bukti dan dalil apapun untuk melawan Jema’at Ahmadiyya. Ya, mereka sudah degil dan keras kepala. Karena sifat degil dan keras kepala itu-lah mereka dapat mengelabui dan membohongi masyarakat dengan pendapat dan pengertian menurut kehendak hati mereka sendiri yang salah. Dan mereka menganggap perbuatan zalim itu tidak apa-apa, sebab mayoritas mendukung mereka. 

Beberapa hari yang lalu, tanpa menyebutkan nama Ahmadiyya, seorang Maulwi berpidato di dalam TV Nasional Pakistan mendesak dan menenangkan masyarakat katanya:” Kelompok minoritas juga harus berhati-hati jangan mengundang emosi kelompok mayoritas.” Sekarang mereka sendiri pelaku kekerasan, mereka sendiri menjadi pemegang hukum, mereka sendiri pemberi keputusan yang keliru dan salah bahkan mereka sendiri menjadi pemberi hukuman kepada yang lain. Pendeknya, mereka mempunyai banyak pengikut, mempunyai street power (kekuatan samseng atau preman jalanan) atau mereka mendapat dukungan para politisi bahkan pemerintah juga setuju dengan apa yang mereka katakan. Mereka tidak tahu apa akhir keputusan yang Allah Ta’ala sediakan bagi mereka. Alah Ta’ala berfirman;     Sesungguhnya orang-orang yang mengobarkan fitnah terhadap orang-orang mu’min laki-laki dan orang-orang mu’min perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar...Allah Ta’ala berfirman, sesungguhnya orang-orang yang menimpakan azab terhadap mu’min laki-laki dan mu’min perempuan, mengobarkan api untuk menyiksa mereka, kemudian menjaga mereka agar jangan ada yang menyelamatkan mereka, maka bagi mereka disediakan azab jahannam. Mereka mengobarkan api secara terang-terangan dan secara sembunyi juga, agar orang-orang berusaha dengan berbagai cara untuk menjerumuskan orang-orang mu’min kedalam berbagai azab. Mereka berusaha terus dan akan berusaha terus-menerus berbuat demikian. Sekarang kezaliman mereka dan api secara sembunyi dikobar-kobarkan sambil berkata bahwa, na’uzubillah, kita orang-orang Ahmady tidak beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw sebagai Nabi terakhir. Atau kita menghina beliau saw. Tuduhan ini tidak berdasar dan sangat menyakitkan hati kita yang tidak terperikan. Padahal di masa ini para Ahmady sedang giat menegakkan martabat dan kehormatan Nabi Suci Muhammad saw di setiap penjuru dunia. Orang-orang Ahmady selalu aktiv berada di garis terdepan di dalam menjawab bila saja terjadi serangan terhadap Nabi Suci Muhammad saw. Kami adalah orang-orang Ahmady yang dapat mengorbankan nyawa kami, namun tidak dapat bertahan mendengar sedikitpun penghinaan terhadap Junjungan kami Hadhrat Muhammad Rasulullah saw. Dan itulah ajaran yang diberikan oleh Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. kepada kami. Dan Allah Ta’ala tahu apa yang kami lakukan dan Dia tahu apa yang tersimpan di dalam lubuk hati kami. Tidak terdapat pertentangan satau sama lain. Bagaimana sebuah Jema’at dusta, na’uzubillah, sekalipun seluruh dunia melakukan perlawanan terhadapnya, Allah Ta’ala sedang memberi kamajuan demi kemajuan yang tidak terhitung banyaknya. Tuhan tahu siapa Pemilik Jema’at ini. Dia tahu untuk memberi kemajuan kepada Jema’at ini. Allah Ta’ala berfirman; Orang-orang mu’min yang demi menegakkan Keagungan dan Keperkasaan-Ku dan untuk menegakkan Tauhid-Ku dan untuk menegakkan kegagahan dan kehormatan Nabi Terakhir-Ku, sibuk berjuang dari pagi sampai petang, namun mereka habis-habisan dianiaya. Orang-orang yang memberi kesusahan kepada mereka, yang membakar badan mereka, yang membakar hangus rumah-rumah mereka, tidak akan Aku biarkan mereka, pasti akan Aku tangkap dan Aku jerumuskan mereka kedalam Api Jahannam. Kecuali mereka bertobah, maka Allah Ta’ala akan mengabulkan taubah dan mema’afkan mereka. Akan tetapi jika mereka tidak bertobah, maka ingatlah !   maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar sebagaimana mereka membakar orang-orang mu’min, membakar badan mereka dan membakar rumah-rumah mereka, maka seperti itu pula mereka akan diazab. Akan tetapi kepada mereka akan ditimpakan azab dua macam cara, secara zahir juga dan secara batin juga, yakni Azab yang membakar dan azab Jahannam juga. Sebagaimana mereka berusaha membakar hati kita dengan melemparkan tuduhan dusta yang dinisbahkan kepada kita tentang wujud suci yang sangat kita cintai lebih dari jiwa kita sendiri. Mereka berusaha membakar perasaan hati kita, namun hati mereka sendiri terbakar karena cemburu atau iri-hati menyaksikan kemajuan-kemajuan Jema’at, mengapa Jema’at ini memperoleh kemajuan padahal mereka halangi dan rintangi sekuat tenaga mereka. Musuh-musuh geram melihat para Ahmady tetap teguh keyakinan mereka sekalipun diganggu, dianiaya dan disiksa. Mengapa setiap orang laki-laki maupun perempuan, tua muda sekalipun anak-anak tidak merasa takut kepada kami. Mereka tetap teguh menghadapi kezaliman atau penganiayaan dengan berani tanpa takut. 
Pada tahun 1974 ketika terjadi huru-hara anti Ahmadiyya, dan pada huru-hara hari ini juga para Ahmady di Grujranwala telah menunjukkan contoh tauladan baru dalam sejarah pengurbanan. Seorang anak perempuan umur tujuh tahun, anak perempuan umur 8 bulan dan seorang perempuan telah mengurbankan nyawa mereka dan telah mengukir contoh sejarah baru dalam pengurbanan. Bahkan satu wujud yang belum sempat lahir ke dunia ini dan akan menyaksikan dunia setelah dua bulan, disebabkan kezaliman mereka dia juga tidak sempat datang ke dunia dan telah menyerahkan pengurbanan. Pendeknya Allah Ta’ala telah memberi tahu kita tentang kesudahan orang-orang zalim yang telah melakukan penganiayaan dan pengobar api kebakaran itu. Dan untuk menenteramkan hati orang-orang yang beriman juga Allah Ta’ala berfirman: 
     Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh bagi mereka disediakan Jannat atau taman-taman yang dibawahnya sungai-sungai mengalir. Itulah kemenangan yang sangat besar. Musuh-musuh telah memulai dengan serangkaian nyala api yang membakar dan mereka menjaga sambil mengawasinya, agar jangan padam. Sebagaimana laporan-laporan yang sampai kepada kami bahwa Mobil Bomba (Pemadam Kebakaran) yang datang untuk memadamkan kebakaran telah dilempari batu dilarang memasuki lokasi rumah-rumah yang sedang dibakar oleh  mereka itu. Begitu juga Ambulance untuk mengevakuasi korban kebakaran telah dihadang tidak diizinkan masuk. Mereka berdiri dan menghadang Ambulance sambil menari-nari di hadapannya. 

Bagi orang-orang yang dianiaya Allah Ta’ala berfirman: “ Aku telah menyediakan Jannat atau taman bagi mereka yang teduh dinaungi pohon-pohon rindang yang dahan-dahannya menjuntai saling bertemu. Di bawahnya terdapat sungai-sungai mengalir. Bila saja mau, mereka dapat meminum airnya yang jernih dan sejuk menyegarkan tenggorokan serta tubuh mereka. Musuh-musuh telah berusaha untuk menyiksa orang-orang mu’min dengan panas api yang membara, akan tetapi di Surga mereka mendapat naungan yang sangat teduh dan nyaman. Musuh-musuh berusaha untuk mencekam anak-anak ma’sum dan seorang wanita sedang sakit dengan kepulan asap, atau berusaha agar mereka terpanggang dalam kobaran api dan tidak mendapat air untuk mengguyur memadamkan rumah mereka, agar nafas mereka berhenti kemudian meninggal. Akan tetapi Allah Ta’ala berfirman, bagi mereka disediakan suasana terbuka dan nyaman serta air sejuk dimana saluran kerongkongan dan keadaan seluruh badan mereka menjadi segar dan nyaman. Maka, betapa besar perbedaan akhir kesudahan orang-orang zalim yang mengobarkan api dengan akhir kesudahan orang-orang mu’min mazlum dan teraniaya. Untuk memohon perlindungan dari kejahatan orang-orang zalim dan penganiaya ini sebelumnya juga kami telah banyak menundukkan kepala di hadapan Allah Ta’ala dan lebih giat lagi sekarang juga kami menundukkan kepala di hadapan-Nya.  Di dalam ayat ini masalah yang diajukan seorang wanita itu juga telah terjawab, yang telah menulis surat dari Germany kepada saya, setelah terjadi peristiwa di Gujranwala itu. Dia menulis katanya, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menerima sebuah Ilham berikut ini :   ” Janganlah menakut-nakuti-ku dengan api sebab api adalah ghulam (budak sahaya) kami bahkan sesungguhnya ia adalah budak dari budak sahaya-ku” (Tazkirah Hal. 424). Selanjutnya perempuan itu tidak menulis apa-apa lagi. Akan tetapi maksudnya tiada lain adalah, bagaimana ilham itu telah menunjukkan kesempurnaan-nya dengan jelas di hadapan kita! 

Pertama yang harus kita lakukan adalah: Iman kita harus ditingkatkan lebih kuat lagi. Hal ini juga Allah Ta’ala telah memberi tahukannya kepada kita, bahwa peristiwa demikian akan terjadi, pasti akan terjadi. Ayat-ayat diatas telah memberi tahu kita sangat jelas sekali tentang ini. Dan salah satu maksud dari Ilham itu juga adalah, bahwa kita bukan orang-orang pengecut. Sesuai dengan firman Alqur’an bahwa musuh-musuh itu akan banyak mengobarkan api, pasti akan mengobarkan api. Akan tetapi tujuan mereka dari mengobarkan api itu, tidak akan dapat mereka hasilkan. Tujuan mereka tiada lain agar orang-orang Ahmady keluar meninggalkan Ahmadiyyah. Mereka menakut-nakuti orang-orang Ahmady dengan kobaran api. Namun, apakah dengan gebrakan kejam seperti itu iman seseorang telah sia-sia? Tidak mungkin terjadi! Apa yang telah terjadi adalah, justru kobaran api itu telah dijadikan budak sahaya, sehingga menjadi penyebab terbukanya pintu kemajuan bagi orang-orang mu’min sejati, dan iman mereka semakin bertambah teguh. Jika kerugian secara zahir telah di-derita Jema’at disebabkan kobaran api itu, maka iapun berfungsi sebagai ‘baja’ atau pupuk demi terbukanya pintu-pintu kemajuan, disamping itu perkenalan Ahmadiyya semakin luas dan sangat menakjubkan. Dan sering sekali telah terjadi, musuh-musuh telah gagal dalam usaha-usaha mereka melawan Ahmadiyya. Dan apabila setiap natijahnya turun pertolongan Allah Ta’ala, maka artinya setiap perkara mempunyai aspek yang berbeda, secara zahir maupun secara batin. Namun sebagimana Allah Ta’ala berfirman bahwa, natijah dari pada api yang mereka kobarkan itu, Aku akan menjerumuskan para penyulut api kebakaran dan para pembakarnya itu kedalam api dan juga akan menjerumuskan mereka kedalam Azab Neraka Jahannam. Akan tetapi bagi orang-orang mu’min sejati yang menderita karena siksaan api yang membakar itu, akan mendapat naungan teduh yang sejuk dan sangat nyaman di dalam Surga. Kanak-kanak yang ma’sum yang telah mengurbankan nyawa mereka, memang sudah dipastikan menjadi ahli Surga. Berkat pengurbanan mereka itu telah meningkatkan kecintaan dan kasih-sayang Allah Ta’ala kepada mereka. Di dalam Ilham Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tidak disebutkan bahwa api itu sebagai Tanda bagi para Ahmady. Atau azab bagi orang-orang lain. Tidak diberitahukan adanya suatu tanda. Maksudnya hanyalah memberitahukan bahwa kita tidak takut dari pada api. Memang, kadangkala sempurna secara zahir kadangkala secara batin. Kadangkala api itu dapat dipadamkan, di waktu lain kadangkala api itu memberi kerugian juga. 
Kita menyaksikan dari Tarikh bahwa di zaman Hadhrat Rasulullah saw azab yang telah ditetapkan bagi orang-orang Kuffar adalah berupa perang, mereka dihancurkan melalui perang itu juga. Hadhrat Masih Mau’ud a.s juga bersabda bahwa dengan perang itulah azab telah ditetapkan bagi mereka, melalui perang itu mereka dihancurkan, sehingga lumpuh kekuatan mereka. Namun, apakah orang Muslim juga tidak ada yang syahid di dalam peperangan itu? Pasti ada. Akan tetapi bagi kematian orang-orang Kuffar itu Allah Ta’ala menyebutnya mati Jahannam. Sedangkan terhadap orang-orang Muslim yang mati di Medan perang Tuhan berfirman: Jangan dikatakan mereka mati, melainkan hidup! Yakni di sisi Allah Ta’ala mereka itu hidup. Dan setiap hari mereka mendapat faedah rizki dari Allah Ta’ala. Jadi, para syuhada kita juga berada di dalam Surga Allah Ta’ala. Dan ini juga barangkali peristiwa pertama di dalam Tarikh Ahmadiyya bahwa yang berkurban itu adalah anak-anak perempuan dan seorang wanita. Seorang-pun lelaki tidak termasuk di dalamnya. Maka, pengurbanan orang-orang ma’sum ini, insya Allah, tidak akan hampa dari natijah yang baik. Perlu dijelaskan bahwa mereka telah wafat bukan karena luka-luka bakar melainkan disebabkan hilangnya nafas karena menghirup asap tebal. Dan orang-orang zalim itu terus-menerus membakar semua barang-barang yang tidak dapat dirampok atau tidak mau mereka rampok, termasuk furniture dan barang-barang rumah tangga lainnya dijadikan sebagai bahan bakar. Dan berkali-kali mereka melemparkan benda-benda itu kedalam api yang tengah berkobar agar api jangan padam. Sedangkan barang-barang berharga lainnya banyak yang dijarah kemudian dibawa kabur oleh orang-orang zalim itu. 
Dari antara para Syuhada adalah seorang wanita bernama Bushra Begum Sahibah isteri dari Munir Ahmad Sahib marhum dan Hira Tabassum dan Kainat Tabassum, puteri Muhammad Butha Sahib. Peristiwa itu telah diketahui dan didengar oleh semua, namun saya ingin menjelaskan kembali secara ringkas, sebagai berikut: Pada tanggal 27 Juli 2014 para extremist penentang Ahmadiyyah telah menyerang dan membakar rumah-rumah para Ahmady di Kachi-Pump, Arafat Colony, Gujaranwala. Karenanya Bushra Begum Sahibah isteri dari Munir Ahmad Sahib marhum, umur 55 tahun, bersama dua orang anak dibawah umur, Hira Tabassum umur 6 tahun dan Kainat Tabassum umur 8 bulan telah syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Katanya pada hari terjadi penyerangan itu salah seorang anak dari Bushra Begum Sahibah Syahid bernama Muhammad Ahmad Sahib, setelah iftari (buka puasa) pergi ke sebuah Clinic untuk mencari obat. Dia melihat kemanakannya bernama Waqas Ahmad sedang dihadang oleh beberapa orang. Ketika ditanya ada masalah apa dengan anak ini? Mereka menjawab sambil memaki dan melontarkan kata-kata penghinaan dan menuduh bahwa seorang pemuda Ahmady, na’uzubillah, telah menghina photo Khana Ka’ba di dalam Facebook. Ketika dijawab; Kami orang-orang Ahmady sedikitpun tidak bisa membayangkan kejadian seperti ini. Alhasil, jelaslah bahwa mereka telah membuat rencana jahat, sebab mereka dengan tiba-tiba segera memukul sambil memecahkan sebuah botol kaca untuk dipukulkan kapada pemuda kita. Melihat keadaan semakin sangat rawan maka Muhammad Ahmad menelphone saudaranya Muhammad Butha Khan dan pamannya Fazal Ahmad, minta untuk datang segera. Mereka datang untuk segera mendamaikan situasi. Ketika itu Fazal Ahmadi luka-luka terpukul botol yang dipecahkan. Setelah perkara selesai mereka pun pulang kerumah masing-masing. Setelah menghantar saudaranya, Muhammad Butha Sahib kembali ketokonya dekat Stasiun Kreta Api. Tidak lama kemudian doctor Sahib, yang di depan Clinicnya telah terjadi peristiwa itu, menelphon Muhammad Butha Khan dan Fazal Ahmad memberitahu bahwa banyak sekali orang-orang bergerombol dan bersiap-siap untuk melakukan penyerangan. Begitu juga terdengar pengumuman dari sebuah organisasi para pengusaha untuk segera menutup kedai-kedai untuk berkumpul. Barangsiapa yang tidak menutup kedainya ia bertanggung jawab sendiri. Serangan sudah betul-betul telah direncanakan sebelumnya. Dan semua perbuatan jahat itu telah mereka rencanakan. Di kawasan itu tinggal 18 buah keluarga Ahmady berdekatan satu sama lain. Segera setelah mendengar berita yang berbahaya ini 15 buah keluarga meninggalkan tempat. Namun Muhammad Butha Sahib, Fazal Ahmadi Sahib dan dua buah keluarga lainnya, Muhammad Ashraf Sahib, Sadr Jama’at dan  keluarga saudarnya tinggal di dalam rumah. Sekitar pukul 8.30 petang musuh-musuh mulai menyerang sambil berteriak mengeluarkan kata-kata penghinaan dan kata-kata yang sangat extrim, bahkan mulai melepaskan tembakan senapang, mereka mulai mendobrak pintu-pintu depan rumah. Polisi sengaja memberi laporan yang salah kepada media Surat-surat Kabar, katanya baku tembak telah terjadi dari kedua belah pihak. Padahal Jema’at tidak melakukan penembakan, merekalah yang telah melakukan penembakan. Mereka telah merencanakan untuk bersama-sama melakukan penyerangan dari segenap penjuru. Di kawasan itu banyak sekali orang-orang Syi’ah tinggal. Orang-orang Syi’ah banyak berbicara, namun mereka juga telah melibatkan diri bersama musuh-musuh menyerang Jema’at. Ketika Sadr Jema’at melaporkan kepada Polisi, maka kepala polisi itu berkata katanya, dia hadir di tempat kejadian itu dan berusaha menangkap para penyerang untuk negosiasi. Padahal yang sebenarnya polisi tidak melakukan demikian. Musuh-musuh melakukan penyerangan yang kedua kali dengan bersenjatakan martil untuk mendobrak pintu-pintu rumah dan mereka membawa senjata api juga. Banyak sekali manusia berkerumun. Mereka mulai memecahkan electric meters (meteran listerik) dan memutuskan kabel-kabel listrik. Berhubung situasi sangat tegang dan berbahaya, Sadr Sahib Jema’at bersama keluarga saudara beliau naik melalui atap rumah seorang jiran Non Ahmady untuk berlindung. Keluarga Butha Khan Sahib bersama Fazal Ahmadi masuk kedalam kamar bagian atas rumah mereka dan tinggal di sana. Sementara itu, para extremist biadab masuk kedalam rumah dan berusaha untuk masuk kedalam kamar di mana 11 orang wanita beserta anak-anak telah mengunci pintu dari dalam. Extremist berusaha keras untuk mendobrak pintu. Ketika mereka tidak mampu mendobrak pintu itu maka mereka menggembok pintu itu dari luar agar mereka terperangkap tidak bisa keluar. Mereka memecahkan jendela kaca kemudian mengumpulkan barang-barang plastik dan benda-benda lain lalu dibakar tepat di bawah jendela itu. Asap beracun itu masuk memenuhi kamar melalui jendela dan masuk dari bawah pintu juga. Extremis biadab itu kemudian melambaikan tangan melalui jendela kaca itu mengucapkan good by dan pergi sambil memaki-maki kepada 11 orang perempuan beserta anak-anak yang tinggal tersekap di dalam kamar itu. Disebabkan sesak nafas karena menghirup asap beracun itu Bushra Begum Sahiba dan dua orang cucu di bawah umur, Hira dan Kainat meninggal menjadi syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un! Gerombolan zalim itu sangat gila sehingga tidak mengizinkan Ambulance untuk mengangkut orang-orang yang sakit dan Mobil Bomba (mobil pemadam kebakaran) beserta brigadenya dihadang tidak diperbolehkan memasuki lokasi kebakaran itu. Mereka dengan brutal melanjutkan pembakaran semua rumah orang-orang Jema’at sambil menari-nari, sedangkan pasukan polisi berdiri seperti patung tidak berbuat apapun. Mereka menjadi penonton kejadian yang sedang berlaku sengit pada waktu itu. Sedikitpun tidak berusaha menangkap seorangpun dari gerombolan orang-orang gila itu. Mass media juga sengaja lambat datang tidak segera meliput peristiwa dan Ketua Menteri Provinsi Punjab Shahabaz Sharif Sahib juga mencatat kejadian itu ketika para extremist itu selesai melakukan kejahatan mereka. 
Keluarga Bushra Begum Sahiba mengenal Jema’at Ahmadiyyah melalui kakek beliau yang Bai’at di zaman Hadhrat Khalifah ke II r.a. Beliau menikah pada tahun 1976 dan suami beliau telah wafat enam bulan yang lalu. Kedua orang anak syahid itu Hira dan Kainat adalah cucu beliau semuanya. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau sangat patuh menunaikan ibadah salat lima waktu setiap hari dan rajin menunaikan salat Tahajjud juga. Beliau sangat teratur dan dawam membaca Alqur’anul Karim setiap hari, sangat bersahabat, dan kasih sayang terhadap sesama yang lain. Sangat hormat dalam melayani tetamu. Beliau sangat mencintai Jema’at dan selalu siap untuk berkhidmat bila saja Jema’at memerlukan sesuatu untuk dikerjakan. Pada hari beliau syahid, beliau memakai perhiasan, cincin di tangan dan juga memakai perhiasan anting. Beliau juga menyimpan sejumlah uang, mungkin berfikir beliau harus meninggalkan tempat itu. Namun setelah beliau sayahid, orang-orang zalim itu telah merampok semua perhiasan beliau itu. Padahal sehari sebelum syahid, beliau telah mengundang semua jiran yang tinggal di kawasan lorong rumah beliau untuk berbuka puasa bersama, Hira dan Kainat telah pergi kerumah-rumah membagi-bagikan makanan kepada semua jiran yang tinggal di situ. Muhammad Butha adalah pemilik sebuah service station yang cukup maju dan Fazal Ahmad juga pemilik sebuah bisnis yang cukup baik di sana. Kemajuan bisnis mereka itulah juga salah satu penyebab timbulnya cemburu dan iri hati masyarakat di sana. 
Amir Sahib Gujaranwala menulis katanya, semua keluarga Jema’at sangat baik, mukhlis dan para pencinta Jema’at. Di kawasan yang sekarang banyak orang-orang tinggal, mereka itulah yang pertama kali membangun tempat pemukiman itu dan mereka telah membangun Salat Centre juga di sana. Mereka semua giat mengambil bagian di dalam anjuran berbagai macam pengurbanan di dalam Jema’at. Mereka selalu berlomba-lomba di dalam kebaikan dan dalam kegiatan Jema’at dan selalu bekerja sama satu sama yang lain. Bushra Begum Sahiba Syahid meninggalkan tiga orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Putera beliau Muhammad Butha Sahib, yang kedua puterinya telah syahid bersama-sama Bushra Begum Sahiba syahid. Sedangkan kedua anak perempuan Syahid itu telah meninggalkan kedua orang tua mereka beserta seorang saudara laki-laki berumur lima tahun serta adik perempuan berumur tiga tahun. 
Selanjutnya Amir Sahib Gujaranwala menulis katanya, pada hari Minggu tanggal 27 July 2014, pukul 8.30 petang sebanyak 400 atau 500 orang gerombolan terdiri dari orang-orang kuat telah menyerang rumah-rumah orang Ahmady di Kachi-Pump, Arafat Colony, Gujaranwala. Para extremists itu telah menuduh seorang pemuda Ahmady Aqib Saleem Sahib menodai beberapa photo di dalam Facebook, yang semata-mata tidak berdasar sama-sekali. Hal itulah yang dijadikan alasan utama untuk mengumpulkan massa untuk mengadakan protes dan penyerangan terhadap Jema’at. Mereka mulai melakukan penyerangan dan selain rumah marhumah sahibah syahid, enam buah rumah lainnya lagi mereka bakar dan mereka merampok serta menjarah seluruh barang-barang yang ada di dalam rumah. Mereka mrampok dan melarikan barang-barang dari di dalam toko beliau juga. Diantara mereka yang luka-luka akibat penyerangan kejam itu adalah; Isteri Fazal Ahmad bernama Humaira Sahiba, anak perempuan Waqafe Nao berumur 3 tahun, seorang anak laki-laki berumur 3 tahun, seorang bayi berumur satu bulan, saudari perempuan dari Muhammad Butha Sahib, Mubasyira Jarri, isteri dari Jarriullah Sahib yang datang menengok ibu beliau untuk Ied. Beliau sedang hamil tujuh bulan dan kehilangan baby dalam kandungan dan harus dikeluarkan melalui operasi karena meninggal menghirup asap beracun. Beliau dikirim ke Tahir Heart Institue Hospital di Rabwah, di mana beliau dalam keadaan sangat lemah dan menderita sesak nafas disebabkan menghirup asap beracun itu. Selain itu Muneeb Lodhi Sahib umur 33 tahun dipukul oleh extremists sehingga dagu beliau luka berat dan dua buah gigi rontok dan luka-luka di kuping beliau. Sampai waktu itu beliau masih dalam perawatan. Khalil Ahmad Sahib luka-luka terkena serangan botol pecah. Ketika Muhammad Anwer Sahib mengetahui ada serangan beliau segera menolong saudari perempuan beliau Humaira Sahiba. Pada waktu itu gerombolan penyerang sudah membubarkan diri. Barulah pertolongan terhadap koraban luka-luka mulai diproses. Isteri Muhammad Butha Sahib Ruqaiyya Begum Sahibah dan dua orang anak beliau menderita sakit saluran pernafasan karena menghirup gas dan asap beracun dan kesehatan mereka terganggu dan sangat lemah. 
Ada sejumlah 18 buah rumah orang Ahmady tinggal berdekatan di kawasan kejadian itu sebagian besar bersaudara satu sama lain. Sekarang mereka semua berada di Rabwah. Enam buah rumah dibakar hangus seluruhnya oleh extremists kejam dan biadab itu, mereka menjarah dan merampok dua buah rumah kemudian membakar isi rumah itu. Mereka merampok barang-barang bisnis lima orang Ahmady, generator, computers dan barang-barang berharga lainnya semua dirampok, kemudian membakar toko-toko mereka. Selain itu mereka membakar sejumlah Alqur’an dan sejumlah buku-buku Jema’at kemudian membakar Salat Centre.  Itulah kisah ringkas kezaliman, kebrutalan dan serangan kejam mereka. Allah Ta’ala befirman: Jika mereka tidak bertobah maka   Azab Jahannam yang berkobar ditetapkan sebagai hukuman bagi mereka. Semoga Allah Ta’ala segera menyediakan sarana untuk menangkap aimatul kufur (para pemimpin kuffar itu) dan semoga Allah Ta’ala segera menangkapi orang-orang zalim yang paling terdepan dalam melakukan pembakaran itu. Dan Allah Ta’ala sudah pasti meninggikan derajat orang-orang Sayahid, semoga memberi kesabaran dan ketabahan kepada keluarga mereka yang ditinggalkan, khusunya kedua ibu-bapak dan saudara-saudari kedua anak ma’sum yang sayahid. Dan semoga Allah Ta’ala memberi kesehatan dan kesembuhn secepatnya kepada orang-orang yang terluka dan juga semoga Allah Ta’ala mengganti sepenuhnya barang-barang yang hilang karena musibah dan kejahatan para penjarah itu, dan menganugerahkan kemajuan lebih banyak dari sebelumnya. Amin !! Setelah salat Jumu’ah akan diselenggarakan salat jenazah ghaib bagi para korban yang syahid. 
Alihbahasa Hasan Basri