Ahmadiyya Priangan Timur

.
Showing posts with label Khilafat. Show all posts
Showing posts with label Khilafat. Show all posts

Tuesday, 20 May 2014

Berkat Daripada Khilafat

Sejak penciptaan awal manusia, kedatangan seorang nabi selalu merupakan manifestasi daripada rahmat Ilahi dan menjadi sumber dari berbagai berkat. Dengan wafatnya Nabi bersangkutan, muncul manifestasi kedua dari rahmat dan karunia Ilahi dalam bentuk lembaga Khilafat. Lembaga Khilafat merupakan sistem Ilahi yang unik. Khilafat merupakan jabatan dan kawasan dari seorang Khalifah atau penerus seorang Nabi, yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi dari komunitas mukminin. Yang bersangkutan menduduki posisi akhlak tertinggi di masanya dan dalam dirinya terkandung kewenangan absolut dalam segala hal yang berkaitan dengan agama. Artikel ini memberikan uraian singkat tentang beberapa keberhasilan akbar dari para penerus Hazrat Rasulullahsaw dan Hazrat Masih Mauda s yang menggambarkan bagaimana lembaga Khilafat telah menjadi sarana penegakan hegemoni ruhani dan politis Islam.

Oleh Tommy Bockarie Kallon
Penterjemah: A.Q. Khalid
 
Semua Nabi-nabi, tanpa kecuali pada hakikatnya adalah manusia biasa. Hanya saja, meski Hazrat Rasulullahsaw, Nabi umat Islam, telah berpulang sebagaimana halnya semua Nabi-nabi sebelum beliau, pesan yang dibawanya harus bertahan sampai dengan akhir zaman. Karena itu Allahswt dalam Al- Quran menjanjikan bahwa Islam akan tetap dipelihara dan diperkuat melalui dedikasi upaya para Khulafa ur-Rasyidin sehingga para musuh tidak lantas bisa bergembira bahwa setelah wafatnya beliau, Islam akan melayu dan lenyap dalam relungrelung sejarah. Kita bisa membaca dalam Ayatul Istikhlaf yaitu ayat Al-Quran yang mengatur tentang masalah Khilafat:
‘Allah telah menjanjikan kepada orang-orang dari antara kamu yang beriman dan berbuat amal saleh bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifahkhalifah di muka bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah dari antara orang-orang yang sebelum mereka dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka dan niscayalah Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. . .’ (S.24 An-Nur:56)
Janji tentang akan ditegakkannya Khilafat disini jelas dan tidak bisa diragukan lagi. Mengingat Hazrat Rasulullah saw sekarang menjadi satusatunya petunjuk bagi umat manusia, maka tentunya Khilafat beliau dengan satu dan lain cara akan selalu eksis di muka bumi sampai dengan akhir kiamat nanti. Hal ini juga yang menjadi ciri kelebihan beliau di atas semua nabi-nabi dan rasul lainnya. Sejalan dengan janji tersebut maka ketika Hazrat Rasulullahsaw wafat dan ketika semua mukminin sedang amat kebingungan, Hazrat Abu Bakar ra dipilih sebagai Khalifah Islam yang pertama. Pemerintahan
Islam kemudian segera dirundung berbagai pertikaian internal dan ancaman eksternal. Saat itu muncul beberapa nabi palsu dari antara umat Muslim yang mengambil kesempatan untuk memberontak, sedangkan dari luar musuh-musuh eksternal mulai mengancam keamanan negara Islamiah. Hazrat Abu Bakar ra menangani keduanya berdasar sunnah dan teladan, dan dengan cara demikian berhasil menumpas kekuatan pemberontak sehingga Islam terpelihara dari perpecahan dan disintegrasi. Pada akhir masa Khilafat beliau, umat Muslim kembali bersatu di bawah satu panji-panji. Jika kita perhatikan secara cermat kerugian besar yang diderita umat Muslim dengan wafatnya Rasulullah saw, kekosongan yang tercipta akibat kepergian beliau serta beratnya tugas dari orang yang harus mengisi posisinya, kita bisa menyimpulkan bahwa upaya itu bukan main sulitnya dan hanya berhasil diatasi berkat rahmat yang muncul dari kepemimpinan Hazrat Abu Bakar ra.
Setelah wafat Hazrat Abu Bakar, tampil Hazrat Umar ra yang mengenakan jubah Khilafat dan berkat rahmat Allah SWT, umat Muslim menikmati banyak sekali karunia di bawah kepemimpinan beliau yang amat tolerant dan lembut hati. Masa Khilafat beliau merupakan masa keemasan dalam sejarah Islam. Energinya yang tak kenal lelah, sifat tidak mementingkan diri sendiri, simpatinya terhadap sesama, kedisiplinan dalam menjalankan tugas, sifat keadilan serta semangat mengkhidmati Islam diakui manusia secara universal dan bahkan masih dikagumi sekarang ini sebagaimana juga pada empatbelas abad yang silam. Beliau mengembangkan berbagai rancangan bagi kesejahteraan umat Muslim. Adalah Hazrat Umar ra yang pertama kali memperkenalkan sistem pensiun hari tua yang sekarang dipakai di Barat. Anak-anak yang tidak memiliki pemelihara dibesarkan dengan biaya negara.
Pendidikan merupakan suatu kewajiban bagi anak-anak laki dan perempuan. Mereka yang lemah dan cacat tubuh diberi tunjangan dari perbendaharaan negara. Secara umum, rakyat menjadi makmur di bawah kepemimpinan beliau. Kita masih saja terpana membaca bagaimana Hazrat Umar ra biasa berjalan malam secara menyamar guna memastikan bahwa rakyat tidak ada yang berkekurangan. Tidak heran jika beliau memperoleh rahmat demikian besar sehingga dalam masa Khilafat beliau, dua kerajaan besar Romawi dan Persia yang tadinya merupakan ancaman bagi Islam, nyatanya bisa dikalahkan secara total.
Hanya saja kemenangan tersebut tidak menjadikan dirinya berubah sifat. Tetap saja beliau mengingatkan pasukan tentaranya untuk selalu mentaati ajaran Islam dan menunjukkan toleransi, keadilan dan kelembutan kepada semua bangsa yang masuk dalam pemerintahan Islam. Mereka ini lalu menterjemahkan kebijakan tersebut dalam tindakan sehingga mereka berhasil memenangkan hati bangsa yang ditaklukkan dan menumbuhkan banyak sahabat di kawasan taklukan itu. Disamping banyaknya taklukan, masa Khilafat dari Hazrat Umar ra juga membawa berbagai berkat lain.
Beliau menetapkan Majlis Syura yang merupakan dewan penasihat Khalifah. Beliau menunjukkan kejeniusan luar biasa dalam penataan administrasi sipil pemerintahan negara Muslim. Setiap negeri dibagi dalam beberapa propinsi, dibentuk angkatan kepolisian, dilakukan penggalian kanal-kanal irigasi, didirikan baitul mal di mana-mana serta diperkenalkannya kalender Muslim berdasar Hijrah yang amat menolong dalam preservasi sejarah.
Setelah wafatnya sosok akbar ini, Hazrat Usman ra terpilih sebagai Khalifah ketiga. Sebagaimana kedua pendahulunya, beliau ini pun seorang pemimpin yang terpuji dimana beliau berhasil memperluas kawasan pemerintahan Muslim lebih jauh lagi. Muncul gelombang pemberontakan dan invasi dari luar tetapi berkat rahmat Ilahi dan berkat daripada Khilafat semuanya berhasil dipadamkan.
Hazrat Usman ra banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Beliau mengawasi pembangunan banyak gedung-gedung, jalan-jalan dan jembatan-jembatan baru. Banyak pula didirikan mesjid dan tempat persinggahan di berbagai kota. Kitab Al-Quran sebagaimana keadaannya sekarang ini merupakan hasil kompilasi di bawah pengawasan beliau secara langsung. Hal ini menjadi kontribusinya yang paling utama bagi Islam. Beliau adalah seorang yang amat sederhana dan lembut hati yang tidak pernah goyah dalam integritas, kejujuran dan kesalehannya. Beliau selalu menunjukkan sifat toleransi dan kesabaran yang luar biasa bahkan sampai ke akhir masa Khilafat beliau ketika berbagai faksi berupaya menggulingkan beliau.
Beliau menolak menanggalkan jubah Khilafat yang dititipkan Allah SWT tetapi pada saat yang sama juga tidak mau melawan mereka agar tidak sampai mengalirkan darah Muslim yang tidak berdosa. Beliau kemudian dibunuh, tetapi tidak ada yang meragukan bahwa beliau menyerahkan nyawa demi integritas Khilafat dan demi kemaslahatan Islam.
Wafatnya Hazrat Usman ra merupakan salah satu bab paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Kesatuan dan persatuan umat Muslim terpecah sudah. Pertikaian internal menjadi bumbu kehidupan seharihari dimana umat Muslim saling bermusuhan satu sama lain. Hazrat Ali ra dipilih sebagai Khalifah keempat enam hari setelah wafatnya Hazrat Usmanra. Beliau memaklumkan bahwa prioritas utamanya adalah mengembalikan hukum dan ketertiban dalam negeri dan untuk tujuan ini beliau amat menahan diri guna menghindari pertumpahan darah meski beberapa sahabat Rasulullah yang berpengaruh besar telah memintanya untuk mengadili para pembunuh Hazrat Usman.
Ketika kota Medinah kemudian merosot menjadi masyarakat tidak berhukum, Hazrat Ali ra memindahkan ibukota dari Medinah ke Kufa di Irak. Sayangnya masa Khilafat beliau digrogoti oleh kekacauan dan perpecahan. Beliau mencoba menenangkan umat Muslim namun rupanya gejala penyakit anti-Khilafat sudah meruyak dan tidak bisa diobati lagi. Muncul beberapa perang saudara dan seluruh kerancuan itu memuncak pada saat sahidnya Hazrat Ali ra.
Seperti kata pepatah Afrika, ‘nilai suatu naungan belum dihargai sampai kemudian pohonnya ditebang.’ Dengan terbunuhnya Hazrat Ali ra maka mercu suar cemerlang dari bimbingan dan persatuan, sumber mata air berkat dan rahmat, semuanya menjadi punah. Umat Muslim telah membuang jubah Khilafat dan besertanya segala rahmat ikutan. Sebagai pengganti Khilafat, ditegakkan sistem kerajaan yang kalis dari keluhuran ruhani dimana muncul berbagai dinasti atau wangsa dalam rentang masa sekian abad. Perang saudara dan pertengkaran keluarga amat melemahkan umat Muslim.
Bangsa-bangsa yang dimasa lalu gemetar dan tunduk kepada mereka sekarang berbalik menyerang dan selalu berhasil mempermalukan umat Muslim. Pengaruh dan dominasi Islamiah mulai memudar sampai akhirnya agama-agama lain yang meski berlandaskan akidah palsu tetapi nyatanya telah berhasil mendominasi agama Islam yang hakiki.
Upaya menegakkan kembali Khilafat di antara umat Muslim di masa kini merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi. Islam masa kini terpecah belah oleh pertikaian internal dan intrik-intrik eksternal dan sungguh-sungguh membutuhkan seorang pemimpin berintegritas luhur yang bisa mengemban lembaga Khilafat agar dengan petunjuk Ilahi bisa membimbing umat Muslim. Berbagai gerakan muncul di kalangan Muslim ortodoks yang mencoba menegakkan kembali Khilafat. Tetapi menyedihkan sekali bahwa semua upaya tersebut telah gagal. Hal mana sebenarnya akibat dari mereka itu kalis dari petunjuk Ilahi dan sematamata didasarkan pada upaya manusia yang tidak lepas dari sifat mementingkan diri dan nafsu berkuasa.
Khilafat merupakan wacana ruhani yang sepenuhnya milik Allahsw t dimana kemunculannya tidak pernah mewujud sebagai hasil dorongan politis atau gerakan pseudo-agama. Dimana pun jika Allah SWT menghendaki terwujudnya Khilafat, selalu berkaitan dengan penerusan kerja seorang Nabi Allah. Dalam sejarah tidak pernah tercatat ada Khilafat yang bisa muncul tanpa didahului seorang Nabi. Khilafat yang dijanjikan dalam Al-Quran adalah sebagai penerusan langkah seorang Nabi.
Dikemukakan dalam salah riwayat bahwa Hazrat Rasulullah saw bersabda:
‘Kenabian akan berada di tengah kalian selama Tuhan menghendaki. Dia akan mengakhirinya dan meneruskannya dengan Khilafat berdasarkan sunnah rasul, untuk jangka waktu selama dikehendaki-Nya dan setelah itu akan mengakhirinya.  Bentuk monarki tiranikal akan mengikutinya dan akan ada selama Allah menghendakinya untuk kemudian juga diakhiri. Setelah itu akan muncul despotisme non-monarki selama Allah menghendakinya dan akan berakhir sesuai takdir-Nya. Barulah setelah itu akan muncul Khilafat yang berdasarkan sunnah Kenabian.’ (Masnad Ahmad)
Dari nubuatan Hazrat Rasulullah saw ini jelas bahwa Khilafat yang akan muncul kemudian setelah beliau akan terdiri dari dua era, yaitu yang satu langsung mewujud setelah kewafatan beliau, dimana dengan era Khilafat yang satunya lagi, akan ada periode rejim yang bersifat supresif, opresif dan kejam. Saat wafat Hazrat Rasulullah saw lembaga Khilafat yang beberkat itu langsung mewujud sebagaimana dinubuatkan. Khilafat baru akan mewujud lagi dengan kemunculan Al-Masih yang Dijanjikan yaitu pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah.
Hazrat Mirza Ghulam Ahmadas dari Qadian adalah seorang hamba Allah dan pengikut Hazrat Rasulullah saw yang setia. Beliau menyatakan bahwa dirinya telah ditunjuk Allah SWT sebagai suara penyeru di zaman ini, bahwa dirinya adalah Al-Masih serta Imam Mahdi yang dinubuatkan dalam hadith Rasulullah saw. Beliau menyatakan bahwa semua nubuatan yang terkandung dalam berbagai kitab suci semua agama tentang kedatangan seorang utusan Ilahi di akhir zaman, telah terpenuhi dalam dirinya. Bahwa Tuhan telah membangkitkan dirinya untuk siar Islam di zaman ini dan bahwa Tuhan telah memberikan kepadanya wawasan tentang isi Al-Quran serta mengungkapkan kepadanya makna dan kebenaran hakikinya.
Melalui karya beliau, pesan-pesan dan teladan yang diberikan, beliau mengagungkan Hazrat Rasulullah saw serta mengungkapkan superioritas Islam di atas semua agama lainnya sedemikian rupa sehingga Hazrat Rasulullah saw akan diterima sebagai Khataman Nabiyyin oleh semua bangsa di dunia. Ketika fanatisme dan kekaburan menjadi ciri cara berfikir Muslim, beliau mengungkapkan khazanah tak terbatas berisi pengetahuan, filsafat dan kebijakan Al-Quran. Nilai-nilai moral dan spiritual sebagaimana diterakan dalam Al-Quran dan diilustrasikan secara sempurna oleh Hazrat Rasulullah saw telah beliau hidupkan kembali sehingga manusia bisa menarik manfaat tidak saja dari sunnah tetapi juga dari teladan beliau.
Ketika Hazrat Masih Mau’ud as wafat, muncul obituari dari Muslim yang berfikiran terbuka dan non-Muslim pun ikut memuji fitrat messianik, kesucian dan ketakwaan beliau. Namun para musuh yang berfikiran cupat langsung bergembira atas kewafatan beliau, sambil mengharap bahwa apa yang mereka anggap sebagai bid’ah besar sekarang akan mati dengan sendirinya. Pada saat kritis demikian, salah seorang pengikut beliau yang paling setia, seorang ulama, dokter yang terkenal, seorang penafsir Al-Quran yang terpelajar, secara aklamasi dipilih menjabat sebagai Khalifatul Masih.
Berkat rahmat Allah SWT, dalam kapasitas tersebut beliau berhasil mengemudikan bahtera Ahmadiyah ke perairan yang aman dan menjaganya dari disintegrasi. Nama beliau adalah Nuruddin (Nur Agama) dan sinonim dengan kecemerlangan jasa beliau dalam mengkhidmati agama. Hazrat Maulvi Nuruddin ra memiliki keimanan bulat kepada Allahswt dan sepenuhnya bertopang kepada-Nya untuk segala kebutuhan dirinya.
Sebagai sosok Khalifatul Masih, peran beliau amat beraneka dan berfaset banyak. Meski kesehatan dirinya tidak selalu baik namun semua tugas-tugas dilaksanakannya dengan wajah teduh dan kesungguhan yang membuat orang lain iri. Beliau tetap mendiagnosa dan memberi obat kepada para pasien, memberikan pengarahan, nasihat dan petunjuk kepada para pejabat Jemaat, memberikan khutbah tentang Al-Quran, Hadith dan filosofi Islam, mendiktekan jawaban atas kritik terhadap Islam serta mempelajari proyek-proyek siar Islam. Namun yang paling menonjol dari beliau adalah laku pemeliharaan dan penguatan lembaga Khilafat dalam menghadapi tentangan dari para pengacau yang berusaha mendongkel kewenangan beliau dan menciptakan kegalauan dalam Jemaat. Tidak ada suatu apa pun yang bisa mempengaruhi tekad dan kebijakan beliau. Dengan suara lantang tanpa tedeng aling-aling beliau menyatakan: ‘Aku nyatakan dengan sesungguhnya dan Allah menjadi saksi bahwa aku tidak akan menanggalkan jubah yang telah dikaruniakan oleh-Nya kepadaku.’
Ketika beliau wafat, jubah Khilafat tersebut diberikan kepada Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. Wujud Khalifatul Masih II ini adalah Putra yang dijanjikan kepada Hazrat Masih Maud as . Kelahiran beliau merupakan pemenuhan nubuatan akbar dari Hazrat Masih Mau’ud bahwa dirinya akan dikaruniai seorang putra yang fitrat dan keluhurannya akan menjadi amat luar biasa. Beliau ini ditahbiskan sebagai Khalifatul Masih pada usia relatif muda yaitu 25 tahun dan berkat rahmat Ilahi, masa jabatan beliau diberkati dengan keberhasilan yang sungguh luar biasa tak ada tandingannya. Dengan dana yang amat terbatas, beliau membimbing Jemaat ini menggapai ketinggian yang tadinya tidak pernah terbayangkan. Yang paling mencolok dari berbagai skema yang dilancarkan beliau adalah Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid yang menjadi sarana guna membangun Jemaat ini hampir di semua negeri di dunia. Adalah kejeniusan dirinya yang unik yang juga telah melahirkan badan-badan pendukung yang merupakan anak-anak organisasi sehingga sekarang ini semua anggota Jemaat merasaterikat satu sama lain dalam suatu tali persaudaraan yang akrab dalam melaksanakan program-program peningkatan nilai-nilai akhlak dan keruhanian.
Hazrat Khalifatul Masih II menetapkan pembentukan Majlis Syura dalam Jemaat, sebuah dewan penasihat yang bertemu setiap tahun guna mempertimbangkan dan memberikan saran kepada Khalifah berkenaan dengan kebijakan-kebijakan penting. Beliau juga menetapkan dewan Qada yang merupakan sistem yudisial, yang memberikan kesempatan kepada Jemaat untuk menyelesaikan pertikaian internal dengan cara yang adil, ekonomis dan terhormat, sejalan dengan hukum dan yurisprudensi Islam. Beliau juga yang mengawali Jalsah Siratun Nabi dan Hari Pendiri Agama-agama Dunia guna merayakan riwayat hidup Rasulullah saw dan semua Nabi pendiri agama-agama besar. Beliau juga mempunyai perhatian khusus terhadap masalah-masalah politis dan sosial yang kompleks dan dengan itu berhasil menyelamatkan Jemaat melalui Perang Dunia yang menakutkan serta migrasi besarbesaran ke Pakistan setelah aksi perpisahan dengan India pada tahun 1947 dimana beliau mendirikan kota Rabwah dari titik nol di sebidang tanah yang tadinya tidak bisa dihuni sama sekali.
Buku-buku dan selebaran yang diterbitkan Hazrat Khalifatul Masih II lebih dari 200 judul sehingga hal ini mentabalkan beliau sebagai ahli agama dan ahli diagnostika tentang kebenaran-kebenaran eksternal.
Karunia terbesar dari masa Khilafat beliau adalah magnum opus berbentuk Tafsiri Kabir yaitu tafsir Al-Quran yang amat mendetil. Tafsir setebal sepuluh ribu halaman ini mengandung berbagai pemahaman esoterika dan pengungkapan ribuan hakikat keruhanian serta rahasiarahasia tersembunyi, banyak dari antaranya yang belum pernah dikemukakan siapa pun sebelumnya.
Masa Khilafat beliau merentang selama lima puluh dua tahun dan merupakan periode emas dalam sejarah Ahmadiyah dan Islam. Meski demikian banyak tugas dan kegiatan yang harus dilakukan, beliau tetap berusaha keras agar Jemaat selalu tetap aktif dalam memperbaiki diri dan dalam kegiatan siar Islam.
Beliau mengerahkan segala kemampuan unggulan yang ada pada diri beliau, selalu memberikan nasihat, ajakan dan teguran. Beliau sendiri memberikan teladan diri yang cemerlang dan menghabiskan sebagian malam dalam berdoa kepada Tuhan.
Ketika Hazrat Khalifatul Masih II wafat maka putra beliau yang tertua yaitu Hazrat Mirza Nasir Ahmad ra terpilih sebagai Khalifatul Masih III. Dalam masa Khilafat beliau selama tujuh belas tahun, dengan kemampuan administratif yang unik dan perencanaan kemaslahatan jangka panjang yang menonjol, beliau telah berhasil memperkuat Jemaat dan mengembangkannya secara luar biasa. Beberapa ciri mencolok dari masa Khilafat beliau antara lain adalah pendirian Yayasan Fazl Umar guna mengembangkan aktivitas di bidang riset, pendidikan, tugas-tugas muballigh dan kesejahteraan ekonomi Jemaat serta Majlis Nusrat Jehan yang mendirikan berpuluh sekolah dan rumah sakit di Afrika Barat, semata-mata demi kemanusiaan tanpa motivasi laba. Melalui skema tersebut, berjuta-juta bangsa Afrika yang kemudian masuk dalam Jemaat Ahmadiyah dan sekarang pun masih berlangsung terus. Namun mungkin yang paling dikenang dari diri beliau adalah modus vivendi yang sederhana tetapi pragmatis yang diwariskan kepada Jemaat yaitu motto: Love for All, Hatred for None (Kasih untuk semua, tiada kebencian bagi siapapun).
Sekarang (tahun 2002) ini kita sedang melalui masa keemasan dari Hazrat Khalifatul Masih IV. Beliau ini sebagaimana juga para pendahulu sebelumnya adalah sosok yang memperoleh bimbingan Ilahi. Beliau melancarkan berbagai skema guna memobilisasi upaya Jemaat bagi kegiatan siar Islam secara global.
Pada tanggal 10 Juni 2002 yang merupakan tahun ke 20 masa Khilafat beliau, Jemaat demikian diberkati dengan pertambahan anggota dari tadinya sekitar 10 juta orang sampai sekarang telah mencapai 150 juta orang di seluruh dunia. Di bawah bimbingan beliau, ribuan mesjid, rumah missi, klinik, rumah sakit, sekolah dan perguruan tinggi didirikan demi pengkhidmatan kepada Islam. Rumah-rumah obat homeopathy didirikan di seluruh dunia di bawah bimbingan beliau, memberikan pengobatan untuk berbagai penyakit tanpa memungut biaya. Di antara sekian banyak buku yang dikarangnya, Revelation, Rationality, Knowledge and Truth merupakan buku yang paling kondang diakui sebagai karya tulis terbesar di abad lalu. Pengabdian bagi Al-Quran nyata dari supervisi langsung yang beliau lakukan atas berbagai terjemah dan revisi akurat terjemahan Al-Quran dalam berbagai bahasa, dimana beliau sendiri menyumbangkan terjemah dan tafsir bernas dalam bahasa Urdu.
Muslim Television Ahmadiyya (MTA) merupakan saluran televisi global Muslim pertama yang diterjemahkan dalam delapan bahasa adalah juga hasil pemikiran Hazrat Khalifatul Masih IV. Hampir tidak mungkin membilang segala berkat yang telah ditimbulkan oleh peluncuran MTA International ini. Saluran ini menjadi sumber pengetahuan, mengajarkan berbagai bahasa, membahas masalah-masalah topikal dan kaitannya dengan kesejahteraan moral dan spiritual manusia. Secara umum, saluran ini menjadi nara sumber bagi pemerhati agama dan filsafat di seluruh dunia. Kunci keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kemunculan Hazrat Khalifatul Masih dalam berbagai tayangan sehingga baik Muslim maupun non-Muslim bisa memetik faedah dari luas pengetahuan, kebijaksanaan dan wawasan beliau.
Melalui MTA inilah kita bisa menyaksikan kejadian historis seperti Acara Bai’at Internasional pada saat Jalsah Salanah dimana dalam satu tahun saja sekitar 81 juta orang Ahmadi baru bergabung dari ratusan negeri di seluruh dunia, bersama-sama melakukan ikrar bai’at di tangan Hazrat Khalifatul Masih melalui transmisi satelit.
Jelas kiranya bahwa Khilafat tidak saja merupakan suatu lembaga yang amat berberkat tetapi juga merupakan suatu lembaga yang amat penting dalam Islam dan karena itu wajib dipatuhi sebaik-baiknya. Seorang Khalifah dipilih melalui kehendak Ilahi tetapi melalui laku pemilihan oleh kaum mukminin. Dengan kata lain, pada saat kritis dalam pemilihan seorang Khalifah, fikiran dan kalbu para mukminin dibimbing Allah swt untuk memberi suara kepada orang pilihan-Nya.
Karena sosok Khalifah dipilih sejalan dengan kehendak Ilahi maka laku ketidak-patuhan kepadanya sama dengan tidak patuh kepada Tuhan. Hal ini dengan sendirinya menjadi prasyarat bagi kelanjutan lembaga Ilahi yang akbar tersebut. Bagi Jemaat Ahmadiyah, Khilafat tidak diragukan lagi adalah karunia terbesar yang bisa dinikmati. Sosok Khalifah memainkan peran sentral sebagai pemersatu Jemaat di bawah satu panji-panji. Bagi semua anggota Jemaat, sosok Khalifah menjadi bapak yang mengasihi kepada siapa mereka bisa meminta bimbingan, nasihat dan dorongan. Bagi semua orang yang berfikir dan berniat baik maka sosok Khalifah menjadi kawan dan konselor, sedangkan bagi mereka yang sedang kesulitan maka ia menjadi penghibur.
Hanya melalui berkat Khilafat dan rahmat Ilahi maka Islam maju di masa lalu dan hal yang sama insya Allah akan berlanjut sekarang selama berabad-abad yang akan datang. Kenabian merupakan benih yang pertumbuhannya kemudian dipelihara agar menyebar ke seluruh dunia oleh lembaga Khilafat. Setelah berpulangnya Hazrat Rasulullah saw, adalah melalui kinerja Khulafa ur-Rasyidin maka Islam menyebar ke seluruh dunia yang dikenal waktu itu. Sekarang ini di bawah bimbingan Khalifatul Masih maka Jemaat Islam Ahmadiyah terus menyebar ke seluruh dunia dengan kecepatan tinggi meski dirintangi oleh para fanatikus yang memusuhi, baik yang individual mau pun pemerintahan, yang berupaya memupus Ahmadiyah dari muka bumi. Berkat rahmat Khilafat Ahmadiyah maka janji Allah dalam Al-Quran bahwa ‘Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka’ akan terpenuhi. Sudah dekat hari-harinya ketika kita akan melihat persatuan umat manusia di bawah panji-panji Islam dan kita akan menyaksikan manifestasi final dan universal dari Ketauhidan Allah SWT.

Awal Mula Khilafat Dalam Jemaat Ahmadiyah

Ekstraksi dari Al-Wasiyyat karangan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as,
Masih Maud dan Imam Mahdi, Pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah
‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan selawat serta salam disampaikan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw, keturunannya dan para Sahabat semuanya.’ 
Oleh karena Allah Ta’ala secara berturut-turut memberitahukan kepadaku dengan wahyu bahwa wafatku telah dekat, begitu bertubi-tubi wahyu-Nya sehingga hidupku ini digoncangkan dari dasarnya dan kehidupan ini jadi dinginlah bagiku. Sebab itu kurasa patut menuliskan beberapa nasihat bagi sahabat-sahabatku dan bagi orang-orang yang ingin mengambil faedah dari perkataanku.
Maka pertama-tama akan kuterangkan wahyu suci yang mengabarkan tentang wafatku dan yang menggerakkan aku berbuat ini. Wahyu itu dalam bahasa Arab berbunyi:
‘Ajal engkau telah dekat. Dan tidak Kami tinggalkan suatu sebutan pun yang akan menghinakan engkau. Tinggal sedikit lagi jangka waktu yang ditetapkan Tuhan tentang engkau. Akan Kami jauhkan dan hindarkan semua celaan, di antaranya satu pun tidak akan Kami biarkan yang dengan menyebutkannya bertujuan sengaja hendak menghinakan engkau. Kami kuasa bahwa khabar-khabar
ghaib tentang orang-orang yang melawan engkau sebagiannya Kami perlihatkan di masa hidup engkau atau memberi wafat kepada engkau. Engkau akan wafat dalam keadaan dimana aku senang kepada engkau. Kami selamanya menyediakan tanda-tanda yang nyata untuk kebenaran engkau. Segala apa yang dijanjikan telah dekat. Segala nikmat yang dianugrahkan Tuhan kepada engkau ceritakanlah kepada manusia. Barangsiapa menjalankan taqwa dan sabar maka Allah sekali-kali tidak akan menghilangkan ganjaran orang-orang yang berbuat baik ini.’

Disini harus diingat bahwa firman Allah yaitu bahwa “Kami tidak akan membiarkan suatu sebutan pun yang menyebabkan kehinaan dan kerendahan kehormatan engkau” mengandung dua arti. Pertama, semua celaan yang disiarkan dengan niat menghinakan engkau akan Kami jauhkan dan satu pun tidak akan tertinggal bekas-bekasnya. Kedua, semua orang yang suka mencela ini yang tidak mau meninggalkan kejahatannya dan yang tidak berhenti dari mencelanya, semuanya akan Kami hindarkan dari dunia dan akan Kami hapuskan dari muka bumi. Oleh lenyapnya mereka maka segala celaan yang bukan-bukan itu pun turut lenyap pula. Kemudian Allah Ta’ala berfirman pula kepadaku perihal wafatku dengan perkataan dalam bahasa Urdu berikut:
‘Hari tinggal sedikit lagi. Pada hari itu semuanya akan termenung kesedihan. Ini akan terjadi, ini akan terjadi, ini akan terjadi, kemudian baru akan terjadi yang berhubungan dengan diri engkau. Sesudah memperlihatkan beberapa kejadian dan beberapa keanehan kudrat, barulah akan terjadi kejadian yang berkenaan dengan diri engkau.’
Tentang beberapa kejadian itu diberitahukan kepadaku bahwa dari seluruh penjuru dunia kematian akan menghamparkan sayapnya. Gempa akan datang dengan sangat dahsyatnya laksana kiamat. Bumi akan dijungkir-balikkan. Banyak kehidupan orang akan pahit. Kemudian orangorang yang taubat dan berhenti dari dosa, Allah akan kasihan kepada mereka. Sebagaimana tiap Nabi pernah mengabarkan tentang zaman ini, semuanya pasti akan terjadi. Tetapi orang-orang yang membersihkan hatinya dan mengambil jalan yang disukai Allah, mereka tak usah takut dan tidak akan gelisah.
Allah Ta’ala berfirman kepadaku:
‘Engkau adalah Nazir (pemberi peringatan) daripada-Ku. Aku-lah yang mengutus engkau supaya orang-orang yang berdosa dipisahkan dari orang-orang yang berbuat baik.’
Lagi Allah Ta’ala berfirman:
‘Telah datang seorang Nazir tetapi dunia tidak menerimanya, akan tetapi Tuhan akan menerimanya dan akan memperlihatkan kebenarannya dengan serangan-serangan yang maha hebat1. Aku akan memberi berkat begitu banyaknya kepada engkau sehingga raja-raja akan mencari berkat dari pakaian-pakaian engkau.’
Tentang gempa mendatang yang amat dahsyatnya itu, diberitahukan kepadaku melalui firman-Nya:
‘Kemudian akan datang musim bunga, sesudah itu firman Tuhan akan sempurna sekali lagi.’
Sebab itu kedatangan sebuah gempa yang mendahsyatkan adalah sudah pasti. Tetapi orang-orang yang benar akan terpelihara daripadanya. Maka dari itu jadilah orang-orang yang benar, peganglah taqwa supaya kalian terpelihara. Takutlah sekarang kepada Tuhan supaya kamu terpelihara dari ketakutan pada hari itu. Sudah pastilah langit akan memperlihatkan sesuatu dan bumi pun menzahirkan juga tetapi orang-orang yang takut kepada Tuhan akan terpelihara.
Tuhan berfirman kepadaku bahwa beberapa kejadian akan lahir dan beberapa bala bencana akan turun ke bumi. Sebagiannya akan lahir di masa hidupku dan sebagian lagi sepeninggalku. Dia akan memberi kemajuan kepada Jemaat ini, sebagian di tanganku dan sebagian lagi kemudian sesudah aku tiada.
Ini adalah sunnat - adat kebiasaan - Allah Ta’ala. Semenjak Dia menjadikan manusia di atas bumi ini, selamanya sunnat ini dizahirkan-Nya yaitu Dia selalu menolong Nabi-nabi dan Rasul-rasul-Nya dan memberi kemenangan kepada mereka, sebagaimana firman-Nya:
‘Allah telah menetapkan: “Aku dan Rasul-rasul-Ku amat pasti akan menang.” . . . (S.58 Al-Mujadilah:22)
Yang dimaksud dengan ‘kemenangan’ ialah sebagaimana cita-cita para Rasul dan para Nabi yaitu keterangan dan dalil Tuhan menjadi sempurna di atas bumi dan tidak seorang pun dapat melawannya. Begitulah Allah Ta’ala membuktikan kebenaran mereka dengan tanda-tanda yang kuat. Kebenaran yang hendak dikembangkan mereka di dunia, di tangan mereka itulah ditanamkan-Nya benihnya itu. Akan tetapi untuk menyempurnakannya tidak dikerjakan-Nya dengan perantaraan tangan mereka para Rasul, bahkan mereka diwafatkan-Nya di dalam waktu yang menurut lahiriah mengandung kecemasan tentang gagalnya pekerjaan. Musuhmusuh diberi-Nya tempo untuk tertawa, berolok-olok, mencela dan memaki. Bila mereka sudah puas menertawakan barulah diperlihatkan-Nya tangan kedua dari kudrat-Nya. Diadakan-Nya bahan-bahan yang dengan perantaraannya, cita-cita yang terbengkalai tadi akan sampai kepada kesempurnaannya. Alhasil Dia memperlihatkan dua macam
kudrat:
1. Pertama, dengan tangan para nabi diperlihatkan-Nya tangan kudrat- Nya.
2. Kedua, sepeninggal wafat nabi, diwaktu menghadapi kesukarankesukaran, sedang musuh lagi berusaha sekuat tenaga dan menyangka bahwa usaha ini akan gagal dimana mereka sudah yakin Jemaat akan hancur; orang-orang dari kalangan Jemaat pun jadi merasa ragu-ragu dan putus pengharapan, malah beberapa yang sial di antara mereka akan menyimpang ke jalan murtad; dalam keadaan demikian itulah Allah Ta’ala untuk kedua kalinya menunjukkan kudrat-Nya yang amat kuat dan Jemaat yang hampir akan roboh itu disambut-Nya kembali. Jadi orang yang sabar sampai akhir akan menyaksikan mukjizat Allah Ta’ala ini.
Sebagaimana telah terjadi di masa Hazrat Abu Bakar ra ketika Hazrat Rasulullah saw wafat yang disangka orang belum waktunya dan banyak di antara orang dusun bodoh yang balik murtad serta para Sahabat karena terlampau sedihnya hampir-hampir seperti gila rasanya, pada ketika itulah Allah Ta’ala menegakkan Hazrat Abu Bakar ra untuk memperlihatkan kudrat-Nya yang kedua dan Islam yang hampir-hampir tumbang itu ditopang-Nya kembali. Janji yang difirmankan-Nya telah ditepati: ‘. . . Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka dan niscayalah Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. . . .’ (S.24 An-Nur:56)Begitu pula kejadian di masa Nabi Musaas ketika wafat dalam perjalanan antara Mesir dan Kanaan sebelum beliau dapat membawa Bani Israil ke tempat yang dituju menurut perjanjian. Wafat beliau menyebabkan kesedihan yang luar biasa di kalangan Bani Israil. Seperti tertulis dalam Taurat: Bani Israil terus menerus menangis 40 hari lamanya disebabkan wafat beliau yang tidak disangka-sangka dan karena perpisahan dengan Nabi Musa as yang sekonyong-konyong itu. Hal yang sama terjadi ketika Nabi Isa as disalib. Ketika itu semua hawari terpencar melarikan diri kian kemari, malah seorang di antaranya terus murtad.
Karena itu, wahai saudara-saudara! Karena sejak dahulu begitu itulah sunnatullah bahwa Allah Ta’ala menunjukkan dua kudrat-Nya, supaya diperlihatkan-Nya bagaimana cara menghapuskan kegirangan yang bukanbukan dari musuh, maka sekarang pun tidak mungkin Allah Ta’ala akan meninggalkan sunnah-Nya yang abadi itu. Maka janganlah kalian bersedih hati karena uraianku yang aku terangkan di mukamu ini. Jangan hendaknya hatimu jadi kusut karena bagimu perlu pula melihat Kudrat yang kedua. Kedatangannya kepada kalian adalah membawa kebaikan karena Dia selamanya akan tinggal bersama kalian dan sampai kiamat silsilahnya tidak akan putus-putus. Kudrat kedua itu tidak dapat datang sebelum aku pergi, akan tetapi bila aku pergi maka Tuhan akan mengirimkan Kudrat Kedua itu kepada kalian yang akan tinggal bersama kalian selama-lamanya, sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam ‘Brahini Ahmadiyah.’ Janji itu bukan untuk aku melainkan untuk kalian, seperti firman Tuhan:
‘Aku akan memberi kepada Jemaat ini yaitu pengikut-pengikut engkau, kemenangan di atas golongan-golongan lain sampai kiamat.’
Dari itu mestilah datang kepada kalian hari perpisahanku supaya sesudah itu baru datang hari yang jadi hari perjanjian kekal. Tuhan kita adalah Tuhan yang menepati janji, setia dan benar. Dia akan memperlihatkan kepada kalian segala apa yang sudah dijanjikan-Nya. Meski pun masa ini adalah masa akhir dunia serta banyak malapetaka akan tiba tetapi mestilah dunia akan tetap berdiri sebelum segala hal yang dikhabarkan Tuhan itu terjadi semuanya. Aku lahir sebagai suatu Kudrat dari Tuhan. Aku adalah Kudrat Tuhan yang berjasad. Kemudian sesudah aku ada lagi beberapa wujud yang jadi mazhar (cerminan atau tempat zahir) Kudrat Kedua. Sebab itu senantiasalah kalian berhimpun sambil mendoa menanti Kudrat Tuhan yang kedua itu. Hendaknya para salihin dalam Jemaat di tiap negeri
senantiasa berhimpun dan terus menerus mendoa supaya Kudrat Kedua turun dari langit. Dan kepada kalian diperlihatkan bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Kuasa. Anggaplah ajal kalian sudah dekat, kalian tidak tahu bila saat itu akan tiba.
Hendaknya orang-orang tua Jemaat yang berjiwa suci, sepeninggalku menerima bai’at atas namaku dari orang-orang2.
Allah Ta’ala menghendaki agar semua ruh yang berdiam di seluruh pelosok bumi, baik di Eropah atau pun di Asia, kesemuanya yang bertabiat baik akan ditarik kepada Tauhid dan akan dihimpun-Nya di dalam satu agama.
Inilah kehendak Allah yang karenanya maka aku diutus ke dunia. Ikutilah oleh kalian kehendak ini tetapi dengan lemah lembut, dengan akhlak luhur dan dengan banyak mendoa. Sampai dengan ada yang tegak berdiri dengan beroleh Rohulkudus dari Tuhan, sementara itu bekerjalah semuanya bersama-sama sepeninggal diriku.

1)Kalau mata dunia terbuka, tentu mereka melihat bahwa aku zahir pada permulaan 1 abad, malah sekarang (1323H) sudah hampir lewat seperempat abad dari abad ke-14. Juga menurut Hadith , bertepatan dengan Da’waku telah terjadi pula gerhana matahari dan gerhana bulan dalam bulan Ramadhan. Begitu pula wabah pes berjangkit di dalam negeri, gempa pun banyak yang sudah kejadian dan banyak lagi yang akan datang. Tetapi sayang orang-orang yang mencintai dunia tidak menerimaku.

2)Pemilihan orang-orang demikian adalah atas semufakat orang-orang mukmin, jadi 2 orang yang disepakati oleh 40 mukmin bahwa ia patut menerima bai’at orang-orang atas namaku, ia dibolehkan menerima bai’at. Hendaknya ia menjadi teladan bagi orang-orang lain. Allah Ta’ala mengabarkan kepadaku bahwa: ‘Aku akan menegakkan seorang dari keturunan engkau ini untuk Jemaat engkau. Aku akan mengistimewakan dirinya dengan qurub dan wahyu-Ku. Dengan perantaraannya maka haq akan maju dan banyak orang akan menerima kebenaran.’ Jadi tunggulah masa itu, kalian harus ingat bahwa tiap wujud dapat dikenal pada waktunya. Boleh jadi sebelum waktunya itu ia nampak hanya sebagai orang biasa, malah mungkin oleh fikiran sebagian orang yang hendak menipu, ia dianggap bercacat. Seumpama seorang yang akan jadi Insan Kamil pun, sebelum waktunya dalam perut ibunya hanya merupakan setitik mani atau segumpal darah belaka.