Ahmadiyya Priangan Timur

.
Showing posts with label Ruhani Khazain. Show all posts
Showing posts with label Ruhani Khazain. Show all posts

Tuesday, 20 May 2014

Sifat-sifat Tuhan

Tuhan yang benar dan Maha Sempurna yang tidak memerlukan argumentasi untuk beriman kepada-Nya, yang adalah menjadi kewajiban bagi semua mahluk, adalah Tuhan seru sekalian alam. Sifat Rahmaniat-Nya tidak terbatas kepada suatu kelompok manusia tertentu, atau masa tertentu atau pun suatu negeri khusus. Dia adalah Tuhan dari semua bangsa, semua masa, semua tempat dan semua negeri. Dia adalah sumber mata air dari segala rahmat. Semua kekuatan jasmani dan ruhani adalah karunia-Nya dan seluruh alam ini dipelihara oleh-Nya. Rahmat Allah s.w.t. mencakup semua bangsa, semua negeri dan semua masa, sehingga tidak akan ada orang yang akan mengatakan bahwa Tuhan hanya membatasi rahmat-Nya hanya kepada bangsa lain saja dan tidak kepada bangsanya sendiri. Atau mengatakan bahwa bangsa lain memperoleh Kitab dari-Nya sebagai petunjuk sedangkan mereka tidak. Atau menyatakan bahwa Dia memanifestasikan Wujud-Nya melalui wahyu, ilham dan mukjizat-mukjizat-Nya di masa lalu, sedangkan di masa mereka sendiri, Dia itu bersembunyi. Melalui rahmat yang diberikan-Nya kepada semua itu Dia meniadakan semua sangkalan, karena dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Akbar, Dia tidak menahan rahmat karunia jasmani dan ruhani kpeada bangsa mana pun. (Paigham Sulh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 442,  London, 1984).

Sajak bahasa UrduYa Allah, Maha Pencipta, Yang Menyembunyikan segala kelemahan,
yang Maha Kuasa;
Wahai Kekasih-ku, Maha Pelindung, Maha Pemelihara!

Bagaimana caraku bersyukur kepada-Mu,

wahai Pengarunia segala berkat yang akbar?
Dimana-kan kuperoleh bahasa guna menyatakan syukurku?

Semata berkat dan karunia-Mu maka Engkau memilih aku;
Karena tak berkekurangan hamba-hamba yang ikhlas di hadirat-Mu.

Mereka yang berjanji menjadi sahabat, kini menjadi musuh;
Namun Engkau tidak meninggalkan diriku,
Wahai sang Pemenuh segala hajatku.

Wahai Sahabat yang Maha Esa, wahai Pelindung diriku;
Engkau semata cukup bagiku, aku tak berdaya tanpa Diri-Mu.

Jika bukan karena Berkat-Mu, maka lama sudah aku jadi debu
Hanya Allah yang tahu kemana ditebarkan ini debu.

Semoga hati, jiwa dan wujudku dikurbankan di Jalan-Mu;
Tak ada lagi wujud yang mencintai laiknya Engkau.

Sejak awal aku tumbuh dalam naungan perlindungan-Mu yang berberkat
Laiknya bayi menyusu, aku telah Engkau peliharakan.

Tidak ada anak manusia memiliki kesetiaan seperti Engkau;
Selain Engkau, tak ada aku berjumpa sahabat yang mengasihi.

Orang bilang bahwa ia yang tidak berarti tidak akan diridhoi;
Namun meski tak berarti, aku telah Engkau terima di hadirat-Mu.

Demikian banyak berkat dan karunia-Mu atas diriku;
Akan tetap tidak terbilang sampai Hari Kiamat nanti.
(Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 127,  London, 1984).

Dua bentuk sifat IlahiAllah yang Maha Kuasa dengan tujuan agar mahluk ciptaan-Nya yang lemah ini bisa memahami dengan sempurna maka Dia telah menguraikan sifat-sifat-Nya di dalam Al-Quran dalam dua aspek. Pertama, Dia menguraikan sifat-sifat-Nya secara metaphorika menyamai beberapa sifat manusia seperti bahwa Dia itu Agung, Pengasih, Penyayang, bisa murka, memiliki rasa sayang dan sepertinya Dia itu memiliki tangan, mata, kaki dan telinga. Meskipun Dia menciptakan segala spesi tetapi tidak berarti Dia butuh teman dalam suatu eksistensi bersama, karena meskipun sifat penciptaan merupakan salah satu sifat-Nya namun manifestasi daripada Ketauhidan dan Ke-Esaan-Nya juga menjadi bagian daripada sifat-Nya. Tidak ada dari sifat-Nya yang lalu menjadi usang secara tetap meskipun bisa saja dihentikan untuk sementara waktu. Dengan cara demikian itulah Allah s.w.t. memanifestasikan sifat-sifat-Nya yang diselaraskan dengan sifat manusia. Sebagai contoh, Tuhan itu adalah Maha Pencipta, tetapi sampai suatu tingkat tertentu yang namanya manusia juga mencipta atau membentuk. Seorang manusia bisa disebut bersifat agung sampai suatu tingkat tertentu, atau juga dikatakan bersifat pengasih, pemarah, mempunyai mata dan telinga dan sebagainya. Keadaan seperti itu bisa menimbulkan kecurigaan anggapan bahwa manusia menyamai Tuhan dalam sifat-sifat tersebut, dan Tuhan menyerupai manusia. Guna menolak pandangan demikian maka Allah s.w.t. dalam Al-Quran menjelaskan bahwa sifat-sifat-Nya bersifat transendental (berada di atas atau melampaui) sehingga manusia tidak bisa menyamai-Nya dalam wujud maupun sifat. Ciptaan Tuhan tidak sama dengan ciptaan manusia, begitu juga dengan rahmat-Nya berbeda dengan sifat pengasih manusia. Kemurkaan-Nya tidak sama dengan kemarahan manusia, begitu juga dengan kasih sayang-Nya, tambah lagi Dia tidak membutuhkan ruang sebagaimana manusia.
Kitab Suci Al-Quran mengemukakan secara jelas bahwa sifat-sifat Tuhan itu amat berbeda dengan manusia. Sebagai contoh, dikatakan bahwa:
Tidak ada yang menyerupai-Nya. Dia itu Maha Mendengar, Maha Melihat.=(S.42 Asy-Sura:12).
Pada tempat lain dikatakan:

Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, yang Maha Hidup, yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyerang-Nya dan tidak pula tidur. Kepunyaan Dia-lah apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberikan syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya? Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak meliputi barang sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Ilmu-Nya menjangkau seluruh langit dan bumi, dan tidaklah memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar= (S.2 Al-Baqarah:256).
Berarti wujud dan eksistensi yang Maha Benar  serta segala sifat yang benar itu adalah milik Tuhan, dan tidak ada siapa pun yang menjadi sekutu-Nya dalam hal ini. Hanya Dia sendiri yang hidup melalui Wujud-Nya sendiri, sedangkan yang lainnya memperoleh kehidupan melalui Dia. Hanya Dia sendiri yang eksis melalui Wujud-Nya sendiri, sedangkan yang lainnya memperoleh eksistensi melalui Dia. Dia itu tidak terpengaruh oleh maut dan tidak ada sesuatu yang akan memaksa-Nya berhenti sesaat karena harus tidur atau istirahat, sebagaimana mahluk lainnya yang harus mengalami kematian, tidur dan istirahat. Semua yang kalian saksikan ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya dan tampil atau eksis melalui Wujud-Nya. Tidak ada seseorang pun yang bisa menjadi perantara bagi-Nya tanpa perkenan-Nya. Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan atau di belakang manusia, atau dengan kata lain Dia mengetahui segala yang nyata dan yang tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang akan mampu menduga kedalaman pengetahuan-Nya kecuali sebanyak yang memang diizinkan-Nya. Kekuasaan dan Pengetahuan-Nya mencakup keseluruhan langit dan bumi. Dia menjadi penegak bagi semuanya sedangkan Dia tidak ada yang menegakkan. Dia tidak menjadi lelah karena harus menopang langit dan bumi. Dia berada di atas segala kelemahan, kepikunan dan ketidakberdayaan.
Arasy IlahiDi tempat lain dikatakan:
Sesungguhnya Tuhan-mu ialah Allah yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam teguh di atas Arasy= (S.10 Yunus:4).

Berarti setelah menciptakan langit dan bumi berikut semua isinya serta sudah memanifestasikan sifat-sifat-Nya yang serupa, maka Dia menempatkan Wujud-Nya pada posisi kesendirian dan transendental guna menunjukkan sifat transendental-Nya yang jauh dari sifat penciptaan. Posisi tertinggi itu disebut sebagai Arasy. Penjelasan daripada hal ini adalah sebagai berikut, pada awalnya semua mahluk itu tidak ada dan Tuhan memanifestasikan Wujud-Nya di tempat yang amat jauh di balik jauh yang diberi nama Arasy sebagai tempat yang berada di atas semua alam semesta. Tidak ada sesuatu apa pun kecuali Wujud-Nya semata. Kemudian Dia menciptakan langit dan bumi berikut segala isinya. Ketika semua mahluk sudah tercipta lalu Dia menyembunyikan Wujud-Nya dan menginginkan agar para mahluk-Nya menemukan Diri-Nya.

Harus diingat bahwa sifat-sifat Ilahi tidak akan pernah usang atau hilang selamanya. Selain dari Tuhan sendiri maka semua spesi mahluk memerlukan saling keterkaitan eksistensi. Tidak ada sifat Tuhan yang menjadi usang walaupun mungkin bisa berhenti sesaat. Sebagaimana sifat penciptaan dan penghancuran tidak konsisten satu sama lainnya, maka ketika sifat penghancuran sedang berjalan, dengan sendirinya sifat penciptaan akan berhenti sesaat. Singkat kata, pada awalnya yang berjalan adalah sifat Kesendirian dan kita tidak bisa mengatakan berapa seringnya keadaan seperti itu berulang, yang pasti adalah atribut itu bersifat abadi dan tanpa batas. Sifat Kesendirian itu pernah pada saatnya mempunyai prioritas di atas sifat-sifat lainnya. Sebab itulah dikatakan bahwa pada awalnya Tuhan itu sendiri dan tidak ada sesuatu pun beserta-Nya. Lalu Dia menciptakan langit dan bumi beserta isinya, dimana dalam konteks tersebut Dia memanifestasikan sifat-sifat-Nya sebagai yang Maha Agung, Maha Pengasih, Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobat. Namun barangsiapa yang degil dalam dosa dan tidak berhenti dalam dosanya itu, tidak akan dibiarkan saja. Dia juga memanifestasikan sifat-sifat-Nya sebagai yang Maha Penyayang kepada mereka yang bertobat, dimana kemurkaan-Nya hanya ditujukan kepada yang tidak mau berhenti melakukan dosa dan pelanggaran.

Tidak ada yang menyamai sifat IlahiSemua sifat-Nya itu cocok bagi-Nya. Sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat manusia. Dia tidak memerlukan mata jasmani dan tidak ada sifat-Nya yang mirip dengan sifat manusia. Sebagai contoh, jika seorang manusia sedang marah maka ia menderita karena kemarahan itu sendiri dimana hatinya tidak lagi merasa nyaman dan terasa seperti terbakar, otaknya merasa tertekan dan ia mengalami proses perubahan. Adapun Tuhan bebas sama sekali dari perubahan-perubahan demikian. Kemurkaan-Nya mengambil bentuk sebagai mencabut sokongannya kepada mereka yang tidak mau berhenti melakukan dosa. Sejalan dengan kaidah-Nya yang bersifat abadi, Dia akan mengganjar yang bersangkutan sebagaimana manusia memperlakukan yang lainnya jika ia sedang marah. Secara metaforika, hal itu disebut sebagai kemurkaan Allah. Begitu juga kecintaan-Nya tidak sama dengan kecintaan seorang manusia karena manusia akan mengalami nyeri jika ia harus dipisahkan dari yang dicintainya, sedangkan Dia tidak akan mengalami kenyerian tersebut. Kedekatan-Nya juga tidak sama dengan kedekatan antar manusia, karena jika seseorang mendekati seorang lainnya maka ia akan meninggalkan ruang yang sebelumnya ia tempati. Namun Tuhan meskipun dikatakan dekat sebenarnya jauh dan meskipun jauh tetapi sebenarnya dekat. Pendek kata, semua sifat Ilahi itu berbeda dengan sifat manusia. Yang ada hanyalah kemiripan verbal saja, tidak lebih. Karena itulah dalam Al-Quran dinyatakan:

Tiada sesuatu apa pun seperti Dia= (S.42 Asy-Sura:12).

Dengan kata lain, tidak ada sesuatu apa pun yang mendekati Allah s.w.t. dalam Wujud atau pun sifat-sifat-Nya. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 272-276,  London, 1984).

Keabadian sifat IlahiTuhan tidak pernah berhenti berkarya. Dia adalah Maha Pencipta, Maha Menghidupkan, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan akan selamanya demikian. Menuruh hematku, adalah berdosa untuk memperdebatkan salah satu daripada keagungan-Nya itu. Allah s.w.t. tidak akan memaksakan keimanan pada sesuatu sifat yang belum diperlihatkan-Nya. (Malfuzat, vol. IV, hal. 347).
Sebagaimana bintang-bintang mewujud setahap demi setahap, begitu juga dengan sifat-sifat Tuhan akan terlihat setahap demi setahap. Manusia terkadang berada di bawah bayangan dari sifat-sifat Ilahi yang bermakna Keagungan dan Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri, dan terkadang berada di bawah bayangan sifat Keindahan-Nya. Hal ini dikemukakan dalam ayat:

Setiap hari Dia menampakkan Wujud-Nya dalam keadaan yang berlainan= (S.55 Ar-Rahman:30).

Adalah pandangan yang bodoh yang menganggap bahwa setelah para manusia yang berdosa itu dimasukkan ke neraka lalu sifat-sifat Ilahi sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan tidak lagi berfungsi dan tidak lagi mewujud, karena harus diingat bahwa fungsi dari sifat-sifat Ilahi tidak akan pernah berhenti sepenuhnya. Sifat dasar daripada Allah yang Maha Kuasa adalah Kasih dan Sayang, dimana sifat ini merupakan induk dari semua sifat-sifat lainnya. Sifat ini juga yang muncul ketika berlaku sifat Keagungan dan Kemurkaan yang ditujukan untuk perbaikan manusia, dimana setelah perbaikan itu telah mewujud maka sifat Kasih-Nya akan muncul kembali dalam wujud yang haqiqi dan akan ada terus sebagai karunia. Tuhan tidak sama dengan seseorang yang bersifat pemarah yang senang menyiksa. Dia tidak ada merugikan manusia, tetapi manusia yang merugikan dirinya sendiri. Semua keselamatan ada pada sifat Kasih-Nya, sedangkan semua siksaan muncul karena menjauh dari Wujud-Nya. (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 369-370,  London, 1984).

Sifat-sifat umum menurut Al-QuranSifat-sifat Tuhan sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran adalah:
Dia-lah Allah dan tiada tuhan selain Dia, yang mengetahui segala yang ghaib dan segala yang nampak. Dia-lah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia-lah Allah yang tiada tuhan selain Dia, Maha Berdaulat, yang Maha Suci, sumber segala kedamaian, Pelimpah keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung, Maha Suci Allah, jauh di atas apa yang mereka persekutukan dengan Dia. Dia-lah Allah yang Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi segala bentuk. Kepunyaan Dia-lah segala nama yang terindah. Segala sesuatu di seluruh langit dan bumi menyanjung Dia dan Dia-lah yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana= (S.59 Al-Hasyr:23-25).Dia memiliki semua kekuasaan melakukan apa pun yang diinginkan-Nya.
Dia adalah Tuhan seru sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, yang mempunyai Hari Pembalasan= (S.1 Al-Fatihah:2-4). 
Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada-Ku= (S.2 Al-Baqarah:187). 
Yang Maha Hidup, Dia-lah Allah yang Maha Esa, Allah yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang pun menyamai Dia= (S.112 Al-Ikhlas:2-5).
Berarti Tuhan itu adalah Satu dan tidak mempunyai sekutu, bahwa tidak ada satu pun wujud lain yang patut disembah dan dipatuhi. Dia itu dinyatakan sebagai yang Maha Esa karena kalau ada sekutu-Nya maka sekutu itu bisa saja suatu waktu mengalahkan diri-Nya dan dengan demikian maka sifat Ketuhanan-Nya menjadi limbung. Tidak ada wujud lain yang patut disembah adalah karena Dia itu Maha Sempurna dengan sifat-sifat yang demikian luhur dan tidak ada satu pun yang akan mampu melebihi-Nya. Jika ada yang menyekutukan sosok siapa pun yang kualifikasinya lebih rendah dari Wujud-Nya itu sebagai tujuan penyembahan, adalah suatu hal yang salah sama sekali.
Dia Maha Mengetahui apa yang tersembunyi, yang berarti bahwa hanya Dia sendiri yang memahami secara penuh atas Wujud-Nya sendiri dan tidak ada lainnya yang akan mampu membayangkan Keberadaan-Nya secara sempurna.
Kita masih mungkin memahami secara mendalam apa yang namanya matahari, bulan dan semua mahluk ciptaan, tetapi kita tidak mungkin memahami Tuhan secara penuh. Dia adalah yang Maha Mengetahui dan tidak ada suatu pun yang tersembunyi daripada-Nya. Sebagai Tuhan maka tidak bisa dikatakan bahwa ada yang tidak diketahui-Nya. Dia mengetahui setiap noktah yang ada di alam, suatu hal yang tidak mungkin dikuasai manusia. Hanya Dia yang mengetahui kapan sistem ini akan dihancurkan dan menegakkan Penghisaban. Tidak ada seorang pun yang mengetahui saatnya kecuali Dia.

Dia adalah yang Maha Pengasih, yang berarti dengan Rahmat-Nya telah menyedia¬kan sarana pendukung tanpa ada yang memohon, sebelum semua mahluk diciptakan. Contohnya adalah Dia telah menciptakan matahari, bulan dan bumi beserta segala isinya bagi pemanfaatan manusia sebelum ada permohonan dari kita. Karunia ini dalam Kitab Allah disebut sebagai sifat Rahmaniyat dan karena itu Allah yang Maha Kuasa disebut sebagai Ar-Rahman.
Dia mengganjar dengan murah hati amal yang baik dengan imbalan yang melimpah serta tidak akan mensia-siakan upaya siapa pun. Untuk itu Dia disebut sebagai Ar-Rahim dan sifat-Nya itu dikenal sebagai Rahimiyat.
Dia-lah yang memiliki di tangan-Nya ganjaran bagi semua orang. Dia tidak mempunyai perwakilan yang ditugaskan untuk mengatur langit dan bumi, atau dikatakan menarik diri dari keseluruhan dan menyerahkan fungsi pemberian ganjaran atau hukuman kepada wakil tersebut.

Dia itu adalah yang Maha Kuasa, Maha Suci dan kekuasaan-Nya tanpa cela apa pun, sedangkan kekuasaan manusia tidak terbebas dari cela. Sebagai contoh, jika rakyat dari seorang raja meninggalkan negerinya untuk berpindah ke tempat lain, maka kekuasaannya itu tidak lagi mempunyai arti. Begitu juga jika rakyatnya terkena bencana kelaparan maka sebagai raja, ia tidak akan bisa lagi memperoleh pendapatan. Atau jika rakyat itu mempertanyakan dasar dari kekuasaannya maka sifat apa dari kekuasaan raja itu yang bisa dikemukakan? Adapun kekuasaan Allah s.w.t. tidak tunduk pada hal-hal seperti itu. Dia dalam sekejap mata bisa menghancurkan seluruh kerajaan dan menciptakan kerajaan yang baru. Kalau Dia bukan sang Maha Kuasa dan Maha Pencipta maka kekuasaan-Nya tidak akan dapat dilaksanakan tanpa kekerasan/¬paksaan, karena misalnya pernah harus memaafkan sekali dan menyelamatkan dunia itu, lalu dari mana Dia akan memperolah dunia lain untuk diperintah? Apakah Dia akan mencengkeram mereka yang telah diselamatkan, lalu membatalkan penyelamatan-Nya secara semena-mena? Kalau demikian keadaannya maka sifat Ketuhanan-Nya akan dipertanyakan dan sebagaimana kekuasaan duniawi maka kekuasaan-Nya itu cacat adanya. Manusia yang membuat hukum di dunia ini selalu berubah seleranya dan seringkali terjerumus kepada tindakan sewenang-wenang jika mereka tidak berhasil mencapai tujuan yang dimaksudnya. Sebagai contoh, misalnya ada undang-undang yang membolehkan bahwa untuk menyelamatkan sebuah kapal, penumpangnya boleh dikorbankan. Tetapi Tuhan tidak akan pernah perlu mengambil tindakan darurat seperti itu. Jika Allah s.w.t. tidak bersifat Maha Kuasa yang mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan, maka Dia akan terpaksa untuk memilih untuk beralih kepada tindakan sewenang-wenang atau sepenuhnya tetap berlaku adil, dan karena harus memilih demikian maka Dia kehilangan sifat Ketuhanan-Nya. Padahal bahtera Tuhan akan tetap berjalan dengan segala kekuatan dan keadilan-Nya.
Allah s.w.t. juga merupakan sumber dari keselamatan, dengan pengertian bahwa Dia sendiri bebas dari semua aib, kesialan dan kesulitan serta berkuasa menganugrahkan keselamatan kepada mahluk ciptaan-Nya. Bila Dia bisa mengalami kesialan, misalnya bisa dibunuh oleh manusia atau digagalkan rencana-Nya, bagaimana mungkin hati manusia bisa merasa aman dan yakin bahwa Tuhan-nya akan mampu menyelamatkan dirinya dari mara bahaya? Tuhan-tuhan palsu diuraikan dalam Al-Quran sebagai:

Sesungguhnya, mereka yang kamu seru selain Allah, mereka tidak sekali-kali dapat membuat lalat walaupun mereka bergabung menjadi satu untuk itu. Dan jika lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, niscaya mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sungguh sangat lemah kedua-duanya, yang mencari dan yang dicari. Mereka tidak dapat memahami sifat-sifat  Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa= (S.22 Al-Haji:74-75). 
Allah s.w.t. memiliki kekuasaan di atas segala kekuasaan dan Dia mengatasi segala-galanya. Tidak ada satu pun yang mampu menangkap atau mencederai-Nya. Mereka yang berpandangan cupat demikian tidak mempunyai perkiraan atas wujud Tuhan dan tidak bisa membayangkan bagaimana dimensi Dia seharusnya.

Selain itu Allah adalah penganugrah kedamaian dan wujud yang memanifestasikan alasan-alasan yang mendukung Keagungan dan Ketauhidan-Nya. Semua ini merupakan indikasi bahwa seorang yang beriman kepada Tuhan yang benar, tidak akan dipermalukan di lingkungan siapa pun atau pun di hadirat Allah s.w.t. sendiri, karena ia memiliki argumentasi yang kuat yang mendukungnya. Berbeda dengan mereka yang beriman kepada dewa-dewa palsu karena mereka ini selalu dalam keadaan risau. Bukannya memakai logika dengan benar, untuk menghindari ditertawakan orang, ia itu cenderung akan menganggap benda-benda mati sebagai suatu yang misterius, dan dengan demikian ia mencoba menutupi kesalahannya.
Kemudian Dia berfirman:

Dia-lah Allah yang Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi segala bentuk. Kepunyaan Dia-lah segala nama yang terindah.= (S.59 Al-Hasyr:24).

Konsep Tuhan Yang Salah Dalam Agama Lain

Telaah dari semua agama mengungkapkan bahwa tidak ada agama lain selain Islam yang mengajarkan bahwa Allah yang Maha Perkasa itu bebas sama sekali dari segala cacat dan memiliki sepenuhnya semua sifat-sifat yang baik.
Konsep umat Hindu dan Arya SamajBangsa Hindu umumnya menganggap sembahan mereka sebagai rekan senasib dan sebagai wujud yang berbagi kegiatan dalam tindakan-tindakan ketuhanan. Mereka malah menganggap dewa-dewanya itu sebagai sosok yang mampu mengubah rencana Tuhan dan mengkacaukan takdir-Nya. Bangsa Hindu juga meyakini bahwa Parmeshwar mereka, pada suatu tahapan atau ketika lain, melalui transmigrasi, telah dilahirkan sebagai manusia atau hewan atau bahkan sebagai mahluk yang kotor seperti babi dimana ia ikut terlibat dalam segala keburukan dan sifat jahat manusia. Dalam kondisi demikian itu, dewa tersebut ikut merasakan lapar dan haus, sakit dan luka, ketakutan dan kesedihan, penyakit dan kematian, keaiban dan kehinaan, serta ketidakberdayaan dan kelemahan. Dengan demikian jelas bahwa keyakinan transmigrasi1 jiwa seperti itu telah menisbikan sifat-sifat luhur Allah yang Maha Kuasa serta mengurangi sifat keagungan dan keluhuran-Nya yang abadi.

Saudara mereka, kelompok Arya Samaj, yang menyatakan diri sebagai pengikut taat kitab Veda, mereka pun telah menghilangkan kekuasaan sifat penciptaan Tuhan. Mereka menganggap bahwa yang namanya jiwa itu tidak diciptakan dan ada dengan sendirinya sebagaimana halnya Tuhan sendiri. Padahal logika sulit menerima adanya wujud Tuhan yang Maha Kuasa yang menguasai seluruh alam tetapi bukan merupakan Maha Pencipta, dimana kehidupan dunia tidak perlu bergantung kepada pertolongan-Nya karena sudah ada dengan sendirinya.  Dari dua pandangan yaitu pertama, bahwa Dia telah menciptakan seluruh alam ini dari kekuasaan-Nya sendiri yang Maha Sempurna dan Dia menjadi Tuhan dan Pencipta dimana seluruh alam ini bergantung kepada pemeliharaan-Nya serta sifat penciptaan dan kekuasaan merupakan hal yang inheren dari Wujud-Nya dan Dia tidak lahir, melahirkan atau mati, dengan pandangan kedua yang menyatakan bahwa seluruh ciptaan ini berada di bawah kendali-Nya tetapi tidak diciptakan oleh dan tidak tergantung eksistensinya kepada-Nya, serta Dia itu bukan Pencipta karena tidak memiliki sifat mencipta dan tidak bebas dari lahir, melahirkan dan kematian, maka logika pasti memilih pandangan yang pertama. Jelas tidak masuk akal bahwa Dia yang menjadi Tuhan seru sekalian alam tetapi bukan menjadi penciptanya, dimana semua sifat-sifat mewujud dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan mereka sehingga Tuhan itu hanya di nama saja. Begitu juga sulit diterima akal bahwa Tuhan itu tidak memiliki kekuasaan penciptaan, atau tak berdaya, cacat serta makan dari barang-barang yang tidak suci, atau mengalami penderitaan, kematian, kebodohan, penyakit dan lain-lain. Sebaliknya, logika menuntut bahwa yang namanya Tuhan yang Maha Kuasa haruslah bersih dari segala sifat-sifat rendah dan cacat serta memiliki sifat kesempurnaan mutlak. Kesempurnaan mutlak mensyaratkan kepemilikan kekuasaan yang mutlak. Jika Allah yang Maha Kuasa tidak memiliki kekuasaan mutlak dan bukan pencipta dari segala sesuatu serta tidak mampu melindungi Wujud-Nya dari cacat dan cela, maka Dia tidak memiliki kesempurnaan mutlak dan karena itu Dia tidak patut memperoleh penyembahan manusia. Begitu itulah masalah yang terdapat di antara bangsa Hindu dan Arya.

Konsep menurut agama Kristen


Apa yang disifatkan oleh umat Kristiani terhadap Tuhan yang Maha Kuasa adalah suatu hal yang bisa ditentukan oleh satu pertanyaan saja. Allah yang Maha Kuasa yang bersifat abadi dan sempurna, yang tegak dengan sendiri-Nya dan tidak bergantung kepada apa pun, telah melakukan semua kegiatan akbar-Nya sepanjang masa keabadian dengan Wujud-Nya sendiri. Dia sendiri yang menciptakan alam semesta ini tanpa bantuan bapak atau pun anak. Dia itulah yang telah mengkaruniakan kekuatan yang mereka butuhkan kepada semua mahluk hidup dan Dia sendirilah yang menjadi Penjaga dan Pendukung serta Pengendali alam ini. Dia menciptakan berkat sifat Rahmaniat-Nya segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua ruh dan jasmani tanpa perlu kegiatan apa pun dari pihak mereka. Dia menciptakan matahari, rembulan dan bintang-bintang, bumi dengan segala isinya semata-mata karena rahmat-Nya tanpa bantuan dari seorang putra. Secara tiba-tiba Tuhan yang Maha Sempurna ini di kemudian hari dengan menanggalkan segala sifat Keagungan dan Kekuasaan-Nya, lalu menjadi tergantung kepada seorang putra untuk menyediakan penebusan dan pengampunan bagi umat manusia padahal putra itu demikian rendah mutunya sehingga tidak ada mirip-miripnya dengan sang Bapak. Putra ini tidak ada menciptakan apa pun dari langit dan bumi sebagaimana yang dilakukan Bapaknya untuk memperoleh status ketuhanan. Dalam Injil Markus pasal 8 ayat 12 dikemukakan betapa ketidak-berdayaan dirinya sendiri sehingga putra tersebut mengeluh: >Mengapa angkatan (generasi) ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.=
Ketika kemudian umat Yahudi menyalibnya, mereka mengatakan bahwa jika beliau bisa hidup kembali maka baru mereka akan beriman. Namun beliau tidak ada memberikan tanda itu kepada mereka, tidak juga memperlihatkan ketuhanan dirinya atau pun kekuasaan melalui cara apa pun. Adapun mukjizat-mukjizat yang dilakukannya, sudah juga dilakukan oleh Nabi-nabi terdahulu, bahkan air di kolam pun memiliki sifat yang memanifestasikan mukjizat-mukjizat yang sama (lihat pasal 5 Injil Yohanes)2.

Yesus sendiri mengakui bahwa beliau tidak mampu memberikan tanda-tanda yang mendukung sifat ketuhanannya. Karena dilahirkan dari seorang wanita yang lemah, maka beliau dalam pandangan umat Kristiani, harus mengalami penghinaan, perendahan dan ketidakberdayaan sepanjang hidup beliau sebagaimana layaknya manusia yang tidak beruntung dan papa. Beliau terpenjara sepanjang suatu kurun waktu dalam kegelapan rahim untuk kemudian dilahirkan melalui saluran kandungan ibunya dan menjalani semua hal yang terjadi pada seorang bayi manusia tanpa ada kekecualian apa pun. Kemudian beliau mengaku dalam kitabnya sendiri, kebodohan dan ketidak¬tahuannya serta ketidakberdayaan dan bahwa beliau merasa tidak becus. Hamba yang lemah itu, yang tanpa alasan yang jelas lalu dianggap sebagai anak Tuhan, bahkan masih kalah mutunya dibanding beberapa Nabi-nabi besar lain dalam kemampuan intelektual dan dalam tindakannya. Begitu juga ajaran beliau tidak sempurna karena hanya merupakan salah satu cabang dari ajaran Nabi Musa a.s. Bagaimana mungkin masuk akal mensifatkan segala hal yang menjadi atribut Tuhan yang Maha Perkasa, yang Maha Abadi, Wujud yang sempurna dan tegak dengan sendiri-Nya, dengan fitnah yang menyatakan bahwa pada akhirnya Dia harus bergantung kepada putra yang cacat demikian sehingga karenanya Dia kehilangan segala keagungan dan keakbaran-Nya? Aku tidak yakin bahwa ada manusia bijak yang mengizinkan penghinaan seperti itu dilontarkan kepada Wujud yang menjadi himpunan dari semua sifat yang sempurna. (Brahini Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 435-441,  London, 1984).

Monday, 19 May 2014

Ketauhidan Tuhan menurut ajaran Al-Quran

Kitab Suci Al-Quran terdiri dari petunjuk-petunjuk yang mengarah kepada kasih Allah s.w.t. Firman-firman itu menggambarkan keindahan Wujud-Nya dan mengingatkan akan kerahiman-Nya, dimana kecintaan kepada Tuhan tercipta melalui penghayatan keindahan itu atau karena menyadari kerahiman tersebut. Al-Quran mengajarkan bahwa dengan memperhatikan segala kemuliaan-Nya maka disimpulkan kalau Tuhan itu Maha Esa tanpa sekutu. Dia tidak memiliki cacat apa pun. Dia merangkum segala sifat yang baik dan memanifestasikan semua kekuatan suci-Nya. Dia adalah sumber dari segala ciptaan dan mata air dari berkat. Dia adalah pemilik dari semua ganjaran dan segala-galanya akan kembali kepada-Nya. Dia itu dekat tetapi juga jauh, Dia itu jauh tetapi juga dekat. Dia berada di atas segalanya, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada seseorang di bawah-Nya. Dia itu lebih tersembunyi dari segalanya tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada yang lebih mewujud dari sosok-Nya. Dia itu ada dengan sendiri-Nya dan segalanya hidup karena-Nya. Dia itu eksis dengan sendiri-Nya dan semuanya eksis melalui-Nya. Dia itu tegak dengan sendiri-Nya dan tak ada satu pun yang menopang-Nya. Tidak ada apa pun yang mewujud atas dirinya sendiri atau bisa hidup sendiri tanpa Dia. Dia meliputi keseluruhan tetapi tidak bisa dikatakan apakah sifat peliputan itu. Dia adalah Nur bagi semua yang ada di langit dan di bumi, setiap sinar memancar keluar dari tangan-Nya dan menjadi refleksi daripada Wujud-Nya. Dia adalah yang menghidupi alam semesta. Tidak ada jiwa yang tidak dihidupi oleh-Nya dan eksis dengan sendirinya. Tidak ada jiwa yang memiliki kekuatan bukan dari Wujud-Nya dan yang eksis dari dirinya sendiri.
Dua jenis Rahmat Ilahi

Sifat kasih-Nya terdiri dari dua macam jenis. Pertama, adalah sifat rahman yang secara abadi dimanifestasikan tanpa tergantung pada tindakan atau amalan siapa pun. Sebagai contoh, langit dan bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang, air, udara dan api serta semua partikel di alam ini yang diciptakan bagi keselesaan dan kebutuhan kita, yang seluruhnya telah tersedia sebelum kita sendiri mewujud. Semuanya itu sudah ada sebelum kita hadir. Tidak ada amalan apa pun yang berasal dari kita. Siapa yang bisa mengatakan bahwa matahari itu diciptakan karena hasil kerja seseorang, atau bumi terhampar sebagai akibat dari amal baik dirinya? Ini adalah sifat rahman yang sudah berjalan sebelum terciptanya manusia dan bukan merupakan hasil kerja manusia. Adapun sifat kasih Ilahi yang kedua yaitu kerahiman akan berjalan sebagai akibat dari tindakan atau amalan manusia. Hal-hal seperti ini tidak memerlukan ilustrasi.

Allah itu bersih dari segala cacatKitab Suci Al-Quran mengemukakan bahwa Allah s.w.t. itu bebas dari segala cacat dan tidak memiliki kecenderungan merugi. Dia menginginkan agar manusia mensucikan dirinya dari segala kekotoran melalui ketaatan kepada petunjuk yang telah diberikan-Nya. Dia telah berfirman:

Barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat pun ia akan buta juga= (S.17 Bani Israil:73). 
Berarti barangsiapa yang tidak memiliki wawasan di dunia ini dan tidak mampu melihat Wujud yang tanpa banding tersebut, akan buta juga setelah matinya dan terkungkung dalam kegelapan. Begitu juga dengan manusia yang dikaruniai wawasan dalam kehidupan ini untuk menyaksikan Tuhan dan ia tidak membawa wawasan tersebut dari dunia ini bersama dirinya, maka ia pun tidak akan dapat melihat Allah s.w.t. di akhirat. Allah yang Maha Kuasa telah menjelaskan dalam ayat di atas, kemajuan seperti apa yang diinginkan dari manusia dan berapa jauh yang dapat dicapai manusia jika mengikuti petunjuk-Nya. Allah s.w.t. mengemukakan petunjuk dalam Al-Quran yang jika diikuti akan memungkinkan manusia melihat Wujud-Nya bahkan dalam kehidupan sekarang ini. Kita diajarkan untuk:

Barangsiapa mengharap akan bertemu dengan Tuhan-nya, hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan siapa-jua pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya= (S.18 Al-Kahf:111). 

Berarti barangsiapa yang menginginkan bertemu dengan Tuhan yang Maha Pencipta, dalam kehidupan sekarang ini, haruslah berlaku saleh, atau dengan kata lain, perilakunya bersih dari segala cacat dan tindakannya itu tidak untuk mengagulkan diri atau pun untuk dibanggakan. Amalannya tidak boleh cacat atau kurang sempurna, tidak juga berbau apa pun yang tidak konsisten dengan kecintaan pribadinya kepada Allah s.w.t. Semua kegiatannya harus bernafaskan ketulusan dan keimanan. Ia tidak akan menyekutukan apa pun kepada Allah s.w.t. dan tidak akan menyembah matahari atau bulan, atau air atau api, pokoknya tidak ada apa pun yang disembahnya selain Tuhan. Ia tidak boleh mengagungkan sarana duniawi sedemikian rupa sehingga ia tergantung kepadanya dan menjadikannya sebagai sekutu Tuhan. Tidak juga semata-mata bergantung kepada usaha dan upayanya sendiri karena ini juga merupakan bentuk mempersekutukan Tuhan. Walaupun ia telah melakukan segala-galanya, ia harus menganggapnya sebagai belum melakukan apa pun. Ia tidak akan membanggakan diri atas pengetahuan yang dimilikinya, tidak juga bergantung kepada amalannya. Ia harus menganggap dirinya sangat bodoh dan malas, dimana jiwanya selalu bersujud di hadapan Allah yang Maha Perkasa. Ia akan menarik rahmat Tuhan kepada dirinya melalui doanya. Ia harus seperti orang yang kehausan dan tanpa daya yang menemukan mata air di depannya yang berair jernih dan manis, dimana ia merangkak ke arah mata air itu serta mencucupkan bibirnya dan minum sepuasnya dari mata air itu sehingga ia benar-benar kenyang.
Dalam Al-Quran, Allah s.w.t. menguraikan sifat-sifat-Nya sebagai:


 >Katakanlah: ADia-lah Allah yang Maha Esa, Allah yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan, dan tiada seorang pun menyamai Dia@= (S.112 Al-Ikhlas:2-5).

Berarti bahwa Tuhan kita adalah Maha Esa dalam Wujud-Nya dan dalam Sifat-sifat-Nya. Tidak ada wujud lainnya yang bersifat abadi dan tegak dengan sendirinya seperti Wujud-Nya. Begitu juga sifat-sifat dari wujud lain yang menyamai Sifat-sifat-Nya. Pengetahuan seseorang membutuhkan seorang guru dan itu pun tetap terbatas. Pengetahuan Tuhan tidak memerlukan guru dan tanpa batas. Kemampuan pendengaran seseorang tergantung kepada udara dan bersifat terbatas, tetapi sifat mendengar Allah s.w.t. bersifat inheren dan tanpa batas. Kemampuan penglihatan manusia tergantung kepada adanya sinar matahari atau sumber sinar lainnya serta bersifat terbatas, sedangkan penglihatan Tuhan adalah berasal dari Nur yang inheren dalam Wujud-Nya dan tanpa batasan apa pun. Kemampuan manusia untuk mencipta tergantung pada sarana dan waktu serta bersifat terbatas. Kemampuan Allah mencipta tidak bergantung pada apa pun, tidak juga pada waktu dan bersifat tanpa batas. Semua sifat-sifat-Nya tanpa banding dan tidak ada apa pun yang sepadan dengan Wujud-Nya atau pun sifat-sifat-Nya. Jika ada sifat-Nya yang dianggap cacat maka keseluruhan sifat-Nya juga pasti akan cacat dan karena itu ke-Esaan-Nya tidak bisa ditegakkan sepanjang belum menyadari bahwa Dia itu tidak ada yang menyamai dalam Wujud-Nya. Dia bukan putra siapa pun dan tidak ada siapa pun yang menjadi putra-Nya. Dia itu tegak dengan sendiri-Nya dan tidak membutuhkan ayah atau pun anak. Inilah Ketauhidan yang diajarkan Al-Quran dan menjadi dasar dari agama kita. (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 152-155,  London, 1984).

Allah s.w.t. telah memerintahkan kepadaku untuk memberitahukan kepada para anggota Jemaatku bahwa mereka yang beriman dengan keimanan yang tidak dinodai oleh keduniawian, tidak diwarnai oleh kemunafikan dan kepengecutan serta tidak mempunyai cacat dalam ketaatannya, adalah mereka yang akan memperoleh keridhoan Allah, dan Allah s.w.t. mengatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang kakinya teguh berdiri pada ketulusan. Mereka yang memiliki telinga, dengarlah apa yang diinginkan Tuhan dari dirimu. Yang diinginkan adalah kalian secara keseluruhan menjadi milik-Nya dan tidak akan menyekutukan apa pun dengan Wujud-Nya, baik di langit mau pun di bumi. Tuhan kita adalah yang Maha Esa yang hidup sekarang ini sebagaimana Dia itu hidup sebelumnya, yang berbicara sekarang sebagaimana Dia berbicara dahulunya, yang mendengarkan sekarang sebagaimana Dia mendengarkan di masa lalu. Adalah dusta pandangan yang menyatakan bahwa Dia itu sekarang hanya mendengar dan tidak berbicara lagi. Sesungguhnya Dia itu mendengar mau pun berbicara. Semua sifat-sifat-Nya bersifat abadi tanpa akhir. Tidak ada dari sifat-Nya lalu menjadi usang tidak berguna. Dia adalah wujud yang tanpa sekutu, tidak memiliki anak atau pun isteri pendamping. Dia adalah wujud yang tanpa padanan, tidak ada satu pun yang menyamai-Nya, yang sifat-sifat-Nya tunggal dan tidak berbagi dengan siapa pun. Tidak ada kekuasaan-Nya yang cacat apa pun. Dia itu dekat tetapi juga jauh, dan Dia itu jauh tetapi sesungguhnya dekat. Dia bisa memanifestasikan Wujud-Nya dalam bentuk apa pun kepada mereka yang bisa melihat kashaf tetapi Dia itu tanpa tubuh dan tanpa bentuk. Dia itu berada di atas segalanya, namun tidak bisa dikatakan bahwa ada seseorang di bawah-Nya. Dia berada di atas Arasy-Nya tetapi tidak bisa dikatakan bahwa Dia tidak berada di bumi. Dia merangkum dalam Diri-Nya semua sifat-sifat yang sempurna dan merupakan manisfestasi dari semua keagungan. Dia itu adalah sumber mata air dari semua keluhuran dan merangkum keseluruhan kekuasaan dalam Wujud-Nya. Semua rahmat bersumber dari Diri-Nya dan segala-galanya kembali kepada-Nya. Dia adalah Penghulu dari semua kerajaan dan memiliki semua sifat-sifat yang sempurna. Dia itu kalis dari segala cacat dan kelemahan. Menjadi kewajiban bagi semua yang ada di langit dan di bumi untuk menyembah-Nya. Tidak ada apa pun yang berada di luar kemampuan-Nya. Semua jiwa dan kemampuan yang dimilikinya, semua partikel berikut kemampuannya adalah ciptaan-Nya. Tidak ada apa pun yang mewujud dengan sendirinya tanpa melalui Dia. Dia memanifestasikan Diri-Nya melalui kekuasaan-Nya serta tanda-tanda-Nya dan kita bisa menemukan Dia hanya melalui Dia saja. Dia akan memanifestasikan Diri-Nya hanya kepada mereka yang bertakwa dan memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada mereka. Dengan cara demikian itulah Dia dikenali dan itulah jalan yang diakui yang telah mendapat perkenan-Nya.

Dia melihat tanpa bantuan mata phisik dan mendengar tanpa telinga phisik serta berbicara tanpa lidah phisik. Sudah menjadi fungsi-Nya menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Seperti yang seolah-olah kalian lihat dalam mimpi, Dia menciptakan dunia tanpa melalui sarana apa pun dan menunjukkan apa yang mewujud berupa segala sesuatu yang fana dan non-eksis. Demikian itulah kekuasaan-Nya. Bodoh sekali manusia yang menyangkal kekuasaan-Nya dan sungguh buta mereka yang tidak menyadari kedalaman-Nya. Dia melakukan segala sesuatu dan bisa melakukan segala hal kecuali yang bertentangan dengan harkat-Nya dan berlawanan dengan janji-Nya. Dia itu Maha Esa dalam Wujud-Nya, dalam sifat-sifat-Nya, dalam tindakan-Nya dan dalam kekuasaan-Nya. Semua pintu menuju Diri-Nya tertutup kecuali satu pintu yang dibukakan oleh Al-Quran. (Al-Wasiyyat, Qadian, Magazine Press, 1905; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 309-311,  London, 1984).

Segala puji bagi Allah
Segala puji milik Allah. Segala puji milik Tuhan yang Maha Benar yang merangkum di dalam Wujud-Nya semua sifat-sifat yang sempurna dan yang nama-Nya adalah Allah. Dalam istilah Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud yang sempurna yang patut disembah dan yang merangkum dalam Diri-Nya segala hal yang bersifat sempurna, bebas dari segala cela dan yang Maha Esa yang tidak mempunyai sekutu serta menjadi sumber mata air dari semua karunia. Dalam Kitab Suci-Nya, Allah yang Maha Perkasa menguraikan nama-Nya Allah sebagai yang merangkum dalam Wujud-Nya segala sifat dari nama-nama dan sifat lainnya. Tidak ada nama lain yang memiliki derajat demikian. Allah merangkum semua sifat-sifat yang sempurna.
Dengan demikian ucapan Alhamdulillah mengandung arti bahwa semua pujian, yang terbuka mau pun yang tersembunyi, berkaitan dengan kesempurnaan wujud atau pun keajaiban alamiah, merupakan karakteristik daripada Allah dan tidak ada satu pun yang menjadi sekutu bagi-Nya. Ucapan tersebut juga berarti bahwa semua pujian tulus dan sifat-sifat sempurna yang bisa terjangkau oleh fikiran seorang bijak, atau pun yang bisa dibayangkan oleh seorang pemikir, telah terangkum di dalam wujud Allah s.w.t. Tidak ada satu pun sifat unggulan yang tidak dimiliki oleh Allah. Tidak ada seorang bijak pun yang bisa mengatakan bahwa ada sifat unggulan yang tidak ada pada Allah yang Maha Kuasa. Semua unggulan sifat yang mungkin bisa dipahami manusia, sudah ada pada wujud-Nya. Dia itu sempurna dari segala sudut pandang, baik dalam wujud-Nya mau pun dalam sifat-sifat-Nya serta keunggulan-keunggulan lainnya, dan Dia sepenuhnya bebas dari segala kekurangan. Inilah kebenaran yang membedakan agama yang benar dengan agama yang palsu.

Ajaran Nabi SAW Hal Keimanan Pada Ketauhidan Ilahi

Adalah pendapat yang salah sama sekali mengharapkan bisa beriman kepada Ke-Esaan Allah s.w.t. tanpa melalui bimbingan Yang Mulia Rasulullah s.a.w. dan juga tak akan mungkin memperoleh keselamatan tanpa hal tersebut. Bagaimana mungkin bisa muncul keimanan kepada Ketauhidan Ilahi jika tidak yakin sepenuhnya akan eksistensi-Nya? Percaya dan yakinlah bahwa keimanan kepada Ketauhidan Ilahi hanya dapat dicapai melalui seorang Nabi sebagai¬mana Nabi Suci Rasulullah s.a.w. telah meyakinkan para atheis dan umat pagan di Arabia mengenai eksistensi Allah yang Maha Kuasa dengan memper¬lihatkan kepada mereka beribu-ribu tanda-tanda samawi. Sampai dengan hari ini, para pengikut yang benar dan sejati dari  Hazrat Rasulullah s.a.w. bisa memperlihatkan tanda-tanda itu kepada para atheis.
Sesungguhnya sepanjang manusia belum menyadari kekuatan yang hidup dari Tuhan yang hidup maka Syaitan tidak akan meninggalkan kalbunya, tidak juga Ketauhidan akan masuk ke dalam kalbu itu, begitu pula ia tidak akan pernah meyakini sepenuhnya eksistensi daripada Tuhan. Ketauhidan yang suci dan sempurna ini hanya bisa dimengerti melalui Nabi Suci Rasulullah s.a.w. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 120-121,  London, 1984).

Manusia tidak memiliki kemampuan guna memahami keseluruhan dari kegiatan Ilahi. Semuanya berada di luar jangkauan intelektual, penalaran dan khayalan mereka. Tidak seharusnya manusia berbangga hati atas sekelumit pengetahuan yang dimilikinya bahwa ia sedikit memahami sistem dari sebab dan akibat, padahal pengetahuannya itu masih amat sangat terbatas, tak ubanya satu per sejuta bagian dari satu titik air di samudra. Pada hakikatnya karena Allah yang Maha Perkasa itu tidak ada batasnya maka aktivitas-Nya pun tanpa batas juga. Sama sekali di luar dan di atas kemampuan manusia untuk mengetahui realitas dari setiap kegiatan Tuhan.

Jika kita renungi sifat-sifat-Nya yang Maha Abadi, sekurang-kurangnya kita bisa meyakini bahwa sebagaimana sifat-sifat Ilahi itu tidak pernah usang maka dalam ciptaan Tuhan ada beberapa spesi mahluk yang selalu mewujud, tetapi mengatakan bahwa mereka eksis dengan sendirinya adalah suatu hal tidak benar. Juga harus diingat bahwa  sebagaimana sifat penciptaan-Nya, maka sifat menghancurkan-Nya juga selalu berlaku sepanjang waktu dan sifat ini tidak akan pernah menjadi usang.

Para filosof telah berupaya dengan segala daya untuk merangkum penciptaan unsur-unsur langit dan bumi ke dalam lingkup pengetahuan hukum fisika mereka dan dari sana mencoba menentukan bagai¬mana sumber dari semua penciptaan, namun nyatanya mereka tidak pernah berhasil. Apa pun yang telah berhasil mereka kumpulkan dari telaah dan riset fisika mereka, masih saja tidak akan sempurna dan mengandung cacat. Karena itulah mereka tidak pernah bisa bertahan pada satu teori sepanjang masa dan selalu saja terjadi perubahan pandangan. Karena telaah yang mereka lakukan semata-mata didasarkan pada kemampuan penalaran mereka dan dengan cara menduga-duga serta tidak mendapat bantuan dari Allah s.w.t. maka mereka tidak pernah berhasil keluar dari kungkungan kegelapan yang meliputi mereka. Tidak ada seorang pun yang akan dapat mengenali Tuhan-nya sampai ia memahami bahwa tidak terbilang kegiatan Ilahi yang sama sekali berada di luar kemampuan penalaran dan dugaan manusia. Sebelum mencapai tahapan pemahaman demikian maka orang tersebut kalau bukan seorang atheis yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan, atau ia itu percaya kepada Tuhan tetapi dalam wujud yang merupakan hasil rekaan fikirannya sendiri dan bukan Tuhan yang memanifestasikan wujud-Nya beserta segala rahasia Diri-Nya yang demikian banyak sehingga berada di luar kemampuan manusia untuk meresapinya. Karena Allah s.w.t. sudah menganugrahkan kepada diriku pengetahuan mengenai kekuasaan-Nya yang memiliki kedalaman berlapis-lapis dan berada di luar kemampuan pemikiran, aku selalu menganggap para filosof tersebut sebagai orang-orang yang tidak beriman dan atheis yang tersembunyi. Adalah dari hasil pengamatanku sendiri dan aku memang ada menyaksikan perwujudan dari kekuasaan Ilahi yang demikian luar biasa, sehingga hanya bisa dikatakan bahwa semuanya itu merupakan sesuatu yang eksis yang dihasilkan oleh suatu keadaan yang non-eksis. Aku sudah menguraikan beberapa mukjizat tersebut di tempat lain. Mereka yang tidak memperhatikan keajaiban Ilahi tersebut sama saja dengan orang yang tidak memperhatikan apa pun. Kami tidak percaya kepada sosok Tuhan yang kemampuan-Nya dibatasi oleh logika dan spekulasi kita sendiri. Kami beriman kepada Allah yang kekuasaan-Nya sebagaimana juga Wujud-Nya, sebagai sesuatu yang tanpa batas, tanpa bisa disekat atau dikotak-kotakkan dan tanpa akhir. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 280-282,  London, 1984).

Tuhan Islam Nyata Di Alam Dan Disadari Hati Manusia

Tuhan di dalam agama Islam adalah Tuhan yang sama dengan yang ada dalam cermin dari hukum alam dan sebagaimana diuraikan dalam kitab sejarah alam. Islam tidak ada mempersembahkan Tuhan yang baru, tetapi mengemukakan Tuhan yang sama sebagaimana dikemukakan oleh nur dari kalbu manusia, oleh hati nurani umat manusia serta oleh langit dan bumi. (Majmua Ishtiharat, vol. 2, hal. 310-311).

Ruh kami dan setiap partikel zarah dari wujud kami bersujud di hadapan Allah yang Maha Perkasa, Maha Benar dan Maha Sempurna yang dari Tangan siapa setiap ruh dan setiap partikel penciptaan lengkap berikut semua inderanya jadi mewujud, dan yang melalui Dukungan-Nya setiap mahluk dipelihara. Tidak ada yang berada di luar jangkauan Pengetahuan-Nya atau Pengendalian-Nya atau pun di luar Ciptaan-Nya. Kami memanjatkan ribuan berkat dan salawat bagi Nabi Suci Muhammad s.a.w. melalui siapa kami telah menemukan Tuhan yang hidup yang telah membuktikan kepada kami Eksistensi-Nya melalui Firman-Nya. Dia telah memperlihatkan kepada kami melalui tanda-tanda yang luar biasa, Wujud-Nya yang cemerlang dan memiliki kekuasaan yang sempurna dan abadi. Kami telah menemukan Rasul yang telah memanifestasi¬kan Tuhan kepada kami dan karena itu menemukan Tuhan yang menciptakan segala sesuatu melalui kekuasaan-Nya yang sempurna. Betapa agung kekuasaan-Nya dimana tidak ada yang mewujud tanpa-Nya dan tidak ada yang bisa terus eksis tanpa bantuan-Nya. Tuhan kami yang Maha Benar  itu memiliki berkat yang tidak terbilang, kekuasaan yang tidak terhitung, keindahan dan karunia yang tidak terkira. Tidak ada tuhan lain di sisi-Nya. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 363,  London, 1984).
Wujud daripada Allah amatlah tersembunyi dan jauh dari jangkauan, teramat rahasia dan tidak akan bisa ditemukan melalui penalaran manusia semata dan tidak ada argumentasi yang dapat membuktikan eksistensi-Nya secara konklusif. Masalahnya karena logika hanya bisa mengantar manusia sampai kepada tahapan perasaan bahwa kemungkinan ada yang namanya sosok Pencipta. Hanya saja perasaan >mungkin= tidak sama dengan kepastian bahwa memang eksis. Mengingat jalannya logika manusia itu tidak sempurna, tidak lengkap dan diragukan maka seorang ahli filosofi tidak akan dapat menemu¬kan Tuhan semata-mata hanya melalui penalaran. Kebanyakan manusia yang berusaha menemukan eksistensi Tuhan melalui logika pada akhirnya akan menjadi atheis. Perenungan atas penciptaan langit dan bumi saja tidak akan memberikan manfaat banyak sehingga pada akhirnya mereka kemudian mencemoohkan dan menertawakan orang-orang yang menyembah Tuhan. Salah satu argumentasi adalah karena mereka berpendapat ada beribu-ribu hal di dunia ini yang tidak ada gunanya dan adanya hal tersebut tidak menjadi indikasi adanya sesosok perancang. Hal-hal tersebut ada di dunia hanya semata-mata sebagai barang yang mubazir dan tidak berguna. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa kurangnya pengetahuan mereka mengenai sesuatu tidak harus menjadikan hal itu sebagai hal yang tidak berguna.
Ada berjuta-juta manusia di dunia ini yang merasa dirinya sebagai seorang filosof yang amat bijak dan menyangkal eksistensi daripada Tuhan. Sebenarnya jika mereka memang bisa menemukan dasar pemikiran yang kuat yang mendasari eksistensi Tuhan, pasti mereka juga tidak akan menyangkal Wujud tersebut. Kalau saja mereka berhasil menemukan argumentasi yang konklusif yang mendukung keberadaan Tuhan, mereka juga pasti tidak akan menolaknya mentah-mentah. Dengan demikian jelas bahwa mereka yang mengikuti jejak langkah masuk dalam bahtera para filosof semata, tidak akan memperoleh pencerahan dari badai keraguan dengan akibat mereka akan tenggelam dan mereka tidak akan sempat menyaksikan mukjizat Ketauhidan.

Pengalaman Pribadi Tentag Tuhan

Tuhan yang telah memanifestasikan Wujud-Nya kepada semua Nabi-nabi, yang telah muncul kepada Musa a.s. di Gunung Sinai dan kepada Isa a.s. di Gunung Seir serta bersinar bagi Hazrat Muhammad s.a.w. di Gunung Paran, yang Maha Perkasa dan Maha Suci Tuhan yang sama telah memanifestasikan Wujud-Nya kepadaku. Dia telah berbicara kepadaku dan berfirman: >Aku adalah yang Maha Luhur yang untuk menyembah-Nya telah diutus semua Nabi-nabi. Aku sendirilah Pencipta dan Penguasa dan Aku tidak mempunyai sekutu. Aku tidak tunduk pada kodrat kelahiran dan kematian.= (Government Angrezi aur Jihad, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 17, hal. 29,  London, 1984).

Kehidupan suci yang bebas dari dosa adalah intan permata yang tidak ada dimiliki manusia sekarang. Allah yang Maha Perkasa telah menganugrahkan intan permata itu kepadaku dan Dia telah mengutus aku untuk menyampaikan kepada dunia mengenai cara-cara untuk memperoleh intan permata tersebut. Aku bersumpah dengan penuh keyakinan bahwa dengan menempuh jalan ini maka setiap orang akan bisa mendapatkannya. Satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan mengenali Tuhan secara benar, namun hal ini merupakan hal yang sulit dan rumit. Sebagaimana telah aku kemukakan, seorang filosof yang merenungi langit dan bumi dan menyadari keteraturan yang sempurna daripada alam semesta, hanya akan mengatakan bahwa kemungkinan ada sosok Pencipta. Tetapi aku melangkah ke tingkat yang lebih tinggi dan menyatakan berdasarkan pengalaman pribadiku bahwa Tuhan itu memang ada. (Malfuzat, vol. III, hal. 16).

Tuhan kami adalah surga kami. Kesenangan yang tertinggi adalah bersama Allah s.w.t. karena kami telah bersua dengan Dia dan telah melihat semua kecantikan dalam Wujud-Nya. Ini adalah khazanah kekayaan yang layak dicari meski harus menyerahkan nyawa untuk memperolehnya. Ini adalah intan permata yang patut dibeli walaupun harus melepas nyawa guna menebusnya. Wahai kalian yang kehilangan harapan, marilah ke sumber mata air ini dan kalian akan dipuaskan. Dia merupakan sumber mata air kehidupan yang akan menyelamatkan kalian. Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana aku bisa mengesankan kepada hati kalian bahwa ini adalah kabar gembira? Genderang apakah yang harus aku tabuh untuk mengumumkan agar manusia mau mendengar bahwa inilah Tuhan kita? Obat apakah yang harus aku gunakan untuk membuka telinga manusia agar mereka mau mendengar? (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 21-22,  London, 1984).

Thursday, 15 May 2014

Tanda-tanda Abadi Kebenaran Islam



Sifat-sifat agama Islam sebagaimana telah kami kemukakan bukanlah sesuatu yang dibuktikan dengan hal-hal di masa lalu saja seperti sisa-sisa reruntuhan makam-makam kuno. Islam bukanlah agama yang mati dimana orang bisa mengatakan bahwa semua berkatnya telah tertinggal di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi tersisa di masa depan. Sifat utama dari Islam adalah berkat yang selalu mengikutinya yang tidak hanya terpaku di masa lalu tetapi juga memberikan berkat di masa kini. Dunia ini selalu membutuhkan berkat dan tanda-tanda samawi. Dunia membutuhkannya tidak hanya di masa lalu tetapi juga di masa kini. Seorang manusia yang lemah tanpa daya yang terlahir buta selalu membutuhkan keterangan tentang kerajaan surga dan ia perlu melihat beberapa tanda dari eksistensi dan kekuasaan Tuhan, kepada Siapa ia beriman. Tanda-tanda yang diberikan di masa lalu tidak mencukupi bagi masa kini, karena mendengar saja tidak sama dengan melihat sendiri, mengingat dengan berjalannya waktu maka kejadian-kejadian masa lalu berubah bentuk menjadi hikayat. Setiap abad dimulai dengan dunia yang baru. Karena itu Tuhan dalam agama Islam, yang adalah Tuhan yang sebenarnya, memanifes­tasikan tanda-tanda baru bagi setiap dunia yang baru. Di awal abad yang baru, khususnya pada awal abad dimana manusia sudah sangat jauh melenceng dari agama, integritas dan yang terselubung kegelapan, Dia akan membangkitkan seorang Nabi substitusi yang dalam cerminan daripada sifatnya akan diperlihatkan sebagai seorang Nabi. Sosok demikian itu menunjukkan kepada dunia segala kemuliaan dari Nabi panutan dimana ia menjadi pengikutnya, dan mengalah­kan lawan melalui kebenaran, penampakan daripada realitas serta penggagalan kepalsuan. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 245-247, London, 1984).

* * *

Tanda dari sebuah agama yang benar adalah melalui ajarannya itu setiap orang yang muttaqi akan berhasil mencapai tingkatan seorang Muhaddas kepada siapa Allah s.w.t. akan berbicara bertatap muka. Tanda utama dari kebenaran Islam bahwa melaluinya akan muncul para muttaqi dengan siapa Allah s.w.t. akan berbicara sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran:

>Malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: AJanganlah kamu takut dan jangan pula berduka cita@= (S.41 Ha Mim As-Sajdah:31).

Ini menjadi sarana pengujian dari suatu agama yang benar, hidup dan bisa diterima. Kita tahu bahwa Nur ini hanya bisa ditemukan di dalam Islam dan bahwa agama Kristen tidak ada memiliki Nur demikian. (Hujjatul Islam, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 6, hal. 43, London, 1984).

* * *

Kami bisa memberikan bukti yang konklusif kepada setiap pencari kebenaran bahwa sejak masa Penghulu dan Junjungan kita Rasulullah s.a.w. sampai dengan hari ini, pada setiap abad telah muncul hamba-hamba Allah melalui siapa Allah s.w.t. telah membimbing umat manusia melalui penampakan tanda-tanda samawi. Di antaranya adalah Sayid Abdul Qadir Al-Jailani, Abul Hassan Kharqani, Abu Yazid Bistami, Junaid Baghdadi, Mahyuddin Ibn Arabi, Dhanun Misri, Muinuddin Khisti Ajmeri, Qutbuddin Bakhtiar Khaki, Fariduddin Pakpattani, Nizamuddin Dehlavi, Shah Waliullah Dehlavi dan Sheikh Ahmad Sirhindi, semoga Allah berkenan atas mereka semua.

Jumlah mereka beribu-ribu orang dan demikian banyak kejadian-kejadian luar biasa berkaitan dengan mereka yang diuraikan dalam kitab-kitab para cendekiawan dimana lawan yang paling fanatik pun akan mengakui bahwa mereka itu telah memperlihatkan tanda-tanda dan mukjizat luar biasa. Aku berkata dengan sesungguhnya bahwa dari hasil telaah yang aku lakukan sepanjang yang mungkin dilakukan mengenai masa lalu, aku telah sampai pada kesimpulan bahwa jumlah dari tanda-tanda samawi yang mendukung Islam dan sebagai kesaksian atas kebenaran Yang Mulia Rasulullah s.a.w. yang dimanifestasikan melalui para Aulia umat ini, tidak bisa dipadankan dengan sejarah dari agama lain mana pun. Islam adalah satu-satunya agama yang berkembang melalui tanda-tanda samawi dan Nur serta berkat yang tidak mungkin dibilang, yang memperlihatkan eksistensi Allah s.w.t. seolah-olah Dia itu dekat sekali.

Yakinlah kalian bahwa dalam bilangan tanda-tanda samawi, Islam selalu unggul di tiap masa. Dalam masa kalian kini, kalau mau kalian juga bisa menyaksikan tanda-tanda yang mendukung Islam. Bisakah kalian secara jujur mengatakan bahwa kalian tidak ada menyaksikan tanda-tanda yang mendukung Islam dalam masa kalian? Adakah agama lain di dunia yang mampu memberikan kesaksian seperti itu? Hal ini merupakan masalah berat yang telah mematahkan tulung punggung para missionaris Kristen. Ia yang mereka tegakkan sebagai tuhan tidak didukung oleh apa pun kecuali dongeng-dongeng kosong dan kisah-kisah palsu.

Tanda kebenaran dari Hazrat Rasulullah s.a.w. yang mereka tolak, jelas terlihat di masa kini seperti curahan hujan yang lebat. Bagi para pencari kebenaran, semua pintu gerbang tanda-tanda samawi tetap terbuka sekarang sebagaimana juga selalu terbuka di masa lalu, dan bagi mereka yang lapar akan kebenaran maka hidangan berberkat selalu tersedia di masa kini sebagaimana di masa lalu juga tersedia. Sebuah agama yang hidup tersedia di masa kini sebagaimana adanya di masa sebelumnya. Sebuah agama yang benar selalu memiliki tangan Tuhan yang Maha Hidup menopang dan menggamit punggungnya dan agama itu adalah Islam. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 91-92, London, 1984).

* * *

Jika ada yang mempertanyakan bahwa terdapat ratusan agama palsu yang telah berkembang selama beribu tahun meskipun mungkin bersumber pada kebohongan, jawabannya adalah sebagai berikut. Menurut kami, yang dimaksud kebohongan adalah jika seseorang secara sengaja menyusun kata-kata atau menciptakan sebuah kitab, yang diakukan sebagai diwahyukan kepadanya oleh Tuhan yang Maha Kuasa padahal tidak ada apa pun yang diturunkan kepadanya. Kami bisa memastikan berdasar telaah menyeluruh bahwa kebohongan demikian tidak akan mungkin berkembang di masa apa pun. Kitab Allah menyatakan bahwa mereka yang bersalah melakukan kebohongan terhadap Allah yang Maha Kuasa, akan segera dihancurkan. Kami telah menyatakan bahwa kesaksian yang sama itu dinyatakan juga oleh Taurat, Injil dan Al-Quran.

Agama-agama palsu yang kita lihat di dunia sekarang ini seperti agama Hindu atau Parsi, bukan merupakan karangan dari Nabi-nabi palsu. Sebenarnya adalah para pengikut mereka itulah yang atas dasar kesalahannya sendiri telah terperosok menerima akidah-akidah yang sekarang ini. Kalian tidak boleh yang menyatakan sebuah kitab yang mengaku sebagai kitab samawi yang diagungkan sekelompok orang sebagai palsu, meskipun mungkin saja diragukan palsu. Kemungkinan yang terjadi adalah telah disalah-artikannya sebuah kitab samawi. Sebuah pemerintahan politis akan segera menangkap seseorang yang mengaku-aku sebagai pejabat negara. Lalu mengapa Allah yang bersifat cemburu terhadap sifat Keagungan dan Kerajaan-Nya, tidak akan menindak seorang pengaku yang palsu? (Anjam Atham, Qadian, Ziaul Islam Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 11, hal. 63-64, London, 1984, catatan kaki).

Berkat Berkelanjutan Dari Islam

Tuhan dari sebuah agama yang benar harus sejalan dengan logika dan sifat alam sehingga eksistensi Wujud-Nya bisa menjadi bukti bagi mereka yang berakal namun tidak memiliki kitab samawi yang bisa mereka imani. Tuhan demikian harus terbebas dari citra paksaan atau kepalsuan. Kesempurnaan seperti itu menjadi ciri daripada Tuhan yang dikemukakan oleh Kitab Suci Al-Quran. Para penganut agama lain sudah meninggalkan Tuhan yang asli sebagaimana yang dilakukan umat Kristen, atau mengenakan sifat-sifat rendah dan tidak patut kepada-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh para pagan (penyembah berhala) dan bangsa Arya. Tuhan dalam agama Islam adalah Tuhan yang benar yang bisa dilihat melalui cermin hukum alam dan nyata pada alam itu sendiri. Islam tidak ada menciptakan Tuhan yang baru, tetapi mengemukakan Tuhan yang sama sebagaimana digambarkan oleh nur hati dan kesadaran manusia, serta oleh langit dan bumi.

Sifat lain dari suatu agama yang benar adalah bahwa agama itu bukan merupakan kredo yang mati. Berkat dan keagungan yang dikembangkan di dalamnya dari sejak awal, harus tetap ada sampai dengan akhir dunia, demi peningkatan kesejahteraan umat manusia. Melalui tanda-tanda yang baru, bisa diteguhkan tanda-tanda di masa lalu dan dengan cara ini maka Nur kebenarannya tidak akan usang menjadi dongeng lama. Aku sudah lama selalu menulis bahwa Kenabian sebagaimana pengakuan dari Penghulu dan Junjungan kita Muhammad s.a.w. serta bukti-bukti samawi dalam bentuk tanda-tanda yang beliau kemukakan, masih tetap berlaku di dalam Islam dan dikaruniakan kepada para pengikut beliau agar mereka bisa mencapai tingkat pemahaman yang sempurna dan menyaksikan Allah s.w.t. secara langsung.

Tanda-tanda yang katanya berasal dari Nabi Isa a.s. adalah dongeng semata dan tidak bisa ditemukan dimana pun, sehingga agama yang mengajarkan penyembahan manusia yang telah mati dengan sendirinya menjadikan agama itu sendiri mati. Kebenaran tidak bisa dibatasi hanya kepada dongeng-dongeng lama. Setiap orang memiliki segudang cerita-cerita tentang apa yang dianggap­nya sebagai mukjizat dan keajaiban. Merupakan karakteristik daripada Islam bahwa agama ini tidak hanya menyajikan keselesaan dari hikayat dan dongeng, tetapi juga memberikan kepuasan batin bagi sang pencari dengan tanda-tanda yang hidup.

Seorang pencari kebenaran tidak akan puas dengan penyembahan sia-sia dari sosok yang telah mati dan tidak akan menerima dongeng-dongeng rombengan. Kita ini ibarat memasuki pasaran dunia untuk membeli hanya yang terbaik saja. Kita tidak seharusnya mensia-siakan keimanan kita dengan membarternya dengan barang-barang palsu. Agama yang hidup adalah agama yang memungkinkan kita menemui Tuhan yang Maha Hidup. Tuhan yang hidup adalah Dia yang bisa mengilhami kita secara langsung atau sekurang-kurangnya membawa kita kepada seseorang yang menerima ilham secara langsung. Aku mengumandangkan ke seluruh dunia bahwa Tuhan dari agama Islam adalah Tuhan yang hidup. Mereka yang tidak lagi bisa diajak bicara adalah karena mereka sudah mati dan jelas bukan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang bisa melihat tanda-tanda mereka pada masa ini. Ia yang tuhannya sudah mati akan dipermalukan di segala bidang, akan direndahkan dan tidak akan ditolong dengan cara apa pun.

Tujuanku dalam mengumumkan hal ini adalah untuk menunjukkan bahwa sebuah agama yang benar tidak akan berubah. Sebagaimana adanya di awal turunnya, akan begitu juga adanya di akhir masa. Sebuah agama yang benar tidak akan pernah menjadi dongeng-dongeng kuno. Islam adalah agama yang benar dan aku menghimbau semua orang, baik Kristiani, Arya, Yahudi, Brahmo dan lain-lain untuk menyaksikan kebenaran Islam. Adakah dari antara mereka itu yang berhasrat mencari Tuhan yang hidup? Kami tidak menyembah sosok mati. Tuhan kami itu hidup. Dia menolong kami melalui ilham, wahyu dan tanda-tanda samawi. Jika ada seorang saja penganut agama Kristen yang serius memang mencari kebenaran, biarlah ia mengadakan suatu perbandingan di antara Tuhan kami yang hidup dengan tuhannya yang mati. Untuk pengujian demikian, kurun waktu empatpuluh hari kiranya memadai. (Majmua Ishtiharat, vol. 2, hal. 310-312).

Berkat Daripada Agama Islam

Sekarang aku akan memperjelas apa yang dimaksud dengan buah daripada Islam. Ketika seorang pencari kebenaran Tuhan memutuskan untuk menerima Islam dan seluruh pancainderanya mulai menapaki jalan Allah yang Maha Kuasa tanpa ada kepura-puraan maka hasil dari upayanya itu akan berbentuk bimbingan Ilahi dalam manifestasi yang lebih tinggi lagi, bebas dari segala hambatan, langsung menuju kepada Wujud-Nya. Berbagai macam berkat akan turun atas dirinya dan semua akidah serta perintah yang tadinya diterima hanya karena mendengar atau diyakini, sekarang dialami sebagai suatu realitas dan kepastian melalui media ru=ya, kashaf dan wahyu. Rahasia-rahasia keimanan dan shariah dibukakan kepadanya dan ia diberikan kesempatan untuk melihat kerajaan Ilahi, dan dengan demikian ia mencapai tingkat keyakinan dan pemahaman keimanan yang sempurna. Karunia berkat akan memberi tanda pada lidah, perkataan, tindakan dan semua gerakannya. Ia akan dikaruniai keberanian dan keteguhan yang luar biasa, dan kemampuan pemahamannya akan berkembang ke tingkat yang amat tinggi. Ia akan terbebas dari berbagai hambatan manusiawi seperti kekejian, kekikiran, kecenderungan untuk tersandung terantuk-antuk, kecupetan pandangan, godaan hawa nafsu, akhlak yang rendah serta semua kegelapan dalam egonya, dan ia akan diisi dengan Nur dari sifat-sifat Ilahi.

Dengan demikian ia akan menjalani perubahan total dan seolah-olah mengenakan pakaian dari suatu kelahiran baru. Ia selanjutnya mendengar melalui Allah yang Maha Kuasa, melihat melalui Dia, bergerak bersama-Nya, berhenti karena Dia, kemarahan dirinya menjadi kemurkaan Allah dan kasih sayang dirinya menjadi kasih dari Dia yang Maha Perkasa.

Ketika ia sampai pada taraf demikian maka doa-doanya telah didengar sebagai pertanda bahwa ia itu telah terpilih dan bukan semata-mata sebagai suatu percobaan. Ia akan menjadi bukti eksistensi Allah di muka bumi dan menjadi lambang keamanan dari Tuhan. Langit bergembira atas keadaannya dan berkat dengan nilai yang paling tinggi akan dikaruniakan kepadanya dalam bentuk firman Tuhan yang bebas dari segala keraguan yang akan langsung turun ke hatinya, seperti sinar bulan yang menembus langsung tanpa ada kabut yang menghalangi. Nur tersebut membawa rasa kesenangan yang efektif dan memberikan kepuasan, keselesaan dan keamanan. Perbedaan di antara komunikasi dengan Tuhan seperti ini dibanding dengan wahyu adalah wahyu merupakan sumber mata air yang mengalir abadi bagi hamba-hamba Allah yang terpilih. Mereka itu berbicara, melihat dan mendengar bersama Rohul Kudus dan segala niat mereka merupakan hembusan nafas Rohul Kudus. Sesungguhnya mereka itu menjadi cerminan dan peneguhan dari ayat:

>Ia tidak berkata-kata menurut kehendak sendiri. Perkataannya tidak lain melainkan wahyu bersih yang diwahyukan oleh Allah= (S.53 An-Najm:4-5).

Hal itu hanya bisa digambarkan sebagai manifestasi khusus dari Allah yang Maha Agung yang disampaikan melalui malaikat pilihan. Tujuannya adalah memberikan kesan dari terkabulnya doa-doa yang bersangkutan, atau untuk memberitahukan sesuatu yang baru atau rahasia, atau menyangkut suatu kejadian di masa depan, atau menyampaikan keridhoan atau teguran Ilahi mengenai apa pun, atau juga untuk memberikan kepastian dan pemahaman mengenai suatu hal. Semua itu merupakan firman Ilahi yang dimanifestasikan dalam bentuk percakapan dalam rangka mencipta­kan pemahaman dan kepuasan. Sulit untuk menjelaskannya lebih lanjut. Semuanya itu berbentuk suara yang datang dari Allah dan diterima dalam bentuk kata-kata yang memberikan kenikmatan penuh dengan berkat, dilambari manifestasi dari keagungan samawi, serta bebas sama sekali dari refleksi atau perasaan dirinya sendiri. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 226-233, London, 1984).

* * *

Aku hanya beriman kepada Islam saja sebagai satu-satunya agama yang benar dan menganggap agama-agama lain sebagai kumpulan berkas kepalsuan. Aku meyakini bahwa dengan beriman kepada agama Islam maka curahan Nur mengalir di seluruh tubuhku. Melalui kecintaan kepada Hazrat Rasulullah s.a.w. aku telah mencapai tingkat kedekatan samawi yang tinggi, serta terkabulnya doa-doaku yang hanya bisa dicapai oleh seorang pengikut Nabi yang benar Rasulullah s.a.w. dan bukan dengan cara lain. Kalau umat Hindu dan Kristen atau pun yang lainnya memohon kepada tuhan-tuhan palsu mereka, bahkan sampai mati pun mereka tidak akan pernah mencapai tingkatan tersebut. Aku benar-benar mendengar suara Tuhan, yang bagi orang lain baru menjadi teori saja. Aku telah diperlihatkan dan diberitahukan serta dijadikan menyadari bahwa hanya Islam saja yang merupakan agama yang benar di dunia. Juga diungkapkan kepadaku bahwa semua yang aku terima itu adalah karena berkat dari mengikuti Khatamul Anbiya s.a.w. dan padanannya tidak akan ditemukan pada agama lainnya, karena semua agama itu adalah palsu. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 275-276, London, 1984).

* * *

Beribu syukur bagi Allah yang Maha Kuasa yang telah menganugrahkan kepada kita sebuah agama yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan mengenai dan ketakutan kepada Tuhan yang tidak ada padanannya sepanjang masa. Beribu berkat semoga diturunkan kepada Yang Mulia Nabi Suci s.a.w. melalui siapa kita masuk dalam agama ini dan beribu rahmat semoga dilimpahkan kepada para sahabat beliau yang telah mengairi taman ini dengan darah mereka.

Islam adalah agama yang demikian diberkati dan dekat dengan Tuhan sehingga orang yang mengikutinya dengan tulus dan mematuhi semua ajaran, tegahan dan petunjuknya sebagaimana diutarakan dalam Kitab Suci Allah yang Maha Luhur yaitu Al-Quran, maka ia akan bersua Tuhan bahkan dalam kehidupan ini sekarang. Untuk mengenali Tuhan yang tersembunyi dari pandangan dunia di belakang ribuan cadar, tidak ada cara lain kecuali dengan mengikuti ajaran Al-Quran. Al-Quran Suci menuntun kita menuju Allah yang Maha Perkasa melalui penalaran dan tanda-tanda samawi dengan cara yang mudah. Kitab ini mengandung berkat dan kekuatan magnetis yang akan menarik seorang pencari Tuhan ke arah Wujud-Nya serta memberikan Nur, kepuasan dan kenyamanan. Seorang yang beriman sepenuhnya kepada Al-Quran tidak hanya akan merenungi bahwa selayaknya ada sosok Pencipta dari alam yang begini indah sebagaimana yang dilakukan para filosof, tetapi ia juga akan memperoleh wawasan batin dan dikaruniai kashaf mulia yang dilihat dengan keyakinan pandangan bahwa Sang Pencipta itu memang benar ada. Ia yang dikaruniai dengan Nur dari Firman Suci itu tidak hanya akan menerka-nerka saja sebagaimana mereka yang bersandar kepada logika semata bahwa Tuhan itu Esa, tanpa sekutu, tetapi melalui beratus tanda-tanda cemerlang yang menuntunnya keluar dari kegelapan, melihat sebagai suatu kenyataan bahwa Allah memang tidak mempunyai sekutu, baik dalam Wujud-Nya mau pun dalam Sifat-sifat-Nya. Ia akan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa ia meyakini Ketauhidan Ilahi. Keagungan dari Ketauhidan Ilahi memenuhi seluruh relung kalbunya sehingga sejalan dengan kehendak Ilahi, ia akan memandang seluruh dunia ini tidak lebih baik daripada melihat serangga mati dan bahkan tidak berarti apa-apa sama sekali. (Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 25-26, London, 1984).

Agama Islam Sebagai Realitas Sempurna

Yang utama harus dipahami adalah apa yang dimaksud dengan realitas daripada Islam, bagaimana cara-cara mencapai realitas tersebut dan apa hasil yang didapat dengan mengikuti realitas demikian karena pengetahuan mengenai hal ini merupakan inti pokok guna memahami berbagai misteri. Alangkah baiknya jika para lawan kita mau mempelajari masalah ini dengan tekun karena berbagai keraguan yang menerpa fikiran mereka adalah akibat dari kegagalan mereka mencerna secara sempurna realitas Islam, sumber-sumbernya dan buahnya. Para lawan agama kita juga akan memperoleh manfaat dari telaah demikian. Mereka akan bisa memahami apa yang dimaksud dengan agama dan apa yang menjadi tanda-tanda kebenarannya.

Dalam istilah bahasa Arab, kata Islam mengandung arti uang yang dibayarkan untuk menyelesaikan suatu perjanjian, atau menyerahkan urusan kepada seseorang, atau mencari kedamaian, atau menyerah mengenai suatu hal atau pandangan. Pengertian tehnikal daripada Islam dikemukakan dalam ayat:

>Yang benar, barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan juga ia berbuat kebajikan, maka bagi ia ada ganjarannya di sisi Tuhan-nya. Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka mengenai yang akan datang dan tidak pula mereka akan berdukacita mengenai apa yang sudah lampau= (S.2 Al-Baqarah:113).

Dengan demikian Islam berarti seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya di jalan Allah yang Maha Kuasa, yaitu orang yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah yang Maha Perkasa dalam mengikuti petunjuk-Nya dan berusaha mencari keridhoan-Nya, lalu bersiteguh melakukan amal baik demi Allah s.w.t.dan mengerahkan seluruh kemampuan dirinya untuk tujuan tersebut. Dengan kata lain ia menjadi milik Allah sepenuhnya, baik secara akidah mau pun pelaksanaannya.

Menjadi milik Allah secara akidah mengandung arti bahwa seseorang meyakini kalau dirinya diciptakan sebagai mahluk yang mengakui Allah yang Maha Kuasa, kepatuhan kepada-Nya serta mencari kasih dan keridhoan-Nya. Menjadi milik Allah dalam pelaksanaan bermakna melakukan segala sesuatu yang baik dengan segala kemampuannya secara rajin dan penuh perhatian seolah-olah melihat wujud yang Maha Terkasih di dalam cermin keitaatannya. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 57-58, London, 1984).

* * *

Realitas daripada Islam adalah seperti menyerahkan leher kita kepada Allah s.w.t. sebagaimana seekor domba kurban, meninggalkan semua keinginan diri sendiri dan mengabdi sepenuhnya kepada keinginan dan keridhoan Allah, melenyapkan diri di dalam Tuhan dan seolah memfanakan dirinya sendiri, menjadi diwarnai dengan kasih Allah serta taat penuh kepada-Nya semata-mata karena mengharapkan Kasih-Nya, memperoleh mata yang bisa melihat melalui Dia dan mendapatkan telinga yang bisa mendengar semata-mata melalui Wujud-Nya, menyempurnakan hati yang sepenuhnya diabdikan kepada-Nya, dan mendapat lidah yang bicara semata-mata berdasar perintah-Nya. Ini adalah tingkatan dimana semua kegiatan pencaharian telah berakhir, kemampuan manusia telah menyelesaikan semua fungsi-fungsinya dan ego manusia menjadi mati sama sekali. Pada saat itu barulah rahmat Ilahi akan memberikan kepada si pencari itu hidup yang baru melalui kata-kata-Nya yang hidup dan Nur-Nya yang bercahaya. Ia itu akan memperoleh kehormatan berkomunikasi dengan Allah s.w.t. dan sebuah Nur yang indah yang tidak bisa dikenali melalui penalaran biasa serta tidak dikenal oleh mata manusia, akan masuk ke dalam hatinya sebagaimana firman Allah:

>Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya= (S.50 Qaf:17).

Melalui cara demikian, Allah mengaruniakan kedekatan Wujud-Nya kepada manusia.

Kemudian datang saatnya dimana kebutaan yang bersangkutan diangkat dan matanya diberi wawasan mendalam dimana manusia akan melihat Tuhan-nya dengan mata yang baru, mendengar suara-Nya serta merasa dirinya diselaputi jubah Nur-Nya. Dengan cara demikian itulah tujuan daripada agama tercapai dan setelah bertemu dengan Tuhan-nya maka manusia akan membuang baju kotor dari kehidupan rendahnya dan mengenakan jubah Nur serta menanti penampilan daripada Allah dan surga, tidak semata-mata sebagai janji yang akan dipenuhi di akhirat, tetapi dalam kehidupan sekarang pun ia sudah akan memperoleh karunia pemandangan, komunikasi dan surga itu sendiri. Sebagaimana dinyatakan Allah s.w.t. bahwa:

>Adapun orang-orang yang berkata: ATuhan kami adalah Allah@ kemudian mereka bersiteguh, malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: AJanganlah kamu takut dan jangan pula berduka cita, dan bergembiralah atas khabar suka tentang surga yang telah dijanjikan kepadamu@ (S.41 Ha Mim As-Sajdah:31).

Hal ini berarti bahwa para malaikat akan turun kepada mereka yang menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah yang Maha Esa yang memiliki semua sifat sempurna, yang tidak mempunyai sekutu dalam Wujud maupun Sifat-sifat-Nya, dimana setelah mengikrarkan demikian mereka lalu bersiteguh sehingga tidak ada yang namanya gempa bumi, bencana atau pun ancaman kematian bisa menggoyang keimanan mereka. Allah s.w.t. berbicara dengan mereka dan meyakinkan mereka agar tidak perlu merasa takut atas segala bencana atau musuh serta jangan merasa sedih atas segala kesialan mereka di masa lalu. Dia meyakinkan mereka bahwa Dia ada beserta mereka dan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka surga di dunia ini juga sebagaimana dijanjikan dimana mereka bisa bergembira di dalamnya.

Ini adalah janji yang sekarang ini pun telah dipenuhi. Banyak kesaksian dari ribuan orang dalam Islam yang rendah hati yang telah menikmati surga keruhanian sebagaimana dijanjikan dalam firman tersebut. Para penganut Islam yang benar oleh Allah yang Maha Kuasa telah dijadikan pewaris dari para muttaqi terdahulu dan mereka memperoleh karunia sama seperti yang telah diterima para pendahulunya itu. (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 160-161, London, 1984).

* * *

Seseorang dikatakan Muslim jika seluruh wujudnya beserta seluruh kemampuannya, baik jasmani maupun ruhani, diabdikan seluruhnya kepada Allah yang Maha Agung dan amanah yang ditugaskan oleh yang Maha Agung dilaksanakan olehnya demi atas nama yang Maha Memberi. Ia itu harus memperlihatkan ke-Muslimannya tidak saja secara akidah tetapi juga dalam amal perbuatan. Dengan kata lain, seorang yang mengaku sebagai Muslim harus membuktikan bahwa tangan dan kaki, hati dan fikiran, penalaran dan pemahaman, kemarahan dan kasih, kelembutan dan pengetahuan, semua kemampuan jasmani dan ruhani, kehormatan dan harta bendanya, kesenangan dan kesukaan serta apa pun yang berkaitan dengan dirinya dari puncak kepala sampai ke alas kakinya, berikut dengan segala motivasi dirinya, segala ketakutan, segala nafsu, telah dibaktikan kepada Allah yang Maha Perkasa sebagaimana anggota tubuhnya sendiri berbakti kepada dirinya.

Harus dibuktikan bahwa ketulusannya telah mencapai suatu tingkatan dimana apa pun yang menjadi miliknya bukan lagi haknya tetapi menjadi milik Allah yang Maha Agung, dan bahwa semua anggota tubuh serta kemampuan dirinya telah demikian diabdikan kepada pelayanan Allah s.w.t. seolah-olah semuanya itu menjadi anggota tubuh Ilahi.

Renungan atas ayat-ayat tersebut (S.2 Al-BAqarah:113) menunjukkan secara jelas bahwa mengabdi­kan hidup seseorang kepada pengkhidmatan Allah s.w.t., yang merupakan inti pokok daripada agama Islam, mengandung dua aspek. Pertama, bahwa Allah yang Maha Kuasa harus menjadi tumpuan kepercayaan dan sasaran yang haqiqi serta yang terkasih, dan bahwa tidak ada satu pun yang disekutukan dalam penyembahan Wujud-Nya, kecintaan kepada-Nya serta harapan kepada-Nya. Semua firman, batasan, larangan serta ketentuan-Nya harus diterima dengan kerendahan hati. Semua kebenaran dan pemahaman yang menjadi sarana untuk menghargai kekuasaan-Nya yang Maha Besar serta untuk meneliti keagungan luas kerajaan dan kekuasaan-Nya yang menjadi petunjuk untuk mengenali karunia dan rahmat-Nya, juga harus ditegakkan.

Aspek kedua dari pengabdian diri kepada pengkhidmatan Allah yang Maha Kuasa adalah dengan mengabdikan dirinya kepada mengkhidmati mahluk ciptaan-Nya, mengasihi mereka, berbagi beban dan kesedihan mereka. Selayaknya ia bersusahpayah untuk memberikan kesenangan kepada mereka dan mengalami kesedihan untuk bisa memberikan penghiburan.

Dari sini terlihat bahwa yang namanya realitas Islam itu adalah sesuatu yang amat luhur dimana tidak ada seorang pun bisa benar-benar mengaku Muslim sampai ia itu menyerahkan seluruh wujud dirinya kepada Allah s.w.t. berikut dengan segala kemampuan, nafsu, keinginan dan sampai ia mulai menapaki jalan itu sambil menarik diri sepenuhnya dari ego dan sifat-sifat ikutannya. Seseorang disebut Muslim sejati hanya jika kehidupannya yang semula tidak mengindahkan apa pun, telah mengalami revolusi total dan kecenderungan kepada dosa berikut semua nafsu ikutannya, telah dihapus sama sekali, dimana ia memperoleh kehidupan baru yang dicirikan oleh tindakannya yang hanya melaksanakan perintah Allah, dan terdiri semata-mata dari kepatuhan kepada sang Maha Pencipta serta kasih kepada mahluk ciptaan-Nya.

Kepatuhan kepada sang Maha Pencipta mengandung arti bahwa untuk memanifestasikan kehormatan-Nya, Keagungan dan Ke-Esaan-Nya, seseorang harus siap menghadapi segala bentuk perendahan dan penghinaan, dan ia harus siap mati beribu kali agar bisa menegakkan Ketauhidan Tuhan. Tangan yang satu harus siap memotong tangan yang lain dengan senang hati semata-mata demi ketaatan kepada-Nya dan kecintaan kepada keagungan Firman-Nya serta haus mencahari keridhoan-Nya dimana hal itu menjadikan dosa sebagai suatu yang sangat dibenci seperti api yang menghanguskan atau racun yang mematikan atau petir yang menghancurkan, sehingga seseorang harus melarikan diri menjauhi dengan sekuat tenaganya. Demi memperoleh keridhoan-Nya, kita harus membawahkan semua nafsu ego kita. Untuk menciptakan hubungan dengan Wujud-Nya, kita harus siap memasuki semua bentuk mara bahaya dan untuk membuktikan hubungan demikian, selayaknya kita memutuskan hubungan dengan yang lainnya.

Berkhidmat kepada sesama mahluk mengandung arti bahwa kita harus berupaya demi kemaslahatan mereka dalam segala kebutuhan mereka semata-mata karena Allah dimana hubungan saling ketergantungan satu sama lain semata-mata didasarkan pada simpati tanpa pamrih. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan harus dibantu dengan segala kemampuan pemberian Tuhan yang dimilikinya dan harus berupaya untuk perbaikannya baik di dunia mau pun di akhirat. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 59-62, London, 1984).

* * *

Perlunya Agama Islam

Adalah bodoh untuk membayangkan bahwa beberapa hal yang dikemukakan dalam kitab Injil sebagai agama. Semua hal yang yang esensial bagi kesempurnaan manusia harus tercakup dalam ruang lingkup suatu agama. Agama harus mencakup semua hal yang menuntun manusia dari kondisi alamiah liarnya kepada kondisi kemanusiaan yang sebenarnya, dan dari sana membawa manusia ke tingkatan hidup yang bijak, setelah itu membawanya lagi kepada kehidupan yang sepenuhnya merupakan pengabdian kepada Allah s.w.t. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 89, London, 1984).

* * *

Tidak ada keraguan bahwa kitab Injil tidak ada memberikan jalan bagi pemeliharaan pohon kemanusiaan. Kita ini turun di bumi dengan berbagai kemampuan dan sifat, dimana setiap kemampuan itu layaknya digunakan pada tempatnya yang tepat. Injil hanya menekankan kepada sifat >rendah hati= dan >kelembutan.= Sifat rendah hati dan pengampun memang merupakan sifat yang baik jika digunakan pada saat yang tepat, tetapi jika digunakan pada setiap keadaan maka hal itu akan membawa kerusakan dahsyat. Kehidupan budaya manusia terdiri dari saling pengaruh mempengaruhinya berbagai bentuk tabiat yang menuntut bahwa kita harus menggunakan sifat-sifat kita secara bijak pada saat yang tepat. Memang benar bahwa pada beberapa keadaan, sifat pengampun dan tabah akan memberikan manfaat material dan spiritual kepada orang yang menyakiti kita. Tetapi pada keadaan lain, penggunaan sifat tersebut hanya akan menggalakkan si pendosa tersebut untuk melakukan kejahatan yang lebih besar dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Kehidupan keruhanian kita dalam banyak hal menyerupai kehidupan phisikal. Berdasarkan pengalaman kita mengetahui bahwa memakan satu jenis makanan atau obat saja sepanjang waktu akan merusak kesehatan kita. Jika kita membatasi diri untuk suatu waktu panjang hanya menyantap makanan yang bersifat dingin dan sama sekali tidak makan sesuatu yang menghangat­kan maka kita akan mudah terkena beberapa jenis penyakit seperti kelumpuhan, Parkinson atau epilepsi. Sebaliknya kalau kita membatasi diri pada unsur-unsur makanan yang hangat saja, dimana air minum pun harus panas, maka kita juga cenderung akan terkena beberapa jenis penyakit lainnya. Karena itu untuk menjaga kesehatan tubuh, kita harus menjaga keseimbangan di antara panas dan dingin, di antara yang keras dan yang lunak dan antara dinamika gerakan dengan istirahat. Menyangkut kesehatan ruhani, kita juga harus mengikuti ketentuan yang sama. Sesungguhnya tidak ada sifat yang sendirinya secara murni bisa dikatakan buruk. Adalah penyalahgunaan daripada sifat itu yang menjadikannya buruk. Sebagai contoh, sifat iri hati dikatakan buruk, tetapi jika kita menggunakannya untuk tujuan yang baik seperti berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, maka sifat iri demikian menjadi akhlak yang mulia. Begitu juga dengan sifat-sifat akhlak lainnya. Penyalah­gunaan sifat itu akan menjadikannya merusak, tetapi pemanfaatan­nya pada saat yang tepat dengan cara yang layak akan menjadikannya bermaslahat. Karena itu merupakan kesalahan untuk memotong cabang-cabang lain dari pohon kemanusiaan dan hanya menekankan pada >pengampunan= dan >ketabahan= saja. Karena itulah ajaran tersebut telah gagal dalam tujuannya dan para penguasa di negeri-negeri Kristiani harus menerapkan norma-norma hukum untuk penghukuman mereka yang bersalah. Kitab Injil yang sekarang ini tidak bisa menghasilkan penyempurnaan harkat kemanusiaan. Sebagaimana bintang-bintang mulai memudar dan kemudian menghilang dengan munculnya sang surya, begitu juga halnya dengan Injil dibanding dengan Al-Quran. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 66-67, London, 1984).

* * *

Telaah atas berbagai agama di dunia mengungkapkan bahwa setiap agama, kecuali Islam, mengandung berbagai kesalahan. Hal ini bukan karena sumbernya adalah salah, tetapi karena setelah turunnya agama Islam, Allah s.w.t. tidak lagi mendukung agama-agama lain sehingga agama-agama itu menjadi seperti taman-taman yang tidak lagi mempunyai tukan kebun untuk merawat, mengairi dan memeliharanya sehingga secara berangsur taman itu jadi melapuk. Pohon-pohon buah mereka jadi meranggas dan mandul, sedangkan semak dan duri merayap meliputi semuanya. Agama-agama itu kehilangan semangat keruhanian yang menjadi dasar dari semua agama, dan tidak ada lagi yang tersisa selain kata-kata usang. Allah s.w.t. tidak membiarkan hal seperti itu terjadi pada agama Islam karena Dia menginginkan agar taman ini harus subur berkembang selamanya. Dia telah mengatur agar di tiap abad ada yang mengurus pengairannya sehingga taman itu tidak menjadi terlantar. Meski pun pada awal setiap abad ketika diutus seorang hamba Allah untuk memperbaiki, orang-orang yang bodoh selalu menentang dan menolak perubahan atas apa pun yang telah menjadi kebiasaan mereka, namun Allah yang Maha Kuasa tetap bersiteguh dengan cara-Nya. Pada akhir zaman ini pun yang merupakan saat pertempuran terakhir di antara petunjuk kebenaran dan kebathilan, di awal abad keempatbelas karena melihat bagaimana umat Muslim menjadi tidak perduli dan acuh, Allah s.w.t. kembali menunaikan janji-Nya dan menyiapkan kebangkitan kembali Islam. Hanya saja agama-agama lain tidak pernah disegarkan kembali setelah kedatangan Yang Mulia Rasulullah s.a.w. sehingga agama-agama itu mati jadinya. Tidak ada lagi kehidupan keruhanian dalam agama-agama itu dan kebathilan berakar di tengah mereka seperti halnya debu yang berakumulasi di pakaian yang tidak pernah lagi dicuci. Orang-orang yang tidak mempunyai perhatian atas keruhanian dan tidak terbebas dari noda eksistensi keduniawian, malah membuat agama-agama itu membusuk sehingga sama sekali tidak lagi mirip dengan keadaan pada awal ketika agama tersebut diturunkan. Ambillah sebagai contoh agama Kristen, betapa murninya agama itu pada awalnya. Ajaran yang diberikan Nabi Isa a.s. memang tidak sesempurna ajaran Al-Quran karena saat itu belum waktunya manusia menerima wahyu ajaran yang sempurna dan mereka belum cukup kuat untuk menanggungnya, namun ajaran tersebut amat baik dan cocok untuk zamannya. Ajaran itu juga menuntun manusia kepada Tuhan yang sama sebagaimana disuratkan oleh Taurat, hanya saja setelah Nabi Isa a.s., tuhannya umat Kristen menjadi tuhan yang lain yang tidak ada disebut dalam Taurat dan tidak dikenal sama sekali oleh Bani Israil.

Keimanan kepada tuhan yang baru ini telah menjungkir-balikkan sistem Taurat dan semua ajaran yang terkandung di dalamnya karena pelepasan dari dosa dan upaya pencapaian keselamatan haqiqi serta kehidupan yang suci, menjadi kacau balau. Keselamatan dan pelepasan dari dosa sekarang menjadi bergantung pada kepercayaan bahwa Yesus menerima penyaliban sebagai penebusan umat manusia dan bahwa beliau adalah Tuhan itu sendiri. Banyak sekali kaidah-kaidah tetap dari Taurat yang telah diubah dan agama Kristen menjadi begitu berubah sehingga jika misalnya Yesus turun lagi ke dunia maka beliau tidak akan lagi mengenalinya sebagai ajaran yang dibawanya. Ajaib sungguh bahwa manusia yang diperintahkan untuk mentaati Taurat, lalu tiba-tiba mengesampingkan ajaran-ajarannya. Sebagai contoh, meski pun Injil menyatakan bahwa Taurat melarang makan daging babi, namun hal itu sekarang diperkenankan. Begitu juga Injil menyatakan bahwa walaupun Taurat mengharuskan khitan, tetapi sekarang hal itu malah dilarang. Hal-hal seperti ini dan apa yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa a.s. malah menjadi bagian dari agama Kristen. Hanya saja, karena memang sudah menjadi bagian dari rencana Allah s.w.t. untuk menegakkan sebuah agama yang universal yang bernama Islam, maka semua kelapukan dari agama Kristen menjadi indikasi dari kemunculan Islam. Begitu juga diketahui bahwa agama Hindu sudah melapuk jauh sebelum kedatangan agama Islam dimana di seluruh bagian India, penyembahan berhala sudah menjadi hal yang umum. Bagian dari pembusukan itu berasal dari akidah bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak tergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan sifat-sifat-Nya, dalam pandangan bangsa Arya dianggap amat bergantung kepada yang lainnya dalam penciptaan alam semesta. Akidah seperti ini melahirkan akidah salah lainnya yang mengatakan bahwa semua partikel massa dan semua jiwa bersifat abadi dan ada berwujud tanpa diciptakan. Kalau saja mereka mempelajari secara mendalam sifat-sifat Tuhan, maka mereka tidak akan mungkin mengatakan hal demikian. Jika dalam pelaksanaan sifat-sifat abadi-Nya dalam kegiatan penciptaan ternyata Tuhan harus bergantung kepada yang lain seperti halnya manusia, lalu bagaimana mungkin Dia dalam sifat mendengar dan melihat menjadi tidak terlalu bergantung sebagaimana halnya manusia. Manusia tidak bisa mendengar tanpa perantaraan udara dan tidak bisa melihat tanpa bantuan cahaya. Apakah Tuhan juga bergantung pada cahaya dan udara untuk melihat dan mendengar? Jika Dia tidak bergantung demikian maka yakinlah bahwa Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam melaksanakan sifat-sifat-Nya ketika kegiatan penciptaan.

Adalah salah sama sekali menyangka bahwa Dia bergantung kepada yang lain dalam pelaksanaan atribut-atribut-Nya. Adalah salah sama sekali melekatkan atribut kelemahan manusia kepada Tuhan, seperti dikatakan bahwa Dia tidak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan sama sekali. Keadaan manusia itu terbatas adanya sedangkan keadaan Tuhan itu tanpa batas. Atas dasar kekuasaan Wujud-Nya, Dia itu bisa saja menciptakan mahluk lainnya. Inilah yang menjadi inti pokok dari konsep ke-Tuhan-an. Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan sifat-sifat-Nya karena jika demikian adanya maka Dia bukanlah Tuhan. Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Jika Dia bermaksud menciptakan langit dan bumi secara seketika, maka Dia akan bisa melakukannya. Dari antara umat Hindu yang memiliki selain pengetahuan juga menganut keruhanian serta tidak bergantung kepada logika dasar, mereka ini tidak mengimani Tuhan sebagaimana yang dikemukakan bangsa Arya saat ini. Semua ini adalah akibat dari ketiadaan keruhanian di dalam agama tersebut.

Semua pembusukan agama, beberapa di antaranya bahkan tidak layak disebut dan bertentangan dengan kesucian kemanusiaan, merupakan indikasi perlunya ada agama Islam. Setiap orang yang berfikir pasti mengakui bahwa sejenak sebelum turunnya Islam, agama-agama lain telah membusuk dan kehilangan keruhaniannya. Hazrat Rasulullah s.a.w. adalah seorang pembaharu akbar dalam bidang kebenaran yang telah mengembalikan kebenaran kepada dunia. Tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai beliau dalam kebanggaan bahwa beliau menjumpai dunia ini dalam kegelapan dan dengan turunnya beliau lalu merubah kegelapan menjadi Nur. (Khutbah Sialkot berjudul >Islam,= Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 203-206, London, 1984).

Kemajuan Progresif Karena Menganut Islam

Ketika aku merenungi keseluruhan firman Allah s.w.t., aku menemukan bahwa ajaran-ajarannya itu berusaha memperbaiki kondisi alamiah manusia dan mengangkatnya selangkah demi selangkah ke tingkat keruhanian yang lebih tinggi. Pada tahap awal, Allah s.w.t. bermaksud mengajar manusia ketentuan-ketentuan yang bisa disebut dasar, melalui mana merubah kondisinya dari taraf binatang liar ke derajat akhlak tingkat rendah yang bisa dikatakan sebagai kebudayaan atau tamadhun. Kemudian Dia melatih dan mengangkat manusia dari tingkat akhlak yang mendasar ke tingkatan akhlak yang lebih tinggi. Sebenarnya perubahan kondisi alamiah demikian semua itu adalah satu kegiatan, hanya saja terdiri dari beberapa tingkatan. Allah yang Maha Bijaksana telah memberikan sistem akhlak yang sedemikian rupa sehingga manusia bisa merambat dari tingkat akhlak yang mendasar ke tingkatan yang lebih tinggi. Tingkat ketiga dari perkembangan demikian itu adalah manusia berupaya memperoleh kecintaan dan keridhoan Pencipta-nya dimana keseluruhan wujud dirinya diabdikan kepada Allah s.w.t. Pada tingkat inilah keimanan para Muslim disebut sebagai Islam yang bermakna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. tanpa ada yang tersisa. (Islami Usulki Philosophy, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 10, hal. 324, London, 1984).

Islam, Agama Yang Benar

Ada dua persyaratan bagi sebuah agama yang mengaku berasal dari Tuhan. Pertama adalah agama tersebut harus bersifat demikian komprehensif, sempurna, lengkap tanpa kekurangan dan bersih dari segala cacat dan noda dalam akidah, ajaran dan perintah-perintahnya, dimana fikiran manusia tidak mungkin merumuskan yang lebih baik lagi. Agama ini harus berada di atas dari semua agama lain menyangkut persyaratan-persyaratan tersebut. Hanya Al-Quran yang mengajukan klaim untuk itu dengan menyatakan:

>Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama= (S.5 Al-Maidah:4).

Dengan kata lain, Allah s.w.t. meminta kita untuk menyelaraskan diri kita kepada realita yang inheren (melekat) di dalam kata Islam. Disini ada pengakuan bahwa Al-Quran merupakan ajaran yang sempurna dan bahwa saat turunnya Al-Quran merupakan saat dimana ajaran sempurna tersebut sudah bisa diungkapkan kepada manusia. Hanya Al-Quran yang layak membuat pengakuan demikian, tidak ada kitab samawi lainnya yang pernah mengajukan pernyataan seperti itu. Baik kitab Taurat mau pun Injil tidak mau memberikan pernyataan demikian. Sebaliknya malah, karena kitab Taurat mengemukakan perintah Tuhan bahwa Dia akan membangkitkan seorang Nabi dari antara para saudara Bani Israil dan akan meletakkan Firman-Nya dalam mulut Nabi itu dan barangsiapa tidak mau membuka telinganya bagi firman Tuhan tersebut akan dimintakan pertanggungjawaban1. Dari hal ini menjadi jelas bahwa jika Taurat memang sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan manusia di abad-abad berikutnya maka tidak perlu lagi adanya kedatangan Nabi lain dimana manusia diwajibkan mendengar dan patuh kepadanya. Begitu pula dengan Injil, tidak ada mengandung satu pun pernyataan yang mengemukakan bahwa ajaran yang dibawanya telah sempurna dan komprehensif. Bahkan jelas ada pengakuan Yesus bahwa masih banyak yang harus disampaikan kepada para murid beliau namun mereka belum kuat menanggungnya, tetapi jika nanti sang Penghibur atau Roh Kebenaran (Paraclete) telah datang maka ia akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran2. Dengan demikian jelas bahwa Nabi Musa a.s. pun mengakui masih kurang sempurnanya kitab Taurat dan memintakan perhatian umatnya kepada seorang Nabi yang akan datang. Begitu pula dengan Nabi Isa a.s. yang mengakui kekurang-sempurnaan ajaran yang beliau bawa karena saatnya belum tiba untuk dibukakannya ajaran yang sempurna, tetapi juga mengingatkan bahwa jika nanti Paraclete sudah turun maka ia itulah yang akan memberikan ajaran yang sempurna. Sebaliknya dengan Al-Quran yang tidak ada meninggalkan persoalan terbuka untuk diselesaikan oleh kitab lainnya sebagaimana halnya dengan Taurat dan Injil, bahkan mengumandangkan kesempurnaan ajaran yang dikandungnya dengan firman:

>Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama= (S.5 Al-Maidah:4).

Inilah yang menjadi argumentasi pokok yang mendukung Islam sebagai agama yang mengungguli agama-agama lainnya dalam ajaran yang dibawanya sehingga tidak ada agama lain yang bisa dibandingkan dalam kesempurnaan ajaran yang dikandungnya.

Karakteristik kedua daripada Islam yang tidak ada pada agama lain yang juga menjadi bukti kebenarannya adalah agama ini memanifestasikan karunia dan mukjizat yang hidup. Tanda-tanda yang diperlihatkan Islam tidak saja mengukuhkan kelebihannya di atas agama lain tetapi juga menjadi daya tarik bagi kalbu manusia melalui penampakan Nur-nya yang sempurna. Karakteristik pertama Islam sebagaimana dijelaskan di atas yaitu mengenai kesempurnaan ajaran yang dibawanya, belumlah cukup konklusif untuk meneguhkan bahwa Islam adalah agama benar yang diturunkan oleh Allah s.w.t. Seorang lawan yang fanatik dan berpandangan cupat, bisa saja mengata­kan bahwa bisa jadi agama itu sempurna namun belum tentu berasal dari Tuhan. Karakteristik yang pertama memang bisa memuaskan seorang pencari kebenaran yang bijak setelah diombang-ambingkan oleh berbagai keraguan, membawanya lebih dekat kepada suatu kepastian, namun belum mengukuh­kan permasalahannya secara konklusif jika belum dirangkaikan dengan karakteristik kedua. Melalui rangkaian kedua karakteristik itu maka Nur agama yang benar mencapai kesempurnaannya. Agama yang benar mengandung ribuan bukti dan Nur, namun dua karakteristik tersebut cukuplah kiranya memberi keyakinan bagi hati seorang pencari kebenaran dan menjelaskan permasalahannya sehingga memuaskan mereka yang menyangkal kebenaran. Tidak ada lagi yang diperlukan sebagai tambahan. Pada awalnya aku bermaksud mengemukakan tigaratus argumentasi dalam buku Brahini Ahmadiyah. Tetapi setelah direnungi lebih lanjut, aku merasa dua karakteristik ini bisa menggantikan ribuan bukti-bukti lain dan karena itu Allah s.w.t. menjadikan aku merubah rencanaku itu. (Brahini Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 3-6, London, 1984).

* * *


Hazrat Rasulullah s.a.w. menggambarkan Allah yang Maha Kuasa dengan segala keagungan-Nya tanpa ada yang dikurangi sedikit pun. Dia dimunculkan seolah matahari yang memanifestasikan Nur-Nya dari segala penjuru. Barang­siapa yang berpaling dari matahari haqiqi ini akan menemukan kemudharatan. Kita tidak bisa mengatakan yang bersangkutan sebagai manusia yang berkeimanan baik. Bisakah seseorang yang terjangkiti lepra dimana anggota tubuhnya telah dirusak oleh penyakit itu, lalu bisa menyatakan bahwa dirinya sehat utuh dan tidak memerlukan perawatan? Jika benar ia mengatakan demikian, bisakah kita berpendapat bahwa ia tidak berdusta? Kalau ada seseorang menekankan bahwa ia tidak juga menemukan kebenaran Islam, meskipun ia memiliki keimanan yang baik dan meskipun ia telah berupaya dengan segala cara sebagaimana ia mengelola urusan duniawinya, maka masalahnya terpulang kepada Allah s.w.t. Kami belum pernah bertemu dengan manusia seperti itu dan kami beranggapan bahwa adalah tidak mungkin seseorang yang memiliki daya nalar dan indera keadilan, akan memilih agama lain selain Islam. Orang-orang yang bodoh dan tidak berakal biasanya selalu mengambil sikap sebagaimana yang didiktekan oleh alam bawah sadarnya bahwa beriman kepada Tuhan yang Maha Esa sudah cukup dan tidak perlu lagi mengikuti Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Yang harus diingat adalah seorang Nabi itu merupakan wujud yang mencetuskan Ketauhidan yang melahirkan konsep ke Maha-Esa-an serta menunjukkan eksistensi daripada Tuhan. Siapakah yang bisa lebih baik menunjukkan kebenaran selain Allah s.w.t. sendiri? Dia mengisi langit dan bumi ini dengan tanda-tanda yang membuktikan kebenaran daripada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. dan di abad ini Dia telah mengutus aku serta memperlihatkan beribu-ribu tanda seperti hujan lebat yang membukti­kan kebenaran daripada Hazrat Rasulullah s.a.w. Lalu apa lagi yang kurang dalam pengemukaan kebenaran ini? Mereka yang memiliki penalaran cukup untuk menyangkal, mengapa tidak memikirkan cara untuk mencoba menerima? Ia yang merasa dirinya bisa melihat pada waktu gelap malam, mengapa tidak bisa melihat di terang siang hari? Sesungguhnya jalan penerimaan itu jauh lebih mudah daripada jalan penyangkalan. Mereka yang jalan fikirannya memang kurang sempurna dan indera tubuhnya tidak normal biarlah diserahkan kepada Allah s.w.t. dan kita tidak perlu pusing karenanya. Mereka itu seperti anak-anak yang mati muda. Tetapi seorang penyangkal yang jahat tidak bisa memaafkan dirinya atas dasar pertimbangan bahwa ia demikian itu karena berdasarkan itikad baik. Kiranya perlu dipertanyakan apakah semua indera yang bersangkutan itu memang memadai untuk memper­timbangkan masalah Ketauhidan dan Kenabian. Jika ia memang mampu menelaah konsep-konsep itu dan tetap menyangkal karena memang itikadnya yang kurang baik, maka orang seperti itu tidak bisa dimaafkan. Bisakah kita memaklumi seseorang yang telah melihat matahari yang sedang bersinar lalu degil bertahan menyatakan bahwa saat ini sedang tengah malam. Begitu juga kita tidak bisa memaklumi mereka yang sengaja memutarbalikkan penalaran untuk menolak argumentasi yang dikemukakan demi Islam. Islam adalah sebuah agama yang hidup. Seseorang yang bisa membedakan di antara apa yang mati dan yang hidup, bagaimana mungkin ia mengesampingkan Islam dan menganut agama yang sudah mati? (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 180-181, London, 1984).

1Perjanjian Lama, Ulangan 18:18. (Penterjemah)

2Perjanjian Baru, Injil Yohanes 16:7-14. Istilah Paraclete terdapat dalam Injil bahasa Yunani atau Greek dan dalam Injil berbahasa Inggris diterjemahkan sebagai Holy Ghost atau Roh Kebenaran dalam Injil bahasa Indonesia. (Penterjemah)